Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Episode 18 : Perjamuan


__ADS_3

Setelah selesai makan malam mereka pun langsung pulang Kerumah karena sudah mulai malam dan Kejora terlihat sangat lelah. Kejora kembali menggandeng tangan Zul dengan erat dan wajahnya tertunduk ke bawah tak berani menatap Zul. Berjalan di bawah langit berbintang dengan cahaya bulan sempurna.


“Kamu takut apa malu sebenarnya Ra?” tanya Zul yang melihat Kejora menunduk dan menggandeng tangan Zul.


“Dua-duanya.“ jawab Kejora.


“Takut kenapa? terus malu kenapa?“ tanya Zul.


“Aku malu nanti ada yang bilang aku lagi hamil lagi, terus aku takut kamu pergi dari aku.“ jawab Kejora.


“Hahaha… kamu lagi serius apalagi gombal sebenernya?“ tanya Zul tertawa lepas mendengar jawaban Kejora.


“Seriuslah, emang kamu gak bisa liat mukaku yang gak ada becanda-becandanya kayak gini.“ jawab Kejora


“Kayak mana liatnya? kamu liat ke bawah terus, emang mukaku ada di kaki apa?“tanya Zul.


“Ya gimana geh.“ jawab Kejora masih tertunduk memandang kebawah.


“Tenang aja Ra, aku gak akan pergi, mana mungkin aku bisa pergi ninggalin belahan jiwaku.“ Jawab Zul menggenggam dengan erat tangan Kejora


“Bener?“ tanya Kejora sambil menatap Zul.


“Aku janji.“ jawab Zul tersenyum dan memegang erat tangan Kejora.


“Aku seneng.“ jawab Kejora tersenyum menatap Zul.


“Aku juga seneng.“ ucap Zul.


“Seneng kenapa.“ tanya Kejora.


“Seneng kalo kamu ngeliat aku sambil senyum kayak gitu.“ jawab Zul.


Keduanya pun berjalan kerumah Zul dengan senyum lebar kadang diselingi tawa kecil diantara mereka berdua. Lelah dan penat hari ini menghilang begitu saja, hanya karena melihat masing-masing tersenyum lebar kearahnya itu sudah menjadi obat penghilang lelah yang sangat mujarab.


Sesampainya di rumah…


“Yah, Bu aku pulang.“ Zul mengetuk pintu rumah.


“Kok udah pulang?“tanya Ibu Zul setelah Zul membuka pintu rumahnya.


“Bingung mau kemana lagi.“ jawab Zul


“Kok bingung, kan masih banyak yang buka jam segini?“ tanya Ibu Zul.


“Mau kemana lagi geh, Rara juga keliatannya udah kecapean.“ jawab Zul.


“Masa sih, itu keliatannya masih seger senyum-senyum terus.“ ucap Ibu Zul melihat kearah Kejora.


“Udahlah Bu, biarin dia istirahat.“ jawab Zul.


“uh… takut galak bener, pacarnya gak boleh disenggol.“ ucap Ibu Zul.


“Ih… Ibu udah dong.“ ucap Kejora.


“Eh… kok ngambek? yaudah sana kekamar kalo capek.“ perintah Ibu Zul.


“Iya Bu.“ jawab Kejora.


“Kalo mau mandi? Ibu udah siapin air anget.“ ucap Ibu Zul.


“Gak usah Bu, gak baik udah malem mandi.“ jawab Kejora.


“Gimana tadi? udah kamu kiss belum dia?“ tanya Ibu Zul sambil tersenyum dan penasara.


“Apaan sih Bu? aku tau lo Ibu hari ini gak kemana-mana sama Ayah.“ jawab Zul.


“Cih gagal lagi.“ ucap Zul kecewa.


“Tuh kan, padahal aku tadi bohong kalo tau, ternyata bener ya.“ jawab Zul kesal.


“Pinter juga kamu sekarang ya?“ tanya Ibu Zul.


“Bu makasih Bu aku seneng banget, sering-sering aja kayak gini.“ jawab Zul .


“Eh, berarti tadi kalian ngapain dong?“ tanya Ibu Zul penasaran.


“Kalo itu rahasia dong.“ jawab Zul pergi meninggalkan Ibu Zul.


“Kok gitu, Ibu penasaran nih?“ ucap Ibu Zul memaksa Zul.


“Kapan-kapan aja ya, aku capek mau tidur.“ jawab Zul.


Zul pun masuk kekamarnya tersenyum dengan lebar membayangkan apa yang baru saja terjadi. Seperti mimpi rasanya dapat menggandeng tangan Kejora, dapat menggenggam tangannya dengan erat sambil berjalan bersama. Karena hal tersebut Zul jadi sulit untuk tidur, karena masih terasa halus dan lembutnya tangan Kejora, wanita yang baru saja ia gandeng dengan tangannya, wangi rambutnya pun masih teringat oleh Zul.


Sedangkan Kejora berusaha memejamkan matanya yang terasa lelah, tapi dirinya terus tersenyum dengan sendirinya. Lengan Zul yang besar dan, telapak tangannya yang lebar, menggenggam erat tangannya yang mungil dan lengannya yang terlihat sangat kecil jika, dibandingkan dengan Zul, wangi tubuh Zul masih terasa di hidung Kejora. Kejora merasa aman dengan genggaman tangan Zul, merasa sangat terlindungi oleh Zul.


Zul pun selalu menuruti apa yang dia mau, boneka gajah warna biru menjadi barang paling berharga bagi Kejora untuk saat ini. kenangan kencan pertamanya dengan Zul, momen termanis yang ada di ingatan Kejora saat ini. terima kasih telah memepertemukanku dengn Zul Tuhan, aku merasa lebih bahagia sekarang, sekali lagi aku ucapkan terima kasih ucap Kejora dalam hati


Jam 05.10 Zul terbangun dari tidurnya dia membuka jendela kamarnya dan langsung melihat kearah timur tempat dimana akan terbit matahari, bintang berwarna merah yang sedang ia, pandangi kamu “mau kesana ya Ra” kata Zul dalam hati.


Dan dia pun teringat bahwa ulang tahun Kejora itu tidak lama lagi bukan orang tua Kejora yang ia pikirkan saat ini, tapi apa hadiah yang berkesan untuk Kejora, apakah dia akan bertanya langsung pada Kejora. Tapi ia takut nanti hadiah itu tidak terlalu berkesan untuk Kejora, bertanya pada Ayahnya tidak memberikan saran, apalagi jika bertanya dengan Ibu Zul itu suatu kesalahan. Namun pikirannya buntu tak menemukan jawaban.


“Ah… waktunya jogging.“ pikir Zul yang langsung pergi kekamar mandi.


“Tumben kamu Zul bangun sendiri?“ tanya Ibu Zul heran.


“Gak kenapa-kenapa aku mau jogging.“ jawab Zul.

__ADS_1


“Halah… paling juga pengen berduaan sama Rara kamu.“ tebak Ibu Zul.


“Sok tau banget.“ jawab Zul.


“Ra kamu mau jadi Ibu buat anak-anakku.“ ucap Ibu Zul mengejek Zul.


“Pagi-pagi, udah berisik.“ jawab Zul kesal.


“Tapi kita masih dibawah umur Zul.“ ucap Ibu Zul menirukan Suara Kejora.


“Sial, Ibu pagi-pagi udah cari masalah sama aku.“ pikir Zul.


“Ngomong apaan sih? nanti Rara ngambek lo Bu.“ ucap Zul.


“Tuh Rara disitu.“ jawab Ibu Zul menunjuk Kejora yang tertunduk lemas, lesu dengan wajahnya yang terasa panas.


“Tuh kan, dia ngambek Ibu sih.“ ucap Zul langsung berlari kearah Kejora.


“Dia udah denger dari tadi, kan dia bangun dari jam setengah 5, mau jogging sama kamu katanya.“ jawab Ibu Zul dengan santainya.


“Ngapa gak bangunin?“ tanya Zul.


“Aku kira kamu masih, tidur kecapean.“ jawab Kejora masih tertunduk lemas.


“Yaudah tunggu bentar ya.“ perintah Zul sambil tersenyum.


Hanya senyum dan anggukan jawaban dari Kejora.


Tidak lama Zul pun sudah siap dan langsung mengajak Kejora berlari.


“Kesel ya sama Ibu?“ tanya Zul sambil berlari pelan.


“Iya sih tapi gak papa kok, kamu juga kan gak malu, aku juga gak akan malu.“ jawab Kejora.


“Beneran lo.“ tanya Zul memastikan kekhawatirannya.


“Iya, cerewet banget.“ jawab Kejora.


“Bukan cerewet, tapi perhatian My Lady.“ bantah Zul.


“Apaan sih? kok pake My Lady.“ jawab Kejora yang bingung bercampur malu.


“Emangnya kenapa? kan emang bener.“ tanya Zul.


“Jangan gitu ah.“ jawab Kejora malu.


“Sekarang aku panggil kamu my lady.“ ucap Zul.


“Jangan dong.“ jawab Kejora.


“Pokoknya aku gak suka.“ jawab Kejora.


“Yaudah kalo kamu gak, suka gak jadi kalo gitu.“ jawab Zul.


Mereka lanjut berlari dan beristirahat sebentar lalu, kembali ke rumah Zul untuk sarapan.


Saat sarapan…


“Yah, Bu, aku nanti mau pulang dulu ,paling aku beberapa hari gak kesini, Papa Mama aku pulang soalnya.“ kata Kejora.


“Hmmm… yaudah gak apa-apa, kamu juga kan jarang ketemu mereka.“ jawab Ibu Zul.


“Iya biasanya, mereka pulang kalo aku mau ulang tahun aja.“ jawab Kejora yang raut wajahnya berubah seketika.


Zul pun terdiam menyembunyikan rasa cemas dan gugupnya.


Ternyata Orang tuamu sayang banget ya sama kamu, walaupun sibuk setiap kamu ulang tahun buktinya pulang.“ ucap Ayah Zul


“Bu, Yah, ulang tahunku tanggal berapa.“ tanya Zul .


“Desember 15.“ ucap Ibu Zul dengan penuh perccaya diri.


“Bu itu ulang tahun Ayah.“ jawab Zul yang tersenyum kesal mendengar jawaban Ibunya.


“Seinget Ibu barengan kok ulang tahunnya.“ bantah Ibu Zul.


“Ayah tau?“ tanya Zul dengan wajah mulai depresi.


“Mei tanggal 20 kayaknya.“ jawab Ayah Zul dengan santai.


“Sebenernya aku ini anak siapa?“ ucap Zul dengan wajah Depresi.


“Ya anak Ayah sama Ibulah, masa iya anak putri duyung.“ jawab Ibu Zul.


“Kalian aja gak inget ulang tahunku tanggal berapa.“ ucap Zul kesal.


Kejora hanya tertawa melihat Zul yang depresi.


“Kamu seneng banget ya Ra?“ tanya Zul dengan tatapan kosong.


“Eh… gak kok.“ jawab Kejora.


“Yang pentingkan kamu tetep hidup kan, walaupun gak ngerayain ulang tahun kayak Kejora.“ tanya Ayah Zul.


“Setidaknya inget dong, kapan aku keluar dari perut Ibu Yah.“ jawab Zul depresi parah.


“Laki kok lemah banget sih Zul, nanti abis Rara ngerayain ulang tahun sama orang tuanya kita juga ngerayain ulang tahun juga disini Yah.“ tanya Ibu Zul.

__ADS_1


“Iya boleh itu, Bu ide bagus.“ jawab Ayah Zul.


“Eh… Bu gak usah repot-repot.“ jawab Kejora.


“Kamu setuju kan Zul?“ tanya Ibu Zul yang tiba tiba kaget


“aku setuju Bu, setuju banget.“ jawab Zul dengan tatapan kosong.


“Kenapa kamu Zul?“ tanya Ayah Zul heran.


“Gak apa-apa Yah, laki gak boleh lemah.“ jawab Zul.


“Tapi kamu keliatan lemah banget lo Zul.“ jawab Kejora.


“Gak usah dipikirin, aku gak apa-apa.“ yang masih lemas dengan tatapan kosong.


Setelah makan Kejora pun pulang diantar oleh Zul. Saat sampai dirumah Kejora.


“Zul makasih ya, udah mau nganterin, kamu mau main dulu?“ tanya Kejora.


“Papa sama Mamamu ada dirumah?“ tanya Zul yang berkeringat dingin.


“belum, mereka nanti malem paling sampe.“ jawab Kejora.


“Yaudah deh, nanti aja sekalian ulang tahunmu, biar sekalian ketemu Papa Mamamu.“ jawab Zul tersenyum lega.


“Yaudah kalo gitu aku masuk ya.“ ucap Kejora.


“Yes my lady, nanti aku chat kamu kalo udah di rumah.“ ucap Zul tersenyum melihat Kejora.


“Yaudah, hati-hati ya Zul.“ jawab Kejora.


Saat membuka pintu ruang tamu, Kejora kaget saat ada sepasang manusia yang sedang duduk menatap tajam Kearah Kejora.


“Papa Mama kapan sampe?“ tanya Kejora dingin.


“Kemaren malem.“ jawab Papa Kejora. Orangnya mempunyai kumis dan janggut yang lebat, tatapan matanya dingin perawakannya tinggi dan besar, sifatnya hampir mirip dengan Kejora, dingin dan blak-blakan.


“Kamu darimana aja sayang?“ tanya Mama Kejora sambil memeluk Kejora. wajah dan badannya sangat mirip dengan Kejora, namun rambutnya panjang dan sering disanggul, namun kepribadiannya sangat berbeda dari Kejora, Mamanya selalu tersenyum dan sangat ramah.


“Main.“ jawab Kejora sambil membalas tatapan tajam Papanya.


“Eh… main sama siapa? kok gak diajak masuk?“ tanya Mama Kejora kaget.


“Sama pacarku.“ jawab Kejora dingin.


“Kok kamu cuek amat sih, senyum dikit dong. suruh masuk pacarnya!“ perintah Mama Kejora.


“Iya suruh dia kesini! sehebat apa dia berani beraninya pacaran sama anakku.“ perintah Ayah Kejora dengan hawa intimidasi yang kuat.


“Dia udah pulang, karena Mama sama Papa gak pernah dirumah, jadi dia jarang banget masuk kerumah, dia juga mau ketemu kalian mau minta restu tapi kalian gak pernah dirumah.“ jawab Kejora dengan mata memerah.


“Suruh dia balik lagi kesini!“ perintah Ayah Kejora dengan nada tinggi.


“Hari ulang tahunku dia bakal kesini.“ jawab Kejora pergi meninggalkan mereka kekamarnya.


“Sayang kamu marah ya? maaf ya, Mama sama Papa sbuk terus.“ pinta Mama Kejora.


“Setiap tahun kalian selalu bilang kayak gitu.“ jawab Kejora kesal dan marah.


“Tapi ini kan demi kamu sayang.“ jawab Mama Kejora.


“Terserah kalian, aku harap kalian gak nyentuh keluarga pacarku, kalo mereka ada apa-apa, aku bener-bener bakalan berontak.“ ucap Kejora pergi meninggalkan Papa dan Mamanya.


“Eh… dia udah berani ngelawan kita Ma?“ ucap Papa Kejora.


“Papa paling dia cuma marah aja karena kita jarang ada waktu buat dia, wajar aja dia kan lagi masa puber, Papa gak usah macem-macem.“ perintah Mama Kejora.


“Itu tergantung pacar Kejora seperti apa ke Papa nantinya.“ jawab Papa Kejora yang emosi.


“Apa apaan mereka tiba-tiba dateng udah marah-marah, ngeliatin aku kayak marah banget, seharusnya aku yang marah? Tapi kok malah mereka yang marah ke aku? Aku selalu diam selama ini, apa aku salah kalo aku punya pacar supaya gak merasa kesepian. Keluarganya juga baik sama aku, tapi kenapa mereka kayak gitu ekspresinya” pikir Kejora sambil menangis karena tatapan tajam Ayahnya pada Kejora. Kejora mengabari Zul untuk datang pada saat makan malam dihari ulang tahun Kejora jam 7 malam, untuk datang tidak terlambat.


Pada saat hari ulang tahun Kejora, Zul datang 15 menit lebih awal dari perkiraan Kejora. Dan Kejora langsung menyambutnya didepan pintu dan menyuruhnya untuk berada di sampingnya, sambil menunggu kedatangan Papa dan Mama Kejora yang sedang bersiap-siap untuk makan malam.


Dan pada saat kedatangan Papa dan Mama Kejora Zul terdiam melihat tatapan Papa Kejora yang sangat tajam kepadanya. Wajahnya dingin mebuat mentalnya runtuh hawa keberadaannya sangat mengintimidasi seseorang, lutut Zul lemas seakan kehilangan tenaga, dia berkeringat dingin. Kejora pun cemas dengan apa yang akan terjadi nantinya, Kejora tau Ayahnya sangat keras dan tidak mudah di luluhkan, dia takut terjadi apa-apa pada Zul nantinya. Lalu Papa dan Mama Kejora duduk dan mulai menyantap hidangan.


“Kamu pacarnya Rara?“ tanya Mamanya Kejora tersenyum kepada Zul.


“Emmh, iya tante saya pacarnya Kejora, nama Saya Zul, umur saya juga sama dengan Kejora “ jawab Zul tersenyum kikuk.


“Eh… anak Mama seleranya tinggi juga, ganteng banget.“ ucap Mama Kejora.


Kejora hanya diam dan terus melihat kearah Papanya yang memerhatikan Zul seakan sedang merencanakan Sesuatu.


“Ah.., masa sih, tante perasaaanku aku biasa aja, aku ngerasa beruntung Kejora mau jadi pasanganku, udah cantik, pinter juga Kejora, siapa yang gak mau jadi pasangannya.“ jawab Zul.


“Jadi kamu sadar, kalo kamu gak cocok buat Kejora?” tanya Ayah Kejora menatap Kearah Zul.


Lutut Zul langsung lemas seketika mendengar pertanyaan Ayah Kejora.


“Gak Om, cuma saya yang cocok buat Kejora.“ jawab Zul tegas dan spontan .


“Hmm… menarik juga anak ini, mentalnya juga lumayan.“ pikir Ayah Zul.


“Hmm… memang kamu punya apa buat Kejora?“ tanya Ayah Kejora dengan tatapan tajam.


“Aduh apa aku salah ngomong ya? jawab apa coba? serem banget juga tatapannya. jantungku kayak mau pecah rasanya, lututku bener-bener lemes.“ ucap Zul dalam hati dan menatap Kejora. Melihat tatapan Zul Kejora berusaha menyemangati Zul dia tahu bahwa Zul sedang ketakutan dengan situasi ini dan dalam hati Kejora berkata “ Zul kamu pasti bisa aku yakin sama kamu”.

__ADS_1


__ADS_2