Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Hari Pernikahan


__ADS_3

Tanggal 26 Juni hari ulang tahun kejora yang ke 17 tahun, dan juga hari dimana kejora melangkah ke kehidupannya yang baru melepas masa lajangnya, yang akan di lakukan pukul 09.00 hanya hitungan jam lagi kejora akan resmi menjadi Nyonya Zulfikar.


Kejora bangun jam 4.00 pagi, pikirannya tak dapat tenang sehingga tubuhnya tidak bisa terlelap, ada rasa gugup dan tidak sabar dalam diri Kejora, menjadi alasan kenapa Kejora bangun dua jam lebih awal dari yang sudah di tentukan oleh mamanya yang sedang menemaninya tidur di kamarnya.


Beberapa jam kedepan ia akan mengikat janji dengan pria yang ia kagumi, pria yang ia cintai, dengan pria yang kejora percayakan untuk menjadi ayah dari anak-anaknya nanti, dan satu-satunya pria yang dia inginkan untuk menjadi satu-satunya pasangannya selama dia masih bernyawa.


Untuk sedikit menjernihkan pikiran, dan menenangkan perasaaannya yang bercampur aduk, Kejora membuka jendela kamarnya memandang langit yang akan beranjak pagi, sambil memeluk boneka gajah berwarna biru kesayangannya. Hingga tak terasa pagi bersambut.


“Sayang bangun dari kapan? kok gak bangunin mama?“ tanya mama Kejora


“Aku bangun jam 4 ma, mau bangunin mama aku gak tega kayaknya mama kecapean.“ jawab kejora


“Hmm... udah gak sabar ya?“ tanya Mamanya tersenyum menggoda Kejora.


“Yah, bisa dibilang gitu sih.“ jawab kejora malu-malu.


“Gak sabaran apa nervous?“ tanya Mamanya.


“Dua-duanya.“ jawab Kejora tersenyum.


“Nervous kenapa?“ tanya Mamanya.


“Gak tau, pokoknya aku nervous aja.“ jawab Kejora


“Jangan nervous dong, jangan malu-maluin Zul, kamu harus tenang, calm down oke.“ perintah Mamanya berusaha meyakinkan Kejora.


“Aku coba Ma.“ jawab Kejora.


“Udah gak ada waktu buat nervous sayang, acaranya sebentar lagi kamu harus siap-siap dari sekarang, mending kamu mandi dulu!“ perintah Mamanya


“Iya Ma.“ jawab Kejora menurut.


Kejora melangkah menuju kamar mandi membasahi tubuhnya dengan air hangat membunuh dinginnya hawa dipagi hari, membasuh setiap milimeter tubuhnya dengan sabun, busa sabun berhamburan hinggap di badannya, membuatnya sedikit lebih tenang tak segugup sebelumnya .


Sedangkan Zul tidak kalah gugupnya dengan Kejora bahkan saat dia bangun jam setengah 6 dia melakukan push up, sit up, dan squat jump di kamarnya dan kadang-kadang ia berlari-lari kecil di kamarnya untuk menghilangkan rasa gugupnya yang luar biasa. Dia melakukan tanpa jeda sedikitpun, badannya benar-benar basah oleh keringatnya yang juga jatuh membasahi lantai kamarnya.


“Zul kamu udah bangun belum?“ panggil ayah Zul mengetuk pintu Zul dengan keras.


“Udah yah.“ teriak Zul terengah-engah.


“Kamu ngapain didalem udah mandi belum, buka pintunya cepet!“ teriak Ibu Zul.


“Bentar Bu.“ jawab Zul berlari membuka pintu kamarnya.


Dan saat pintu kamarnya dibuka.


“Kamu ngapain Zul keringetan kayak gitu? bau banget lagi?“ ucap Ibu Zul


“Relaksasi.“ ucap Zul tersenyum kaku.


“Kamu gugup?“ tanya Ayah Zul.


“Mana mungkin aku gak gugup.“ jawab Zul.


“Bu, ibu siap-siap di kamar, ayah urus Zul sebentar.“ perintah Ayah Zul.


“Tapi Yah, ini udah mepet lo waktunya.“ protes Ibu Zul.


“Percaya sama ayah ini urusan laki-laki.“ ucap Ayah Zul.


“Yaudah deh jangan lama-lama lo ya!“ perintah Ibu Zul.


“Oh ya, Bu minta tolong sama bi Maryam untuk buatin kopi hitam.“ perintah Ayah Zul.


“Iya.“ jawab Ibu Zul.


Ayah Zul masuk kedalam kamar Zul dan menutup pintu kamar Zul.


“Duduk!“ perintah Ayah Zul.


“Iya Yah.“ jawab Zul menurut.


“Kenapa kamu gugup?“ tanya ayah Zul dengan raut wajah serius.


“Ya namanya mau nikah ya pasti gugup.“ jawab Zul


“Kamu belum siap nikah?“ tanya Ayah Zul.


“Siap Yah, aku siap banget“ jawab Zul.


“Kalo kamu siap, tegakin kepalamu, busungin dadamu, gak melempem kayak gitu, mulut kamu ngomong siap tapi mental kamu gak siap, apa kamu gak mau nikah sama kejora, jangan bikin malu keluarga kita dan keluarga Rara, kalo kamu melempem kayak gitu apalagi nanti Rara dia bisa lebih gugup dari kamu, kamu harus tunjukkin kalo kamu bener-bener siap, jadi laki-laki, tunjukkin sama Kejora, kamu gak punya rasa gugup sedikitpun, tunjukkin sama Rara kalo kamu bener-bener siap buat nikah sama dia.” ucap ayah Zul memarahi Zul berteriak dengan lantang

__ADS_1


“Aku udah berusaha untuk ngilangin gugup itu yah, tapi rasanya gak mau ilang terus aja dateng setiap kali kusuruh pergi.“ jawab Zul menunduk tak menatap Ayahnya.


“Yaudah kita batalin aja ya?“ ucap Ayah Zul.


“Ya jangan dong, Yah.“ jawab Zul


“Tegakkin kepalamu, kamu gak usah pikirin yang negatif pikirin yang positif, pikiran yang baik-baiknya aja dan pikirin senyumnya Rara, senyum kebahagiaan dia.“ ucap Ayah Zul sambil menjambak rambut Zul.


“Oke yah, makasih.“ ucap Zul dengan tatapan penuh keyakinan.


“Bagus, itu baru anak Ayah.“ jawab ayah Zul tersenyum.


“Iya yah, aku seneng, tapi bisa lepasin jambakkan Ayah sekarang, kayaknya rambutku banyak yang rontok, rasanya lumayan sakit.“ jawab Zul dengan wajah kesakitan.


“Ah kamu, cuma gitu aja lembek banget.“ ucap Ayah Zul


“Ayah bisa aku laporin tau gak, ke Komnas Perlindungan Anak .“ jawab Zul.


“Anak-anak darimana? kamu itu udah mau nikah tau gak, tinggal hitungan jam lagi.“ jawab Ayah Zul.


“Tapi kan aku masih 18 tahun.“ jawab Zul tak mau kalah.


“Gak usah lemah, kamu itu udah bisa buat anak tau gak.“ ucap ayah Zul.


Tok… tok... tok...


Suara ketukan pintu datang dari arah pintu kamar Zul.


“Masuk aja!“ perintah Zul.


“Ini pak, saya mau anterin kopi yang disuruh sama ibu.“ jawab Bi marayam.


“Makasih banyak ya Bi, maaf pagi-pagi udah ngerepotin.“ jawab Zul.


“Iya gak papa kok Den, oh ya Bapak sama Aden mau makan apa?“ tanya Bi Maryam


“Nasi goreng aja Bi.“ jawab Zul.


“jangan Bi, bawain sandwich sama pisang aja.“ perintah ayah Zul.


“Eh kenapa Yah?“ protes Zul.


“Udah nurut aja, nanti kamu sakit perut, ini acara besar jangan malu-maluin ntar kalo sakit perut gimana?“ jawab Zul.


“Sandwich sama pisang ya Pak, tunggu bentar ya Pak" jawab Bi Maryam sambil pergi menuju dapur.


“Mandi sana, abis itu minum kopinya.“ perintah ayah Zul.


“Aku kan gak terlalu suka minum kopi.“ jawab Zul.


“Gak usah bantah, cepet mandi! keburu dingin kopinya.“ perintah ayah Zul.


“Iya Yah.“ jawab Zul dengan wajah kesal.


Zul pun mandi menghilangkan keringat, yang membasahi tubuhnya. Berkat ayahnya Zul benar-benar percaya diri sekarang tak sedikitpun ada rasa gugup pada dirinya, dirinya menjadi lebih tenang, setenang air dalam mangkuk, rasa gugup sudah seratus persen lenyap pada dirinya.


Kejora mengeringkan rambutnya sambil duduk di meja riasnya, menatap terus kekaca besar yang ada di hadapannya. Dengan menyunggingkan senyum indahnya sambil menmutar-mutar pengering rambutnya mengitari kepalanya yang kadang naik-turun berusaha mengeringkan rambut panjangnya yang lurus dan lembut bagai sutra. Harumnya rambut dan badannya Kejora pun tercium memenuhi ruangan kamarnya.


Setelah beberapa menit kegiatan mengeringkan rambut Kejora pun akhirnya selesai, rambutnya yang sudah kering dari air, terlihatlah kilauan kilauan dari rambut Kejora, hitam, panjang, lurus, dan berkilau.


“Sayang udah selesai belum kamu ngeringin rambutnya?“ tanya Mamanya


“Udah Ma.“ jawab Kejora.


“Yaudah pake gaunnnya sana! biar cepet-cepet dandan.“ perintah Mamanya.


“Eh, Ma, kok kayaknya ribet sih makenya, bantuin dong.“ pinta Kejora.


“Makanya gak usah pake kemeja sama kaos aja, dibeliin gaun sama dress gak pernah di pake sih, kayak gini gak bisa kan.“ jawab Mama kejora kesal.


“Maaf Ma, kan aku juga gak tau kalo bakal secepet ini.“ jawab Kejora.


“Besok-besok belajar deh ya, masa iya kamu pake gaun kayak gini aja gak bisa, jangan malu-maluin Zul.“ jawab Mama Kejora dengan kesal mengambil gaun Kejora dan berusaha memakaikan gaunnya pada Kejora.


“Ajarin dong.“ ucap kejora.


“Salah siapa dulu gak mau diajarin.“ jawab Mamanya dengan kesal. Berusaha memasangkan gaunnya pada Kejora.


“Ya kan dulu Ma, sekarang kan udah mau.“ jawab Kejora.


“Udah selesai, kamu duduk disana Mama mau panggil periasnya.“ ucap mamanya dengan kesal, sambil menunjuk kearah kursi yang berada tepat dimeja rias kejora.

__ADS_1


“Iya Ma.“ jawab Kejora menurut.


Kejora duduk dimeja riasnya dengan tenang, dan tak banyak bicara, dia hanya menurut apa yang di perintahkan oleh periasnya tanpa banyak membantah seperti saat dia di dandani oleh Mamanya atau Bi Maryam, walau sebenarnya dia kurang nyaman dengan riasan pada wajahnya yang berbeda dari biasanya, sedikit kesal karena gaunnya yang membuatnya sulit bergerak. Tapi dia diam dan menurut agar semuanya cepat selesai, dan sesegera mungkin bertemu dengan Zul.


Setelah cukup lama waktu yang dihabiskan untuk merias wajah kejora agar terlihat berbeda dari biasanya, dan lebih cantik dari biasanya selesai dilakukan, Kejora dengan wajah senang, bercampur tegang, melangkah kepayahan, kakinya lemas kesemutan, belum lagi dia memakai hak yang cukup tinggi, dengan gaun panjangnya yang berjuntai menyentuh lantai.


Zul yang dengan tenang menunggu kehadiran Kejora, melontarkan senyum kepada teman-temannya yang hadir menyaksikan akad pernikahan Kejora dan Zul, yang akan segera di lakukan dalam hitungan menit ini, menunggu dengan sabar dimeja akad yang sudah disediakan, dan sedang bertatap wajah dengan ayahnya sendiri sebagai penghulu dari pernikahan mereka berdua. Dan juga sudah Ibu Zul yang sudah duduk sebagai saksi pernikahan dari anak semata wayangnya.


Zul yang memakai jas hitam dengan kemeja putih berdasi kupu-kupu, celana hitam panjang, dan sepatu yang juga berwarna hitam, duduk dengan tegap, membusungkan dada menghadap ayahnya.


Dan akhirnya kejora menampakan wajahnya yang cantik dengan gaun berwarna putih, melangkah ditemani oleh kedua orang tuanya yang akan duduk sebagai saksi atas pernikahan mereka berdua. Zul menoleh melemparkan senyumnya kearah Kejora yang terlihat gugup, dan gemetar. Kejora yang melihat Zul tersenyum saat melihat Kejora, terlihat sabar menantikan tibanya Kejora di kursinya. Kejora membalas senyum Zul yang terlihat sangat berbahagia, saat sang mempelai datang menuju kearahnya.


Wajah Kejora yang tadinya sedikit gugup berubah tersenyum dengan semangat seakan tak sabar ingin cepat sampai dan duduk berdampingan dengan Zul. Ingin rasanya dia berlari agar dia lebih cepat sampai kesana, namun karena dia memakai gaun, dan sepatu dengan hak yang cukup tinggi, hal itu mustahil untuk dilakukan.


Kejora pun akhirnya sampai di kursi yang telah disediakan, untuknya bersanding bersama Zul. Dengan di bantu oleh Mamanya, Kejora membalas senyum Zul dengan senyuman lebarnya yang menandakan kebahagiaaanya saat ini, Papa dan Mamanya pun duduk dimeja yang sama dengan mereka sebagai saksi dari janji suci dan upacara saKral yang akan mereka lakukan sebentar lagi.


“Maaf ya, kamu udah lama nunggunya?“ tanya Kejora


“Lumayan sih, tapi gak masalah karena kamu cantik banget, gak sia-sia aku nunggu lama-lama.“ jawab Zul


“Kamu juga ganteng banget, gagah, aku suka.“ jawab Kejora.


“Thank you my lady, you’re beautifull too.“ ucap Zul.


“Thank you so much, my gentleman.“ jawab Kejora.


“Eh, kamu baru pertama kalinya ucapin kata-kata itu.“ ucap Zul.


“Kan kamu panggil aku my lady terus, jadi gantian dong.“ jawab Kejora


“Eheem... Pak, apa bisa mulai sekarang?“ ucap ayah Zul mengagetkan Kejora dan Zul.


“Ya mulai sekarang aja.“ ucap papa Kejora.


“Kalian siap.“ tanya Ayah Zul.


“Iya yah, aku siap.“ jawab Kejora


“Aku juga siap Yah, lanjutin aja.“ jawab zul dengan penuh keyakinan.


“Kejora, ulangin kata-kata saya.“ pinta ayah Zul.


“Iya Yah.“ jawab Kejora.


“Bapak Al-ayubi.“ ucap Ayah Zul


“Bapak al-ayubi.“ jawab Kejora


“Saya minta kepada Bapak.“ ucap Ayah Zul.


“Saya minta kepada Bapak.“ jawab Kejora.“Nikahkan saya dengan Zulfikar Bin Al-Ayubi.“ ucap Ayah Zul.


“Nikahkan saya dengan Zulfikar bin al ayubi “ jawab Kejora.


“Dengan mahar cincin emas 24 karat sebesar 25 gram telah di sediakan.“ ucap Ayah Zul.


“Dengan mahar cincin emas 24 karat sebesar 25 gram telah di sediakan.“ jawab kejora.


“Zul.“ ucap ayah Zul.


Dan Zul pun mengangguk yakin tanda setuju.


“Saya Al-Ayubi, Ayah dari Zulfikar Bin Al-Ayubi sebagai Wali Hakim, menikahkan Kejora Binti Putra Hakim dengan mahar cincin emas 24 karat sebesar 25 gram di bayar tunai “ ucap Ayah Zul


“Saya Terima...“ dan Ucapan Zul langsung terhenti dengan suara keras teriakan seseorang.


“Tungggu... jangan lanjutin ini semua!“ teriak Lena.


“Lena.“ ucap Beny kaget saat melihat kearah sumber suara.


“Apa maksud kamu Len?“ tanya Zul dengan emosi.


“Jangan lanjutin ini semua, aku hamil anak Zul, ini buktinya surat dari dokter kandungan yang menyatakan aku hamil “ ucap Lena.


Plaaak…


Tamparan keras menghantam kearah pipi Zul.


“Apa bener itu Zul?“ tanya Ayahnya.


“Gak bener yah, aku gak pernah ngelakuin hal yang kayak gitu“ jawab Zul.

__ADS_1


“Tunggu sebentar!“ ucap Papa Kejora.


Yang terlihat emosi dan menatap Lena dengan tajam, saat melihat dan mendengar semua yang telah terjadi.


__ADS_2