Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Episode 10 : Cemburu


__ADS_3

Pembagian hasil nilai ujian hari ini


akan di umumkan,setelah satu minggu menunggu hasil, hari ini adalah hasil final


perjuangan selama satu tahun menjadi kelas 2, hasil yang telah di dapat dari


kerja keras selama satu tahun ini. Kejora Nampak harap-harap cemas menunggu


nilainya, dia ingin menjadi yang terbaik berada di puncak teratas.


“Eh, Ra kamu deket ya sama Zul?“


tanya Lena pada Kejora yang masih harap-harap cemas.


“Deket dalam hal apa dulu?“ tanya


Kejora balik pada Lena dengan wajah emosi.


“Kalo pacaran gak mungkin kan, masa


iya Zul mau pacaran sama orang kutu buku, cupu kayak kamu, paling juga cuma


manfaatin kamu, buat jadi guru dia aja.” jawab Lena sombong.


“Oke, karena kamu udah tau, kenapa


kamu tanya ke aku?“ tanya Kejora.


“Karena aku mau kasih peringatan,


Zul itu cuma pantes buat aku, kamu gak usah terlalu akrab sama dia, gak pantes


tau gak!“ jawab Lena dengan hawa ingin membunuh.


“Hahaha, emang Zul mau sama kamu,


kalo Zul mau, ya gak papa, aku sama dia cuma temenan, kenapa kamu kayak marah


sama aku, emang kamu siapanya Zul bisa ngomong kayak gitu, ibu, bapaknya aja


ngebolehin aku akrab sama Zul, kenapa kamu ngelarang ngelarang?” ucap Kejora


dengan tawa meledak yang membuat heran seisi kelas mata mereka tertuju pada


Kejora dan Lena.


“Zul itu cuma pantes sama aku, aku


yang bakal jadi ibu dari anak-anak Zul, aku berhak ngelarang kamu, buat deket


"-deket sama dia .” teriak Lena dengan tegas.


“Terserah deh, kamu mau ngomong


apa.” jawab Kejora dengan malas.


“Liat aja kamu Ra, berani bener kamu


nantang Lena.” ucap lena dalam hati dengan penuh dendam.


Karena kesal dengan perkataan Lena


Kejora pergi ke perpustakaan untuk menenangkan pikirannya dengan membaca buku,


sambil menunggu hasil pengumuman ujian, dia mencoba menghilangkan emosinya yang


hampir lepas kendali, ingin rasanya memotong lidah Lena, agar mulutnya tidak


terus merendahkan orang lain.


Zul yang bosan di kelasnya pergi ke


kelas Kejora, untuk bertemu dengannya sebentar saja, rasanya selalu ingin


bertemu walau tak banyak bicara, dengan keberadaan Kejora didekatnya itu lebih


dari cukup untuk Zul, hanya memandang Kejora dia sudah cukup bahagia. Zul pun


berjalan Ke kelas Kejora, saat tiba di depan kelasnya Kejora ternyata Kejora


tidak ada, dan ketika ingin pergi ke tempat favorit Kejora.


“Zul mau kemana?“ tanya Lena


mendekati Zul.


"aku mau cari Rara.” jawab Zul


dengan singkat.


“Rara gak ada di sini, kenapa kamu


cari yang gak ada? yang udah pasti di depan mata.“ ucap Lena menggoda Zul'


“Maaf kamu tau Rara di mana?“ tanya


Zul basa-basi.


“Hmmpph... bentar ku inget-inget


dulu, kayaknya dia gak masuk deh.“ jawab Lena


“Bohong amat, jelas-jelas aku


berangkat sama dia.“ pikir Zul.


“Oh, ya udah aku mau kekelas aja


kalo gitu.“ ucap Zul berusaha untuk lari dari Lena.


“Eh, buru-buru amat sih Zul, main


sama aku dulu kenapa si memangnya?“ tanya Lena sambil memeluk lengan Zul.


“Gila ni anak bisa salah sangka


orang.“ pikir Zul.


“Aduh... Lena tolong lepasin


tanganku! orang nanti bisa salah sangka.“ jawab Zul.


“Salah sangka gimana sih Zul?“ tanya


Lena menggoda Zul.


“Nanti dikiranya aku pacaran sama


kamu, atau gimana gitu, aku gak mau salah ada yang sangka” jawab Zul yang


berusaha melepaskan tangannya dengan halus.


“Kenapa gak pacaran beneran aja?“


tanya Lena.


“Bahaya, bahaya, bahaya, anak ini


bahaya.“ pikir Zul.


“Lena tolong lepasin! please bisa


kan.“ ucap Zul memohon dengan tersenyum.


“Kalo kamu ngomong mau jadi pacarku,


aku lepasin.“ jawab Lena


“Aduh... Lena aku gak mau pacaran


dulu, aku mau fokus sama masa depanku dulu, tolong dong lepasin!“ pinta Zul.


“Kenapa fokusnya gak ke aku aja? aku


terima kamu apa adanya kok, tenang aja aku gak nuntut banyak.“ jawab Lena


“Lena udah dong, banyak yang liatin


nanti jadi gosip yang gak bener.“ ucap Zul


Dan Zul terkaget saat seorang wanita


lewat di depannya dengan wajah yang tampak sangat emosi, tanpa mengeluarkan


kata-kata, dan tanpa menengok kearahnya, tapi Zul tau bahwa itu Kejora dia


dapat merasakannya, bahwa tidak salah lagi dia Kejora.


“Lepasin “ ucap Zul dengan kasar


sambil berlari kearah Kejora.


“Ra tunggu.“ ucap Zul sambil memgang


bahu Kejora.


Namun ditepis dengan kasar oleh


Kejora.


“Gak usah pegang-pegang pergi dari


sini!” jawab Kejora.


“Aku tau kita cuma temen, aku tau


itu, tapi aku bener-bener gak suka kamu deket-deket dengan perempuan lain,


apalagi sambil pegang-pegangan di depan umum kayak gitu.“ ucap Kejora dalam


hati sambil pergi meninggalkan Zul.


“Ra aku bisa jelasin, aku sama dia


gak ada apa-apa.” Ucap Zul.


“Bukan urusanku, dan aku gak mau


tau.“ jawab Kejora dengan emosi.

__ADS_1


“Haduh... dia pasti marah, sial


memang cewek itu.“ pikir Zul.


“Ra, aku beneran sama dia gak ada


apa,apa” jelas Zul belum menyerah.


“Aku gak peduli, emang aku siapa?


kita kan cuma sahabat.“ jawab Kejora.


Seketika Zul pun berhenti mengejar


Kejora, tubuhnya membeku susah digerakkan mendengar jawaban Kejora, memang


tidak salah jawaban dari Kejora, tapi Zul tidak ingin Kejora salah paham dan


mengacuhkannya seperti ini. Sungguh menyakitkan rasanya perih ingin rasanya


menangis.


“Udah lah Zul, gak usah kejar dia


ngapain sih?“ ucap Lena pada Zul.


Namun Zul tak membalas ucapan Lena


dan berlalu pergi begitu saja, dengan lemas serasa tenaganya terkuras habis,


dadanya sesak serasa asap mememenuhi paru-parunya, perihnya sangat terasa,


berkeringat padahal cuaca tidak panas, hancur seketika apa yang telah di bangun


antara Zul dan Kejora, karena kesalahpahaman yang terjadi, terus menyalahkan


dirinya sendiri, karena dia tidak tegas kepada Lena yang menggodanya, membuat


terjadinya kesalahpahaman ini.


Kejora terdiam duduk termenung di


kelas, wajahnya murung, tatapannya kosong, kepalanya ia letakkan di meja,


seakan tidak ada semangat hidup, dalam hatinya sangat marah dan kecewa setelah


melihat kejadian tadi. Dia tahu sikapnya salah pada Zul, seharusnya Zul bebas


dekat dengan siapapun yang dia inginkan, tapi saat melihat itu darahnya


langsung berkumpul di ubun-ubun, wajahnya panas, matanya perih, ingin mengalir


deras air matanya, dia sadar bahwa dia hanya sebatas sahabat, Tapi rasa itu


tidak dapat di sembunyikan lagi.


Hasil akhir dari pengumuman ujian


akhir sudah didapatkan, untuk kelas 2 Kejora mendapatkan nilai tertinggi dengan


sempurna, yang artinya semua jawabannya tidak ada yang salah, namun semangatnya


tetap tidak kembali, tetap lemas dengan tatapan kosong, tidak ada ekspresi


senang terpancar, melangkah pulang seperti mayat hidup, kakinya justru seperti


di seret bukan melangkah.


Zul mendapatkan nilai yang cukup


memuaskan walaupun tidak masuk sepuluh besar peringkat, namun peringkat 18 dari


40 murid sudah mengalami peningkatan, ketimbang semester kemarin yang hanya


berada di urutan 28, namun dia pun sama dengan Kejora lemas dan murung


melangkah pulang. Saat sampai di gerbang sekolah kepalanya langsung tegak


menengok ke segala arah mencari sesuatu, dia dapat merasakan bahwa Kejora ada


di dekat sini, namun tidak dapat di temukan, akhirnya setelah beberapa saat dia


menyerah, karena apa yang dia cari hasilnya nihil, kembali melangkah untuk


pulang.


Setelah beberapa menit melangkah


tiba-tiba tangannya bergerak secara tidak sadar menangkap sebuah legan. Dan


lengan itu adalah milik Kejora, yang membuat Kejora kaget karena dia pun tidak


sadar bahwa ada Zul di dekatnya karena dia berjalan lurus tanpa memperhatikan


sekitar.


“Zul.“ ucap Kejora yang tersentak


Kaget.


“Rara.“ jawab Zul yang kaget kenapa


tangannya bisa tahu bahwa itu adalah tubuh Kejora.


Kejora.


“Tapi kamu harus ikut aku.“ jawab


Zul.


“Ngapain? aku capek mau istirahat.“


Ucap Kejora berusaha menghindar.


“aku harus lurusin tentang kejadian


tadi, aku mohon.“ jawab Zul dengan memelas.


“Iya, tapi kita mau kemana?“ tanya


Kejora yang luluh dan mengikuti keinginan Zul.


“Taman.“ jawab Zul singkat dan


melepaskan genggamannya dari lengan Kejora.


Mereka pun berjalan berdampingan


dengan keheningan menghiasi perjalanan mereka kearah taman, ingin rasanya


memulai pembicaraan namun mereka tak sanggup menggerak lidahnya yang kaku, pita


suaranya seperti hilang tak dapat mengeluarkan suara.


“Aku beli minum bentar“ ucap Zul.


Kejora hanya mengangguk dengan


kepala menunduk.


“Nih minum dulu.“ ucap Zul pada


Kejora yang sudah beberapa saat menunggu terdiam.


“Makasih“ jawab Kejora masih dengan


wajah Tertunduk.


“Gak sopan lo, bilang makasih, kalo


gak liat muka orangnya.” ucap Zul.


“Makasih.“ jawab Kejora dengan


senyum terpaksa.


“Ra yang tadi aku minta maaf, itu


gak seperti yang kamu liat.“ pinta Zul sambil duduk di samping Kejora.


“Kamu gak salah, kenapa harus minta


maaf?“ tanya Kejora


“Aku ngerasa aja, udah bikin kamu


sedih.“ jawab Zul yang merasa bersalah.


“Aku gak sedih kok.“ jawab Kejora.


“Berarti kamu kecewa.“ tanya Zul.


“Kecewa kenapa?“ tanya Kejora.


“Hmmm... aku gak tau. tapi aku


ngerasa aja.“ jawab Zul


“Sok tau.“ jawab Kejora.


“Ya kalo kamu gak kasih tau, ya aku


gak bakal tau Ra, aku bukan anak indigo yang bisa tau isi hati orang lain.“


jelas Zul.


“Aku gak ngerasa kecewa atau marah


kok, aku harus ngasih tau apa.“ jawab Kejora.


“Cemburu.“ ucap Zul dengan polosnya.


“Haaa... kenapa aku cemburu? kok


kamu mikir kesitu? kamu gila ya?“ jawab Kejora dengan spontan mengeluarkan nada


tinggi.


“Terus, kenapa kamu menghindar?

__ADS_1


terus wajahmu emosi tadi?“ tanya Zul memaksa.


Gak kenapa-kenapa.“ jawab Kejora.


“Ra sama sahabat itu harus terbuka.“


jawab Zul.


“Aku gak suka lena.“ jawab Kejora


dengan menatap tajam.


"Eh, dia beneran marah ini.“


pikir Zul


“aku gak ada apa-apa tadi dia yang


deket-deket aku, udah ngomong baik-baik supaya dia gak deket-deket tapi dia


maksa terus.“ jelas Zul yang panik.


“Aku gak percaya, kamu tadi kayaknya


kesenengan?“ jawab Kejora.


“Jadi beneran cemburu?“ tanya Zul.


“Gak lah, aku cuma gak suka.“ jawab


Kejora


“Hmmm... kalo aku yang meluk


lenganmu kayak gini, gimana kamu suka gak?“ tanya Kejora sambil memeluk lengan


Kejora berusaha menggoda Kejora.


“Gak lah“ kata Kejora sambil


melepaskan tangannya dari pelukan Zul.


“Terus gimana dong solusinya?“ tanya


Zul


“Pikir aja sendiri!“ jawab Kejora.


“Ra, aku beneran lo gak ada apa-apa


sama Lena, sumpah demi harga diri laki-laki, aku gak bohong.“ jawab Zul


“Bener?“ tanya Kejora dengan tatapan


tajam.


“Beneran, serius?“ jawab Zul.


“Beneran, serius, beneran?“ tanya


Kejora masih dengan tatapan tajam.


“Beneran, serius,beneran.“ jawab


Zul.


“Yaudah kalo gitu.“ jawab Kejora


dengan sedikit lega.


“Kamu udah percaya?“ tanya Zul.


“Iya udah percaya.“ jawab Kejora.


“Senyum dong, jangan ditekuk-tekuk


gitu wajahnya, kusut ntar.“ goda Zul


“Terserah aku, ini wajah punya aku.“


jawab Kejora.


“Eh, tadi gimana? kamu dapet


peringkat berapa?“ tanya Zul penasaran.


“Hmmmm... satu“ jawab Kejora


tersenyum bangga.


“Keren, total nilainya berapa?“


tanya Zul bersemangat.


“Perfect.“ jawab Kejora santai.


“Udah jelaslah, kan kamu pinter, gak


kayak aku kan yang malu-maluin nilainya standar, maaf ya punya temen bodoh


kayak aku, kamu nyesel kan, iya kan?“ ucap Zul dengan lemas dan depresi


“Eh, gak kok, kamu kan udah usaha,


pasti ada peningkatan, jangan nyerah dong, emang kamu peringkat berapa?” tanya


Kejora. berusaha menyemangati Zul.


“Cuma18, naiknya cuma sepuluh


peringkat, rahmad aja yang males-malesan masih dapat peringkat 13, bener emang


kata beny.“ jawab Zul.


“Zul setidaknya kamu bisa merangkak


naik, lebih bagus dari yang kemaren itu udah beruntung, merangkak naik itu


lebih mudah Zul daripada terus berada di atas, makin kamu naik ke atas, makin


berat tantangannya, anginnya makin besar, Zul itu udah bagus kamu bisa naik.“


jawab Kejora menyemangati Zul


“masa iya?“ tanya Zul.


“Iya Zul, aku beneran, rasanya aku


gak sia-sia belajar bareng kamu, ada hasilnya.“ jawab Kejora dengan tersenyum.


“Makasih ya Ra, aku ucapin banyak


makasih sama kamu, aku bersyukur jadinya.“ ucap Zul


“Sama-sama Zul aku seneng, ternyata


aku ada manfaatnya buat kamu.“ jawab kejora.


“Tapi aku gak bermaksud lo, ngajak


kamu sahabatan buat memanfaatkan kepintaranmu .“ terang Zul.


“Aku tau kok, pulang yuk, aku mau


ketemu ibu !“ jawab Kejora tersenyum.


“Ya udah yuk.“ jawab Zul sambil


berdiri.


“Oh iya, Zul aku penasaran?“ tanya


Kejora sambil berjalan di samping Zul.


“Penasaran apaan.“ tanya balik Zul.


“Pas kamu pegang tanganku tiba-tiba


tadi. kamu serem banget.“ jawab Kejora.


“Aku aja gak tau Ra, kalo itu


tanganmu.“ jawab Zul polos dan berwajah bingung.


“Eh kok bisa, aku juga gak sadar lo


padahal, kalo kamu di situ.“ jawab Kejora.


“Hmm... cuma insting aja, aku rasa


itu kamu, terus tanganku gak sadar megang lenganmu.” jawab Zul dengan polos.


“Haa... gak mungkin.“ jawab Kejora


dengan wajah memerah tersipu malu.


“Sumpah deh Ra, aku gak bohong, pas


di gerbang juga tiba-tiba aku ngerasa ada kamu, Cuma pas ku cari gak ketemu.“


jawab Zul.


“Iya aku tadi liat dia, terus aku


nyumput, kok dia bisa tau aku disitu.“ pikir Kejora.


Kejora hanya terdiam mendengar


jawaban Zul, kenapa Zul bisa tau kalo Kejora ada di dekat, dia walaupun dia


sudah bersembunyi, itu gak masuk akal, apa cuma kebetulan aja? tapi kalo


kebetulan dia juga bilang waktu pegang tanganku dia cuma refleks aja, dia gak


tau ada aku Pikir Kejora heran.


Ah ternyata Kejora bukan cemburu


sama aku, cuma karena gak suka aja sama lena, seharusnya aku lega dia gak

__ADS_1


cemburu tapi kok rasanya aku marah ya, denger dia gak cemburu, apa aku berharap


kalo dia cemburu sama aku? Pikir Zul.


__ADS_2