
Berdetak keras
jantung Zul menantikan jawaban Kejora, kakinya lemas, dia memegang pagar balkon
dengan erat, agar dirinya tidak roboh, serasa berlari sekuat tenaga, nafasnya
terasa berat, badannya panas, mengalir keringat dingin dipunggung tangan Zul
saat ini. Kejora pun mengalami hal yang serupa, mengalami hal yang sama, dengan
yang sedang Zul Rasakan.
“Dan jawaban
kamu Ra?“ tanya Zul dengan wajah tegang berkeringat.
“Sebelum itu,
aku ada pertanyaan sama kamu?“ jawab Kejora.
“Apa
pertanyaanmu? aku bakal jawab.“ ucap Zul.
“Gini Zul, kamu
tau aku punya cita-cita, punya tujuan yang ingin aku dapatkan, itu bukan
sesuatu yang mudah untuk aku raih, dan saat aku benar-benar dapat menggapai
impianku, mungkin kita akan berpisah dalam waktu yang lama, apa kamu sanggup?“
tanya Kejora
“Aku tunggu Ra,
dan aku akan berusaha untuk nyusul kamu, jika memang itu satu-satunya pilihan
agar kita dapat bersama, kemanapun kamu pergi aku akan berusaha untuk nyusul,
kamu berapa lama pun kamu pergi aku akan tetap tunggu kamu, aku sanggup
ngelakuin itu Ra, demi kamu.“ jawab Zul
“Jaraknya jauh Zul,
3.1 menit cahaya, apa kamu berpikir mudah untuk nyusul? “ tanya Kejora.
“Aku tau itu gak
bakal mudah, tapi aku akan usahain itu, mungkin kamu pikir aku gak tau kemana
tujuanmu, tapi Ra asal kamu tau aku paling suka dengan dengan sesuatu yang
berhubungan dengan ruang angkasa, walaupun aku gak sehebat kamu, tapi aku
paling suka suka tentang itu, kenapa aku selalu menatap keatas itu alasanku,
dan dari pertanyaanmu tadi aku tahu tujuanmu kemana.“ jawab Zul.
“Zul.“ ucap Kejora.
“Kamu mau ke
mars bukan.“ tanya Zul.
“Iya Zul.“ jawab
Kejora.
“Aku dukung kamu,
aku bantu kamu mencapai cita-citamu, dengan semua yang bisa kulakukan.“ ucap Zul.
“Tapi Zul, aku
mungkin bakal lama disana, apa kamu masih mau nunggu aku?“ tanya Kejora menatap
sayu Zul.
“Berapa lama pun
kamu disana, aku tetep nunggu kamu, itu bukan masalah buatku, yang jadi masalah
itu kalo kamu gak mau aku tunggu, kalo kamu gak mau aku susul, dan kalo kamu
gak membalas perasaanku itu yang bakal jadi masalah.“ jawab Zul.
“Zul aku boleh
tau apa cita-cita kamu, apa tujuanmu, apa yang ingin kamu capai, kamu udah mau
dukung aku, dan aku juga mau dukung kamu, apa cita-citamu Zul?” tanya Kejora
Dengan tersenyum
lebar, Zul menjawab pertanyaan Kejora.
“Cita-citaku
kamu Ra, tujuanku kamu, apa yang ingin aku capai kamu, dan apa yang ingin aku
dapatkan itu kamu juga.“ jawab Zul.
Braaaak…
Lalu Zul memgang
erat pagar balkon, kedua tangan Zul berada dipinggang Kejora, dan wajahnya
sangat dekat dengan wajah Kejora,
“Zul kamu mau
apa? aku bisa jatuh ini tinggi banget.“ ucap Kejora ketakutan.
“Tenang aku gak
bakal macem-macem aku cuma mau kamu jawab pertanyaanku sekarang juga, aku udah
gak bisa nunggu lagi, aku udah gak bisa lebih sabar lagi, Kejora apa kamu mau
jadi Ibu buat anak-anakku? apa kamu mau jadi satu-satunya pasangan hidupku
sampai jantungku berhenti berdetak?“ Tanya Zul dengan wajah memelas.
“Zul aku takut
jatuh, tolong bisa agak menjauh sedikit!“ jawab Kejora ketakutan.
“Jawabannya cuma
mau atau gak, Ra.“ jawab Zul dengan tatapan tajam.
“Zul please.“
pinta Kejora memohon, menatap sendu Zul.
“Mau atau gak
Ra?“ jawab Zul tegas.
“Oke Zul,
aku jawab sekarang Zul, kalo aku gak
suka sama kamu, aku sama aja bohong sama hatiku sendiri, kalo aku gak membalas
perasaanmu, aku cuma buat sakit hatiku sendiri, jujur Zul aku juga jatuh cinta
sama kamu, suka sama kamu, tapi Zul.” jawab Kejora terhenti.
“Mau atau gak Ra?
aku gak denger kata-kata selain itu.“ ucap Zul memaksa Kejora.
“Aku punya tujuan
Zul, aku punya cita-cita aku mau Zul, jadi Ibu buat anak-anakmu, jadi pasangan
hidupmu sampai jantungku berhenti berdetak, tapi aku gak bisa kalo itu sekarang,
Zul ini terlalu cepet, kita masih SMA.“ ucap Kejora.
“Jadi kamu mau?“
tanya Zul menegaskan jawaban Kejora.
“Aku mau Zul,
tapi kalo kepelaminan sekarang, aku gak bisa, aku juga belum bicara sama Mama
dan papaku, memangnya Ayah sama Ibumu udah tau, kita masih dibawah umur buat
nikah.“ jawab Kejora.
“Jadi kamu mau,
itu udah cukup buatku, aku seneng, aku bahagia, makasih Ra, udah mau jadi Ibu
buat anak-anakku, dan mau jadi pasangan hidupku sampai akhir nafasku, kapan Mama
sama Papamu ada di rumah?“ Tanya Zul tersenyum menatap Kejora.
“Zul kita belum
boleh nikah, kita masih SMA, aku punya cita-cita.“ jawab Kejora panic.
“Tunggu Ra, tapi aku gak ngajak kamu nikah
sekarang.“ jawab Zul bingung.
“Hee…” jawab Kejora
kaget, diam, membatu.
“Aku mau Nikah
kalo kamu udah siap, dan aku yakin
sekarang kamu belum siap.“ ucap Zul.
“Terus?“ tanya Kejora
masih bingung.
“Aku tunggu
sampe kamu siap nikah sama aku“ jawab Zul.
“Ya ampun, malu
banget, aku kira dia udah ngajak nikah sekarang.“ pikir Kejora dengan wajah
memerah malu, mengalihkan wajahnya dari pandangan Zul.
“Aku masih punya
cita-cita Zul, mungkin.“ tanya Kejora terhenti.
“Jawabanku gak
berubah .” jawab Zul.
“Papa aku galak,
dia itu menyeramkan.“ tanya Kejora.
“Aku gak peduli,
jawabanku tetep sama.“ jawab Zul.
“Kamu berani
__ADS_1
ngomong sama Papaku?“ tanya Kejora menatap Zul memelas.
“ Berani dong,
kapan Papamu dirumah?“ Tanya Zul dengan sombongnya.
“4 hari lagi
ulang tahunku, Papa Mamaku bakal dirumah.“ jawab Kejora dengan wajah gembira.
“itu bentar lagi
dong, ini cepet banget, yang bener aja, aku gak bisa mundur, nanti Kejora bisa
ragu sama aku.“ pikir Zul.
“Oke, kamu mau
kado apa?“ tanya Zul bersikap seolah tenang tanpa ketakutan.
“Dapetin restu
dari Papa sama mamaku.“ jawab Kejora sambil tersenyum menatap Zul penuh
harapan.
“Ra aku tau kamu
unik, tapi aku gak nyangka permintaanmu bisa itu, aku ketemu aja belum pernah
sama orang tuamu, gimana caranya coba.“ ucap Zul dalam hati.
“Kamu gak bisa?“
tanya Kejora dengan tatapan memelas, sedih.
“Kalo itu kado
yang kamu mau, aku pasti dapetin itu buat kamu.“ jawab Zul.
“Makasih Zul,
aku seneng.“ jawab Kejora.
“Yang berbentuk
fisik atau benda gitu, ada yang kamu mau gak?“ tanya Zul.
“Hmm… gak ada
deh kayaknya, aku cuma mau itu.“ jawab Kejora.
“Ra, kan ini belum
terlalu malem, kamu mau gak ke rumahku? kalo kamu nanti mau pulang aku anter, aku
mau ngomongin ini sama Ayah sama Ibu.“ pinta Zul.
“Oke deh, aku
mau, tapi aku gak yakin, kalo masih boleh nginep?“ jawab Kejora dengan senang
gembira.
“Itu biar aku
yang ngomong, kamu tenang aja.“ ucap Zul.
“Yaudah deh, aku
ganti baju dulu.“ jawab Kejora.
“Aku tunggu
dibawah.“ jawab Zul.
Kejora hanya
mengangguk dengan wajah tersenyum gembira. Zul pun turun ke bawah meninggalkan Kejora,
dan duduk di dekat Pak Jony.
“Hai pak.“ sapa Zul.
“Kenapa?“ tanya
Pak Jony.
“Mau duduk
disini boleh?“ tanya Zul.
“Terserah… kamu
tadi ngapain sama Non Rara?” tanya Pak Jony.
“Aduh, gimana ya
Pak ngomongnya pokoknya masalah anak muda Bapak pasti ngerti?“ jawab Zul.
“Hmm… masalah
yang kayak gimana dulu?“ tanya pak Jony tersenyum menatap tajam Zul dengan hawa
igin membunuh.
“Tenang Pak,
tenang dulu, saya gak aneh-aneh, sumpah Pak demi apapun.“ jawab Zul.
“Hmm.. gitu ya,
selamat Zul.“ ucap Pak Jony pelan.
“Selamat gimana
ya Pak?“ tanya Zul tersenyum bingung.
tau sendiri.“ jawab Pak jony cuek.
“Zul ayo
berangkat.“ ucap Kejora.
“Cepet banget
gak kayak biasanya.“ tanya Zul
“Cepet salah,
lama marah-marah, maunya apa sih.“ jawab Kejora kesal.
“Mau kemana Nak?“
tanya Pak Jony.
“Mau kerumah Zul.“
jawab Kejora.
“Ada siapa dirumah
Zul?“ tanya Pak Jony.
“Ada Ayah sama Ibunyalah
pak.“ jawab Kejora.
“Yaudah Nak,
kalo mau pulang, telfon biar bapak jemput.“ ucap Pak Jony.
“Iya Pak.“ jawab
Kejora.
Merekapun
berjalan pergi menuju rumah Zul. Ingin rasanya menggandeng tangan Kejora,
berjalan menggenggam dengan erat tangannya, tapi ini terlalu cepat pikir Zul,
mereka berdua terlihat canggung, sama-sama tak berani memandang wajah satu sama
lain, sampai tiba dirumah Zul.
“Yah, Bu.“
teriak Zul.
“Kenapa sih?
malem-malem udah teriak teriak.“ jawab Ibu Zul.
“Aku mau ngomong
penting cepetan keruang tamu.“ teriak Zul.
Kejora langsung
duduk diam, badannya dirapatkan, sekujur tubuhnya tegang, berkeringat dingin, Zul
yang melihat Kejora yang tampak sangat tegang, merasa kasihan dan berusaha
membuat Kejora untuk lebih tenang.
“Tenang Ra.“
ucap Zul memegang tangan Kejora, dan saat itu juga badan Kejora langsung
melemas, dan ketegangannya menghilang, Kejora hanya menjawab Zul dengan sebuah
anggukan.
“Apaan sih Zul,
malem-malem kayak gini teriak-teriak.“ tanya Ibu Zul yang duduk berbarengan
dengan Ayah Zul.
“Aku pacaran
sama Kejora.“ ucap Zul spontan.
Ibu dan Ayah Zul
saling menatap dan sama-sama diam, lalu menengok kearah Kejora.
“Ra apa bener?“
tanya Ayah Zul.
“I…i…ya Yah.” jawab
Kejora yang tegang dan gugup.
“Ra kamu sadar
kan, gak dibawah pengaruh obat?“ tanya Ayah Zul.
“Apa yang Ayah
bicarain, itu kejam tau gak.“ jawab Zul kesal.
“Kamu gak lagi
diancem kan sama Zul?” tanya Ibu Zul.
“Gak kok Yah, Bu”
jawab Kejora yang menahan tawa.
“Ibu juga, segitu
__ADS_1
gak percayanya apa sama aku?“ ucap Zul kesal
“Hmm… berarti
kita lagi mimpi Yah, ayok tidur lagi.“ ajak Ibu Zul.
“Ibu, Ayah, ini
kenyataan.“ jawab Zul kesal.
“Beneran,
serius, beneran.“ tanya Ibu Zul.
“Beneran, serius,
beneran, sumpah.“ jawab Zul.
Ayah dan Ibu Zul
langsung terdiam, dan menunnduk.
“Yah, Bu.“ tanya
Zul panik.
“Syukurlah Yahm
akhirnya Zul dapet pacar, walaupun kayaknya Kejora gak cocok sama Zul, syukur
dia mau, Ibu seneng banget. ternyata kita salah sangka udahan selama ini.“
jawab Ibu Zul sambil menangis memeluk Ayah Zul.
“Iya Bu, Ayah
juga seneng, ternyata dia gak jeruk makan jeruk.” jawab Ayah Zul yang sama-sama
menangis bahagia.
“kelewatan tau
gak, dikira anaknya jeruk makan jeruk.“ jawab Zul.
“Jadi kapan
kalian nikah? apa besok? kita udah restuin kok, iya kan Yah?“ tanya Ibu Zul.
“Iya Bu, Ayah
restuin, apa mau Ayah panggilin penghulu sama saksinya sekarang.“ tanya Ayah Zul.
“gak, itu
kecepetan, aku emang mau nikah sama Kejora, tapi gak sekarang.” jawab Zul.
“Hee… kenapa?“
tanya Ibu Zul seakan tak puas dengan jawaban Zul.
“Kita berdua,
masih SMA.“ jawab Zul.
“Cih…“ ucap Ibu
dan Ayah Zul bersamaan.
“Apaan kayak
gitu?“ tanya Zul kesal.
“Taudah deh gak apa-apa,
Kejora mau sama kamu juga, Ibu udah seneng.“ ucap Ibu Zul sambil mendekati Kejora.
“Ra makasih ya,
udah mau sama Zul, Ibu bahagia banget, semoga kalian menikah dan kalian tetap
bersama sampai maut memisahkan.“ ucap Ibu Zul.
“Iya Bu semoga
aja.“ jawab Kejora.
“Zul Ayah seneng
banget, kamu emang anak Ayah.“ ucap Ayah Zul memeluk Zul.
“Yah malu-maluin
tau, jaga image dikit dong ada Kejora ini.“ jawab Zul.
“Oh iya, maaf Zul
.” jawab Zul.
“ Ehem… kamu
emang hebat Zul.“ ucap Ayah Zul dengan tegas.
“Makasih yah.“
jawab Zul tersenyum.
“Ra sekarang
panggil om Ayah ya.“ pinta Ayah Zul.
“Ayah?“ jawab Kejora
kaget.
“Gak mau?“ tanya
Ayah Zul memelas.
“Mau kok Yah,
aku seneng.“ jawab Kejora tersenyum.
“Emang kamu gak
salah pilih Zul, Ayah kalo masih muda pasti milih Kejora.“ ucap Ayah Zul.
“Heee… jadi gitu
Yah?“ ucap Ibu Zul melotot kearah Ayah Zul.
“Bu ini ibarat,
cuma umpama, Ayah tetep sayang dan cinta sama Ibu, hati Ayah cuma Punya Ibu “ jawab Ayah Zul ketakutan.
“Ayah, Ibu malu
deh.“ jawab Ibu Zul dengan wajah merah padam.
“Ceritain geh Ra,
Zul nembak kamu?“ tanya Ibu Zul penasaran.
“Ih malu lah Bu.“
jawab Kejora.
“Pasti gak ada
romance-romancenya sama sekali.“ jawab Ibu Zul.
“Kalo gak ada
romance-romancenya, gak mungkin Kejora sampe mau Bu.“jawab Zul.
“Iya juga sih, Ibu
penasaran deh, tapi gak seromantis novel atau sinetron.“ ucap Ibu Zul.
“Itu lebih
romantis dari semua novel yang ada didunia ini, dan lebih romatis dari Sinetron
manapun yang ada.“ jawab Kejora spontan dan tanpa sadar.
“Kamu nginep, dirumah
pokoknya, ayo masuk kamar! Ibu mau tau ,harus mau pokoknya.“ Ibu Zul menyeret Kejora
memaksa untuk menuruti perkataannya.
“tapi Bu.” jawab
Kejora.
“Gak ada
tapi-tapian.“ ucap Ibu Zul.
Setelah Ibu Zul
dan Kejora masuk ke kamar.
“Orang tua Kejora
udah tau?“ tanya Ayah Zul.
“Belum Yah aku
bakal ngomong langsung, pas ulang tahun Kejora.“ jawab Zul.
“Bagus kalo
gitu.“ jawab Ayah Zul.
“Yah aku mau
nanya.“ tanya Zul.
“Tanya apa?“
jawab Ayah Zul.
“Kado ulang
tahun Kejora kasih apa ya?“ Tanya Zul.
“Itu harus kamu
cari sendiri Zul.“ jawab Ayah Zul.
“Tcckkk.“ ucap Zul
kecewa.
“Gak perlu mewah
atau mahal yang penting itu spesial dan punya kesan menarik bagi Kejora, orang lain
ngomong buruk tentang kadomu, itu gak masalah yang penting Kejora suka itu udah
cukup.“ jawab Ayah Zul meninggalkan Zul sendirian.
“Yang disuka Kejora
ya” pikir Zul. Zul sangat bahagia hari ini dia masuk Kekamarnya, merebahkan
diri dikasurnya sambil tersenyum menatap ke langit-langit rumahnya. Satu
masalah sudah selesai, namun masih ada masalah lain yang sangat berat, final
boss orang tua Kejora. Zul belum pernah melihat mereka sama sekali, Zul tidak
tau apa-apa tentang orang tua Kejora, “Ini pasti sulit” pikir Zul.
__ADS_1