
Minggu terakhir di bulan januari telah tiba, Kejora menunggu kedatangan Zul di Bandara. Tak sabar lagi, wajah Kejora terlihat dengan jelas sangat menantikan kehadiran Zul secepatnya.
Meski jadwal kedatangan pesawat yang Zul tumpangi masih satu jam lagi, Kejora sudah berada di Bandara. Rasa rindu yang sudah tak dapat ia bendung mendorongnya untuk sesegera mungkin bertemu dengan sang suami tercinta.
Kejora terus memerhatikan arloji berwarna cokelat yang melingkar lekat di lengan kirinya. Sembari sesekali memerhatikan keadaan sekitar mencari wajah si pemilik hatinya.
Hingga matanya menangkap seorang pria yang memakai sweater berwarna putih sedang menyeret koper besar. Sontak ia langsung berdiri dan berlari kencang ke arah pria itu.
“Zul!” teriak Kejora dengan begitu kencangnya.
Refleks kepala Zul menoleh ke arah sumber suara yang dengan lantang menyebut namanya.
“Zul!” Kejora langsung saja mendaratkan pelukan ke tubuh Zul, dengan raut wajah bahagia, “akhirnya kamu nyampe juga.” Ucap Kejora.
“Kangen ya?” tanya Zul sembari tersenyum kecil menatap Kejora.
“Sudah menjadi rindu bukan kangen lagi.” Jawab Kejora membalas senyum kecil Zul dengan senyum lebar penuh kebahagiaan.
Zul mendaratkan bibirnya di kening Kejora dengan lembut, “masih rindu?” tanya Zul.
“Masih banyak rindunya.” Jawab Kejora sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Zul, lalu dia menarik lengan Zul untuk mengikutinya, “ayo pulang!” ucap Kejora.
“Kamu gak mau jalan-jalan dulu, aku masih kuat kok, kalo kamu mau jalan-jalan.” Jawab Zul yang pasrah ditarik lengannya oleh sang istri tercinta.
“Gak mau, aku mau pulang aja.” bantah Kejora sembari menggelengkan kepalanya dengan kencang.
“Kenapa sih, ngebet banget minta pulang? biasanya kamu ngajakin main terus?” tanya Zul heran.
Kejora sejenak berhenti, lalu dia berjinjit dan mendekatkan bibirnya ke telinga Zul, “Rahasia.” Jawab Kejora, lalu dia menggigit lembut telinga Zul.
Dan kembali Kejora melangkah dengan cepat sembari menarik lengan Zul untuk pulang. Zul cukup tersenyum lebar saat melihat Kejora yang tergesa-gesa menarik lengannya untuk menuju ke apartment.
Di dalam mobil Kejora terus memeluk lengan Zul dengan erat dan menaruh kepalanya di pundak Zul, hingga membuat sang supir yang mengantar Kejora dan Zul tersenyum dan tertawa kecil hingga membuat Zul salah tingkah.
__ADS_1
“Ah…” Zul menjatuhkan bokongnya di atas sofa.
“Capek ya? apa laper? Bentar aku buatin jus sama!” ucap Kejora yang dengan cepat langsung menuju dapurnya tanpa menunggu jawaban dari Zul, hingga membuat Zul menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku buatin omelette sekalian ya!” teriak Kejora dari arah dapurnya.
“Sejak kapan kamu bisa masak?” tanya Zul.
“Sejak kamu tinggalin aku disini sendirian.” jawab Kejora dengan kesal.
“Syukur dong, ada manfaatnya aku tinggalin kamu sendiri, kamu jadi bisa masak. Tahun depan mungkin kamu pinter angkat-angkat, kan.” Ucap Zul.
“Yang ada aku bisa stress kelamaan dianggurin.” Jawab Kejora.
“Biasanya juga aku yang dianggurin.” Ucap Zul pelan.
Lalu Zul masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek, karena memang di Australia sedang musim panas. Tidak lama setelah Zul duduk kembali di sofa Kejora datang membawa segelas jus jeruk dingin dan sepiring omelette.
“Makan dulu nih! Aku mau ganti baju dulu.” Ucap Kejora, lalu Kejora berjalan cepat menuju kamarnya untuk mengganti baju.
Lalu Zul mencoba kembali memasukan kembali sesendok omelette ke dalam mulutnya, dan lagi rasa asin menyiksa lidahnya, “kata Ibu, kalau anak gadis masak asin berarti tandanya kebelet nikah. Tapi, kejora, kan bukan anak gadis lagi, dia udah nikah sama aku… apa jangan-jangan dia mau nikah lagi sama orang lain.” Pikir Zul.
Lalu Zul dengan cepat memasukan potongan besar omelette, hingga tersisa setengah, ke dalam mulutnya, “bahaya, ini bahaya, cowok-cowok di kampusnya pasti ganteng-ganteng, terus dia selingkuh gara-gara aku gak disini.” Pikir Zul lalu dia menenggak habis segelas jus yang baru saja di buat oleh Kejora dengan cepat.
“Gimana enak gak?” tanya Kejora mengagetkan Zul yang sedang melamun.
“Enak banget kok.” Jawab Zul spontan, lalu dia memasukkan sesendok Omelette ke dalam mulutnya.
“Beneran, aku tadi gak nyicip soalnya.” Ucap Kejora, lalu tanpa basa-basi Kejora merebut sendok yang Zul genggam dan memasukan Omelette ke dalam mulutnya dengan cepat.
“Jangan!” ucap Zul lemas saat melihat Omelette itu sudah berada dalam mulut Kejora.
Kejora seketika berlari menuju kulkasnya dan menenggak air putih dalam botol sebanyak-banyaknya, “asin banget.” Teriak Kejora sembari mengerutkan dahinya, “kenapa kamu makan kalau asin kayak gitu?” tanya Kejora yang membawakan Zul sebotol air putih dari dalam kulkasnya.
__ADS_1
“Karena kamu yang masak.” Jawab Zul salah tingkah, “kata Ibu kalo perempuan masaknya asin tandanya mau nikah.” Ucap Zul.
“Mitos.” Jawab Kejora sembari menuangkan air dalam gelas, “kan, aku udah nikah, kamu ada-ada aja.” jawab Kejora.
“Siapa tahu kan, kamu mau nikah lagi.” Ucap Zul.
“Ide bagus itu, kalau kamu gak ada disini, jadi ada serepnya.” Jawab Kejora.
“Ya jangan dong sayang! kamu tega amat.” Ucap Zul panik.
“haha… gak kok, tenang aja, aku sayang dan cintanya, kan cuma sama kamu.” jawab Kejora yang langsung menempatkan kepalanya di pundak Zul.
“Beneran, siapa tahu, kan kamu suka sama cowok pirang yang ada brewok-brewoknya gitu.” Ucap Zul.
“Suka kalo itu kamu.” jawab Kejora sembari memeluk erat lengan Zul.
“Oke, kalo aku kesini lagi aku pirang rambutku, terus aku beli obat buat numbuhin brewok biar kamu tambah cinta.” Ucap Zul dengan penuh semangat, “lagian kok, kamu bisa sih masak asinnya minta ampun kayak gitu?” tanya Zul heran.
“Hm… kayaknya aku ketuker deh, garem aku kira micin.” Jawab kejora.
“Kok bisa ketuker?” tanya Zul.
“Habisnya, aku seneng banget kamu dateng.” Jawab Kejora dengan senyum manja.
“Pantesan gak mau diajak jalan-jalan.” Ucap Zul sembari menaikkan satu alisnya.
Kejora menambah erat dekapannya pada lengan Zul, “kamu mau jalan-jalan?” tanya Kejora.
“Gak ah, kalo kamu gak mau aku juga gak mau, jadi—“ ucap Zul terhenti sembari menatap Kejora.
Lalu Kejora mengangguk pelan, dan Zul langsung menggendong tubuh Kejora ke dalam kamar mereka, “liat ke depan nanti nabrak!” perintah Kejora dengan wajah merah padam.
“Ini buktinya gak.” Jawab Zul sembari menjatuhkan tubuh Kejora dengan lembut di atas ranjangnya.
__ADS_1
Lalu Zul membaringkan tubuhnya di samping Kejora dan mendekap erat tubuh Kejora dalam pelukannya, “akhirnya kerinduanku sama kamu terobati Zul.” Ucap Kejora dalam hati.
“Akhirnya rindu yang menyiksa selama beberapa bulan ini sirna sudah.” Ucap Zul dalam hati, sembari membelai lembut rambut panjang Kejora.