Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Episode 22: kembalilah


__ADS_3

Libur sekolah telah usai hari ini, sekolah mulai aktif kembali. Masa liburan yang menyenangkan telah berakhir dan mulai untuk belajar kembali, murid-murid sekolah banyak yang berjalan dengan langkah malas dan ekspresi kesal, karena masa liburan telah berakhir. Merasa masa libur yang di berikan sekolah kurang panjang, mereka masih ingin liburan dan bersenang-senang.


Tapi bagi sepasang kekasih ini, mereka tidak seperti kebanyakan murid-murid lainnya. Mereka berjalan berdampingan dengan wajah ceria. Mereka tidak peduli dengan masa libur yang terasa sangat singkat.mereka pun menjadi pusat perhatian saat berada di area sekolah. Banyak bisikan-bisikan yang membicarakan mereka. Kejora terlihat malu dan canggung, saat merasa dirinya menjadi pusat perhatian dan buah bibir di sekolah.


“Gak usah peduliin mereka, anggep aja cuma kita yang ada disini.“ ucap Zul berusaha membuat Kejora lebih tenang.


“Ya gak bisa lah, aku di liatin terus, mana bisa kayak gitu.“ jawab Kejora menunduk.


“Kamu ngomong sama siapa?“ tanya Zul.


“Ya sama kamu lah, emang sama siapa lagi?“ jawab Kejora masih menunduk


“Aku gak dibawah, kenapa kamu liat ke bawah terus? kamu malu?“ tanya Zul


“Bukan gitu, kamu kan tau aku gak suka di liatin orang kayak begini.“ jawab Kejora masih menunduk.


“Ada aku my sweet lady, kamu cuma perlu liat aku, blur pandanganmu sama orang lain.“ perintah Zul membungkuk melihat wajah Kejora.


“Ih… Zul, nanti mereka tambah ngomongin kita.“ jawab Kejora panik.


“Aku gak peduli, aku tau kamu takut, aku gak mau kamu kayak gini, kamu tenang, ada aku, liat ke depan, angkat kepalanya!“ perintah Zul.


“Iya Zul, maaf ya.“ jawab Kejora.


“Gak usah di pikirin, ayo kuanter kamu ke kelas.“ ajak Zul lalu Zul kaget ketika berpapasan dengan seseorang.


“Beny.“ panggil Zul.


Beny tidak menjawab dan pura pura tidak mendengar.


“Tunggu Ben!“ Zul memegang bahu Beny dan seketika itu juga tamparan keras mengarah ke tangan Zul.


“Gak usah sok kenal.“ ucap Beny


“Beny aku bakal jadiin kamu sahabatku lagi.“ ucap Zul.


“Kamu tau apa yang harus kamu lakuin Zul.“ jawab Beny sambil pergi meninggalkan mereka.


Zul ingin mengejar namun lengan Zul tertahan oleh Kejora.


“Dia masih butuh waktu, Zul.“ ucap Kejora pada Zul.


“Tapi, ini udah terlalu lama Ra.“ jawab Zul.


“Zul yang luka bukan badannya, tapi perasaannya, gak mudah sembuhnya, kamu harus ngerti Zul, dia masih sakit.“ ucap Kejora.


“Yaudah deh, ayo aku anter kamu.“ ajak Zul.


“Iya ayo.“ jawab Kejora.


Saat sampai di kelas pun Kejora masih menjadi buah bibir dari teman-temannya, masih menjadi pusat perhatian.


“Kenapa gak masuk?“ tanya Zul.


“Aku takut, mereka liatin aku semua, ngomongin aku semua.“ jawab Kejora menunduk dengan raut wajah ketakutan.


“Oke.“ jawab Zul sambil masuk ke kelas Kejora.


“Zul, kamu mau ngapain?“ tanya Kejora panic.


“Maaf, kalian semua bisa berenti liatin sama ngomongin Rara, dia denger, dia ketakutan.“ ucap Zul sambil tersenyum.


“Zul, kamu apa-apaan sih? kalo mereka marah gimana?“ tanya Kejora.


“Percaya aku.“ jawab Zul tersenyum meyakinkan Kejora.


“Siapa yang liatin, sama ngomongin Rara, aku cuma liatin kamu aja kok, Zul.“ jawab lena menghampiri Zul dan berusaha mendekati Zul.


“Lena, tolong jangan deket-deket aku, Rara pasti gak suka, maaf ya.“ jawab Zul tersenyum.


“Tapi aku suka.“ jawab Lena memegang tangan Zul.


“Gak usah pegang-pegang, aku bilang Rara gak suka, kamu ngerti Bahasa Indonesia gak?“ ucap Zul sambil melotot kearah Lena.


“Zul, jangan marah-marah dong.“ ucap Kejora.


“Maaf ya, Ra.“ jawab Zul tersenyum.


“Tolong ya, jangan ngomongin ataupun liatin Kejora terus, dia takut kalo mau temenan ngomong langsung aja, jangan bisik-bisik dia denger soalnya. Saya minta tolong sama kalian semua, jagain Kejora baik-baik ya.“ ucap Zul tersenyum namun itu membuat teman sekelas Kejora ketakutan.


“Oh… iya Zul, pasti.“ jawab Ketua kelas Kejora ketakutan.


“Ngapain jagain Kejora?“ sahut Lena.


“Sampe Kejora ada apa-apa, kubuat nyesel udah lahir kedunia orang itu, aku jamin.“ jawab Zul melotot kearah Lena yang langsung ketakutan.


“Nanti aku kesini lagi ya.“ ucap Zul pada Kejora tersenyum.


Dan hanya anggukan kecil jawaban dari Kejora, yang langsung duduk di kursinya.


Saat di kelas Zul…


“Zul.“ sapa Ferdy.


“Hoi… Fer kenapa?“ jawab Zul.


“Baru masuk, udah jadi trending topik.“ tanya Ferdy.


“Mana aku tau, bakal jadi gini.“ jawab Zul.


“Jelas trending lah Zul, orang kalian kayak suami-istri gitu.“ ucap Rahmad.

__ADS_1


“Perasaan kalian aja, aku biasa aja sama Rara, cuma jalan bareng aja, gak terlalu deket juga, kok bisa kayak suami-istri?“ tanya Zul.


“Kayaknya Beny belum terima?“ tanya Ferdy.


“Iya fer, tadi aku coba ngomong, tapi dia kasar banget.“ jawab Zul memerhatikan Beny yang mencari tempat duduk terjauh dari Zul.


“Terus gimana Zul?“ tanya Rahmad.


“Aku tetep gak nyerah, dia sahabatku, dia juga penting buat aku.“ jawab Zul.


“Kamu udah pikirin caranya?“ tanya Rahmad.


“Belum ketemu Mad, maaf aku belum bisa tepatin janjiku ke kalian.“ jawab Zul.


“Gak apa-apa Zul, dia butuh waktu, dia pasti terluka banget, sakit banget.“ sahut Ferdy.


“Kita juga bakal bantu kok Zul, kamu gak sendiri.“ jawab Rahmad.


“Makasih ya.“ jawab Zul.


“Dia juga penting Zul buat kami, dia juga sahabat kami.“ jawab Rahmad.


“Nanti aku coba ngomong lagi, habis pulang sekolah.“ ucap Zul.


“Kamu yakin Zul?“ tanya Ferdy.


“Yakin, aku gak bisa terlalu lama liat dia kayak gitu.“ jawab Zul


“Iya Zul kamu bener, jujur aku kasian sama Beny.“ sambung Rahmad.


“Nanti, kita juga bakal bantuin.“ ucap Ferdy.


Zul terus menatap Beny tanpa henti, namun setiap mata mereka bertemu, Beny selalu membuang wajahnya. Kebencian terlihat di wajah Beny saat mata mereka saling bertemu. Hal itu yang dapat di baca Zul saat melihat mata Beny, di tambah sikapnya tadi pagi yang cukup kasar pada Zul. Menjadi terlihat jelas kebencian Beny pada Zul, Beny benar-benar sudah menganggap Zul sebagai musuh yang harus ia kalahkan dan harus dia lenyapkan dari dunia ini.


Saat istirahat…


“Zul mau kemana?“ tanya Rahmad.


“Ke kelas Rara.“ jawab Zul dengan santainya.


“Lengket amat sih Zul, abis lulus mau nikah ya?“ teriak Rahmad sambil melihat Beny.


“Apaan sih Mad? kamu gak waras ya? dia tambah marah lagi nanti?“ jawab Zul.


“Oh beneran Zul, aku cuma nebak lo tadi, udah dapet restu ya, dari orang tuanya Rara.“ teriak Rahmad lagi.


“Mad udah.“ perintah Zul menatap tajam Rahmad.


“Ini trik Zul, sebenernya aku gak tega, tapi mau gimana lagi, aku udah kesel liat dia kayak gini.“ jawab Rahmad.


“Oke, aku mau ke kelas Rara dulu, jangan buat masalah lagi sama Beny.“ perintah Zul.


“Iya Zul.“ jawab Rahmad.


“Ra.“ panggil Zul kaget saat memasuki pintu ternyata Kejora sedang asik mengobrol dengan beberapa teman kelasnya.


“Kenapa Zul?“ tanya Kejora kaget


“Gak apa-apa nanya aja, kayaknya lagi asik ngobrol, aku ganggu ya?“ tanya Zul.


“Eh… enggak kok, kami juga mau ke kantin, nanti kita ngobrol lagi ya Ra.“ ucap temannya sambil pergi ke kantin bersamaan meninggalkan Kejora bersama Zul.


“Kamu mau ke kantin juga?“ tanya Zul.


“Gak ah, males.“ jawab Kejora.


“Mau aku beliin makan?“ tanya Zul.


“Gak usah deh.“ jawab Kejora.


“Ini udah jamnya makan lo.“ jawab Zul.


“Yaudah deh, kalo gitu.“ jawab Kejora menurut mengikuti Zul.


“Masih takut?“ tanya Zul pada Kejora.


“Kalo di kelas sih udah gak, cuma Lena aja sih kayaknya yang masih agak gak seneng, tapi udahlah biarin aja, emang dia dari dulu kayak gitu.“ jawab Kejora.


“Yaudah, yuk makan aku anterin ke kantin.“ ajak Zul.


“Gak ah, takut.“ jawab Kejora.


“Kan ada aku, gak usah takut.“ perintah Zul.


“Yaudah deh, tapi jangan kayak tadi pagi lagi.“ ucap Kejora.


“Kenapa?“ tanya Zul bingung.


“Pokoknya jangan.“ jawab Kejora.


“Yes my lsweet lady, kalo kamu maunya gitu aku ikutin.“ ucap Zul dan langsung pergi ke kantin bersama Kejora ke kantin untuk makan.


Saat di kantin Zul melihat Beny makan sendiri, ingin rasanya Zul mengajaknya untuk makan bersama mereka . namun di tahan oleh Kejora, dan Zul sadar saat ini Beny sedang menahan rasa sakit saat melihat mereka berdua. Zul tahu jelas bagaimana rasanya orang yang dia cintai bersama orang lain, rasanya itu perih tak ada obatnya. Mugkin Beny sedang menahan air matanya untuk tidak keluar, dan berusaha terlihat kuat di depan mereka. Namun hatinya berteriak menangis meraung-raung dan tersedu-sedu.


Akan sangat bodoh jika Zul sekarang mengajak Beny makan di meja yang sama dengan orang yang telah membuatnya sakit, bersama obat yang dapat menyembuhkan rasa perih dan sakitnya itu, satu-satunya yang dapat memulihkan lukanya saat ini.


Saat pulang sekolah…


“Zul gimana?“ tanya Rahmad .


Namun Zul tak menjawab dan langsung menghampiri Beny.

__ADS_1


“Tunggu Ben, jangan menghindar lagi.“ ucap Zul sambil menahan bahu Beny.


“Jangan sentuh aku.“ jawab Beny dingin.


“Mau sampe kapan kamu kayak gini?“ tanya Zul.


“Lepas.“ ucap Beny sambil memukul lengan Zul.


“Ben, cukup kamu bersikap kayak gini, aku sakit kalo kamu kayak gini terus.“ ucap Zul.


“Aku lebih sakit dari kamu Zul.“ jawab Beny.


“Jangan keras kepala Ben.“ teriak Rahmad .


“Aku gak ada urusan sama kamu Mad.“ ucap Beny.


“Ben udah, kamu sadar dong, Kejora memang cinta sama Zul, kamu gak bisa paksain perasaan orang.“ ucap Ferdy.


“Tau apa kamu Fer? itu cuma pendapat kamu, aku gak mau denger itu.“ jawab Beny.


“Itu bukan pendapat atau opini Ben, itu fakta, itu kenyataan, kamu harus terima Ben.“ ucap Ferdy mendekati Beny.


“Kamu gak usah, sok tau deh Fer.“ jawab Beny sambil mendorong Ferdy.


“Beny, kamu jangan kasar sama Ferdy, ini masalah kita.“ ucap Zul sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Beny.


“Salah dia, ikut campur.“ jawab Beny.


“Apa kamu udah gak bisa ngerti di bilangin pake kata-kata Ben, apa emang harus pake kekerasan?“ tanya Zul mengepalkan tangannya bersiap menghantam wajah Beny.


“Kenapa di tahan? pukul aja! tapi aku masih tetap sama pendirianku.“ jawab Beny


“Beny kamu.“ ucap Zul emosi dan siap melayangkan pukulan keras ke wajah Beny namun di tahan oleh suara seseorang.


“Zul, jangan!“ teriak Kejora ketakutan.


“Rara, kok kamu kesini? kan aku udah bilang tunggu di gerbang.“ jawab Zul.


“Aku udah nebak, ada sesuatu Zul, makanya aku kesini, dan firasatku gak salah.“ jawab Kejora.


“Kamu denger Ben, perasaan mereka bener-bener kuat.“ ucap Rahmad.


“Aku gak percaya, dan aku gak mau percaya.“ jawab Beny.


“Kejora gak bakal suka sama kamu Ben, kalo kamu kayak gini.“ jawab Rahmad.


“Nyerah lah Ben, kalian gak saling mencintai, gak mungkin sama-sama,semua yang di paksain, akhirnya pasti jelek.“ sambung Ferdy


“Jangan terus ngomongin sudut pandangmu Fer, sudut pandang kita beda.“ teriak Beny.


“Dan Rahmad, kamu gak usah nasihatin aku, aku lebih tau yang terbaik buat aku.“ jawab Beny.


“Beny yang di bilang mereka itu bener, Ben aku mohon sama kamu.“ ucap Kejora pada Beny.


“Kamu jangan bohong sama aku Ra.“ teriak Beny.


“Jangan kasar sama Kejora, sialan.“ teriak Zul mendorong Beny hingga terjatuh.


“Kenapa kamu keras kepala sih Ben? kenapa kamu gak mau terima kenyataan?“ tanya Rahmad sambil mengulurkan tangannya pada Beny.


“Itu cuma pendapatmu, kamu tau apa Mad?“ tanya Beny memukul tangan Rahmad.


“Kenapa kamu juga maksain pendapatmu Ben? kenapa kamu masih keras kepala? aku udah pernah bilang ke kamu Ben, aku cuma anggap kamu sahabat, gak lebih.“ jawab Kejora.


‘Kenapa Ra? Kenapa kamu gak bisa nerima cintaku? kenapa kamu gak bisa nerima perasaanku, kenapa kamu gak bisa lepasin Zul dan sama aku? kenapa kamu juga keras kepala?“ tanya Beny pada Kejora dengan mata memerah.


“Karena aku udah jadi milik Zul Ben, semua yang aku punya, itu punya Zul, bahkan orang tuaku, udah setuju kalo aku jadi milik Zul, orang tuaku juga setuju semua yang aku punya jadi milik Zul seorang, kamu ngerti Ben.“ jawab Kejora.


“Kamu bohong Ra sama aku, mana mungkin orang tuamu udah setuju, kalian belum lama pacaran.“ ucap Beny.


“Hak kamu Ben, mau percaya atau gak, tapi itu faktanya, sekeras apapun kamu mencoba Ben, aku cuma bisa disentuh sama Zul, aku cuma bisa melihat kearah Zul.“ jawab Kejora.


“Udah Ra, kamu gak usah bohongin aku lagi.“ jawab Beny sambil pergi meninggalkan mereka berempat.


“Beny, kita belum selesai.“ teriak Zul.


“Aku udah selesai Zul, aku gak ada waktu buat semua kebohongan ini.“ jawab Beny.


“Beny…“ teriak Zul mencoba menghampiri Beny namun di tahan oleh Rahmad dan Ferdy.


“Udah Zul, percuma, sekarang dia cuma berusaha gak percaya sama kenyataaan.“ ucap Ferdy.


“Tapi Fer, gak bisa dong kayak gini terus.“ jawab Zul.


“Zul, udah.“ perintah Rahmad.


Dan setelah itu mereka pun pergi masing-masing menuju ke rumah mereka.


“Zul maaf ya, aku jadi sumber masalah.“ ucap Kejora dengan wajah sedih.


“Gak Ra, bukan kamu sumber masalahnya, kamu gak usah pikirin ini, ini masalahku sama Beny.“ jawab Zul.


“Tapi Zul.“ jawab Kejora


“Gak usah di pikirin, kita lagi berdua sekarang, jangan pikirin hal lain.“ jawab Zul tersenyum.


“Ya gak bisa dong.“ jawab Kejora.


“Gak bisa jauh-jauh dari aku?“ tanya Zul menggoda Kejora.


“Ih… Zul mah, aku lagi serius.“ jawab Kejora.

__ADS_1


“Aku juga lagi serius, my sweet lady.“ jawab Zul tersenyum.


“Maaf Ra, udah nyeret kamu ke masalah ini, kamu harusnya gak usah ikut dalam masalah ini, Beny kenapa juga kamu keras? kenapa kamu berusaha untuk gak percaya sama kenyataan? kembali lah Ben, kembali ke kamu yang dulu, kamu udah terlalu jauh pergi, kembalilah Ben.“ ucap Zul dalam hati


__ADS_2