
\*\*\*\*\***ZUL**\*\*\*\*\*
Hampir satu bulan sudah Zul berpisah dengan Kejora sang istri tercintanya. Rasanya, satu bulan ini berjalan dengan sangat lambat tanpa kehadiran Kejora yang menemani hari-harinya.
Berbanding terbalik saat Kejora menemani hari-harinya semua terasa indah dan berlalu begitu cepat terasa. Apa ini adalah siksa dari rindu? Rasanya memang sangat tidak menyenangkan.
Hati selalu merasa resah dan gelisah menunggu kabar dari Kejora, ternyata ini hukuman dari hubungan jarak jauh, hubungan lintas benua, dan hubungan yang terpisah oleh jarak.
“Hufft… bagaimana nanti kalau dia benar-benar pergi ke Mars? Aku bisa gila kalo gak ada kabar dari dia.” ucap Zul yang sedang merebahkan diri melepas penat sembari menatap bingkai berisi potret pernikahannya dengan Kejora.
Kini, Zul kembali tinggal bersama Orangtuanya di rumah yang telah di renovasi oleh Papa Kejora yang kini sudah menjadi Papanya juga.
Zul masih bingung untuk memulai usaha apa yang cocok untuk dirinya, meski dia telah mendapatkan tempat yang sangat luas dan cukup strategis untuk memulai usaha.
Setiap hari dia masih menghabiskan waktunya bersama Papa Kejora untuk bersiap menjadi penerus dari Papa Kejora yang akan memegang kendali penuh atas semua asset yang Papa Kejora miliki.
__ADS_1
Pikirannya tidak dapat fokus karena terus ada Kejora dalam benaknya, setiap dirinya mencoba untuk mengusir Kejora dalam benaknya meski hanya sesaat, namun justru Kejora makin kuat kehadirannya dalam benaknya dan semakin menguasai pikiran Zul.
Selalu cemas hati Zul memikirkan keadaan Kejora saat ini yang jauh darinya, rasanya di setiap menit ingin terus mendapat kabar dari Kejora. Zul selalu menunggu handpone-nya berdering, menanti panggilan dari Kejora.
Saat panggilan Kejora masuk Zul pasti akan mengangkat panggilan itu tak peduli apapun situasinya, karena suara lembut dan manja dari Kejora dapat membuat rasa cemas di hatinya dapat hilang dan membuatnya lebih tenang.
Mendengar suara dari Kejora pun dirinya sudah sangat bahagia saat ini. seperti seorang bayi yang hanya bisa terlelap saat mendengar nyanyian merdu dari sang Ibunda.
Setiap waktu berdetik rasa rindu semakin kuat menyiksa Zul dan memaksanya untuk melepas rasa itu. Tetapi dengan cepat pikiran itu dia hapuskan dari kepalanya, “tinggal 2 bulan lagi masuk bulan januari, kamu harus sabar Zul.” Zul berusaha menguatkan hatinya agar dapat menahan rindunya pada Kejora.
Hanya dalam waktu dua bulan lagi dia untuk bertahan dari dahaga yang menyiksanya. Namun, memang benar kata orang-orang rasa rindu itu sangat sulit untuk di tahan, dan benar kata-kata itu bukanlah sebuah mitos belaka.
“Kejora apa kamu juga merindukanku? Apakah kamu juga merasakan rasa yang sama denganku? Jujur… aku hampir menyerah menahan siksa rindu ini.”
\*\*\*\*\***Kejora**\*\*\*\*\*
__ADS_1
Musim dingin berganti ke musim semi, hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sudah berganti dengan dengan kesejukan angin yang berhembus di musim semi.
Tunas daun bermunculan, dedaunan yang gugur kini telah bersemi kembali, bunga-bunga di taman bermekaran, dan matahari memancarkan sinar hangatnya. Kejora menatap keluar jendela apartmennya, terlihat sekumpulan orang berjalan menikmati musim semi.
“Zul aku ingin menikmati musim semi bareng kamu… apa kamu juga pengen menikmati musim semi ini sama aku?” gumam Kejora.
Lalu Kejora melihat ke layar handphone yang selalu dia genggam, “mungkin kamu masih sibuk, yang semangat ya sayang, iam still waiting.” Ucap Kejora sembari tersenyum lebar menatap wajah Zul yang menjadi wallpaper Handphone-nya.
Kejora berusaha untuk kuat menahan rasa kangennya pada Zul. Mungkin, bukan kangen tapi rindu. Sebuah keinginan dalam hatinya untuk segera bertemu dengan Zul yang jauh tak nampak di mata, berada di daratan lain yang sangat jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Lalu entah mengapa Kejora ingin pergi masuk ke dalam kamarnya, dia duduk di bibir ranjang kamarnya, dan dia peluk boneka gajah berwarna biru pemberian Zul dengan begitu erat.
Jika rasa rindu mulai hinggap di hatinya dia akan selalu memeluk boneka itu dengan begitu eratnya, sama seperti saat Zul memeluk erat tubuhnya dalam buaian Zul, terasa hangat dan begitu nyaman.
Tiba-tiba saja air mata Kejora jatuh ke permukaan pipinya, dan tidak lama kemudian dia menangis terisak-isak dan semakin mendekap erat boneka gajah yang sedari tadi ia peluk.
__ADS_1
“Aku rindu kamu Zul, aku pengen ketemu kamu, aku pengen menyentuh wajahmu, satu bulan lagi terasa lama buat aku Zul, aku hampir menyerah menahan kerinduanku sama kamu.” ucap Kejora, dan derai air matanya mengalir bertambah deras membasahi pipinya.
Lalu Kejora menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, Kejora memejamkan matanya sembari memeluk erat bonekanya, “Aku ingin tidur dalam dekapanmu lagi Zul.” Ucap Kejora dengan lirih.