
Sudah memasuki akhir dari semester
kedua sekolah yang artinya sudah 2 bulan lebih sejak Kejora mengenal keluarga
Zul, yang tiap hari semakin dekat dengan keluarga Zul. Setiap akhir minggu
Kejora pasti menginap di rumah Zul, dan hampir setiap hari bermain dengan
keluarga Zul.
Di sekolah pun Kejora sudah mulai
akrab dengan teman-teman Zul, dan dapat lebih menunjukan ekspresinya, lebih
terbuka tidak terlalu diam seperti sebelumnya, menandakan bahagianya hari-hari
yang di jalani Kejora. Teman-teman Zul pun sudah mengetahui, bahwa Kejora dan
Zul sudah seperti anak kembar jika di rumah Zul, namun anggapan orang lain yang
melihat kedekatan mereka lebih menjurus sebagai pasangan.
Pastinya ada pihak yang tak menyukai
kedekatan mereka tersebut, Kejora dan Zul pun sering mendapat terror seperti
surat dengan isi-isi mengerikan contohnya, silet gunting, dan pisau, di laci
meja sekolah mereka. Pesan tanpa nama yang berisi ancaman, bahkan sampai ada
yang berani menelpon mereka untuk mengancam.
“Zu,l bilang ke ibu untuk beberapa
minggu aku gak nginep.” ucap Kejora saat berjalan pulang bersama Zul.
“Bilang sendiri aja.” jawab Zul.
“Maksudku bantuin, aku mau belajar
dulu.” pinta Kejora pada Zul.
“Kenapa aku harus bantuin, cuma
bilang gitu ?aja” tanya Zul
“Kamu kan tau, kalo aku gak nginep
di akhir minggu, pasti nanyain terus ibu.“ ucap Kejora.
“Iya juga sih.” Pikir Zul.
“Yaudah belajar di perpus aja,
kenapa kayak udah mau ujian akhir aja mau fokus belajar?” tanya Zul.
“Kan, senin depan ujian ” jawab
Kejora
“Gawat, aku lupa ” pikir Zul dan
langsung lemas seketika.
“Jangan-jangan kamu gak inget?”
tanya Kejora melihat wajah Zul yang mengenaskan.
“ Hmmm...” angguk Zul.
“Zul ini ujian kenaikan, lo awas
kamu tinggal kelas.” Kata Kejora menakut nakuti Zul.
“ Hah... mungkin aku beneran gak
dianggep anak lagi.” jawab Zul dengan wajah frustasi.
“Semangat dong, belajar geh, kayak
gitu aja nyerah.” jawab Kejora yang merasa kasihan.
“Ra, kamu tau kan kapasitas otak ku
rendah .“ jawab Zul masih lemas.
“Iya aku tau.” jawab Kejora dengan
polos.
“ Tuhkan... Ra ayah mu mau nerima
anak angkat gak, atau tukang bersih-bersih kebun gitu.” tanya Zul.
“Ngapain, kamu nanya gituan?” tanya
Kejora.
“Siap-siap, kalo di usir sama ayah.”
jawab Zul.
“Eh, jangan frustasi dong, lemah
banget kamu belajar sama Beny tuh, dia kayaknya Pinter, kalo belajar bareng
pasti cepet bisa." jawab Kejora.
“Iya juga ya.” pikir Zul.
“Ra please.“ kata Zul sambil
memegang tangan Kejora dan memelas.
“Apaan sih Zul? di liatin orang
tau.” jawab Kejora yang malu karena di lihat banyak orang.
“Tolong ajarin aku, aku bakal
ngelakuin apa aja, please,please” pinta Zul.
“Gak bisa dong, aku juga mau belajar
aku gak bisa fokus.” jawab Kejora.
“Ya ampun Ra, aku bakal ngelakuin
apa aja, waktu jam istirahat sekolah juga gak papa.“ pinta Zul.
“Apa aja, iya kan ?” jawab Kejora
dengan Senyum jahat dan melepaskan tangannya dari gengaman Zul.
“Apa aja.“ jawab Zul dengan tegas
dan sedikit merinding.
“Pasti dia minta aneh-aneh” pikir
Zul.
“Yaudah aku pikirin nanti, kamu
harus ngapain.” jawab Kejora.
“Makasih ya Ra.” jawab Zul dengan
lega.
“ kenapa kamu gak minta ajarin Beny
“ tanya Kejora
“Dia pasti bilang gini ehemm....
"aku gak mau ngelakuin pekerjaan yang hasilnya pasti gagal" dia
biasanya bilang git.u” jawab Zul sambil menirukan suara beny.
“Mungkin beny bener.” jawab Kejora
tersenyum.
“Aku tau kok.” jawab Zul yang makin
tidak percaya diri.
“Hehehe. udah besok ku ajarin gak
usah frustasi, bye sampai besok ya.“ jawab Kejora.
“ Iya Ra“ kata Zul yang mulai sedikit
bersemangat.
“Gak sadar, kalo bentar lagi udah
mau naik kelas 3, aku harus lebih giat belajar lagi deh, aku gak mungkin bisa
bergantung terus dengan teman-temanku, aku gak mau nanti itu jadi kebiasaan,
setidaknya sedikit demi sedikit harus lebih berusaha, mereka gak selamanya bisa
deket sama aku, pasti mereka udah punya jalan hidup mereka masing-masing ”
pikir Zul.
“Tapi apa bener ya, kalo si Rara
pengen jadi astronot? terus kalo jadi astronot dia pengen kemana ya? apa
mungkin dia cuma hobi aja baca buku tentang astronomi? jadi penasaran? “ ucap
Zul dalam hati.
__ADS_1
“Aku pulang.” ucap Zul saat sampai
di depan pintu rumah.
"Zul Rara mana? kok gak main.”
tanya Ibu Zul.
“Dia mau belajar katanya, bentar
lagi ujian.” jawab Zul.
“Kapan emang ujiannya?” tanya Ibu Zul.
“Minggu depan... oh iya bu Katanya
dia beberapa minggu ini dia mau belajar.” jawab Zul.
“Kenapa gak belajar bareng aja?”
tanya Ibu Zul.
“Rara Pasti ngomong gini "aku
gak bisa fokus kalo belajar bareng-bareng" pasti dia jawab kayak gitu.”
jawab Zul.
“Padahal kan, lebih seru kalo
belajar bareng di sini, ayah juga bisa ajarin juga, ayah tuh diem-diem pinter
lo.” ucap Ibu Zul.
“Rara juga pinter, bisa-bisa ayah
yang di ajarin sama Rara,” jawab Zul santai.
“Eh, ibu baru tau, aturan kalian
belajar bareng kayak ibu sama ayah dulu ayah ngajarin ibu terus kyaaaa” jawab
Ibu Zul sambil mengingat masa lalu
“Apa sih bu? kayak anak baru puber
aja, korban sinetron.” jawab Zul sambil pergi ke kamarnya.
“Kamu gak bakal ngerti, kalo belum
kenal cinta.” sahut ibu Zul.
Zul merebahkan diri di Kasur,
mungkin sudah jadi kebiasaannya sehabis pulang sekolah langsung merebahkan diri
di kasur, beristirahat sebentar sambil memandangi langit, dan berfantasi
membayangkan hal yang tak dapat ia lakukan di kehidupan nyata, menjadi tokoh utama
terhebat di fantasinya.
Cinta kenapa ibu selalu ngomong
cinta pikir Zul, seharusnya aku belum waktunya di perkenalkan dengan hal itu,
kenapa ibu selalu doktrin aku dengan kata-kata cinta, pasti ada maksud lain,
kenapa aku baru kepikiran sekarang.
“Bu... bu.”teriak Zul mencari
ibunya.
“Apa sih? rumahnya kecil gak usah
teriak-teriak.” jawab Ibu Zul.
“Aku mau nanya.“ Ucap Zul pada
ibunya sambil duduk di sofa.
“Mau nanya apa?” jawab Ibu Zul yang
mengerti bahwa Zul ingin membicarakannya dengan serius.
“Kenapa ibu selalu doktrin aku
dengan kata cinta?” tanya Zul pada ibunya.
“Kamu ngerasa ya?“ tanya Ibu Zul
“Iyalah, tiap hari di doktrin geh.”
jawab Zul.
“Zul kamu tau gak, tujuan hidup
paling penting itu cinta.” Ucap Ibu Zul dengan serius.
“Aku masih terlalu cepet bu, aku
jawab Zul.
“Kamu pikir cinta itu cuma buat
sepasang kekasih, suami dan istri, gak Zul, cinta itu besar, luas, definisinya
rumit, beda kondisi beda arti, kamu gak bakal dapet apa-apa tanpa cinta Zu,l
seberapa keras kamu usaha, seberapa lama pun waktu yang kamu miliki, kamu gak
bakal dapet apa-apa tanpa cinta” terang Ibu Zul.
“Bu, jangan ribet-ribet aku gak
ngerti.” kata Zul dengan wajah polos.
“Kenapa ayah kamu jadi guru olahraga,
padahal dia bisa dapet kerjaan yang secara materi lebih besar?” tanya Ibu Zul.
“Dia suka olahraga.” jawab Zul.
“Hampir bener Zul, lebih tepatnya
dia jatuh cinta, walaupun materinya gak besar tapi kalo kamu mencintai
pekerjaanmu semua selalu tercukupi, buktinya kamu bisa sampai sebesar ini kita
gak pernah kelaperan kita bahagia.“ jawab Ibu Zul.
“Kamu anaknya ayah sama ibu, mungkin
sekarang kamu belum bisa paham, tapi ada saatnya kamu nanti ngerti, ibu yakin
itu Zul, ibu gak mau gendong kamu terus, udah saatnya kamu belajar untuk
berjalan, ibu bakal bantu kamu pelan-pelan, sampai kamu bener-bene bisa
berjalan tanpa ibu sama ayah.” jawab Ibu Zul sambil pergi meninggalkan Zul.
Zul pun langsung pergi ke kamarnya
dia harus belajar terlebih dahulu, sebelum memikirkan hal yang ibu Zul katakan
tadi dia harus fokus terlebih dahulu dengan tantangan terdekat yang harus dia
hadapi, dan harus dia selesaikan, dia menyadari dia tidak sejenius beny, untuk
dapat mengerti suatu hal dengan cepat, Keesokan harinya saat belajar dengan
Kejora.
“Ngerti gak, yang aku bilangin
tadi?” tanya Kejora.
“Gak Ra, pelan-pelan ya aku emang
agak bodoh soal ini.” jawab Zul tersenyum.
“Zul kamu tau, bedanya orang bodoh
sama orang pinter.” tanya Kejora
“Iya tau, kalo orang pinter apa-apa bisa
cepet ” jawab Zul.
“Ya bisa di bilang gitu, Zul tapi
kamu bisa kok sejajar dengan orang pinter” terang Kejora.
“Gimana caranya?” tanya Zul.
“Kamu harus punya usaha lebih dari
mereka yang pinter, kalo orang pinter itu ngerti satu pelajaran dengan sekali
baca, kamu harus baca itu berkali-kali kamu harus lebih semangat dari orang
pinter, pasti kamu bisa sejajar dengan mereka, kuncinya usaha lebih keras, dan
jangan nyerah, yakin kalo kamu pasti bisa “ jawab Kejora.
“Makasih Ra, udah buat aku semangat
lagi kamu cewek yang baik deh,” ucap Zul tersenyum.
“Gak papa kok, Zul keluargamu juga
baik sama aku.” kata Kejora dengan wajah merah seperti orang demam.
“Ra mukamu merah lo, kamu sakit?”
__ADS_1
tanya Zul.
“Gak ah aku sehat.“ jawab Kejora.
“Kalo kamu sakit, udahan aja dulu
belajarnya aku khawatir, kamu kenapa-kenapa” Ucap Zul.
“Aku sehat.“ jawab Kejora dengan
wajah yang lebih merah.
“gak... gak... itu malah tambah
merah mukanya, dasar maniak belajar, kecapean mungkin dia.” pikir Zul.
“Ya kalo ekspresimu gitu, kayaknya
kamu beneran sehat.” dengan senyum terpaksa.
“Eh, belajar kok gak ngajak-ngajak?”
tanya Beny mengagetkan.
“Ben kamu ganggu, kamu lebih baik
sedikit peka!“ ucap Ferdy.
“Gak papa kok, gabung aja.” Jawab
Kejora.
“Hmmmpph… bukannya kamu bilang, aku
gak mau ngelakuin hal yang hasilnya pasti gagal kamu kan bilang kayak gitu
kemaren.” Jawab Zul dengan Wajah Kesal.
“Kemaren cuma becanda Zul, kamu
kayak baru kenal aku di angkot aja.” Ucap Beny.
“Cih…. Padahal kemaren mukamu
serius” ucap Zul.
“Rahmad gak ikut belajar?“ tanya
Kejora.
“Kata dia "Tuhan selalu memberi
jalan yang terbaik bagi hambanya" itu jawaban dia kalo diajak belajar.”
Jawab Beny
“Dia udah pasrah berarti.“ jawab Zul
“Diajak lagi geh, kasian kalo dia
gak naik kelas.” ucap Kejora.
“Itu gak mungkin Ra, prinsip dia
kuat gak bisa goyang.” Jawab Beny.
Mereka pun memulai belajar bersama
dengan giat, untuk menghadapi Ujian akhir, kedekatan dan keakraban mereka
memberikan tenaga dan semangat tambahan, untuk terus maju, dan berusaha dengan
keras. Namun Zul merasakan ada sesuatu yang baru di antara mereka. Zul merasa
mereka lebih dekat, dan lebih akrab lagi, dengan hadirnya Kejora di antara Zul
dan teman temannya.
Namun Setiap kali menatap Kejora dan
teman temannya berbicara, Zul merasakan ada sesuatu yang membuat dirinya tidak
nyaman, merasa iri pada mereka, bahkan hanya melihat Kejora tersenyum pada
mereka, Zul merasa darahnya terkumpul di ubun-ubun, kepalanya ingin meledak
rasanya.
Apa kalo sahabatan kayak gini? ada
rasa iri? pikir Zul, seharusnya gak begini sebenernya aku ini kenapa? kenapa
aku aneh banget? kenapa aku harus iri dengan mereka? lagian dulu juga mereka
yang bantu aku, mereka kasih aku nasihat, tapi kenapa aku iri dengan mereka,
harusnya aku senang aku bahagia, aku kenapa ya? Ucap Zul dalam hati penuh tanda
tanya. Dirinya tidak dapat seratus persen memperhatikan apa yang sedang ia
pelajari, tidak dapat mencerna dengan jelas apa yang sedang ia baca, karena
perasaan yang baru kali ini datang di hati Zul, saat pulang sekolah.
“Ra aku penasaran ada yang mau ku
tanyain ?“ tanya Zul sambil berjalan di samping Kejora.
“Penasaran apaan?” Tanya balik
Kejora pada Zul.
“Kamu pengen jadi astronot ya?”
tanya Zul.
“Kok kamu masih nanyain itu?” Tanya
Kejora.
“Sama sahabat itu harus terbuka,
biar tambah dekat, dan bisa saling mengerti, gak ada rahasia-rahasiaan.“ Jawab
Zul.
“Iya juga sih, gimana ya.” Jawab
Kejora ragu ragu.
“Aku gak bilang siapa-siapa.” Jawab
Zul sambil tersenyum.
“Janji ya.“ Tanya Kejora.
“Aku janji.” jawab Zul.
“Oke deh, dan seratus persen
tebakanmu bener.” jawab Kejora.
“Keren kamu, udah punya cita cita,
pantesan belajar terus.” Ucap Zul.
“Aku kira, kamu bakal ketawa.“ Jawab
Kejora dengan wajah merahnya lagi.
“Mana mungkin, itu keren kok, tapi
mukamu merah lagi lo Ra?” kata Zul sambil menempelkan punggung tangannya ke
kening Kejora.
“Panas juga lo kayaknya, kamu
beneran sakit deh.” ucap Zul khawatir
“a..a..aku gak kenapa-kenapa, tenang
aja cuacanya aja mungkin.“ jawab kejora kaget.
“Beneran lo, jangan terlalu maksa
belajar, inget kamu tu bukan robot!” Kata Zul.
“Jahat tau gak, nyamain aku sama
robot.” jawab Kejora.
“Ya kamu juga geh, biasanya kalo
belajar lama banget gak inget badan.” Kata Zul
“Kamu kayak bi Maryam “ kata Kejora
sedikit tertawa, “Tapi makasih Zul udah ngingetin.” jawab Kejora.
“Namanya juga sahabat, mana ada
orang yang rela sahabatnya kenapa-kenapa.” Jawab Zul.
“Tapi kamu ngomongnya Kayak Ibu mu,
persis banget.” Ucap Kejora
Tapi sebenarnya mulut Zul bergerak
tidak sesuai dengan perasaan dari dalam hatinya, kekhawatirannya mungkin lebih
dalam lagi, dalam dari kata, sebagai seseorang yang mengkhawatirkan sahabatnya,
ada yang berubah kayak sama aku pikir Zul. Kedekatan yang dirasakan Zul saat
__ADS_1
ini, apakah perasaan yang ia miliki sama, dengan kejora, dan teman-temannya,
berjalan berdua bersama membuat Zul merasa bahagia.