
Bodoh, Fiana bodoh! Kenapa nggak sadar sih? Seharusnya dulu bisa sok jual mahal dulu sama Farhan. Hah, sekarang telat banget! Telat, Fiana telat!
"Jangan lagi berpikir untuk jual mahal . Karena sudah terlambat. Yang kamu harus lakukan sekarang hanya melayani suami mu yang tampan ini."
Ada seringai jahat di wajahnya. Tidak bukan ini Farhan ku. Sebegitu ekspresifnya kah aku sampai dia bisa menebak pikiran ku untuk jual mahal? Aaaaa, bundaaa!!!
plakkk!
Aku merasakan nyeri di kepala ku akibat ulah tangan Farhan.
" Buang pikiran jahat mu, Zeela."
Hah?Apa? Dia bilang apa? Seperti punya Indra ke enam saja Farhan ini.
"Dengar, kamu jangan takut. Aku menikahi mu sekarang bukan untuk hal ITU , jadi jangan terus terusan berpikir negatif tentang ku. Aku mau sekarang ini kita menjalani masa pedekate seperti remaja pada umumnya. Tapi bedanya kita sudah halal. Aku tidak akan melakukan hal yang lebih dari itu sebelum kamu menjadi seorang sarjana . Aku tidak akan tega melihat mu ke kampus dengan perut buncit."
__ADS_1
Farhan tersenyum penuh arti . Laki laki ini menyebalkan.
"Kecuali..."
"Kecuali apa?" Aku tidak tahan untuk tidak bicara lagi.
" Kecuali kamu yang menggoda ku." Dia tersenyum mengejek ku.
Bukk!!
Fiana's POV
Aku terbangun pada sepertiga malam. Dengan hati hati ku letakkan lengan kokoh Farhan yang semula melingkar indah di pinggang ku. Aku tersenyum menatap wajah pulasnya yang tampak sangat jelas melukis senyum. Bagaimana bisa dia masih terlihat mempesona saat tertidur seperti ini .
Aku tersenyum sekilas lalu bergegas mengambil wudu untuk kemudian bersujud memohon ampun pada Rabb ku atas prilaku kasar ku yang mungkin sudah menyakiti hati Farhan. Sungguh, setelah mendengar penjelasan Farhan tadi , aku sangat menyesal atas semua ulah konyol ku.
__ADS_1
Tidak lupa juga aku bersyukur atas anugrah yang di berikan Allah untuk ku. Farhan anugrah terindah dalam hidup ku.
Selesai menunaikan salat tahajjud , aku enggan untuk kembali terpejam . Mata ku seakan terpaku pada pesona Farhan . Kini aku sudah dengan bebas bisa menatapnya, imam ku, kekasih halal ku, pelabuhan terakhir ku. Semua terasa bagai mimpi jika mengingat sikap tak acuhnya beberapa waktu lalu. Kini dia milikku seutuhnya. Rekan ku menuju surga-Nya , pelengkap separuh agama ku.
Farhan kembali melingkarkan lengannya di pinggangku , membawa ku lebih dekat ke arahnya. Pelukannya se akan berbicara bahwa aku hanya miliknya, bahwa tidak akan ada yang bisa merebut ku darinya. Aku masih menatap matanya yang terpejam . Tiba tiba manik hitam itu terbuka sejurus dengan senyum indah melengkung di bibirnya. Samar ku dengar rentetan doa di lafalkannya , kemudian dengan lembut meniup ubun ubun ku. Perlahan dia mencium kening, kelopak mata , hidung dan pipi ku. Aku masih membeku dengan perlakuan Farhan ini ..
"Zeela,"
"I...iyaa"
"Aku mencintai mu karna Allah."
Matanya kembali terpejam. Lengannya menarik ku ke dalam pelukannya lagi . Ku sembunyikan pipi tomat ku di dada bidangnya. Perlahan napasnya kembali teratur pertanda dia kembali tertidur. Tak henti bibir ku berucap syukur atas nikmat Tuhan memberiku kekasih seperti Farhan .
Aku masih terjaga merasakan nyaman posisi seperti ini sembari menantikan fajar yang akan segera hadir . Fajar terindah kuu ..
__ADS_1
#jangan lupa vote like N coment