Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Sudut Pandang


__ADS_3

Jam istirahat pertama telah berakhir namun Kejora masih menitikkan air mata, walaupun tak sederas tadi saat istirahat, dia menutupinya dengan bukunya agar tak terlalu terlihat oleh gurunya, saat Kejora menangis menderita dengan segala sakit dan perih yang ia rasakan badannya serasa hancur tak memiliki tenaga.


Sebuah senyuman terlihat dari seorang wanita, dia tersenyum bangga dan penuh kemenangan menari bahagia diatas penderitaan Kejora yang air matanya tak mau berhenti keluar dari mata indahnya, dia terus memandangi Kejora dengan senyum sambil diselingi tawa yang dipenuhi kesenangan dan kepuasan.


Tidak sedikit pun dia merasa bersalah atau iba dengan apa yang telah ia lakukan dan ia perbuat, meski dia tau bahwa itu salah tapi hatinya tak peduli asalkan Kejora menderita, sakit, dan menjauhi Zul, dengan senang hati dia lakukan cara kotor itu.


Bayangan saat dia melihat Zul bersama Lena tadi terus mengganggunya tidak mau hilang terus berputar tak mau berhenti seperti otomatis mengulang meskipun waktunya telah habis, hingga dia tak dapat melakukan kegiatan apapun selain menangis terisak-isak, berderai air mata, hingga matanya membengkak dan pipinya benar-benar basah oleh air matanya yang tak mau berhenti mengalir.


Sulit untuk percaya Zul yang selalu dia banggakan, selalu dia mimpikan, dan selalu dia doakan, mengkhianati hati yang sudah dia berikan seutuhnya untuk Zul, hati yang hanya milik Zul seorang, hati yang hanya bisa di tempati dan diisi oleh Zul dia kecewakan begitu saja.


Sampai di jam pelajaran kedua Kejora masih terus menangis, tak sedetikpun air matanya berhenti mengalir, berjatuhan, terbuang begitu saja, dia terus mengumpat Zul tanpa henti, tidak dapat terpikir olehnya bahwa Zul setega itu padanya, menduakan perasaannya secara diam-diam.


“Ra.“ panggil Zul yang tak sadar sudah berada disampingnya.


“Pergi!“ jawab Kejora singkat yang berusaha mengusap pipinya yang basah dengan air matanya.


“Dengerin aku dong, aku bisa jelasin.“ jawab Zul.


“Zul ngapain disini? mau ngajak aku kayak tadi lagi?“ tanya Lena tersenyum yang menambah hancur hati Kejora.


“Pergi kamu! gak usah nambah nambahin masalah lagi!“ jawab Zul.


“Kok kamu gitu sih, beda sama yang tadi, kok sekarang kasar gitu, aku bukan permen karet Zul yang bisa kamu kunyah kamu mainin terus kalo manisnya hilang kamu lepeh gitu aja ke tong sampah.“ jawab Lena sambil berpura-pura menangis.


“Kita gak ngapa-ngapain tadi, kamu gak usah mengada-ngada.“ jawab Zul.


Plaaaaak… tamparan keras mengarah tepat ke pipi Zul, dan berdengung keras di telinganya.


“Sampah kamu! mati seribu kali sana! pergi kamu dari sini! jangan tunjukin lagi wajah kamu yang sok polos dan gak merasa bersalah itu di depanku, aku kecewa sana kamu, pergi sampah!“ teriak Kejora dengan keras hingga terdengar di satu kelasnya yang perlahan-lahan bepergian meninggalkan ketiga orang itu.


“Ra aku memang gak ada apa-apa sama dia, dengerin aku dulu dong!“ pinta Zul


“Pergi kalian berdua, aku gak mau liat wajah kalian, pergi, pergi” teriak Kejora melemparkan bukunya pada Zul di iringi tangisnya yang pecah dan tersedu-sedu.


“Tenang dulu dong Ra, gimana aku mau jelasinnya kalo kayak gini.“ pinta Zul yang panik melihat Kejora.


“Aku gak minta jelasin apa-apa Zul, apa kalian belum cukup puas bikin aku sakit, bikin aku hancur begini? apa kalian mau bunuh aku pelan-pelan? apa itu mau kamu Zul? kalo kamu emang mau sama dia silahkan Zul, aku udah gak peduli, yang penting kamu pergi sekarang dari sini, aku mohon!“ pinta Kejora.


“Jadi, kamu udah relain Zul buat aku Ra?“ tanya Lena yang masih berpura-pura menangis.


“Kamu diem aja! gak usah sandiwara nangis-nangis segala, aku gak bakal kasihan sama air mata buaya kamu, aku gak ngapa-ngapain kamu sama sekali, emang gak ada saksi tadi cuma kita bertiga disitu, tapi tuhan gak buta dia lihat apa yang sebenarnya terjadi.“ ucap Zul menatap tajam Lena.


“Kenapa kamu gak mau ngaku aja sih Zul.“ jawab Lena.


“Aku emang gak nyentuh kamu sama sekali Lena, udah cukup halusinasi kamu yang tak terkontrol itu!“ teriak Zul.


“Zul kamu gak usah bawa-bawa tuhan buat masalah ini, kamu gak usah sok polos, dan gak usah sok benar, kamu mau pergi sekarang atau aku yang pergi sekarang juga?“ tanya Kejora.


“Ra kamu percaya sama dia, kamu gak percaya sedikitpun sama aku?“ tanya Zul.


“Aku percaya sama mata aku Zul.“ jawab Kejora sambil pergi meninggalkan mereka berdua.


“Ra kamu mau kemana? kamu tolong percaya sama aku.“ ucap Zul menahan lengan Kejora.


“Lepas Zul!“ pinta Kejora.


“Aku gak akan lepasin kamu Ra, sampai kapanpun, aku gak akan lepasin kamu.“ jawab Zul.


“Tolong!“ pinta Kejora sambil menangis.


“Apa Cuma mata kamu Ra, yang bisa kamu percaya, apa cuma mata kamu yang bisa buat menilai sesuatu?“ tanya Zul.


“Iya Zul mataku jelas gak bohong.“ jawab Kejora sambil melepaskan genggaman Zul yang melemah.


“Kamu seneng Lena, sekarang Kejora udah pergi jauh, kamu gak usah sandiwara lagi!“ perintah Zul.


“Aku gak akan puas sebelum kamu jadi milik aku.“ jawab Lena tersenyum.


“Dalam mimpipun aku gak mau jadi milik kamu.“ jawab Zul sambil pergi meninggalkan Lena.


Dengan lemas Zul menuju kelasnya, tatapannya seakan tak memiliki nyawa, dia terduduk dengan wajah pucat lemas di kursinya. Hingga teman-temannya pun tak berani mengganggunya, dia benar-benar kecewa dengan Kejora yang menilainya hanya dengan matanya yang berada di sudut pandang yang tidak tepat untuk menilai apa yang telah Lena lakukan terhadap Zul.


Ditambah lagi Lena benar-benar licik dan pandai bersandiwara, dia benar-benar memanfaatkan kesalahpahaman Kejora kepada Zul, agar dia terlihat disakiti dan dicampakkan begitu saja oleh Zul, membuat Zul benar-benar terpojok dan sebagai satu-satunya orang yang harus disalahkan.


Kejora yang sempat pergi meninggalkan Zul ke Lena ternyata dia pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya agar terlihat lebih cerah dan sedikit menyembunyikan wajahnya yang habis menangis walaupun masih tampak dengan jelas oleh matanya yang bengkak dan memerah.


Air matanya telah berhenti namun kesedihannya tak serta merta berhenti juga hatinya masih tetap menangis, perasaaannya benar benar tak dapat di definisikan bentuknya karena memang hancur berantakan. Kesaksian Lena tadi menambah kuat persepsi kebenaran tentang kejadian yang ia lihat tadi.


Hingga jam pelajaran terakhir Kejora tak memikirkan apapun pikirannya kosong dan wajahnya sendu berjalan melangkah pulang ke rumahnya. Dan saat di tengah jalan sudah menunggu sekumpulan pria yang sangat ia kenali dengan satu pria yang memiliki ekspresi yang sama terhadap Kejora. Dan Kejora berusah untuk seakan akan tidak melihat mereka berjalan menunduk dengan senatural mungkin.


“Ra apa kamu bener bener gak liat kita?“ tanya Beny pada Kejora yang hanya berjarak lima langkah darinya. Dan Kejora meneruskan jalannya tak memberikan jawaban.


“Apa kamu memang bener-bener gak denger suaraku Ra?“ tanya Beny yang berlari menghadang Kejora.

__ADS_1


“Aku pengen sendiri.“ jawab Kejora.


“Kamu liat dia Ra, liat dulu ekspresi Zul liat tatapannya sekarang!“ perintah Beny.


“Aku gak mau.“ jawab Kejora menunduk.


“Ra kalo memang Zul salah ekspresinya gak mungkin kayak gitu, kamu pasti tau Zul itu orang yang kayak mana, jadi coba kamu liat dia dulu! aku mohon aku gak tega liat Zul kayak gitu dia bener-bener kayak orang mati yang bisa jalan!“ perintah Beny.


Dan Kejora sedikit menoleh kearah Zul matanya benar benar seperti orang kesakitan, ekspresinya benar benar seperti orang tak bernyawa.


“Gimana kamu udah liat? asal kamu tau Ra, dia gak bakal sampe sini kalo gak aku yang tuntun jalan dia, dia gak akan berdiri kalo gak aku yang bantu dia, aku jujur Ra, aku gak belain Zul karena kita udah temenan lama jadi kalo Zul salah kita bakal tetep bela dia, kamu juga sahabat kami Ra, sekarang aku yakin ini benar-benar salah paham dan hanya ulah licik dari Lena.“ terang beny.


“Mata aku gak mungkin salah Ben.“ jawab Kejora.


“Tapi sudut pandangmu bisa salah Ra, kamu ikut kami dulu aku mohon!“ jawab Beny.


“Aku gak bisa.“ ucap Kejora sambil melangkah pergi.


“Aku minta turutin permohonanku sebagai sahabat Ra, kalo kamu bener-bener anggep aku sahabat aku tolong ikut kami sebentar.“ ucap Beny setengah berteriak.


“5 menit.“ jawab Kejora cepat.


“Kita ke Taman, disini bukan tempat yang pas buat masalah kayak gini.“ ajak Beny sambil pergi kearah taman dan di ikuti dengan teman-temannya.


Sesampainya di Taman di tempat yang sama dan bangku yang sama saat Zul menyatakan perasaannya pada Kejora.


“Kenapa harus disini ben?“ tanya Kejora.


“Memang kenapa? toh gak ada yang aneh.“ jawab Beny.


“Kamu tau darimana?“ tanya Kejora.


“Kamu lupa, aku juga ada disini waktu itu sama Lena juga.“ jawab beny.


“4 menit 30 detik.“ jawab Kejora.


“Lena itu licik Ra, bisa aja itu rencana Lena kamu harusnya tau Lena itu orang yang gimana tapi kenapa kamu percaya sama Lena?“ tanya Beny


“Aku percaya sama mata aku.“ jawab Kejora.


“Tapi kamu melihat dari tempat yang salah.“ jawab Beny.


“Coba kamu deketin Zul!“ perintah beny.


“Buat apa?“ tanya Kejora.


Kejora pun berusaha duduk didekat Zul. Namun Zul masih terdiam tak merasakan apapun, Kejora pun merasa Zul menatap kosong, dan kejora yakin itu bukan sandiwara atau pura-pura.


dan saat Kejora akan berdiri…….


“Zul!“ ucap Kejora kaget karena bahunya di tahan oleh Zul dan sedetik kemudian Zul mendekatkan wajahnya ke wajah Kejora.


“Kamu dari kapan disini? kamu jangan lari lagi dengerin aku dulu baru kamu boleh pergi!“ jawab Zul


“Kamu mundur dulu, wajahmu terlalu dekat!“ pinta Kejora.


“Tapi kamu janji gak pergi lagi, dan mau dengerin penjelasan aku dulu?“ tanya Zul


“Aku janji.“ jawab Kejora.


“Yang Lena omongin tadi gak bener Ra, aku gak ada apa-apa sama dia dan gak pernah deket-deket dia, kamu kan tau aku cuma cinta sama sayang sama kamu aku gak mungkin sama orang lain melakukan hal yang kamu sangka itu, apalagi sama Lena orang yang gak kamu suka.“ terang Zul.


“Buktinya apa? semua itu butuh bukti, aku punya bukti aku liat dengan mata kepala aku sendiri, terus kamu buktinya apa?“ tanya Kejora yang masih belum percaya.


“Kamu mau bukti apa?“ tanya Zul.


“Bukti yang kamu punya, semua yang kamu punya.“ jawab Kejora.


“Kami tinggal dulu, sisanya terserah kalian.“ ucap Rahmad pamit pergi memberikan ruang untuk Zul dan Kejora berdua mengobrol secara privasi.


“Makasih ya temen-temen.“ ucap Zul.


“Good luck!“ jawab Beny.


“Waktuku gak banyak.“ ucap Kejora.


“Aku gak punya.“ jawab Zul.


“Udah cuma itu aja yang kamu bisa?“ tanya Kejora.


“Kalo buat situasi tadi, aku gak punya bukti yang bisa bikin kamu percaya, tapi kalo bukti aku setia dan cinta sama kamu aku punya.“ jawab Zul


“Apa buktinya?“ tanya Kejora.

__ADS_1


“Kamu mau bukti yang kayakmana?“ tanya Zul mendekatkan wajahnya dan meletakkan lengannya diatas bahu Kejora. Hampir mirip dengan kejadian saat Zul memaksa Kejora menjawab perasaanya di balkon rumah Kejora


“Zul mundur! aku bakal lebih marah lagi kalo kamu gak mundur sekarang!“ perintah Kejora yang takut dengan situasi yang diciptakan oleh Zul.


“Gak masalah asal kamu bisa tau, aku bener-bener setia dan cinta Cuma sama kamu, semua yang aku punya dan miliki cuma untuk kamu, gak ada wanita lain yang bisa gantiin posisi kamu, gak ada wanita lain yang aku mau buat jadi ibu dari anak-anakku selain kamu, dan Cuma kamu wanita yang aku inginkan buat jadi satu-satunya pasangan hidupku sampai maut memisahkan.“ jawab Zul.


“Itu Cuma kata-kata dari mulut kamu, aku butuh bukti yang lain.“ jawab Kejora


“Dan kamu mau bukti apa?“ tanya Zul.


“Terserah… asal aku bisa percaya, itu terserah kamu.“ jawab Kejora


“Terus bukti apa yang bisa bikin kamu percaya?“ tanya Zul.


“Ya kamu pikir sendiri lah, sekarang tolong mundur aku sumpek!“ perintah Kejora


“Kenapa kamu gak berusaha untuk melepaskan diri sendiri, tanpa nyuruh aku?“ tanya Zul.


“Aku gak bisa, kamu lebih kuat dari aku.“ jawab Kejora.


“Kamu lebih pintar dari aku, jauh lebih pintar.“ jawab Zul.


“Tapi ini gak bisa, aku bener-bener gak bisa, kalo kamu gak mundur sendiri.” jawab Kejora.


“Sama Ra… aku juga gak bisa cari bukti yang pas buat kamu, kalo kamu gak bilang kamu mau bukti apa yang bisa bikin kamu percaya.“ jawab Zul.


“Ikut aku ke Australia kamu bisa?“ tanya Kejora.


“Maaf!!!“ jawab Zul pelan.


“Kamu gak bisa kan?“ tanya Kejora.


“Siapa yang bilang kayak gitu?“ tanya Zul.


“Terus?“ tanya Kejora.


“Itu rahasia.“ jawab Zul sambil mundur memberi Kejora ruang.


“Berarti kamu gak cinta dan sayang sama aku?“ tanya Kejora.


Itu sudut pandangmu, kenapa kamu gak coba dari sudut pandangku hasilnya pasti beda!“ perintah Zul


“Mata aku gak mungkin salah.“ jawab Kejora.


“Tapi kamu melihat dari tempat yang salah, kalo semua yang dilihat sama mata bener, apa bener bulan selalu mengikuti kemana kita pergi?“ tanya Zul.


“Kenapa kamu samain sama bulan?” tanya Kejora.


“Jawab pertanyaanku dulu!“ perintah Zul.


“Oke… bulan berada yang di tempat yang jauh jadi dia keliatannya selalu ikut kemana kita pergi.“ jawab Kejora


“Kalo kamu lihat itu dari bulan, hasilnya bakal beda bukan?“ tanya Zul.


“iya kamu bener.“ jawab Kejora yang mulai menunduk malu Karena sudah salah paham.


“Kamu mau tau sebenernya yang terjadi?“ tanya Zul.


“Iya aku mau tau.“ jawab Kejora.


“Dia cuma bisikin aku.” jawab Zul berbisik ke telinga Kejora.


“Masa iya?“ tanya Kejora tak percaya.


“Kalo tadi misal ada orang yang liat kamu dari sana, kira-kira apa yang orang pikir?“ tanya Zul sambil menunjuk ke arah telinga Kejora yang tidak di dekat Zul.


“Kamu cium pipi aku.“ jawab Kejora.


“Sekarang udah tau kan, beda sudut pandang itu beda hasilnya juga.“ jawab Zul.


“Maaf.“ jawab Kejora merasa bersalah.


“Aku yang minta maaf udah buat kamu sedih buat kamu nangis, lain kali dengerin aku dulu jangan asal buang air mata kamu yang berharga itu sia-sia!“ perintah Zul


“Iya.“ jawab Kejora.


“Ngerti?“ tanya Zul.


“Iya aku ngerti.“ jawab Kejora.


“Ayok pulang aku anterin, mulai besok aku jemput lagi kemana-mana sama kamu, kalo perlu ke toilet juga kamu ikut masuk biar kamu gak salah paham lagi.“ ajak Zul


“Aku yang gak mau.“ jawab Kejora tersenyum.

__ADS_1


“Ayok pulang! apa kamu masih mau disini?“ tanya Zul.


“Iya aku mau kasih sesuatu sama kamu.“ jawab Kejora.


__ADS_2