Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Episosode 7 : Kedekatan


__ADS_3

Sudah memasuki akhir dari semester


kedua sekolah yang artinya sudah 2 bulan lebih sejak Kejora mengenal keluarga


Zul, yang tiap hari semakin dekat dengan keluarga Zul. Setiap akhir minggu


Kejora pasti menginap di rumah Zul, dan hampir setiap hari bermain dengan


keluarga Zul.


Di sekolah pun Kejora sudah mulai


akrab dengan teman-teman Zul, dan dapat lebih menunjukan ekspresinya, lebih


terbuka tidak terlalu diam seperti sebelumnya, menandakan bahagianya hari-hari


yang di jalani Kejora. Teman-teman Zul pun sudah mengetahui, bahwa Kejora dan


Zul sudah seperti anak kembar jika di rumah Zul, namun anggapan orang lain yang


melihat kedekatan mereka lebih menjurus sebagai pasangan.


Pastinya ada pihak yang tak menyukai


kedekatan mereka tersebut, Kejora dan Zul pun sering mendapat terror seperti


surat dengan isi-isi mengerikan contohnya, silet gunting, dan pisau, di laci


meja sekolah mereka. Pesan tanpa nama yang berisi ancaman, bahkan sampai ada


yang berani menelpon mereka untuk mengancam.


“Zu,l bilang ke ibu untuk beberapa


minggu aku gak nginep.” ucap Kejora saat berjalan pulang bersama Zul.


“Bilang sendiri aja.” jawab Zul.


“Maksudku bantuin, aku mau belajar


dulu.” pinta Kejora pada Zul.


“Kenapa aku harus bantuin, cuma


bilang gitu ?aja” tanya Zul


“Kamu kan tau, kalo aku gak nginep


di akhir minggu, pasti nanyain terus ibu.“ ucap Kejora.


“Iya juga sih.” Pikir Zul.


“Yaudah belajar di perpus aja,


kenapa kayak udah mau ujian akhir aja mau fokus belajar?” tanya Zul.


“Kan, senin depan ujian ” jawab


Kejora


“Gawat, aku lupa ” pikir Zul dan


langsung lemas seketika.


“Jangan-jangan kamu gak inget?”


tanya Kejora melihat wajah Zul yang mengenaskan.


“ Hmmm...” angguk Zul.


“Zul ini ujian kenaikan, lo awas


kamu tinggal kelas.” Kata Kejora menakut nakuti Zul.


“ Hah... mungkin aku beneran gak


dianggep anak lagi.” jawab Zul dengan wajah frustasi.


“Semangat dong, belajar geh, kayak


gitu aja nyerah.” jawab Kejora yang merasa kasihan.


“Ra, kamu tau kan kapasitas otak ku


rendah .“ jawab Zul masih lemas.


“Iya aku tau.” jawab Kejora dengan


polos.


“ Tuhkan... Ra ayah mu mau nerima


anak angkat gak, atau tukang bersih-bersih kebun gitu.” tanya Zul.


“Ngapain, kamu nanya gituan?” tanya


Kejora.


“Siap-siap, kalo di usir sama ayah.”


jawab Zul.


“Eh, jangan frustasi dong, lemah


banget kamu belajar sama Beny tuh, dia kayaknya Pinter, kalo belajar bareng


pasti cepet bisa." jawab Kejora.


“Iya juga ya.” pikir Zul.


“Ra please.“ kata Zul sambil


memegang tangan Kejora dan memelas.


“Apaan sih Zul? di liatin orang


tau.” jawab Kejora yang malu karena di lihat banyak orang.


“Tolong ajarin aku, aku bakal


ngelakuin apa aja, please,please” pinta Zul.


“Gak bisa dong, aku juga mau belajar


aku gak bisa fokus.” jawab Kejora.


“Ya ampun Ra, aku bakal ngelakuin


apa aja, waktu jam istirahat sekolah juga gak papa.“ pinta Zul.


“Apa aja, iya kan ?” jawab Kejora


dengan Senyum jahat dan melepaskan tangannya dari gengaman Zul.


“Apa aja.“ jawab Zul dengan tegas


dan sedikit merinding.


“Pasti dia minta aneh-aneh” pikir


Zul.


“Yaudah aku pikirin nanti, kamu


harus ngapain.” jawab Kejora.


“Makasih ya Ra.” jawab Zul dengan


lega.


“ kenapa kamu gak minta ajarin Beny


“ tanya Kejora


“Dia pasti bilang gini ehemm....


"aku gak mau ngelakuin pekerjaan yang hasilnya pasti gagal" dia


biasanya bilang git.u” jawab Zul sambil menirukan suara beny.


“Mungkin beny bener.” jawab Kejora


tersenyum.


“Aku tau kok.” jawab Zul yang makin


tidak percaya diri.


“Hehehe. udah besok ku ajarin gak


usah frustasi, bye sampai besok ya.“ jawab Kejora.


“ Iya Ra“ kata Zul yang mulai sedikit


bersemangat.


“Gak sadar, kalo bentar lagi udah


mau naik kelas 3, aku harus lebih giat belajar lagi deh, aku gak mungkin bisa


bergantung terus dengan teman-temanku, aku gak mau nanti itu jadi kebiasaan,


setidaknya sedikit demi sedikit harus lebih berusaha, mereka gak selamanya bisa


deket sama aku, pasti mereka udah punya jalan hidup mereka masing-masing ”


pikir Zul.


“Tapi apa bener ya, kalo si Rara


pengen jadi astronot? terus kalo jadi astronot dia pengen kemana ya? apa


mungkin dia cuma hobi aja baca buku tentang astronomi? jadi penasaran? “ ucap


Zul dalam hati.

__ADS_1


“Aku pulang.” ucap Zul saat sampai


di depan pintu rumah.


"Zul Rara mana? kok gak main.”


tanya Ibu Zul.


“Dia mau belajar katanya, bentar


lagi ujian.” jawab Zul.


“Kapan emang ujiannya?” tanya Ibu Zul.


“Minggu depan... oh iya bu Katanya


dia beberapa minggu ini dia mau belajar.” jawab Zul.


“Kenapa gak belajar bareng aja?”


tanya Ibu Zul.


“Rara Pasti ngomong gini "aku


gak bisa fokus kalo belajar bareng-bareng" pasti dia jawab kayak gitu.”


jawab Zul.


“Padahal kan, lebih seru kalo


belajar bareng di sini, ayah juga bisa ajarin juga, ayah tuh diem-diem pinter


lo.” ucap Ibu Zul.


“Rara juga pinter, bisa-bisa ayah


yang di ajarin sama Rara,” jawab Zul santai.


“Eh, ibu baru tau, aturan kalian


belajar bareng kayak ibu sama ayah dulu ayah ngajarin ibu terus kyaaaa” jawab


Ibu Zul sambil mengingat masa lalu


“Apa sih bu? kayak anak baru puber


aja, korban sinetron.” jawab Zul sambil pergi ke kamarnya.


“Kamu gak bakal ngerti, kalo belum


kenal cinta.” sahut ibu Zul.


Zul merebahkan diri di Kasur,


mungkin sudah jadi kebiasaannya sehabis pulang sekolah langsung merebahkan diri


di kasur, beristirahat sebentar sambil memandangi langit, dan berfantasi


membayangkan hal yang tak dapat ia lakukan di kehidupan nyata, menjadi tokoh utama


terhebat di fantasinya.


Cinta kenapa ibu selalu ngomong


cinta pikir Zul, seharusnya aku belum waktunya di perkenalkan dengan hal itu,


kenapa ibu selalu doktrin aku dengan kata-kata cinta, pasti ada maksud lain,


kenapa aku baru kepikiran sekarang.


“Bu... bu.”teriak Zul mencari


ibunya.


“Apa sih? rumahnya kecil gak usah


teriak-teriak.” jawab Ibu Zul.


“Aku mau nanya.“ Ucap Zul pada


ibunya sambil duduk di sofa.


“Mau nanya apa?” jawab Ibu Zul yang


mengerti bahwa Zul ingin membicarakannya dengan serius.


“Kenapa ibu selalu doktrin aku


dengan kata cinta?” tanya Zul pada ibunya.


“Kamu ngerasa ya?“ tanya Ibu Zul


“Iyalah, tiap hari di doktrin geh.”


jawab Zul.


“Zul kamu tau gak, tujuan hidup


paling penting itu cinta.” Ucap Ibu Zul dengan serius.


“Aku masih terlalu cepet bu, aku


jawab Zul.


“Kamu pikir cinta itu cuma buat


sepasang kekasih, suami dan istri, gak Zul, cinta itu besar, luas, definisinya


rumit, beda kondisi beda arti, kamu gak bakal dapet apa-apa tanpa cinta Zu,l


seberapa keras kamu usaha, seberapa lama pun waktu yang kamu miliki, kamu gak


bakal dapet apa-apa tanpa cinta” terang Ibu Zul.


“Bu, jangan ribet-ribet aku gak


ngerti.” kata Zul dengan wajah polos.


“Kenapa ayah kamu jadi guru olahraga,


padahal dia bisa dapet kerjaan yang secara materi lebih besar?” tanya Ibu Zul.


“Dia suka olahraga.” jawab Zul.


“Hampir bener Zul, lebih tepatnya


dia jatuh cinta, walaupun materinya gak besar tapi kalo kamu mencintai


pekerjaanmu semua selalu tercukupi, buktinya kamu bisa sampai sebesar ini kita


gak pernah kelaperan kita bahagia.“ jawab Ibu Zul.


“Kamu anaknya ayah sama ibu, mungkin


sekarang kamu belum bisa paham, tapi ada saatnya kamu nanti ngerti, ibu yakin


itu Zul, ibu gak mau gendong kamu terus, udah saatnya kamu belajar untuk


berjalan, ibu bakal bantu kamu pelan-pelan, sampai kamu bener-bene bisa


berjalan tanpa ibu sama ayah.” jawab Ibu Zul sambil pergi meninggalkan Zul.


Zul pun langsung pergi ke kamarnya


dia harus belajar terlebih dahulu, sebelum memikirkan hal yang ibu Zul katakan


tadi dia harus fokus terlebih dahulu dengan tantangan terdekat yang harus dia


hadapi, dan harus dia selesaikan, dia menyadari dia tidak sejenius beny, untuk


dapat mengerti suatu hal dengan cepat, Keesokan harinya saat belajar dengan


Kejora.


“Ngerti gak, yang aku bilangin


tadi?” tanya Kejora.


“Gak Ra, pelan-pelan ya aku emang


agak bodoh soal ini.” jawab Zul tersenyum.


“Zul kamu tau, bedanya orang bodoh


sama orang pinter.” tanya Kejora


“Iya tau, kalo orang pinter apa-apa bisa


cepet ” jawab Zul.


“Ya bisa di bilang gitu, Zul tapi


kamu bisa kok sejajar dengan orang pinter” terang Kejora.


“Gimana caranya?” tanya Zul.


“Kamu harus punya usaha lebih dari


mereka yang pinter, kalo orang pinter itu ngerti satu pelajaran dengan sekali


baca, kamu harus baca itu berkali-kali kamu harus lebih semangat dari orang


pinter, pasti kamu bisa sejajar dengan mereka, kuncinya usaha lebih keras, dan


jangan nyerah, yakin kalo kamu pasti bisa “ jawab Kejora.


“Makasih Ra, udah buat aku semangat


lagi kamu cewek yang baik deh,” ucap Zul tersenyum.


“Gak papa kok, Zul keluargamu juga


baik sama aku.” kata Kejora dengan wajah merah seperti orang demam.


“Ra mukamu merah lo, kamu sakit?”

__ADS_1


tanya Zul.


“Gak ah aku sehat.“ jawab Kejora.


“Kalo kamu sakit, udahan aja dulu


belajarnya aku khawatir, kamu kenapa-kenapa” Ucap Zul.


“Aku sehat.“ jawab Kejora dengan


wajah yang lebih merah.


“gak... gak... itu malah tambah


merah mukanya, dasar maniak belajar, kecapean mungkin dia.” pikir Zul.


“Ya kalo ekspresimu gitu, kayaknya


kamu beneran sehat.” dengan senyum terpaksa.


“Eh, belajar kok gak ngajak-ngajak?”


tanya Beny mengagetkan.


“Ben kamu ganggu, kamu lebih baik


sedikit peka!“ ucap Ferdy.


“Gak papa kok, gabung aja.” Jawab


Kejora.


“Hmmmpph… bukannya kamu bilang, aku


gak mau ngelakuin hal yang hasilnya pasti gagal kamu kan bilang kayak gitu


kemaren.” Jawab Zul dengan Wajah Kesal.


“Kemaren cuma becanda Zul, kamu


kayak baru kenal aku di angkot aja.” Ucap Beny.


“Cih…. Padahal kemaren mukamu


serius” ucap Zul.


“Rahmad gak ikut belajar?“ tanya


Kejora.


“Kata dia "Tuhan selalu memberi


jalan yang terbaik bagi hambanya" itu jawaban dia kalo diajak belajar.”


Jawab Beny


“Dia udah pasrah berarti.“ jawab Zul


“Diajak lagi geh, kasian kalo dia


gak naik kelas.” ucap Kejora.


“Itu gak mungkin Ra, prinsip dia


kuat gak bisa goyang.” Jawab Beny.


Mereka pun memulai belajar bersama


dengan giat, untuk menghadapi Ujian akhir, kedekatan dan keakraban mereka


memberikan tenaga dan semangat tambahan, untuk terus maju, dan berusaha dengan


keras. Namun Zul merasakan ada sesuatu yang baru di antara mereka. Zul merasa


mereka lebih dekat, dan lebih akrab lagi, dengan hadirnya Kejora di antara Zul


dan teman temannya.


Namun Setiap kali menatap Kejora dan


teman temannya berbicara, Zul merasakan ada sesuatu yang membuat dirinya tidak


nyaman, merasa iri pada mereka, bahkan hanya melihat Kejora tersenyum pada


mereka, Zul merasa darahnya terkumpul di ubun-ubun, kepalanya ingin meledak


rasanya.


Apa kalo sahabatan kayak gini? ada


rasa iri? pikir Zul, seharusnya gak begini sebenernya aku ini kenapa? kenapa


aku aneh banget? kenapa aku harus iri dengan mereka? lagian dulu juga mereka


yang bantu aku, mereka kasih aku nasihat, tapi kenapa aku iri dengan mereka,


harusnya aku senang aku bahagia, aku kenapa ya? Ucap Zul dalam hati penuh tanda


tanya. Dirinya tidak dapat seratus persen memperhatikan apa yang sedang ia


pelajari, tidak dapat mencerna dengan jelas apa yang sedang ia baca, karena


perasaan yang baru kali ini datang di hati Zul, saat pulang sekolah.


“Ra aku penasaran ada yang mau ku


tanyain ?“ tanya Zul sambil berjalan di samping Kejora.


“Penasaran apaan?” Tanya balik


Kejora pada Zul.


“Kamu pengen jadi astronot ya?”


tanya Zul.


“Kok kamu masih nanyain itu?” Tanya


Kejora.


“Sama sahabat itu harus terbuka,


biar tambah dekat, dan bisa saling mengerti, gak ada rahasia-rahasiaan.“ Jawab


Zul.


“Iya juga sih, gimana ya.” Jawab


Kejora ragu ragu.


“Aku gak bilang siapa-siapa.” Jawab


Zul sambil tersenyum.


“Janji ya.“ Tanya Kejora.


“Aku janji.” jawab Zul.


“Oke deh, dan seratus persen


tebakanmu bener.” jawab Kejora.


“Keren kamu, udah punya cita cita,


pantesan belajar terus.” Ucap Zul.


“Aku kira, kamu bakal ketawa.“ Jawab


Kejora dengan wajah merahnya lagi.


“Mana mungkin, itu keren kok, tapi


mukamu merah lagi lo Ra?” kata Zul sambil menempelkan punggung tangannya ke


kening Kejora.


“Panas juga lo kayaknya, kamu


beneran sakit deh.” ucap Zul khawatir


“a..a..aku gak kenapa-kenapa, tenang


aja cuacanya aja mungkin.“ jawab kejora kaget.


“Beneran lo, jangan terlalu maksa


belajar, inget kamu tu bukan robot!” Kata Zul.


“Jahat tau gak, nyamain aku sama


robot.” jawab Kejora.


“Ya kamu juga geh, biasanya kalo


belajar lama banget gak inget badan.” Kata Zul


“Kamu kayak bi Maryam “ kata Kejora


sedikit tertawa, “Tapi makasih Zul udah ngingetin.” jawab Kejora.


“Namanya juga sahabat, mana ada


orang yang rela sahabatnya kenapa-kenapa.” Jawab Zul.


“Tapi kamu ngomongnya Kayak Ibu mu,


persis banget.” Ucap Kejora


Tapi sebenarnya mulut Zul bergerak


tidak sesuai dengan perasaan dari dalam hatinya, kekhawatirannya mungkin lebih


dalam lagi, dalam dari kata, sebagai seseorang yang mengkhawatirkan sahabatnya,


ada yang berubah kayak sama aku pikir Zul. Kedekatan yang dirasakan Zul saat

__ADS_1


ini, apakah perasaan yang ia miliki sama, dengan kejora, dan teman-temannya,


berjalan berdua bersama membuat Zul merasa bahagia.


__ADS_2