Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Hari Pernikahan II


__ADS_3

Aura membunuh Papa kejora keluar dan sangat kuat, menatap Lena dengan tajam, Kejora menatap Zul, dia yakin, dan percaya Zul tak mungkin melakukan perbuatan itu. Sedangkan ayah Zul memandang Zul dengan emosi, Ibu Zul mulai menitikkan air mata, tapi berbeda dengan Mama Kejora yang terlihat tenang.


“Sini kamu!“ perintah Papa Kejora menyuruh Lena mendekat. Lena langsung melangkah mendekat kearah Papa kejora dengan yakin.


“Mana saya liat suratnya?“ tanya Papa Kejora.


“Nih kalo belum cukup, nih ada testpacknya juga.“ jawab Lena dengan tenang memberikan surat tanda kehamilan beserta testpack.


“Hmmm...“ ucap Papa Kejora sambil meletakan surat beserta testpacknya.


“Ma, suruh bi Maryam beli testpack, suruh dia tes disini, sekarang! Mama sama Ibu Zul perhatiin dia dengan baik, jangan lepasin pandangan kalian dari dia sedetikpun.“ perintah Papa Kejora.


“Apa-apaan? maksud om gimana?“ tanya Lena bingung.


“Saya cuma mau tau aja, kamu beneran hamil, atau gak, dengan mata kepala saya sendiri.“ jawab Papa Kejora.


“Itu buktinya udah jelas.“ jawab Lena.


“Bisa aja itu surat palsu, dan saya juga gak tau, itu testpack kamu atau bukan.“ jawab Papa Kejora.


“Saya gak mau.“ jawab Lena.


“Berarti bener kamu bohong.“ tanya Papa Kejora.


“Gak, saya gak bohong.“ jawab Lena.


“Lena, kamu gak usah ngarang, aku nyentuh kamu aja gak pernah ,saksinya banyak, temen kamu sekelas disini semua, mereka saksinya.“ ucap Zul kesal.


“Zul kamu diem aja!“ perintah Ayahnya.


“Yah, tapi dia kelewatan, aku gak pernah nyentuh dia, kayak mana bisa dia hamil sama aku, logikanya kan gak mungkin.“ jawab Zul.


“Zul kamu bisa lupa, enak banget kamu, kamu rayu aku manis banget waktu itu, sampe aku rela kasih semuanya, ke kamu sekarang kamu gak mau ngaku, mana tanggung jawab kamu Zul.“ ucap Lena menangis.


“Ma telfon dokter kandungan rumah sakit kita sekarang! bawa alat-alat yang di perluin buat cek kehamilan sekarang! biar semua yang disini jadi saksi, dia bohong atau memang benar.“ perintah Papa Kejora sambil mengambil handphonenya.


“Iya pa.“ jawab Mama kejora sambil mengambil handphonenya.


Suara handphone Loudspeaker.


“Halo pak Rizal, saya bisa minta tolong carikan dokter kandungan dengan nama dr. Marina Rahayu, Sp.oG? kalo udah ketemu tolong bawa ketempat saya ya?“ ucap Papa kejora.


“Oh baik pak Putra, paling lama satu jam lagi, Dokter itu sampai kesana.“ jawab pak Rizal.


“Makasih ya pak, saya tunggu secepatnya! soalnya ini urgent.“ ucap Papa Kejora.


“Iya pak secepatnya saya usahakan.“ ucap Pak Rizal.


Dan Papa kejora menutup telfonnya. Dan menyusul Mama kejora yang menghampiri Papa kejora.


“Setengah jam lagi sampek.“ ucap Mama Kejora.


“bagus Ma, hmm... kenapa kamu pucet?“ tanya Papa kejora pada Lena.


“Namanya juga orang hamil.“ jawab Lena ketus.


“Oh ya? hamil ya kamu saya lupa?“ ucap Papa Kejora.


Setengah Jam Kemudian.


“Maaf Pak, saya agak lama.“ ucap seseorang mengenakan seragam dokter dengan nafas terengah-engah.


“Ah gak papa, saya minta tolong cek anak itu, apa beneran dia hamil atau gak, ini suratnya baca dulu!“ perintah Papa Kejora


“Hmm... disini kandungannya udah masuk usia 6 minggu ya, waktu terakhir cek di tanggal 24 juni, seharusnya udah bisa di USG sih ini.“ ucap dokter kandungan keluarga Kejora.


“Bapak bawa alatnya?“ tanya Papa Kejora.


“Iya saya bawa Pak.“ jawab dokter kandungan keluarga Kejora.


“Yaudah, langsung cek aja!“ perintah Papa Kejora sambil menatap tajam Lena.


“Kku gak mau.“ jawab Lena.


“Kenapa? apa kamu bohong kalo kamu hamil?“ tanya Kejora.


“Gak aku beneran hamil.“ jawab Lena


“Terus kenapa kamu gak mau di USG? kalo kamu gak mau berarti kamu bohong dong.“ jawab Kejora.


“Ya terserah aku dong, lagian kan itu dokter keluarga kalian, bisa aja mereka ngasih hasil USG palsu.“ jawab Lena.


“Tenang aja dokter yang ngecek kandunganmu juga gak lama lagi kesini, kamu mau atau gak di USG hasilnya tetap sama.“ jawab papa Kejora.


“Oke aku mau di USG.“ jawab Lena.


“Oak bisa langsung sekarang?“ tanya Papa Kejora.


“Saya harus ke tempat yang privasi Pak.“ jawab Dokter kandungan Keluarga Kejora.


“Ma siapin kamarnya! sekalian Ibu Zul juga liat.“ perintah Papa kejora.


“Saya gak mau, saya maunya, saya sama dokternya aja.“ ucap Lena.


“Yaudah terserah kamu, beberapa menit lagi juga dokter yang cek kandungan kamu dateng.“ jawab Papa kejora.


“Maaf bapak putra hakim.“ ucap wanita berambut panjang berumur 30-an.


“Iya saya, kamu siapa?“ tanya Papa kejora.


“Saya Dokter Marina Rahayu, Sp.oG." jawabnya.

__ADS_1


“Hmm... ternyata saya salah, doktermu dateng lebih cepet dari tebakan saya.“ ucap Papa Kejora.


“Ada perlu apa ya Pak?“ tanya Dokter Marina.


“Liat surat ini!“ perintah Papa Kejora.


“Hmmm... tanggal 24, saya gak ada pasien, saya inget banget.“ jawab Dokter Marina.


Dan lena langsung pucat wajahnya dan berusaha menyerang Kejora, Tapi Zul dengan sigap.


“Kamu udah gila Len.“ ucap Zul memegang tangan Lena


“Iya kenapa? aku gila karena kamu, ini salah kamu sama Kejora, bukan salah aku, ini salah kalian.“ jawab Lena sambil tersenyum pada Zul.


Plaaak... tamparan keras dari Mama Kejora membuat Lena jatuh tersungkur.


“Dasar sialan... ibu sama anak sama aja.“ jawab Lena


“Kamu lebih baik ngaca sebelum ngomong, kamu kurang ajar banget, udah mau bikin hancur acara anak saya, sampe bikin nangis Ibu Zul, belum lagi kamu mau nyerang anak saya, tamparan itu belum ada apa-apanya atas dosa yang udah kamu perbuat, atas tindakan yang udah kamu lakukan.“ ucap Mama Kejora.


“Kalian yang salah, kenapa Kejora lahir dan satu sekolah sama Zul, coba kalo Kejora gak ada Zul pasti pilih aku.“ jawab Lena.


“Sebaiknya kamu pergi sekarang ke Psikiater! sebelum kegilaan kamu itu gak bisa di sembuhin lagi, kamu bisa masuk penjara karena pemalsuan data, lebih baik kamu pergi sendiri, sebelum polisi yang nyeret kamu pergi.“ jawab Mama Kejora.


“Bangsat kalian.“ ucap Lena sambil berlari pergi meninggalkan rumah Kejora.


“Biar Papa telpon polisi.“ ucap Papa kejora.


“Jangan Pa, biarin aja pasti dia kapok sekarang.“ ucap Kejora.


“Ra, gak bisa gitu dong.“ ucap Zul.


“Aku mohon!“ jawab Kejora.


“Oke, kalo kamu maunya gitu.“ jawab Papa Kejora.


“Makasih ya Pa, makasih ya Zul udah lindungin aku.“ jawab kejora.


“Gak akan kubiarin kamu lecet satu milimeterpun, kamu gak papa kan?“ tanya Zul.


“Gak papa kok l.“ jawab Kejora.


“Zul maafin ayah ya, tadi udah nampar kamu?“ ucap ayah Zul.


“Sakitnya gak seberapa yah, aku gak tahan sama malunya aja.“ jawab Zul.


“Maafin Ayahmu, Putraku.“ ucap Ayah Zul.


“Ibu udah dong nangisnya.” ucap kejora menghampiri Ibu Zul dan memeluknya.


“Maaf ya Ra, Ibu cuma syok aja.“ jawab Ibu Zul.


“Udah dong Bu, kan udah selesai, Zul juga gak salah kok.“ ucap Kejora.


“Ayah sih terserah kalian, kamu gimana Zul?“ tanya Ayahnya.


“Gak masalah sih Yah, kan Rara juga yang minta, dia juga masih kaget kayaknya.“ jawab Zul.


“Ya jangan dong.“ jawab Ibu Zul.


“Ya tapi keadaannya masih kayak gini, Ibu juga kayaknya masih kaget.“ jawab Kejora


“Gak, Ibu bisa lanjut.“ jawab Ibu Zul.


“Ayah gimana?“ tanya Zul.


“Bisa.“ jawab Ayah Zul yakin.


“Papa, sama Mama?“ tanya Zul.


“Lanjutin sekarang aja!“ perintah Papa Kejora.


“Buat para tamu, maaf ya, atas sedikit masalah tadi, pernikahannya tetap akan dilangsungkan.“ ucap Mama Kejora.


Raut wajah yang tadinya Syok dan kaget berubah menjadi ceria, para tamu undangan pun duduk dengan tenang.


“Saya Al-Ayubi sebagai wali hakim, akan menikahkan, Kejora Binti Putra Hakim, kepada Zulfikar Bin Al-Ayubi, dengan mahar cincin emas 24 karat sebesar 25 gram di bayar tunai.“ ucap Ayah Zul.


“Saya terima nikahnya Kejora Binti Putra Hakim dengan mahar tersebut di bayar tunai.“ ucap Zul dengan satu tarikan nafas dan lancar.


“Saksi.“ tanya Ayah Zul.


“Sah.“ jawab Ibu Zul dan kedua Orang tua Kejora serempak.


“ syukur alhamdulilah “ ucap ayah Zul


Zul pun langsung mencium tangan ayah dan Ibunya yang diikuti dengan Kejora selanjutnya mencium tangan Papa dan Mama Kejora. Dan selanjutnya, Zul mencium kening Kejora dengan lembut, dan mesra. Kejora menunduk, memberikan keningnya pada Zul, dengan tersenyum bahagia.


“Makasih Zul.“ ucap Kejora.


“Panggil suami dong.“ goda Zul.


“Nanti aja kalo udah di kamar.“ bisik Kejora


“Aku gak sabar.“ ucap Zul.


“Eh sabar dong Zul, udah mau tancep gas aja.“ ucap rahmad menepuk bahu Zul.


“Selamat ya.“ ucap Rahmad.


“Selamat ya doaku yang terbaik deh buat kalian.“ ucap Beny.

__ADS_1


“Selamat Zul, semoga bertahan sampai maut memisahkan.“ ucap Ferdy.


“Makasih ya, kalian udah mau dateng, buat doanya juga makasih.“ ucap Zul.


“Yuk pindah dulu, kekursi pelaminan.“ ajak Kejora.


“Iya yuk, kalian juga ikut, siapa tau kan.“ ajak Zul sambil menggandeng tangan kejora.


“Emang bener-bener pengertian.“ ucap Beny.


Dan mereka bertiga pun mengikuti Zul, dan Kejora menuju kekursi pelaminan mereka. Kejora dan Zul duduk di kursi pelaminan mereka, tapi itu hanya beberapa menit saja karena mereka harus menyalami para tamu undangan yang datang ke acara mereka, yang jumlahnya tidak sedikit dan terus berdatangan tiada henti, tak ada waktu untuk duduk atau makan saling bersuapan. Kejora pun sampai melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal, karena dia tak tahan terus-terusan berdiri menggunakan sepatu dengan hak tinggi, bahkan dimalam hari pun tamu masih banyak yang datang, walaupun tidak seramai tadi, dan acara mereka selesai tepat jam 11 malam.


“Hufffttt... akhirnya.“ ucap Zul sambil menghempaskan bokongnya dikursi.


“Capeknya, ya ampun.“ ucap Kejora sambil duduk.


“Udah kalian langsung kekamar aja! biar kami yang urus.“ ucap Papa Kejora.


“Beneran Pa?“ tanya Kejora.


“Iya, udah kalian capek banget, istirahat aja sana, langsung kekamar.“ perintah Ibu Zul.


“Makasih ya Bu, maaf aku capek banget, punggungku udah mati rasa.“ jawab Zul.


“Iya, Ibu udah pernah ngalamin kok.“ jawab Ibu Zul.


“Ya udah yuk, Ra kekamar?“ ajak Zul.


“Yuk, aku capek banget mau tidur.“ jawab Kejora.


“ Jangan panggil nama lagi dong, panggil sayang atau apa gitu kan udah resmi.“ ucap Mama Kejora.


“Masih belum biasa Ma.“ ucap Kejora.


“Yaudah Mama udah suruh Bi Maryam buatin teh, diminum ya biar badannya agak enteng, udah sana kekamar.“ perintah Mama Kejora.


“Yuk, my lady aku mau ngelurusin pinggang.” ajak Zul mendekap pinggang kejora.


“Iya yuk.“ jawab kejora.


Saat sampai di kamar Zul membuka bajunya, bertelanjang dada hanya menyisakan boxer yang membuat Kejora kaget dan lemas.


“Kenapa kamu pucet amat?“ tanya Zul bingung.


“Kamu pake baju dulu.“ perintah Kejora membuang wajahnya..


“Ya ampun, kok dia asal banget sih, ganti baju didepanku.” ucap kejora.


“Ya, emang aku mau ganti baju, emang kenapa sih?“ tanya Zul.


“Pokoknya pake baju dulu.“ perintah Kejora


“Yes my lady.“ ucap Zul sambil mengenakan kaos tak berlengan, dan tetap memakai boxer.


“Kamu keluar dulu!“ perintah kejora.


“Eh, kenapa? kamu marah sama aku?“ tanya Zul kaget.


“Gak, aku mau ganti baju.“ jawab Kejora.


“Ya udah ganti aja kenapa.“ perintah Zul sambil menyeringai.


“Ya gak bisalah.“ jawab kejora dengan wajah memerah.


”Aku tadi bisa.“ jawab Zul.


“ Itu kamu, beda sama aku.“ jawab Kejora.


“Aku gak liat, serius kalo mau ganti, ganti aja.“ jawab Zul sambil mengambil dua cangkir teh.


“Aku gak bisa kalo ada kamu.“ jawab Kejora.


“Minum tehnya!“ perintah Zul.


“Makasih Zul.“ jawab Kejora.


“Kok Zul, kan tadi kamu udah janji lupa ya?“ protes Zul kecewa.


“Janji apa?“ tanya Kejora bingung.


“Gak, aku salah denger kayaknya, kamu ganti baju aja, aku gak akan liat kok.“ ucap Zul sambil pergi meninggalkan Kejora dan menyeruput tehnya.


Kejora pun bingung dengan pertanyaan Zul, dan Zul tidak seperti biasanya, Kejora pun mengganti gaunnya dengan piyamanya yang serba panjang.saat kejora melangkah ke ranjangnya Zul sudah tertidur pulas membelakangi Kejora. Kejora melihat gelas teh Zul, yang ternyata sudah habis diminum.


Dan Kejora segera menghabiskan tehnya lalu tidur disamping Zu,l tapi kejora tak dapat tertidur dengan nyenyak, dia masih memikirkan perubahan ekspresi suaminya yang tadinya bersemangat, langsung berubah murung seperti kecewa karena sesuatu. Kejora memikirkan apa yang telah ia lakukan hingga membuat Zul kecewa, seperti itu tidak biasanya Zul menunjukkan ekspresi seperti itu.


“Zul.“ panggil Kejora sambil menggoyangkan tubuh Zul.


“Hmmm... Kenapa Ra, udah pagi ya?“ tanya Zul. Yang terbangun dari tidurnya.


“Belum, kamu kenapa sih? kamu marah sama aku?“ tanya Kejora.


“Gak marah, udah tidur aja.“ jawab Zul malas.


“Zul jangan gitu dong, ngomong kalo aku ada salah?“ tanya Kejora.


“Gak ada Ra, gak ada apa-apa.“ jawab Zul


“Aku mau tidur di dadamu boleh gak?“ tanya Kejora.


“Hmm... kamu kenapa?“ tanya Zul terbangun.

__ADS_1


“Gak papa, kan udah resmi jadi suami-istri, aku mau tidur pake bantal dada kamu'“ jawab Kejora.


“Hmmm... yaudah sini.“ ucap Zul sambil menarik tubuh Kejora dan meletakkan kepala Kejora diatas dada Zul yang bidang mendekap erat Kejora ,seakan takut Kejora akan pergi. Kejora pun langsung tertidur dengan nyenyak dipelukan Zul.


__ADS_2