
Besok lusa adalah ulang tahun Zul. Waktu terasa cepat berlalu hingga tanpa sadar besok lusa adalah ulang tahun Zul, beruntung kegiatan belajar-mengajar diliburkan karena hari ini hari peringatan kemerdekaan Indonesia, murid sekolah hanya menghadiri upacara bendera dan setelah itu dapat pulang ke rumah masing-masing dan sekolah memberi kelonggaran untuk masuk di hari senin.
Setelah selesai upacara Zul dan Kejora pulang bersama sama ke rumah Kejora karena kemungkinan renovasi rumah Zul memakan waktu yang cukup lama karena mendapatkan penambahan bangunan baru serta merenovasi total rumah Zul jadi seakan akan membuat rumah dari nol kembali mungkin bisa memakan waktu sekitar setengah tahun bisa lebih agar Rumah Zul benar benar siap di tempati.
Saat di jalan pulang…
“Ra kamu manjangin rambut”“ tanya Zul yang penasaran dengan rambut Kejora yang panjang tergerai indah menutupi leher jenjang Kejora.
“Iya.“ jawab Kejora singkat.
“Kenapa kamu panjangin, terus kok cepet amat ya panjangnya, udah sampe punggung aja, perasaan waktu lIburan masih diatas bahu dikit.“ tanya Zul yang lupa dengan janji Kejora pada Zul.
“Kayaknya Zul lupa deh, gak apa-apa deh, biar kejutan buat dia.“ pikir Kejora.
“Hmm… pengen aja, aku bosen gaya rambut kayak gitu, kamu gak suka?“ tanya Kejora.
“Eh… kata siapa aku suka banget, cuma aku penasaran aja, pasti susah ngerawat rambut sepanjang itu.“ jawab Zul.
“Lumayan susah sih, tapi aku pengen aku gak pernah punya rambut panjang soalnya.“ jawab Kejora.
“Masa sih, waktu kecil juga rambutmu gak panjang?“ tanya Zul menaikkan sebelah alisnya.
“Dulu aku potong sendiri sampe di marahin Papa karena hancur potongannya.“ jawab Kejora malu-malu mengingat masa kecilnya.
“Hahaha… kamu kecil ternyata nakal ya?“ jawab Zul terbahak-bahak.
“Bukan nakal, tapi imajinasinya tinggi.“ Kejora membela diri.
“Eh… ngelak lagi gak mau ngaku.“ jawab Zul.
“Kayak kamu gak pernah aja.“ ucap Kejora kesal.
“Gak, soalnya rambutku lumayan panjang sampe SD kelas 2.“ jawab Zul dengan tenang.
“Eh… masa sih, aku penasaran deh, kamu gimana kalo rambutnya panjang.“ ucap Kejora.
“Jangan, kamu pasti kaget, aku sering dikira cewek tau gak, gara-gara itu.“ ucap Zul lemas menunduk lesu.
“Zul malem minggu buat acara yuk, aku udah ajak Ferdy, ahmad, sama Beny.“ ajak Kejora penuh semangat.
“Boleh aja sih, acara apaan emang?“ tanya Zul penasaran dengan Kejora yang terlihat sangat bersemangat.
“Bakar ayam sama barbeque, aku pengen bakar-bakar lagi.“ jawab Kejora.
“Mau dimana acaranya?“ tanya Zul.
“Di rumahku aja, kan halamannya luas, bisa pake yang mana aja.“ jawab Kejora dengan penuh semangat
“Mending yang deket kolam renang, kalo yang ada rumputnya nanti kebakaran, mana rumputnya rumput mahal lagi.“ jawab Zul.
“Bagus juga sih, oke deh, tempatnya udah di tentuin hari ini kita siap-siap.“ ucap Kejora tersenyum penuh semangat.
“Semangat amat sih, my sweet lady?“ tanya Zul penasaran.
“Iya dong, soalnya gak tau kapan bisa bikin acara kayak gitu lagi.“ jawab Kejora dengan senyum memendam kesedihan.
“Pasti bisa kok, tenang aja aku yakin pasti masih bisa.“ jawab Zul.
Dan mereka pun sampai di rumah, Kejora bingung hadiah apa yang ingin di berikan pada Zul, sebenarnya dia sudah menyiapkan sesuatu untuk Zul. Baju yang Kejora rajut sendiri secara diam-diam selama satu bulan ini, namun dia takut jika hasilnya buruk di mata Zul.
Sweater rajutan dengan lengan panjang berwarna putih, diselingi motif warna hitam. Kejora diam-diam mengambil ukuran badan Zul dari jaket yang sering Zul gunakan. Meski sudah selesai, Kejora tetap tak percaya diri, dengan apa yang dia telah buat akan menjadi hadiah yang mengesankan untuk Zul atau tidak.
“Tanya Ibu pasti Ibu bisa kasih pencerahan.” pikir Kejora.
Dan keesokan harinya…
“Bu.“ panggil Kejora, memanggil Ibu Zul yang sedang merapikan tempat tidur.
“Kenapa sayang?“ tanya Ibu Zul.
“Aku mau nanya, kado yang cocok untuk cowok apa?“ tanya Kejora dengan suara pelan.
“Buat pasangan ya?“ tanya Ibu Zul dengan penuh selidik.
“Ya gitu deh, Bu.“ jawab Kejora malu-malu.
“Itu harus kamu pikirin sendiri.“ jawab Ibu Zul sambil tersenyum.
“Eh… kok gitu.“ protes Kejora Kejora yang kecewa dengan jawaban dari Ibu Zul.
“Karena untuk seseorang yang saling mencintai itu, bukan masalah mewah atau mahal, kamu yang lebih mengerti maunya pasangan kamu daripada siapapun di dunia ini, Ibu yakin kamu pasti bisa, semangat ya.“ jawab Ibu Zul.
“Iya Bu, makasih Bu buat pencerahanya.“ jawab Kejora sambil pergi meninggalkan Ibu Zul.
“Hmm… Ibu gak kasih tau, aku gak dapet apa-apa dari Ibu, coba Mama deh.“ pikir Kejora.
Lalu ia pun bergegas menuju kamarnya dan menelfon Mamanya.
Suara Handphone…
__ADS_1
“Halo Ma.“ ucap Kejora dengan cepat.
“Iya, kenapa sayang? tumben kamu nelpon, ada apa?“ tanya Mama Kejora khawatir dengan Kejora yang tiba-tiba menelfon dirinya.
“Aku mau tanya sesuatu penting.“ jawab Kejora.
“Tanya apa sayang? sampe bilang penting kayak gitu.“ tanya Mama Kejora khawatir.
“Kado buat pasangan bagusnya apa?“ tanya Kejora pelan.
“Hahahaha… jadi itu yang kamu bilang penting.“ jawab Ibu Kejora tertawa dengan keras.
“Ih Mama kok malah ketawa, tega amat.“ ucap Kejora Kesal.
“Abisnya kamu bikin Mama khawatir, kirain ada apa sampe ngomong penting. Taunya cuma kado buat Zul aja kamu pusing.“ jawab Mama Kejora.
“Ya aku bingung Ma, terus apa yang cocok?“ tanya Kejora penuh harapan.
“Kamu cari sendiri dong.“ jawab Mama Kejora.
“Kok sama aja jawabannya kayak Ibu?“ tanya Kejora kesal bercampur bingung.
“Mama kasih tau kamu sesuatu sayang.“ jawab Mama Kejora.
“Apa itu ma?“ tanya Kejora penasaran.
“Yang penting itu punya kesan yang dalam, Mama yakin kamu ngerti maksud Mama, kamu anak yang jenius sayang, pasti Ibu juga punya maksud yang sama kayak Mama.“ jawab Mama Kejora
“Aku gak paham.“ jawab Kejora dengan cepat.
“Yaudah deh kamu pikirin sendiri ya, Mama mau pergi, emang kapan Zul ulang tahun?“ tanya Mama Kejora.
“Besok Ma?“ jawab Kejora.
“Semangat ya sayang, Mama percaya kamu bisa, bye sayang.“ jawab Mama Kejora sambil menutup telfon.
“Mama juga sama aja.“ pikir Kejora bingung.
Tinggal hari ini keputusan kado apa yang akan Kejora berikan pada Zul, tapi jawaban tak di dapatkan oleh Kejora. Dia ragu untuk memberikan sweaternya sebagai kado untuk hari yang penting untuk Zul. Namun Kejora kalah oleh waktu yang sangat sebentar ini, satu hari lagi, ulang tahun Zul, dia harus mendapatkan kado yang istimewa untuk Zul.
Kesan dan tak harus mahal dan mewah hanya itu titik terang yang ia dapatkan dari Mama dan Ibu Zul. Dia berpikir apa yang berkesan dari sweaternya hingga sweater itu menjadi istimewa untuk Zul, dia tidak ada pilihan lain selain memberikan sweaternya itu Besok, dia sudah tak dapat membeli kado, karena harus mempersiapkan acara untuk Zul.
Meskipun sudah dibantu oleh Bi Maryam dan Ibu Zul namun Kejora ingin ulang tahun Zul yang ke-17 ini menjadi hari ulang tahun yang akan dia selalu ingat seumur hidupnya. Kejora ingin hari itu menjadi kenangan yang istimewa untuk Zul karena Zul sudah memberikan yang terbaik untuknya di ulang tahunnya yang ke 16 kemarin.
Dan hari pun telah berganti perputaran waktu tak dapat di bendung terus melaju berputar tanpa berhenti. Kejora sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk nanti malam, dia masih merahasiakan untuk apa acara itu sebenarnya, mungkin teman-teman Zul dan orang tua Zul sudah tahu untuk apa acara itu di persiapkan, maka dari itu mereka sangat antusias mempersiapkan acara ini agar semeriah mungkin, walaupun dengan sedikit orang yang hadir yang penting berkesan untuk Zul.
Namun ada satu hal yang membuat ia berbeda hari ini, rambutnya yang sudah cukup panjang ia gerai, menggantung indah menghiasi penampilannya dan ia pun memakai kalung yang Zul berikan sebagai hadiah, tetapi berbeda di hari ini, kalung yang biasanya bersembunyi di balik bajunya, kini berada di luar bajunya melingkar di lehernya yang jenjang.
Zul dan teman-temannya pun dibuat kagum dan takjub dengan penampilan Kejora pada malam itu, benar-benar cantik, aura kecantikannya sangat kuat. Teman-teman Zul memandang Zul dengan tatapan iri dan ingin membunuh setelah melihat Kejora saat ini.
“Kenapa kalian ngeliatin aku kayak gitu?“ tanya Zul bingung.
“Kayaknya aku berubah pikiran Zul.“ jawab Beny menatap kesal Zul.
“Hmm… kamu kumat lagi ya, jangan liat-liat!“ ucap Zul kesal sambil menghadang pandangan mereka dengan badannya.
“Liat aja gak boleh, katanya temen.“ protes Rahmad.
“Gak boleh, dia punya aku.“ jawab Zul kesal.
“Kalian ngapain sih?“ tanya Kejora heran penuh dan tanda tanya.
“Ah… gak apa-apa kok, cuma becanda aja.“ jawab Zul dengan tertawa kaku.
“Iya, kan jarang-jarang ya, kita kayak gini.“ ucap Rahmad memukul pundak Zul.
“Iya Ra, ayok kita bakar-bakar.“ ajak Zul memegang tangan Kejora dan menatap ketiga temannya dengan senyum mengejek.
Mereka pun memulai acara bakar-bakar itu, setelah selesai mereka duduk di kursi dan meja, tapi Kejora yang berada di dekat Zul tidak duduk dan tetap berdiri.
“Ra kenapa gak duduk?“ tanya Zul heran.
“Selamat ulang tahun yang ke-17 ya ,Zul.“ jawab Kejora.
“Iya Zul, selamat ya, semoga jadi lebih pinter.“ ucap temannya bersamaan.
“Heee… ini emang tanggal berapa?“ tanya Zul kaget.
“19 agustus.“ jawab Kejora tersenyum memandang Zul.
“Kok kamu tau aku ulang tahun tanggal 19.“ tanya Zul heran.
“Kan kamu bilang waktu itu, waktu aku ulang tahun, kamu lupa ya?“ tanya Kejora.
“Eh… iya aku baru inget, pantesan kamu manjangin rambut.“ jawab Zul sambil tersenyum bahagia.
“Cih… bikin iri aja.“ ucap Rahmad kesal.
“Kalian senengin aku di hari ulang tahunku, kenapa sih.“ jawab Zul kesal.
__ADS_1
“Tiap hari tau gak, kamu bikin aku darah tinggi, mesra-mesraan di depan cowok single kayak kita ini gak sopan tau, kalo bukan temen udah kuhajar dari kemaren-kemaren kamu Zul.“ jawab Rahmad kesal.
“Ganggu.“ jawab Zul dengan spontan, “Makasih ya Ra, aku seneng banget, ini istimewa banget, kamu cantik banget hari ini, biasanya juga sih cantik, tapi hari ini beda, terus kamu bela-belain manjangin rambut kamu selama dua bulan, makasih ya Ra, kamu terbaik.“ ucap Zul tersenyum bahagia pada Kejora.
“Aku seneng kalo kamu seneng, kalo kamu suka aku juga suka, kamu bahagia aku juga bahagia.“ jawab Kejora membalas senyum Zul.
“Ibu sama Ayah, gak mau ngucapin apa gitu?“ tanya Zul kesal
“Ngucapin apa ya? semoga kamu cepet nikah deh, sama Rara.“ jawab Ibu Zul.
“Cuma itu yang Ibu pikirin.“ jawab Zul kesal.
“ Ayah gimana “ tanya Zul dengan tatapan penuh harapan.
“Semoga bisa cepet gendong cucu.“ jawab Ayah Zul.
“Sama aja deh, huffft…“ jawab Zul kesal.
“Eh… jangan marah-marah dong, kan kita hari ini mau seneng-seneng di hari ulang tahunmu, bukan mau marah-marah.“ ucap Kejora.
“Iya Ra, buat semuanya, sekali lagi aku makasih banget, aku seneng banget.“ ucap Zul.
Setelah itu mereka pun menyantap hidangan yang mereka buat. Dengan penuh senyuman, canda tawa terus bersahutan tanpa henti. Jelas terlihat Zul sangat bahagia hari ini, membuat Kejora terus tersenyum melihat Zul yang sedang sangat berbahagia.
Hingga malam mulai larut mereka mulai merapikan tempat dan barang-barang, bersiap untuk beristirahat, karena hari ini cukup melelahkan. Setelah selesai Beny Ferdy dan Rahmad berpamitan untuk pulang.
“Kami pulang ya.“ ucap Rahmad.
“Kadonya mana? main pulang aja.“ tanya Zul.
“Pake kado-kado segala, masih untung udah di rayain, minta kado lagi.“ jawab Rahmad kesal.
“Cih… kalian emang dendam banget ya, sama aku.“ jawab Zul dengan kecewa.
“Ya iyalah.“ jawab Rahmad dengan cepat.
“Udah, udah, makasih ya semuanya buat hari ini, sekali lagi terima kasih, lain kali kita bikin acara lagi.“ jawab Kejora tersenyum.
“Oh iya Ra, sama-sama, kita pulang ya.“ ucap Beny sambil berusaha meraih tangan Kejora.
“Pulang, pulang aja, gak usah pegang-pegang.“ jawab Zul tersenyum sambil menahan tangan Beny.
“Cih… pelit, dasar overprotektif.“ ucap Beny dengan kesal.
“Dah… kami pulang ya.“ ucap Beny dengan kesal.
“Iya hati-hati.“ jawab Kejora, “Zul.“ panggil Kejora.
“Hmm… kenapa? my sweet lady.“ tanya Zul.
“Ke balkon dulu sebentar, bisa gak?“ tanya Kejora gugup.
“Bisa kok.“ jawab Zul dengan tenang.
“Yaudah yuk.“ ajak Kejora.
Saat di balkon…
“Kenapa ra? ngajak kesini?“ tanya Zul penasaran.
“Hmm… aku mau kasih kado.“ jawab Kejora gugup, menunduk tak berani menatap Zul.
“Eh… masih ada kado lagi, padahal aku udah seneng kamu udah bela-belain manjangin rambut demi aku, kamu jadi lebih cantik.“ jawab Zul tersenyum.
“Iya masih ada lagi, semoga kamu suka.“ ucap Kejora sambil memberika sweater rajutannya yang ia simpan di balkon.
“Ini kamu yang buat sendiri.“ tanya Zul takjub saat melihat hadiah dari Kejora.
“Hmm… iya, aku baru coba-coba buat, kamu suka.“ tanya Kejora.
“Gak suka.“ jawab Zul dengan cepat.
“Yaudah kalo gak suka, di buang aja gak apa-apa.“ jawab Kejora tersenyum.
“Hahaha… mana mungkin gak suka, orang bagus gini, mana ini satu-satunya sweater yang kamu buat di dunia ini, istimewa banget tau gak barang ini, makasih ya Ra.“ jawab Zul sambil tertawa hingga matanya berair.
“Kamu itu serius, apa becanda sebenarnya?“ tanya Kejora bingung.
“Serius, kalo yang tadi istimewa itu serius, kamu geh, tegang banget, makanya aku becandain.“ jawab Zul.
“Jahat… jantungku kayak mau copot tau gak.“ jawab Kejora kesal sekaligus lega.
“Kan baru mau, belum copot, aku seneng dapat hadiah istimewa dari kamu, ini punya kesan yang dalam buat aku, kamu mau manjangin rambutmu aja aku udah girang, apalagi kamu pake kalungku diliatin ke 0rang-orang lagi, gak dimasukin baju kayak biasanya aku udah seneng, di tambah lagi kamu adain acara buat aku, aku baru pertama kali ngerayain ulang tahun kayak gini, aku seneng banget terus satu lagi.“ ucap Zul.
“Satu lagi apa?“ tanya Kejora penasaran.
“Kamu cantik banget malem ini, aku serius gak becanda.“ bisik Zul di telinga Kejora.
Lalu mereka mengobrol sekitar satu jam menikmati hembusan angin malam dan di terangi cahaya bulan yang dihiasi jutaan bintang. Saling menggoda, bercanda dan mengingat semua yang telah mereka alami selama ini. Kejora sukses membuat Zul terkesan pada hari ini.
__ADS_1