
Hari ini , sekali lagi keputusan besar sudah di buat Fiana . Dia yakin memang ini yang terbaik untuk dia , Nanda dan Farhan .
Fiana akan pulang ke kampung besok . Dia tidak ingin menghancurkan acara pertunangan Nanda dengan menangis sejadi-jadinya saat Farhan memasangkan cincin di jari manis Nanda . Itu sangat konyol dan Fiana tidak mau itu terjadi.
Fiana memutuskan untuk jalan jalan dulu di kota ini sebelum besok kembali ke kampung .
Dia benar benar bertekad tak akan lagi menginjakkan kaki di kota ini .
Fiana duduk di bangku tempat penjual wedang . Jangan tanya dengan siapa . Sudah pasti sendiri karena Nanda sedang membeli cincin dengan Farhan . Mengingat itu , air mata kembali menetes di pipi bulatnya .
" Hobi banget ya nangis di tempat umum? Nih .."
Laki laki yang tak lain adalah Ardi itu menyodorkan tisu pada Fiana .
Fiana tak menggubrisnya . Dia mengalihkan pandangan ke arah lain.
" Mas juga hobi banget ngebuntutin saya.."
" Hahahah"
Fiana menggeser posisi duduk karena terlalu dekat dengan laki laki itu .
" Aku nggak ngebuntutin kamu . Cuma gak sengaja aja ketemu kamu lagi nangis melulu . Mungkin jodoh , hahaha ."
Fiana menatap horor ke arah Ardi yang langsung menghentikan tawanya . Dia balik menatap bingung Fiana .
__ADS_1
" Kenapa? Benar kan? Mungkin saja memang aku yang di ciptakan Allah untuk menghapus air mata mu ?
" Laki laki aneh !"
Fiana beranjak meninggalkan Ardi yang menahan tawa karena geli melihat tingkah gadis itu .
" Hei.. tunggu Fiana! " sebelum gadis itu semakin jauh , Ardi berlari mengejarnya .
" Apa lagi sih mas? Bisa jangan ganggu saya ?"
Lagi lagi Ardi menahan tawanya .
" Pertama , berhenti panggil saya 'mas' karena saya bukan asli orang Jawa . Itu terdengar seperti panggilan mesra istri untuk suaminya , hahah."
" Lalu apa?"
" Ya , terserah .. Kakak , Abang , Ardi , atau sayang mungkin , akan terdengar lebih indah ."
Ardi masih gigih menggoda fiana , sementara Fiana masih saja cuek bebek angsa .
" Lalu , apa tujuan kakak memanggil saya ?"
" Okey kedua , saya bukan mau mengganggu kamu ."
" Ya , lalu mau apa lagi kak?"
__ADS_1
" Cuma mau menghibur kamu . Ayo, mau kemana kamu hari ini?"
" Dasar orang aneh ."
Fiana mencibir , tapi tidak menolak ajakan Ardi .
Lumayan juga... dari pada harus galau sendirian dan mengitari kota ini tanpa tujuan , kan? pikirnya .
Akhirnya dia menghabiskan hari terakhirnya di kota ini dengan laki laki itu .
Setidaknya , Ardi bisa sedikit menghiburnya dan melupakan Farhan untuk sementara .
Capek! Tapi , seru juga .Ardi berhasil membuat Fiana melupakan kegalauannya tentang pertunangan Farhan dan Nanda .
Dan besok , Fiana sudah harus pulang ke kampung . Namun dia belum memberi tahu siapa pun mengenai kepulangannya .
Bahkan , dia belum mengaktifkan ponselnya sejak semalam .Meskipun setelah ini Fiana tidak akan lagi menginjakkan kaki di kota ini , setidaknya dia sudah puas berkeliling hari ini .
Tekadnya sudah sangat bulat . Dia akan kembali ke kampung , membiarkan Farhan dan Nanda bahagia di sini .
Farhan memang asli kota ini . Dia baru pindah ke kampung sewaktu kelas X .
Fiana tahu bahwa orang tuanya ingin tetap di kota ini selama Farhan tinggal di kampung . Sekarang lelaki itu sudah kembali ke kota kelahirannya ini untuk berkuliah , bekerja , dan hidup bahagia bersama Nanda .
#Jangan lupa vote , like , N coment
__ADS_1
# Salam manis dari author
# Happy reading