
Aku tersenyum mengagumi keindahan ciptaan-Nya dan Farhan pun ikut tersenyum bersama ku.
Eh? Kok Farhan ikut tersenyum ? Bukan, itu bukan senyum , tapi seringai. Ku tarik tangan ku dari wajahnya. Tapi, berhasil di tahan oleh Farhan. Tangan ku di letakkan di rahang nya yang kokoh.
"Kenapa ingin lari? Seperti tertangkap mencuri hmm?" Farhan masih memejamkan matanya.
"Ini lebih buruk dari itu." ucap ku spontan.
Terdengar jelas lelehan Farhan.
"Hmm, aku tahu aku sangat tampan, tapi kau tidak perlu mengagumi ku dalam diam begitu."
"Aku nggak mengagumi dalam diam. Mas kan suami ku . Kenapa harus secara diam diam?"
"Lalu , apa yang kau lakukan barusan?"
"Aku hanya sedang mengagumi ciptaan-Nya."
Eh, Spontanitas ku malah mendapat hadiah tawa Farhan. Ku cubit perutnya dengan gemas.
"Aww , sakit Zela! iyaa ... iya .. ampun!"
Aku tertawa melihat farhan meringis kesakitan memegang perutnya.
"Ini sih kekerasan dalam rumah tangga namanya ."
__ADS_1
Farhan masih saja memegangi perutnya bekas cubitan ku tadi.
" Biarin aja... siapa suruh sok kegantengan gitu. Awas aja kalau kita jauh , Mas tebar tebar pesona sama gadis gadis di sini . Lebih dari ini sakitnya. " Nada mengancam yang ku buat buat malah mendapat sambutan seringaian Farhan lagi.
"Kamu kan gak bisa ngapa ngapain . kita kan jauh."
"Aku doain cewek yang kami suka selain aku berubah jadi onta."
"Kamu kan nggak tahu kalau aku lagi sama perempuan di sini. "
"Tapi ,Allah maha tahu , mas. Udah ah, keburu subuh . Yuk salat dulu, Mas."
Aku beranjak bangun mengambil air wudu. Sambil menanti Farhan selesai wudu, aku menggelar dua sejadah untuk kami. Entahlah, aku selalu tersenyum setiap melakukan ini. Semuanya seperti mimpi mimpi ku yang di kabulkan. Angan yang di jadikan kenyataan. Harapan yang menjadi kepastian.
Aku tersenyum melihat Farhan sudah siap dengan sarung dan baju Koko biru muda serta peci hitamnya.
Seperti biasanya, aku mencium tangan Farhan dan dia mencium kening ku. Tapi kali ini beda, terasa sangat hikmat dan lagi lagi air mata ku menetes. Anehnya, aku pun merasakan kening ku basah terkena satu dua tetes air. Aku yakin Farhan menangis.
Aku menghambur ke pelukannya. Aku kembali menumpahkan luapan air mata ku dalam pelukannya yang akhir akhir ini jdi candu ku. Sebentar lagi, candu ini pasti sangat ku rindukan.
"Zela , udah dong jangan nangis! Udah jelek mata sembab pula. Entar aku illfeel."
Farhan terkekeh . Hah? Cepat sekali mood-nya berubah. Kembali perut kotaknya jadi sasaran tangan manis ku.
"Nih, rasain orang sok kegantengan!"
__ADS_1
"Aduhduh, sakit! Ini benar benar KDRT . Ku adukan kamu ke Komnas perlindungan suami. "
"Hah, emang ada?"
"Enggak sih." Farhan menyengir kuda.
"Dasar suami sarap!"
"Sarap tapi ganteng."
"Ganteng juga kak Ardi , eh."
Aku pura pura keceplosan . Niat usil ku begitu cemerlang. Farhan sekarang menatap ku penuh selidik . Haha, makanya jangan sok kegantengan walau pun emang ganteng Lah.
"Ardi , siapa?"
"Itu loh.. kakak ganteng yang jalan sama kamu waktu di kapal .. yang baik , lucu , dan nyenengin itu."
Aku tersenyum , berpura pura membayangkan kak Ardi.
"Kenapa kamu gak sama dia aja?"
"Niatnya gitu sih. Waktu kamu datang melamar kan , aku abis jalan sama kak Ardi."
"Iya, dan karena itu pernikahan di percepat!"
__ADS_1
Farhan berdiri melipat sajadahnya dan meninggalkan ku di kamar.
#jangan lupa like 🌹