
Lelah berjalan, Farhan mengajak ku mampir di gerobak cendol, untuk sedikit mengairi tenggorokan yang kemarau.
Sambil menunggu pesanan, aku dan Farhan asyik dengan ponsel kami masing masing hingga suara bising seakan merusak telinga ku.
"Hey...! Mas Radit, kan? Iya, mas Radit . Masih inget aku dong pasti? Ya ampun, tambah ganteng aja mas sekarang. Kapan balik ke sini? Kok gak ngabarin aku sih?"
Gadis centil ini mengambil tempat di antara aku dan Farhan. Bahkan mendorong ku agar bergeser . Aku mendelik ke arah Farhan. Dia hanya balas tersenyum canggung kepada gadis itu.
Aku memilih diam mendengarkan percakapan apa yang akan keluar dari mulut mereka.
Tukang es cendol mengantarkan pesanan kami. Baru saja akan ku sambut gelas es tersebut , gadis itu merebutnya. Tanpa peduli, dia kembali tersenyum sok manis pada suami menyebalkan ku itu.
"Eh, mas , gimana suasan kampung?"
"Asyik"
"Mas kenapa pulang kesini ? Kangen kota atau kangen aku?"
"Aku mau kuliah di sini, Rin."
"Wah, bagus dong! Mau kuliah di mana, Mas?"
"UGM"
"Wah, sama dong, mas. Semoga kita bisa satu kampus ya."
__ADS_1
Aku kembali mendelik mendengar kata kata sok manja dari gadis ini. Ku aduk aduk es cendol di gelas ku dengan keras. Farhan melirik ku , tapi tak ku hiraukan.
" Mang, di kota emang sepanas ini ya?" tanya ku sedikit berteriak ke tukang es cendol yang sedang asyik meracik cendol untuk pembeli lain.
"Ah enggak, mbak. Wong sejuk begini kok."
"Masak sih mang? Perasaan kok panas ya. Es baloknya masih ada gak,mang?"
"Masih mbak, mau di apakan?" Dengan polosnya tukang cendol ini memberi ku semangkuk es yang sudah di hancurkan.
"Yang masih utuh ada gak mang? Buat nimpukin kepala anak orang."
"Wah, Mbak ada ada saja bercandanya, hahaha."
"Duhh, Mbak ngomongnya gak perlu teriak teriak kali! Sakit nih telinga ku. " Gadis di sebelah ku ini malah angkat bicara.
Apa kabar dia berteriak-teriak dari tadi? Tak ku balas ocehannya. Aku hanya mendelik dan kembali mengajak bicara si mamang tadi.
"Mang , es baloknya nggak jadi. Aku pinjem cermin aja. Ada gak?"
"Wah, ada ada saja Mbak ini. Ini, mbak silahkan."
Sungguh polos mamang ini memberi ku cermin pecah yang di letakkan ya di gerobak cendol. Tanpa bicara, aku menyambut cermin itu dan meletakkannya di pangkuan gadis di sebelah ku. Entah siapa namanya .
" Apa apan sih? Maksudnya apa nhi, mbak?"
__ADS_1
"Biar bisa ngaca, Mbak. Kan lumayan." Jawab ku tak acuh..
Gadis ini sudah mendelik sempurna. Aku yakin emosinya sudah tersulut hingga ke ubun ubun. Ku lirik Farhan yang malah mengulum senyum.
"Gak tahu tata Krama banget sih? Kamu nggak tahu siapa aku?"
"Enggak ." jawab ku polos.
" Se Jawa tengah gak ada yang nggak kenal siapa aku."
Hah! Sombong sekali gadis ini!
"Lalu, apa peduli ku."
" Dasar kurang ajar! Kamu pasti bukan orang sini ya?"
"Ku rasa kita tak perlu berkenalan, kan?"
Aku melihat wajah geramnya. Tangannya yang memegang gelas cendol sudah melayang di udara. Aku pastikan cendol itu akan berakhir di kerudung ku. Aku pasrah saja memejamkan mata.
Satu... dua... tigaa...
"Aaaaaa!!! Mas Radit , basah nih aku jadinya! Apaan sih mas Radit kok jadi belain dia?"
Aku membuka mata melihat gadis aneh itu menghentakkan kaki nya. Tanganya mengibas ngibaskan cendol yang tertumpah di pakaian kurang bahannya itu ...
__ADS_1
# jangan lupa di like yaa gaisss