
Fiana merasa harus segera pergi sebelum lebih lama lagi melihat Farhan yang sekarang sedang tertawa bersama Nanda .
Fiana tak ingin menghancurkan momen indah itu . Tentu saja .
" Fiana masuk dulu yaa .. belum solat isya ."
Bohong! Aku bohong! Tadi sebelum pulang , kak Ardi membawa ku mampir ke masjid untuk solat isya . Maafkan aku , ya Rabb , menjadikan solat mu sebagai alasan . Aku hanya tidak ingin lebih lama lagi di sini .
Fiana mengunci pintu kamar , menumpahkan semua sesak yang sejak tadi di tahannya . Dia berusaha menutup Indra pendengarannya . Dia tidak ingin mendengar apa pun dari luar sana yang akan membuatnya semakin hancur .
Aku harus KUAT!
Tok tok tok!
" Kak , mau sampai kapan di dalam terus ? keluar buruan ! kakak di panggil ayah ."
Suara itu begitu keras hingga bisa masuk ke lubang telinga yang di sumpal Fiana . Sangat. jelas itu suara Fino .
Dia ikut juga?
Fiana bergegas membuka pintu . Benar saja , adik menyebalkan ya itu sudah ada di depan pintu . Tanpa basa basi Fiana memeluk sang adik .
__ADS_1
" Udah deh kak,! Malu nih .. aku kan udah besar ."
Fiana terkekeh geli mendengar ucapan Fino .
" Udah sana kak , di panggil ayah ."
Sekali lagi Fiana harus menguatkan hatinya . Lagi pula , kenapa sang ayah harus memanggilnya keluar?
Fiana berjalan gontai ke ruang keluarga. Wajah mereka terlihat sangat serius . Jangan bilang dengan bodohnya laki laki itu memberi tahu semua orang tentang kegilaan Fiana yang mencintainya .
Sungguh Fiana tidak ingin menghancurkan hati Nanda seperti hatinya sekarang ini .
Bahkan , dirinya tak sanggup melihat wajah Nanda sekarang .
"Farhan tidak ingin bertunangan malam ini . Dia ingin langsung menikah besok setelah Zuhur . Bagaimana? Fiana tidak keberatan kan?"
Sekujur tubuh Fiana menegang . Apa Farhan benar benar tidak punya hati ? ya Allah , aku harus jawab apa ?
" Kenapa tanya ke Fiana yah?"
" Farhan mau semua ini atas persetujuan mu , nak . Dia mau kamu menerima semua ini dengan ikhlas ."
__ADS_1
Mendengar kalimat sang ayah , Fiana ingin menangis sekencang kencang nya . Tapi itu tidak mungkin .
Aku harus kuat kan ya Rabb ? Ya aku harus kuat jika besok Farhan menjadi adik ipar ku . Adik ipar! Bismillahirrahmanirrahim
" Iya yah. Fiana ikhlas . Fiana Rida kalau memang ini sudah jalanya ." Fiana tertunduk semakin dalam . Semoga kali ini air mata bisa sedikit tahu diri .
\*\*\*\*\*\*\*\*
Fiana's POV
Aku meminta izin untuk kembali ke kamar . Sebelumnya , aku melihat ke arah Farhan dan Nanda . Nanda tampak begitu bahagia menggoda Farhan , sementara Farhan menatap ku dengan senyuman yang sungguh sangat manis . Senyumannya seperti ingin membuat ku membatalkan ucapan ku barusan .
Aku mencoba memejamkan mata, tapi malah wajah bahagia Farhan yang terlintas .Setelah ku pikir lagi , ya mungkin kami memang tak berjodoh, lalu aku bisa apa?
Tapi , apa ya yang ada di pikiran Farhan sampai sampai dia begitu ingin menikah muda ? Sehebat itukah pesona Nanda ?
Aku yang mengejarnya mati Matian , di abaikan begitu saja . Aku semakin tak mengerti , Farhan itu spesies laki laki macam apa .
Dan Nanda bocah seperti itu? Aku tidak habis pikir , dia sudah memikirkan untuk menikah. Aku kira dia lebih suka shoping , nonton , atau apa saja kegiatan yang lebih seru di bandingkan dengan mengurus suami , masak , mengurus rumah , dan oh mengurus baby!
#Jangan lupa vote like N coment 🌹
__ADS_1
# salam manis dari author 🥰
# happy reading