
Ayah mertua ku angkat suara.
"Jadi nak, kami datang hanya berkunjung . Kami tidak ingin ikut campur dengan masalah kalian. Dan kalian harus mulai bisa menyelesaikan masalah kalian sendiri. Rumah tangga tidak akan jadi baik dengan melibatkan orang tua dalam mengambil keputusan."
"Hal ini bukan berarti kalian melupakan orang tua. Hanya saja, terkadang orang tua bisa saja mengambil keputusan yang tidak tepat untuk kedua anaknya, atau juga pilih kasih, cenderung memihak kepada anak kandungnya. Meskipun kami tidak akan seperti itu, kalian harus tetap belajar jadi dewasa dan menghilangkan sifat sifat kekanakan kalian. Ambillah keputusan yang bijak. Jangan ikuti ego masing masing. Istikharah lah nak."
Aku dan Farhan hanya diam. Dia menggenggam erat tangan ku. Haruskah kami berpisah saat belum lama di persatukan.
****
Setelah kepulangan orang tua Farhan, Fiana dan Farhan masuk ke kamar dalam keadaan membisu. Entahlah, seolah tidak ada yang harus di katakan. Mereka sama sama asyik dengan pikiran masing masing. Mereka tidur di ranjang yang sama. Tapi saling membelakangi.
Air mata menetes di pipi Fiana. Gadis itu menangis dalam ke heningan dan kebingungan. Dia menjadi sangat lemah , dan Farhan lah sumber kekuatannya saat ini. Fiana memutar tubuhnya menghadap punggung Farhan . Di peluknya punggung itu sangat erat, seakan ini terakhir kali dia akan melihat Farhan. Tak bisa dia tahan lagi, tangisnya pecah di punggung sang suami.
__ADS_1
Farhan's POV
Aku dapat merasakan pergerakan di sebelah ku. Fiana tiba tiba memeluk ku dari belakang. Aku tidak ingin berbalik ke arahnya. Tidak , bukan berarti aku marah. Aku hanya takut Fiana melihat air mata ku. Entah kenapa , aku jadi sekonyol dan selemah ini. Aku menangis karena takut kehilangan Fiana. Padahal , kami belum memutuskan apa pun.
Aku masih bisa meminta Fiana tetap tinggal di sini. Dia tidak kuliah pun tidak masalah. Dia hanya tinggal duduk diam di rumah. Menikmati hasil kerja ku karena aku masih mampu membiaya hidupnya dengan bisnis ku. Dan sekarang, aku calon dokter. Tapi, aku tidak boleh se egois itu. Aku tahu Fiana punya cita cita yang ingin di capai ya.
Aku merasakan Fiana sesegukan di punggung ku. Aku tahu, dialah yang paling terluka di sini. Aku membawanya duduk berhadapan dengan ku. Dia malah menunduk. Sekilas ku lihat matanya sudah memerah dan air mata menghiasi wajah manisnya.
"Zela lihat aku ."
"Sayang liat aku. Aku Raditya Farhan Wijaya mengizinkan kamu Azeela Alfiana Maharani , istri ku untuk pulang ke kampung dan melanjutkan studi mu di sana. "
Mengucapkannya ternyata lebih sulit dari pada ijab kabul. Aku menarik napas panjang. Entah kenapa dada ku sesak , tapi aku tetap harus tersenyum untuk Fiana.
__ADS_1
"Tapi, mas...."
"Gak ada yang perlu kamu khawtirkan. Percaya sama Mas .. semua bakal baik baik aja ."
Aku memeluk Fiana dengan erat, berusaha meyakinkan diri ku sendiri dengan apa yang ku katakan.
*****
Fiana's POV
Aku terbangun pukul tiga pagi. Ku lihat Farhan sedang tertidur pulas di sebelah ku.
Entah apa yang mendorong ku jadi ingin menyentuh wajahnya. Ke telusuri dari kening , mata , pipi, dan berhenti di hidung mancung nya. Aku tersenyum mengagumi keindahan ciptaan-Nya dan Farhan pun ikut tersenyum bersama ku.
__ADS_1
# jangan lupa like🌹
#