
Situasi yang terjadi seperti mimpi bagi Kejora, suatu hal yang sulit terealisasi mengobrol
dengan lepas, dan tanpa beban dengan ayah dan ibunya, hal yang sangat di idam-idamkan
oleh Kejora selama hidupnya. Untuk sekarang itu tidak akan terjadi miris, teriris justru
dia dapat tersenyum dengan benar, namun bukan oleh keluarga kandungnya sendiri,
melainkan keluarga pria yang ia curigai, keluarga yang ia baru kenal,
beruntungnya Zul, meski secara materi tidak sebanding dengan dirinya namun Zul
memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada aset yang kejora miliki,
kehangatan keluarga.
“Kejora tumben dia bisa ketawa, bisa senyum ajaib, Ibu sama Ayah” pikir Zul.
“Jadi, pengen tukeran keluarga kalo kayak gini.” dalam hati kejora dengan bahagia.
“Eh, bentar lagi makan siang, Ibu masak dulu ya, keasyikan si ada Anak Gadis dateng.” ucap Ibu Zul.
“Bu aku bantu boleh?” tanya Kejora.
“Eh, Tuan Putri mana boleh ngulek, nanti tangannya kasar lo ” jawab Ibu Zul.
“Aku gak pernah masak, jadi pengen belajar sama ibu.” jawab Kejora.
“Emhhh... ya ampun gemesnya, coba aja kamu beneran anak Ibu,
Ibu bahagia pasti, gak kayak yang asli, kerjaannya
cuma bengong, tiduran di Kasur, bikin mata katarak liatnya.” ucap Ibu Zul.
“Jadi Ibu nyesel, parah banget sih” sahut Zul kesal.
“Udah yuk Nak, kita masak gak usah dengerin mayat hidup itu.” ajak ibu Zul pada Kejora.
“Iya Bu.“ kata Kejora menahan tawa.
“Nak Rara.” tanya Ibu Zul sambil berjalan menuju dapur.
“Apa Bu?” jawab Kejora.
“Maaf ya, makanan kami gak mewah, kalo gak suka, gak usah di paksa” kata Ibu Zul.
“Emang, mau masak apa Bu?” tanya Kejora.
“Tumis kangkung, sama tempe bacem.” jawab ibu Zul.
“Eh, itu mah, termasuk makanan favoritku lo Bu“ kata Kejora.
“Ah, kamu cuma takut kami tersinggung aja kan?” tanya Ibu Zul.
“Beneran Bu, tanya Zul geh.” jawab Kejora Keceplosan.
“Berarti hubungan kalian lebih dari temen ya?” tanya Ibu Zul tersenyum.
“Sial, aku kejebak” pikir Kejora.
“Gak kok bu, cuma temen” jawab Kejora.
“Ah tapi Ibu tetep seneng, Ibu tuh hampir frustasi, dia tuh kayak alergi sama cewek Ibu tuh heran,
setiap ada cewek main ke rumah dia pergi ke tempat temennya.” curhat Ibu Zul.
“Eh, masa sih Bu?” tanya Kejora penasaran.
“Iya bener, makanya pas dia ngomong
mau ngajak temen ceweknya ke rumah untuk pertama kalinya, kami seneng banget
jadi gak mikir aneh-aneh lagi tentang Zul” jawab ibu Zul sambil menyiapkan
bahan masakan.
“Aneh-aneh gimana bu.” tanya Kejora menyelidik.
“Ya takutnya, dia itu gak mau punya
pacar atau menikah, yang terburuk ya jeruk makan jeruk.” jawab Ibu Zul
“Jeruk makan jeruk.” tanya Kejora bingung.
“Laki sama laki, ngerti kan.” jawab Ibu Zul
“Hihihihi” Kejora mengikik.
“Sampe mikir ke situ Ibu, karena tingkah Zul yang bikin frustasi.” ucap Ibu Zul Kesal.
“Cuma orang bodoh, yang ngelakuin itu bu ” sahut Kejora.
“Iya sih bener binatang aja tau kalo harus kawin sama lawan jenis ya.” jawab Ibu Zul.
“Iya Bu, terus aku harus ngapain?“ tanya Kejora.
“Kamu bisa ngupas bawang, apa ngiris cabe ?” tanya Ibu Zul.
Kejora menggelengkan kepala dengan wajah tersipu malu.
“Oke ibu udah paham, ibu ajarin sampe kamu jago.” jawab Ibu Zul tersenyum.
“Gak mungkin lah Bu, sekali nyoba langsung jago.” jawab Kejora.
“Ya kamu kesini tiap hari juga gak papa, nginep juga boleh.” kata Ibu Zul.
“Kalo nginep kayaknya gak bisa deh bu, nanti ada prasangka buruk dari orang lain.” jawab Kejora
“Nanti Zul Ibu suruh nginep ditempat temennya mau ya?” tanya Ibu Zul.
“Ya Bu aku mau.“ jawab Kejora tersenyum lebar.
“Sekarang bisa.” tanya Ibu Zul.
“Gak bisa bu, aku harus bilang dulu sama bi Maryam, nanti dia khawatir.” jawab Kejora.
“Hmm... ya udah deh kapan-kapan aja
kalo kamu mau kesini, kesini aja.” Ucap Ibu Zul.
Di Ruang Tamu.
“Zul, Kejora anaknya baik ya?” tanya
ayah Zul memecah keheningan.
“Cih... Ayah gak tau aja dia itu
aslinya dingin.” pikir Zul.
“Iya, aku malah kayak tamu.” jawab
Zul Tersenyum sedih
“Ya jelaslah namanya juga cewek
ketemu cewek, ya pasti kayak gitu.” jawab Ayah Zul.
“Coba beneran, dia jadi anak Ayah”
kata ayah Zul.
“Ayah Juga mikir gitu, nyesel ya
__ADS_1
punya anak yang kayak mayat hidup kayak aku.” jawab Zul kesal.
“Hmm... pemikiran mu pendek Zul.”
jawab Ayah Zul tersenyum
“Maksudnya?” tanya Zul.
“Kan kalo kalian nikah, dia jadi
anak ayah juga.“ jawab ayah Zul.
“Yah jangan mikir macem-macem, aku
sama Kejora itu beda.” jawab Zul.
“Ya harus beda dong, masak iya kamu
mau nikah sama Cowok, ya gak bisa kan namanya nikah ya harus ada bedanya, masa
iya satu jenis.” Terang Ayah Zul.
“Itu beda lagi dong.” jawab Zul.
“Hmm… yaudah tapi jangan kasih
harapan yang gak bisa kamu penuhi, Zul kalo kamu anggap dia cuma temen ya
ngomong dengan jelas jangan di gantungin.” kata Ayah Zul memberikan Nasihat.
“Iya yah, temenku juga pada bilang gitu.“ jawab Zul.
“Bagus kalo kamu udah paham, apa
yang ayah maksud, dan inget apa yang ayah omongin tadi, jangan karena harta
kamu deketin dia ayah bilangin lagi ayah gak suka punya anak yang gila harta
sampai, pake cara sampah kayak gitu!“ terang ayah Zul.
“Iya Yah, aku ngerti” jawab Zul.
“That’s my son.” ucap ayah Zul.
“Ayo makan, udah siap lo makanannya
kali ini spesial, menunya di bantuin sama anak gadis.” kata Ibu zul.
Mereka pun makan siang, walau
menunya gak mewah tapi rasanya nikmat, walau sedikit tapi rasanya kenyang,
walau sederhana namun meriah. Ingin menangis rasanya Kejora bukan sedih, namun
bahagia bertanya-tanya, apakah bisa dia bersama orang tuanya seperti ini,
bertatap muka dalam setahun bisa di hitung dengan jari, Keluarga Zul yang penuh
kehangatan dan keakraban ini, baru bisa di sebut dengan keluarga.
"Nak Rara, kamu beneran makan
ini, kalo gak suka, gak usah dipaksa“ kata ayah Zul teringat bahwa Kejora
adalah orang yang berbeda kasta.
“Om sama ibu sehati.“ jawab Kejora tersenyum.
“Ih Rara, ibu kan malu berasa jadi
anak gadis lagi, deh “ ucap ibu Zul.
“Gak ada cocok-cocoknya jadi anak gadis.” ucap Zul Santai.
kata-kata itu dari kamu.” jawab ibu Zul sambil menengok kearah Zul dengan wajah
Horor.
“Tapi masih cocok kok bu, kayak anak
gadis masih cantik.” Sambung Kejora.
“Tuh kan, emang Zul itu gak tau apa-apa” jawab Ibu Zul.
“Orang Jujur, kok marah” jawab Zul pelan.
“Kamu sederhana, amat Ra?” tanya ayah Zul.
“Aku emang gak pilih-pilih om,
paling cuma beberapa makanan aja aku gak suka, kayak mie gitu aku Kurang suka,
selain itu sih, aku makan-makan aja, yang penting lapernya hilang.” jawab
Kejora.
“bener-bener menantu idaman.” kata ayah Zul.
“Lebih tepatnya anak yah, kalo bisa di tuker kita tuker aja.” jawab ibu Zul.
“Ya ampun segitu nyeselnya, ya ibu punya anak kayak aku.” ucap Zul.
“Ibu gak ngomong nyesel lo Zul, kamu yang mikir gitu.” Ibu Zul mengelak.
“Tapi kata,kata ibu menjurus ke kata menyesal.” terang Zul dengan wajah kesal.
“Ternyata kamu pinter juga Zul, Ibu baru tau ” jawab Ibu Zul dengan wajah mengejek.
“Jadi ibu kira aku selama ini goblok, itu kelewatan tau gak.” ucap Zul Kesal.
“Senengnya kalo bisa kayak gini, becanda lepas, beda kalo makan sama papa sama mama,
cuma tatap muka aja gak ngobrol, kayak makan sendiri sendiri tapi di meja yang sama” pikir Kejora.
Makan siang pun selesai ibu dan kejora yang sudah sangat akrab lengket seperti teman sendiri, wajah kejora
dengan jelas terlihat senang dan bahagia dalam hati Zul Bersyukur, Kejora
terlihat senang di tengah keanehan kedua orang tuanya wajahnya dingin meleleh,
berubah menjadi hangat aura kecantikannya semakin jelas terlihat, Zul merupakan
manusia beruntung yang dapat melihat itu semua. Bahkan orang tua Kejora jarang
melihat anaknya seperti itu.
Seakan ingin terus seperti ini situasinya, matahari yang tidak sadar sudah mulai turun, karena Kejora terbuai
dengan kebahagiaan hari ini, senyum terus tersungging di wajahnya tidak ada
wajah tanpa ekspresi wajah kaku dan dingin seperti hari biasanya.
“Bu udah sore nih, aku pulang dulu ya, nanti bi Maryam cerewet.“ kata Kejora pamit pada Ibu Zul.
“Yah kamu pulang, padahal pengen lebih lama lagi sama anak gadis.” jawab Ibu Zul kecewa.
“Nanti aku sering sering kesini, kalo bisa nginep juga.” kata Kejora tersenyum.
“Janji ya.” jawab ibu kejora seakan tidak rela Melepas Kejora.
“Iya bu aku janji.“ Jawab Kejora.
“Zul, anterin Rara Pulang.” teriak Ibu Zul.
__ADS_1
“Eh, udah mau pulang buru-buru banget?” tanya Ayah Zul pada Kejora.
“Iya om, takut di cariin.” jawab Kejora.
“Yaudah Zul, anterin Rara pulang.” perintah ayah Zul pada anaknya.
“Eh gak usah, gak papa aku bisa pulang sendiri, Zul juga kan sibuk.” jawab Kejora
“gak bisa Ra, Zul kan yang tadi ajak kamu kesini, dia harus tanggung jawab anter kamu pulang juga.” jawab ayah Zul meyakinkan Kejora.
“Oke deh Om, makasih ya Om udah boleh main kesini.” jawab kejora diiringi dengan senyuman.
“Hati-hati ya Nak Rara, Zul jangan sampek lecet anak gadis Ibu.” Perintah Ibu zul.
“Kalo aku yang lecet gimana?” tanya Zul.
“Laki manja banget, lecet dikit tu laki gak apa-apalah.” jawab Ibu Zul.
“Cihhh...” ucap Zul.
“Apanya yang cihhh?” tanya Ibu Zul.
“Gak ada, udah Rara juga ikut aneh ntar kelamaan sama ayah sama Ibu, aku anter dulu.” ucap Zul.
Mereka pun pergi berjalan kaki beriringan kejora masih menyunggingkan senyum indahnya,
membuat Zul juga tersenyum bahagia melihatnya.
“Makasih ya Zul.” kata rara membuka percakapan.
“Makasih apaan?” tanya Zul
“Orang tua kamu, baik sama aku.“ jawab Kejora.
“Iya, aku malah kayak jadi tamu.“ kata zul tersenyum.
“Masa sih Zul?” tanya Kejora.
“Iya beneran, tapi aku juga ikut seneng kalo kamu seneng sama orang tuaku.” jawab Zul.
"Kenapa emangnya?” tanya Kejora heran.
“Aku bisa liat kamu senyum, gak kayak biasanya dingin, lebih cantik.” jawab Zul dengan senyum polosnya.
“Aku jadi curiga lagi nih, sama kamu.” jawab Kejora dengan wajah memerah.
“Berarti, kamu tadi udah gak curiga dong.” tanya Zul kaget dan senang.
“Iya, ayah kamu bener-bener punya prinsip ibu mu baik, aku udah di anggep kayak anak sendiri ", aku suka
main ke rumahmu pengen nginep di rumahmu.” jawab Kejora.
“Kalo nginep gak bisa dong, ntar tetangga mikir lain lo, kamu gak takut apa jadi bahan gosip?” tanya Zul kaget.
“Kata ibumu, kalo aku nginep di rumahmu, kamu di suruh nginep tempat temenmu, jadinya aman.” jawab Kejora
santai
“Sebenernya, aku apa kamu yang anak mereka sih.” ucap Zul.
“Maaf ya, kamu jadi repot tapi aku bener-bener suka sama keluargamu rasanya beda.” jawab Kejora sambil
menitik kan air mata.
“Eh Ra, kenapa nangis?“ tanya Zul.
“Aku bahagia.” jawab Kejora.
“Pasti dia punya masalah yang berat tentang hubungan keluarga, penasaran sih tapi gak sopan nanya masalah yang sensitif kayak gini.” pikir Zul.
“Senyumlah kalo seneng bukan nangis.“ jawab Zul.
“Maaf ya” jawab Kejora.
“Eh ,malah tambah deres nanti aku di marahin Ibu, belum Bi Maryam, sama Pak Jon” kata Zul menenangkan Kejora.
“Oke aku senyum, dan aku jawab iya.” Kata kejora.
“Iya maksudnya?” tanya Zul.
“Aku mau jadi sahabat kamu.” jawab Kejora.
“Makasih Ra, aku seneng dengernya.” jawab zul dengan wajah Berseri-seri.
"Aku juga Zul.” jawab Kejora tersenyum
“Kalo lagi senyum, manisnya gak ada duanya.” ucap Zul dalam hati dengan jantung berdebar
setelah beberapa menit akhirnya, mereka sampai di depan pintu gerbang rumah Kejora.
“Zul mau mampir?“ tanya Kejora.
“Gak ah, nanti kamu nyalahin aku kalo kurang belajar.” jawab Zul tersenyum.
“Tau aja kamu.” kata kejora tersenyum.
“Install whatsapp apa line gitu ra, ibu nanti pasti nanyain.” kata Zul
“iya Zul nanti ku, sms kalo udah buat, aku masuk dulu ya.” jawab Kejora.
“Iya” jawab Zul singkat sambil melangkah pergi namun terhenti.
“Seru banget, kayaknya bang?“ tanya seorang berperut buncit.
“Hai om.” jawab Zul sambil menelan ludah ketakutan berkeringat dingin.
“Lama banget, dari mana aja?“ tanya pak Jony melotot.
“Gak dari mana-mana Om, dia di rumah sama ibuku.” jawab Zul
“Oh gitu ya, terus kenapa Non Rara tadi senyum-senyum kalian beneran pacaran ya?” tanya Pak jony mendekatkan
wajahnya pada Zul.
“Gak Om, beneran tanya aja langsung
sama Rara, aku gak tau apa-apa dia ngobrol sama ibuku, kayak ibu sama anak, aku
malah kayak jadi tamu di rumah ku sendiri, sedih gak om, padahal baru ketemu
Rara hari ini aja aku udah kayak tamu, besok-besok aku bisa jadi makhluk astral
di rumahku sendiri.” jawab Zul meyakinkan Pak Jony.
“Kok kamu curhat ke saya, curhat
sana di Facebook, udah pulang sana!“ perintah Pak Jony.
“Bye Om.” jawab Zul.
“Curigaan amat jadi orang, udah di
bilangin berkal- kali masih aja gak percaya.” pikir Zul.
Kejora yang Suasana hatinya senang,
akhirnya menjatuhkan dirinya di tempat tidurnya, dalam hati berkata terima kasih
tuhan buat hari ini, terima kasih tuhan telah mempertemukan aku dengan Zul, dan
keluarganya, terima kasih tuhan atas kebahagiaan yang belum pernah kudapatkan
ini.
__ADS_1