
Pembagian hasil nilai ujian hari ini
akan di umumkan,setelah satu minggu menunggu hasil, hari ini adalah hasil final
perjuangan selama satu tahun menjadi kelas 2, hasil yang telah di dapat dari
kerja keras selama satu tahun ini. Kejora Nampak harap-harap cemas menunggu
nilainya, dia ingin menjadi yang terbaik berada di puncak teratas.
“Eh, Ra kamu deket ya sama Zul?“
tanya Lena pada Kejora yang masih harap-harap cemas.
“Deket dalam hal apa dulu?“ tanya
Kejora balik pada Lena dengan wajah emosi.
“Kalo pacaran gak mungkin kan, masa
iya Zul mau pacaran sama orang kutu buku, cupu kayak kamu, paling juga cuma
manfaatin kamu, buat jadi guru dia aja.” jawab Lena sombong.
“Oke, karena kamu udah tau, kenapa
kamu tanya ke aku?“ tanya Kejora.
“Karena aku mau kasih peringatan,
Zul itu cuma pantes buat aku, kamu gak usah terlalu akrab sama dia, gak pantes
tau gak!“ jawab Lena dengan hawa ingin membunuh.
“Hahaha, emang Zul mau sama kamu,
kalo Zul mau, ya gak papa, aku sama dia cuma temenan, kenapa kamu kayak marah
sama aku, emang kamu siapanya Zul bisa ngomong kayak gitu, ibu, bapaknya aja
ngebolehin aku akrab sama Zul, kenapa kamu ngelarang ngelarang?” ucap Kejora
dengan tawa meledak yang membuat heran seisi kelas mata mereka tertuju pada
Kejora dan Lena.
“Zul itu cuma pantes sama aku, aku
yang bakal jadi ibu dari anak-anak Zul, aku berhak ngelarang kamu, buat deket
"-deket sama dia .” teriak Lena dengan tegas.
“Terserah deh, kamu mau ngomong
apa.” jawab Kejora dengan malas.
“Liat aja kamu Ra, berani bener kamu
nantang Lena.” ucap lena dalam hati dengan penuh dendam.
Karena kesal dengan perkataan Lena
Kejora pergi ke perpustakaan untuk menenangkan pikirannya dengan membaca buku,
sambil menunggu hasil pengumuman ujian, dia mencoba menghilangkan emosinya yang
hampir lepas kendali, ingin rasanya memotong lidah Lena, agar mulutnya tidak
terus merendahkan orang lain.
Zul yang bosan di kelasnya pergi ke
kelas Kejora, untuk bertemu dengannya sebentar saja, rasanya selalu ingin
bertemu walau tak banyak bicara, dengan keberadaan Kejora didekatnya itu lebih
dari cukup untuk Zul, hanya memandang Kejora dia sudah cukup bahagia. Zul pun
berjalan Ke kelas Kejora, saat tiba di depan kelasnya Kejora ternyata Kejora
tidak ada, dan ketika ingin pergi ke tempat favorit Kejora.
“Zul mau kemana?“ tanya Lena
mendekati Zul.
"aku mau cari Rara.” jawab Zul
dengan singkat.
“Rara gak ada di sini, kenapa kamu
cari yang gak ada? yang udah pasti di depan mata.“ ucap Lena menggoda Zul'
“Maaf kamu tau Rara di mana?“ tanya
Zul basa-basi.
“Hmmpph... bentar ku inget-inget
dulu, kayaknya dia gak masuk deh.“ jawab Lena
“Bohong amat, jelas-jelas aku
berangkat sama dia.“ pikir Zul.
“Oh, ya udah aku mau kekelas aja
kalo gitu.“ ucap Zul berusaha untuk lari dari Lena.
“Eh, buru-buru amat sih Zul, main
sama aku dulu kenapa si memangnya?“ tanya Lena sambil memeluk lengan Zul.
“Gila ni anak bisa salah sangka
orang.“ pikir Zul.
“Aduh... Lena tolong lepasin
tanganku! orang nanti bisa salah sangka.“ jawab Zul.
“Salah sangka gimana sih Zul?“ tanya
Lena menggoda Zul.
“Nanti dikiranya aku pacaran sama
kamu, atau gimana gitu, aku gak mau salah ada yang sangka” jawab Zul yang
berusaha melepaskan tangannya dengan halus.
“Kenapa gak pacaran beneran aja?“
tanya Lena.
“Bahaya, bahaya, bahaya, anak ini
bahaya.“ pikir Zul.
“Lena tolong lepasin! please bisa
kan.“ ucap Zul memohon dengan tersenyum.
“Kalo kamu ngomong mau jadi pacarku,
aku lepasin.“ jawab Lena
“Aduh... Lena aku gak mau pacaran
dulu, aku mau fokus sama masa depanku dulu, tolong dong lepasin!“ pinta Zul.
“Kenapa fokusnya gak ke aku aja? aku
terima kamu apa adanya kok, tenang aja aku gak nuntut banyak.“ jawab Lena
“Lena udah dong, banyak yang liatin
nanti jadi gosip yang gak bener.“ ucap Zul
Dan Zul terkaget saat seorang wanita
lewat di depannya dengan wajah yang tampak sangat emosi, tanpa mengeluarkan
kata-kata, dan tanpa menengok kearahnya, tapi Zul tau bahwa itu Kejora dia
dapat merasakannya, bahwa tidak salah lagi dia Kejora.
“Lepasin “ ucap Zul dengan kasar
sambil berlari kearah Kejora.
“Ra tunggu.“ ucap Zul sambil memgang
bahu Kejora.
Namun ditepis dengan kasar oleh
Kejora.
“Gak usah pegang-pegang pergi dari
sini!” jawab Kejora.
“Aku tau kita cuma temen, aku tau
itu, tapi aku bener-bener gak suka kamu deket-deket dengan perempuan lain,
apalagi sambil pegang-pegangan di depan umum kayak gitu.“ ucap Kejora dalam
hati sambil pergi meninggalkan Zul.
“Ra aku bisa jelasin, aku sama dia
gak ada apa-apa.” Ucap Zul.
“Bukan urusanku, dan aku gak mau
tau.“ jawab Kejora dengan emosi.
__ADS_1
“Haduh... dia pasti marah, sial
memang cewek itu.“ pikir Zul.
“Ra, aku beneran sama dia gak ada
apa,apa” jelas Zul belum menyerah.
“Aku gak peduli, emang aku siapa?
kita kan cuma sahabat.“ jawab Kejora.
Seketika Zul pun berhenti mengejar
Kejora, tubuhnya membeku susah digerakkan mendengar jawaban Kejora, memang
tidak salah jawaban dari Kejora, tapi Zul tidak ingin Kejora salah paham dan
mengacuhkannya seperti ini. Sungguh menyakitkan rasanya perih ingin rasanya
menangis.
“Udah lah Zul, gak usah kejar dia
ngapain sih?“ ucap Lena pada Zul.
Namun Zul tak membalas ucapan Lena
dan berlalu pergi begitu saja, dengan lemas serasa tenaganya terkuras habis,
dadanya sesak serasa asap mememenuhi paru-parunya, perihnya sangat terasa,
berkeringat padahal cuaca tidak panas, hancur seketika apa yang telah di bangun
antara Zul dan Kejora, karena kesalahpahaman yang terjadi, terus menyalahkan
dirinya sendiri, karena dia tidak tegas kepada Lena yang menggodanya, membuat
terjadinya kesalahpahaman ini.
Kejora terdiam duduk termenung di
kelas, wajahnya murung, tatapannya kosong, kepalanya ia letakkan di meja,
seakan tidak ada semangat hidup, dalam hatinya sangat marah dan kecewa setelah
melihat kejadian tadi. Dia tahu sikapnya salah pada Zul, seharusnya Zul bebas
dekat dengan siapapun yang dia inginkan, tapi saat melihat itu darahnya
langsung berkumpul di ubun-ubun, wajahnya panas, matanya perih, ingin mengalir
deras air matanya, dia sadar bahwa dia hanya sebatas sahabat, Tapi rasa itu
tidak dapat di sembunyikan lagi.
Hasil akhir dari pengumuman ujian
akhir sudah didapatkan, untuk kelas 2 Kejora mendapatkan nilai tertinggi dengan
sempurna, yang artinya semua jawabannya tidak ada yang salah, namun semangatnya
tetap tidak kembali, tetap lemas dengan tatapan kosong, tidak ada ekspresi
senang terpancar, melangkah pulang seperti mayat hidup, kakinya justru seperti
di seret bukan melangkah.
Zul mendapatkan nilai yang cukup
memuaskan walaupun tidak masuk sepuluh besar peringkat, namun peringkat 18 dari
40 murid sudah mengalami peningkatan, ketimbang semester kemarin yang hanya
berada di urutan 28, namun dia pun sama dengan Kejora lemas dan murung
melangkah pulang. Saat sampai di gerbang sekolah kepalanya langsung tegak
menengok ke segala arah mencari sesuatu, dia dapat merasakan bahwa Kejora ada
di dekat sini, namun tidak dapat di temukan, akhirnya setelah beberapa saat dia
menyerah, karena apa yang dia cari hasilnya nihil, kembali melangkah untuk
pulang.
Setelah beberapa menit melangkah
tiba-tiba tangannya bergerak secara tidak sadar menangkap sebuah legan. Dan
lengan itu adalah milik Kejora, yang membuat Kejora kaget karena dia pun tidak
sadar bahwa ada Zul di dekatnya karena dia berjalan lurus tanpa memperhatikan
sekitar.
“Zul.“ ucap Kejora yang tersentak
Kaget.
“Rara.“ jawab Zul yang kaget kenapa
tangannya bisa tahu bahwa itu adalah tubuh Kejora.
Kejora.
“Tapi kamu harus ikut aku.“ jawab
Zul.
“Ngapain? aku capek mau istirahat.“
Ucap Kejora berusaha menghindar.
“aku harus lurusin tentang kejadian
tadi, aku mohon.“ jawab Zul dengan memelas.
“Iya, tapi kita mau kemana?“ tanya
Kejora yang luluh dan mengikuti keinginan Zul.
“Taman.“ jawab Zul singkat dan
melepaskan genggamannya dari lengan Kejora.
Mereka pun berjalan berdampingan
dengan keheningan menghiasi perjalanan mereka kearah taman, ingin rasanya
memulai pembicaraan namun mereka tak sanggup menggerak lidahnya yang kaku, pita
suaranya seperti hilang tak dapat mengeluarkan suara.
“Aku beli minum bentar“ ucap Zul.
Kejora hanya mengangguk dengan
kepala menunduk.
“Nih minum dulu.“ ucap Zul pada
Kejora yang sudah beberapa saat menunggu terdiam.
“Makasih“ jawab Kejora masih dengan
wajah Tertunduk.
“Gak sopan lo, bilang makasih, kalo
gak liat muka orangnya.” ucap Zul.
“Makasih.“ jawab Kejora dengan
senyum terpaksa.
“Ra yang tadi aku minta maaf, itu
gak seperti yang kamu liat.“ pinta Zul sambil duduk di samping Kejora.
“Kamu gak salah, kenapa harus minta
maaf?“ tanya Kejora
“Aku ngerasa aja, udah bikin kamu
sedih.“ jawab Zul yang merasa bersalah.
“Aku gak sedih kok.“ jawab Kejora.
“Berarti kamu kecewa.“ tanya Zul.
“Kecewa kenapa?“ tanya Kejora.
“Hmmm... aku gak tau. tapi aku
ngerasa aja.“ jawab Zul
“Sok tau.“ jawab Kejora.
“Ya kalo kamu gak kasih tau, ya aku
gak bakal tau Ra, aku bukan anak indigo yang bisa tau isi hati orang lain.“
jelas Zul.
“Aku gak ngerasa kecewa atau marah
kok, aku harus ngasih tau apa.“ jawab Kejora.
“Cemburu.“ ucap Zul dengan polosnya.
“Haaa... kenapa aku cemburu? kok
kamu mikir kesitu? kamu gila ya?“ jawab Kejora dengan spontan mengeluarkan nada
tinggi.
“Terus, kenapa kamu menghindar?
__ADS_1
terus wajahmu emosi tadi?“ tanya Zul memaksa.
Gak kenapa-kenapa.“ jawab Kejora.
“Ra sama sahabat itu harus terbuka.“
jawab Zul.
“Aku gak suka lena.“ jawab Kejora
dengan menatap tajam.
"Eh, dia beneran marah ini.“
pikir Zul
“aku gak ada apa-apa tadi dia yang
deket-deket aku, udah ngomong baik-baik supaya dia gak deket-deket tapi dia
maksa terus.“ jelas Zul yang panik.
“Aku gak percaya, kamu tadi kayaknya
kesenengan?“ jawab Kejora.
“Jadi beneran cemburu?“ tanya Zul.
“Gak lah, aku cuma gak suka.“ jawab
Kejora
“Hmmm... kalo aku yang meluk
lenganmu kayak gini, gimana kamu suka gak?“ tanya Kejora sambil memeluk lengan
Kejora berusaha menggoda Kejora.
“Gak lah“ kata Kejora sambil
melepaskan tangannya dari pelukan Zul.
“Terus gimana dong solusinya?“ tanya
Zul
“Pikir aja sendiri!“ jawab Kejora.
“Ra, aku beneran lo gak ada apa-apa
sama Lena, sumpah demi harga diri laki-laki, aku gak bohong.“ jawab Zul
“Bener?“ tanya Kejora dengan tatapan
tajam.
“Beneran, serius?“ jawab Zul.
“Beneran, serius, beneran?“ tanya
Kejora masih dengan tatapan tajam.
“Beneran, serius,beneran.“ jawab
Zul.
“Yaudah kalo gitu.“ jawab Kejora
dengan sedikit lega.
“Kamu udah percaya?“ tanya Zul.
“Iya udah percaya.“ jawab Kejora.
“Senyum dong, jangan ditekuk-tekuk
gitu wajahnya, kusut ntar.“ goda Zul
“Terserah aku, ini wajah punya aku.“
jawab Kejora.
“Eh, tadi gimana? kamu dapet
peringkat berapa?“ tanya Zul penasaran.
“Hmmmm... satu“ jawab Kejora
tersenyum bangga.
“Keren, total nilainya berapa?“
tanya Zul bersemangat.
“Perfect.“ jawab Kejora santai.
“Udah jelaslah, kan kamu pinter, gak
kayak aku kan yang malu-maluin nilainya standar, maaf ya punya temen bodoh
kayak aku, kamu nyesel kan, iya kan?“ ucap Zul dengan lemas dan depresi
“Eh, gak kok, kamu kan udah usaha,
pasti ada peningkatan, jangan nyerah dong, emang kamu peringkat berapa?” tanya
Kejora. berusaha menyemangati Zul.
“Cuma18, naiknya cuma sepuluh
peringkat, rahmad aja yang males-malesan masih dapat peringkat 13, bener emang
kata beny.“ jawab Zul.
“Zul setidaknya kamu bisa merangkak
naik, lebih bagus dari yang kemaren itu udah beruntung, merangkak naik itu
lebih mudah Zul daripada terus berada di atas, makin kamu naik ke atas, makin
berat tantangannya, anginnya makin besar, Zul itu udah bagus kamu bisa naik.“
jawab Kejora menyemangati Zul
“masa iya?“ tanya Zul.
“Iya Zul, aku beneran, rasanya aku
gak sia-sia belajar bareng kamu, ada hasilnya.“ jawab Kejora dengan tersenyum.
“Makasih ya Ra, aku ucapin banyak
makasih sama kamu, aku bersyukur jadinya.“ ucap Zul
“Sama-sama Zul aku seneng, ternyata
aku ada manfaatnya buat kamu.“ jawab kejora.
“Tapi aku gak bermaksud lo, ngajak
kamu sahabatan buat memanfaatkan kepintaranmu .“ terang Zul.
“Aku tau kok, pulang yuk, aku mau
ketemu ibu !“ jawab Kejora tersenyum.
“Ya udah yuk.“ jawab Zul sambil
berdiri.
“Oh iya, Zul aku penasaran?“ tanya
Kejora sambil berjalan di samping Zul.
“Penasaran apaan.“ tanya balik Zul.
“Pas kamu pegang tanganku tiba-tiba
tadi. kamu serem banget.“ jawab Kejora.
“Aku aja gak tau Ra, kalo itu
tanganmu.“ jawab Zul polos dan berwajah bingung.
“Eh kok bisa, aku juga gak sadar lo
padahal, kalo kamu di situ.“ jawab Kejora.
“Hmm... cuma insting aja, aku rasa
itu kamu, terus tanganku gak sadar megang lenganmu.” jawab Zul dengan polos.
“Haa... gak mungkin.“ jawab Kejora
dengan wajah memerah tersipu malu.
“Sumpah deh Ra, aku gak bohong, pas
di gerbang juga tiba-tiba aku ngerasa ada kamu, Cuma pas ku cari gak ketemu.“
jawab Zul.
“Iya aku tadi liat dia, terus aku
nyumput, kok dia bisa tau aku disitu.“ pikir Kejora.
Kejora hanya terdiam mendengar
jawaban Zul, kenapa Zul bisa tau kalo Kejora ada di dekat, dia walaupun dia
sudah bersembunyi, itu gak masuk akal, apa cuma kebetulan aja? tapi kalo
kebetulan dia juga bilang waktu pegang tanganku dia cuma refleks aja, dia gak
tau ada aku Pikir Kejora heran.
Ah ternyata Kejora bukan cemburu
sama aku, cuma karena gak suka aja sama lena, seharusnya aku lega dia gak
__ADS_1
cemburu tapi kok rasanya aku marah ya, denger dia gak cemburu, apa aku berharap
kalo dia cemburu sama aku? Pikir Zul.