
Sekitar15 menit dari Zul pulang, Kejora berpikir ada sesuatu yang mengganjal, kenapa
dia secara spontan ingin main ke rumah Zul, sangat jarang terjadi. Dia
bisa keluar dari kamarnya saja sudah suatu peningkatan, apalagi bisa main ke
tempat temen dan itu cowok.
“Hee…kenapa aku yang ngomong duluan mau main ke rumahnya?” gumam Kejora.
“Nantiaku di kira cewek gampangan lagi, ketemu belum sebulan udah main kerumahnya,
gimana dong? gimana ini?” pikirnya.
“Udah gak bisa mundur bendera perang udah berkibar, pilihannya cuma satu yaitu maju.”
kata Kejora dalam hati.
Sesampainya Zul di rumahnya.
“Tumben kamu pulang sore?” tanya Ibu Zul heran. Muka nya hampir mirip dengan Zul,
dengan tinggi rata-rata wanita asia, dan badannya langsing, serta berambut
panjang.
“Habis main tadi.” jawab Zul dengan wajah berseri-seri.
“Kamu abis kencan ya?” tanya Ibu Zul sambil Menyeringai.
“Bukanlah, kan aku belum cukup umur “ jawab Zul
“tck...” suara dari mulut Ibu Zul dengan ekspresi kecewa.
“Oh iya Bu, besok temen ku mau dateng.” ucap Zul.
“Halah, palingan juga terong-terong itu, kan udah sering.” kata Ibu Zul Malas
“Bukan cewek kok.” jawab Zul santai
“Eh... kok kamu gak kasih tau dari tadi, ayah ke sini cepet!” panggil Ibu Zul
“Emang kenapa, pake panggil ayah segala?” jawab Zul heran
“Kenapa sih bu?” jawab Ayah Zul. Berbadan tinggi tegap setinggi Zul, dengan rambut
lurus, rahangnya terlihat kokoh, dan memakai kacamata.
“Zul besok mau ajak cewek kesini.” ucap Ibu Zul dengan tatapan bersemangat.
“Hmmm... oke Bu.” kata Ayah Zul dengan tatapan meyakinkan sambil mengangguk.
“Zul duduk di ruang tamu cepet!” perintah ayah Zul.
“Apaan sih yah?” tanya Zul heran.
“Cepet ini penting!” jawab Ayah Zul.
Zul yang heran berjalan malas menuju ruang tamu dan duduk di sofa, tidak biasanya
Ayah dan Ibunya bertingkah aneh seperti itu apa yang mereka pikirkan sebenarnya,
apa ada yang salah dari ucapan Zul tadi? tanda tanya itu yang ada
dalam pikiran Zul.
“Zul, Ayah sama ibu seneng ternyata kamu normal” kata ayah Zul dengan wajah gembira
“Normal gimana sih, yah?” tanya Zul tidak mengerti.
“Gini, kamu kan selama ini selalu bawa cowok kerumah, ayah sama ibu takut kalo kamu
itu.” jawab ayah Zul terhenti
“Hoi, segitunyaamat sama anak sendiri, itu kejam” teriak Zul.
“Yaudah, ayah bakal langsung tutorial aja dulu.” jelas ayah Zul.
“Tutorial apaan?“ tanya Zul.
“Haduh, kayaknya kamu belum ngerti apa-apa, ayah tanya, kamu udah ada pengaman?“ tanya
ayah Zul dengan wajah serius.
“Pengaman, apa sih yah gak jelas?” tanya Zul bingung.
“Kayak Pil atau sarung gitu.“ jelas ibu Zul.
“Apaan itu?” tanya Zul.
“Yah ini berat.” kata ibu Zul menghela nafas.
“Iya Bu, dia masih nol gak punya persiapan.” jawab ayah Zul.
“Zul gak boleh gitu, kamu harus siap dua-duanya ayah saranin pake yang pil kamu
minta aja punya ibu!”perintah ayah Zul.
“Gak yah, lebih bagus pake sarung.” jawab ibu Zul membantah
“Ambil dua-duanya bu, biar Zul yang pilih ayah ajarin dia yang lain.” perintah ayah Zul
“Oke yah.” jawab ibu Zul sambil berlari dengan kecepatan penuh.
“Zul karena kamu masih nol, ayah ajarin intro nya dulu.” ucap ayah Zul.
“Intro?“ tanya Zul.
Brak...
Ayah Zul tiba tiba mendekati Zul, dengan tangan menempel diatas sofa, dan
wajahnya sangat dekat dengan Zul, serta kedua lengannya berada di pundak Zul,
sambil berkata “ Be my mine” dengan wajah serius.
Zulmenelan ludah atas tindakan ayahnya, apaan ini serem bener-bener serem pikir Zul.
“Eheem.. abis itu kamu lingkarin kaki kanan ke pinggangnya.” perintah ayah Zul dengan serius.
“Pinggang Siapa?” tanya Zul bingung
“Ya ceweknya itu loh Zul.“ jawab Ayah Zul kesal
“Tunggu, tunggu.” jawab Zul.
“Ini Zul, kamu pilih yang mana terserah, tapi ini harus di rundingin dulu sama
cewekmu, jangan egois, ibu bersihin kamarmu dulu.” ucap Ibu Zul.
Ayah Zul menberikan jempol dengan wajah serius pada Ibu Zul.
“Kontrasepsi.” baca Zul.
“Bu, jangan lupa kasih lilin aroma terapi, sama kelopak mawar, tisunya juga yang
banyak, oh iya jamu kuatnya juga.“ teriak Ayah Zul.
“Tenang yah, chemistry kita kuat.” jawab Ibu Zul.
“Ayah,ibu.“ kata Zul dengan wajah marah.
“Kenapa Zul, sekarang udah paham?” jawab Ayah Zul tersenyum.
“Aku tau arahnya kemana, tapi aku gak lakuin yang ayah maksud.” ucap Zul menghela nafas.
Brakkkk...
“Itu gak boleh Zul, cowok itu harus yang punya inisiatif, kamu yang mulai, kamu yang
jadi inisiator.” terang Ayah Zul.
“Yah, jangan deket-deket“ jawab Zul.
__ADS_1
“Oh maaf, ehemm... kamu jangan buat Kecewa cewekmu, Berikan yang terbaik.” kata
Ayah Zul meyakinkan.
“Yah, aku sama dia Itu cuma temen” jawab Zul.
“Cih... padahal aku udah mau gendong cucu.” ucap Ayah Zul pelan.
“Tapi gak papa Zul, siapa tau abis itu kalian langsung nikah.” kata Ayah Zul.
“Otak ayah eror.” jawab Zul.
“Inilah, kenapa aku udah pengen cucu? kamu itu udah gak imut lagi kayak waktu dulu, gak
ada imut-imutnya.” ucap Ayah Zul.
“Udah ah, ntar otak ku eror juga kalo ngomongin bahasan yang belum boleh ku bahas.”
ucap Zul sambil berlalu.
“Kamu mau kemana?” tanya ayah Zul.
“Mandi mau ikut.” Zul kembali bertanya pada ayahnya.
“Iya, ayah harus pastiin sesuatu.” jawab Ayah Zul menarik lengan Zul.
“Sekarang apalagi?” tanya Zul Kesal.
“Ayah mau pastiin, ukuran bonggol jagung mu.” jawab ayah Zul.
“Gak akan.” jawab Zul sambil pergi.
“Zul itu penting buat kesan pertama.” teriak Ayah Zul.
“Gak peduli.“ kata Zul marah sambil pergi berlalu.
“Apa-apaan sih ayah sama ibu, aku ni masih kelas 2 SMA, masih banyak yang harus di cari,
masih banyak yang harus di perjuangkan, udah mikirin cucu segala.“ gumam Zul
sambil berjalan ke kamar mandi.
Keesokan harinya Zul sudah bangun di pagi buta untuk jogging agar tubuhnya sedikit
bugar, karena di saat hari hari sekolah ia sangat jarang berolahraga sambil
menikmati Kristal embun berjatuhan dingin namun menyejukan. Sedangkan kejora
sudah bersiap-siap untuk mandi di rumahnya, dia sebenarnya masih heran kenapa
dia harus mandi pagi-pagi, padahal ini hari minggu yang seharusnya dia habiskan
untuk membaca buku sampai larut malam.
“Tumben nak Rara, pagi-pagi udah mandi“ tanya Bi Maryam.
“Mau main.” jawab Kejora singkat.
“hmm... sama calon tuan besar?” tanya Bi Maryam.
“Masih pagi Bi, nanti aku darah tinggi.” jawab Kejora.
“Gak boleh gitu Nak, cowok gak suka sama cewek kasar.” terang Bi Maryam.
“Terus?“ tanya Kejora.
“Lembut tapi agresif.” jawab Bi Maryam dengan percaya diri.
“Terserah lah,aku gak ngerti.“ jawab Kejora
“Nak Rara, biar Bibi yang pilih bajunya ya.” pinta Bi Maryam dengan senyum
mencurigakan.
“Aku bukan anak kecil Bi” jawab Kejora.
“Mengenang masa lalu nak.” jawab Bi Maryam.
“Iya udah deh.“ jawab Kejora tanpa pikir panjang.
“Bi kok pake dress, aku bukan mau ke pesta atau acara resmi, jugaan ini terlalu.”
jawab kejora tersipu malu tidak melanjutkan perkataannya.
“Nak, ini feminim percaya sama Bibi “ Jawab Bi Maryam Sambil tersenyum.
“Gak akan ku pake.” jawab Kejora Tegas.
“Oke, Bibi pilih yang Lain, kali ini pas sama selera Nak Rara dan calon tuan besar.”
ucap Bi Maryam yakin.
“Bi, jangan bawa-bawa dia terus” jawab Kejora.
“Tenang Nak, serahkan pada yang berpengalaman.” jawab Bi Maryam.
“ini bagus, kalo Nak Rara pake.” Ucap Bi Maryam.
“Oke deh, kalo yang ini ” jawab Kejora.
Kemeja panjang berwarna biru muda, dengan rok berwarna krem muda, taburan bedak tipis
menghiasi wajah kejora, dan rambutnya yang tertata indah. Sederhana memang
riasannya, tapi itu sudah membuatnya terlihat cantik, dan feminim cukup lama
waktu yang di habiskan untuk itu semua karena perdebatan yang terjadi, antara
majikan dan pelayan yang terlihat, seperti ibu yang sedang mendandani anaknya.
Zul sudah berada di depan pintu gerbang Kejora, dengan sweater putih dan celana
levis, berwarna biru, mengenakan sepatu casual, berwarna putih mirip oppa-oppa
korea tampan, dan terlihat baby face wajahnya, karena perpaduan warna
pakaiannya yang berwarna muda.
“Ngapain kesini?“ tanya Pak Jony dengan wajah sangarnya.
“Jemput Rara pak, dia katanya mau main ke rumahku.” jawab Zul tersenyum.
“Saya ikut.“ kata Pak Jony melotot.
“Aku sih gak masalah pak” jawab Zul merinding.
“Aku yang punya masalah.” jawab Kejora mengagetkan Zul dan membuatnya kagum.
“Beautifull“ tanpa sadar kata itu terucap dari bibir Zul.
“Haaaa…. Ngomong apa barusan ?” tanya Pak Jony melotot.
“Gak salah denger deh pak.” kata Zul ketakutan.
“Nak Rara mau main ya bapak anter ya?“ tanya pak Jony.
“Hmmm... Zul rumah mu Jauh gak dari sini?” tanya Kejora.
“Sepuluh menitan deh, kayaknya.” jawab Zul.
“Yaudah kalo gitu, gak usah pak.” jawab Kejora.
“Gak bisa“ jawab Pak Jony.
“Yaudah. aku gak jadi main.” jawab Kejora kesal.
“Eh, jangan ngambek dong Nak, oke Bapak gak ikut.” jawab Pak Jony.
“Yaudah Zul ayo jalan!” ajak Kejora.
“Zul semoga kamu gak amnesia ya.” ucap Pak Jony Sambil melotot.
“Tenang pak, aku gak ada penyakit itu“ jawab Zul tersenyum.
__ADS_1
Berjalan mereka menuju ke rumah Zul, seperti biasa mereka selalu mencuri perhatian, dan
menjadi bahan perbincangan membuat iri setiap pasangan yang melihat mereka pada
saat itu, kata cocok dan serasi tidak dapat lepas dari mereka berdua, setibanya
di rumah Zul.
“Ra maaf ya, rumah aku gak besar mungkin kamu bisa kegerahan.” kata Zul membuka
pembicaraan
“Bukan masalah.“ jawab Kejora santai.
“Eh, anak gadis ibu dateng.” ucap Ibu Zul membuat hampir copot jantung Zul dan
Kejora.
“Tante siapa ya? aku belum pernah liat tante?” tanya kejora.
“Eh, kamu kan pacarnya Zul, berarti bentar lagi kan jadi anak ibu, jangan panggil
tante dong, Ibu ya!” ucap Ibu Zul.
“Tapi aku cuma temen yang.” jawab Kejora
terpotong.
“Udah, jangan di rahasiain Ibu setuju kok udahan, besok nikah juga Ibu restuin.”
potong Ibu Zul.
“Ibu gak sopan tau.” ucap Zul.
“Kamu diem aja“ teriak Ibu Zul lalu tersenyum pada Kejora, yang wajahnya tersipu malu
membuat gemas Ibu Zul.
“Udah yuk masuk kedalem, kepanasan nanti anak gadis Ibu“ ajak Ibu Zul, menyeret
lengan Kejora.
“Ya Tuhan” dalam hati Zul.
“Ayah, anak gadis kita udah dateng.” teriak Ibu Zul.
“Bu malu-maluin tau gak.” Ucap Zul panik dan malu.
“Maaf ya Ra, Ibu ku orangnya emang aneh.” ucap Zul pada kejora dengan wajah bersalah.
“Gak apa-apa kok, aku suka Ibu mu.” jawab Kejora Tersenyum. Senyum terindah yang
pernah di lihat oleh mata Zul.
“Eh, kamu gemesin banget deh.“ ucap Ibu Zul.
“Makasih Tante” jawab Kejora.
“Panggil Ibu bukan Tante.“ kata Ibu Zul dengan wajah horror.
“Iya Bu.” jawab Kejora menurut.
“Zul.” bisik ayah Zul sambil menepuk bahu Zul.
“Sakit Yah.” jawab Zul.
“Good Job my son, gak sia-sia ayah masangin kamu pempers dulu.” bisik ayah Zul.
“Apaan sih yah, nanti kalo dia ilfeel gimana coba?” tanya Zul.
“Ehem... Bu kalo ada tamu harusnya buat minum dong!” perintah ayah Zul.
“Aduh, Ibu kelupaan yah bahagia banget Anak Gadis dateng.” jawab Ibu Zul.
“Siapa namanya, Nak?” tanya ayah Zul pada Kejora.
“Rara Om.” jawab Kejora tersenyum
“Oh iya, duduk dulu Nak” ajak Ayah Zul.
“Iya Om” jawab Kejora.
“Eh, panggil Ayah juga gak papa, temen-temen Zul juga panggil Om sama tante, ibu
sama ayah.” jawab Ayah Zul.
“Om aja kayaknya deh.“ jawab Kejora Gugup.
“Kejora rumahnya dimana?” Tanya ayah Kejora.
“Gak jauh kok, dari sini om.” jawab Kejora santai.
“Itu lo yah, yang rumahnya kayak hotel bintang 5 malah mirip apartemen yang sering ayah lewatin kalo main tempat om Amin” jawab Zul.
“Zul ikut ayah bentar!” seketika raut wajah ayahnya berubah.
“Bentar ya, Nak rara.“ ucap ayah Zul.
“Iya om.“ jawab kejora yang heran dengan perubahan raut wajah Ayahnya Zul.
“Apaan sih, Yah" tanya Zul.
“Jangan bilang, kamu pacaran sama dia gara,gara dia kaya, kamu mau manfaatin dia?”
tanya ayah Zul dengan wajah menyeramkan.
“Aku gak pacaran, cuma temen, lagian aku baru tau pas udah temenan sama Rara kalo
dia itu orang kaya.” jawab Zul.
“Gimana ayah bisa percaya?” Tanya ayah Zul dengan tegas.
“Sumpah Yah, demi harga diri ku sebagai pria.” jawab Zul dengan tegas dan terdengar
oleh Kejora.
“Jangan keras-keras Rara bisa denger, inget Zul! emang kita bukan orang kaya, tapi kalo
mau jadi kaya ayah gak ajarin kamu dengan cara kayak gitu.” jawab Ayah Zul
dengan Tegas.
“Aku pengen temenan sama dia, karena dia itu beda dari wanita lain Yah, bukan karena
kekayaanya.“ jawab Zul meyakinkan.
“Itu bagus.” jawab ayah Zul kembali. menghampiri Kejora yang sedang berbincang
dengan Ibu Zul.
“Maaf ya, Nak Rara” Ucap ayah Zul tersenyum.
“Gak papa om, gak perlu permasalahin aku anak orang kaya, karena aku cuma anaknya.
yang kaya orang tua ku bukan aku.” jawab Kejora Tersenyum.
“Kayaknya, kecurigaan ku gak benar.” pikir Kejora
"Gini Ra, Om gak mau ada prasangka negatif terhadap keluarga kami yang seadanya, Zul
itu gak pernah ajak main cewek kerumahnya, kamu yang pertama dia ajak setelah
denger kamu putri orang berada, Om takut kalo Zul punya maksud tersembunyi.”
jawab Ayah Zul menerangkan dengan wajah serius dan merendah.
“Aku gak mempermasalahkan strata kok Om.” jawab Kejora.
Lalu mereka pun mulai mengobrol lepas, setelah mendengar perkataan ayah Zul. Kejora
merasa seperti di hujani seribu tombak ke hatinya, karena sudah berprasangka
buruk pada keluarga Zul, dan Zul yang baik dan penuh kehangatan seperti ini.
__ADS_1
Sesuatu yang berbeda dengan keluargaku pikir Kejora.