
"Zela, kok kamu malah ngelamun?" suara Bima menghancurkan lamunan ku tentang suami labil ku.
"Eh, nggak kok Bim. Kamu kokk di sini sih? Bukanya di bus yang satu ya?"
"Ya, tadinya... tapi kamu pindah ya.. aku juga pindah. Berisik di sana. "
"Oh."
"Zela, mau tanya dong pendapat kamu tentang pacaran gimana?"
"Eh, kok tiba tiba nanya begitu? Menurut ku sih pacaran itu nggak ada. Pacaran itu cuman main maiin. Kalau nikah itu serius. Cowok yang baik gak akan mainin cewek yang dia sayang, kan? Dan cowok yang ngehargain dan benar benar tulus sama cewek, bakal datangin ayahnya untuk melamar dan menikah. Gitu." jelas ku panjang lebar sambil tersenyum mengingat kenekatan Farhan ku.
"Oh gitu, terus kalau nikah muda ... menurut mu gimana?"
Deggg! Apaan nih pertanyaannya. Jangan jangan Bima dan teman teman lain sudah tau status ku yang sebenarnya. Tapi, dari mana ? nggak mungkin kan fatiya dan Abrin yang cerita ke sana kemari ?
"Nah, malah ngelamun lagi."
"Eh, anu... menurut ku sih nikah muda itu lebih mulia dari pada harus pacaran. Nikah itu nggak ada kewajiban harus berumur sekian dan sekian. Atau harus punya harta dan jabatan. Kalau udah siap, why not?"
sekali lagi aku tersenyum puas mengingat hubungan ku dengan Farhan.
__ADS_1
"Oke, kalau gitu. setelah dari sini , aku akan menikahi mu!"
Nyaring sekali suara orang ini. Eh, nyaring?!
Aku melirik ke sekeliling ku, dan.... semua mata tertuju pada kami berdua. Fatiya dan Abrin sampai berdiri dan berbalik. Mereka melotot ke arah ku. Oh, ini masalah apa lagi?
"Apa? Kenapa kalian menatap ku seperti itu?"
Mulai deh sok jagoannya Bima. Sahabat sahabat ku menatap sebal ke arahnya. Dan kembali duduk seperti semula.
Aku yakin setelah ini, aku akan di hakimi habis habisan.
"Oke oke... aku sekarang pergi . Sampai jumpa besok ya , calon istri ."
"Eh, apa kamu bilang? Jangan macem macem ! Aku udah punya suami!"
"Hahahah... iya. Aku suami mu. "
Dia pergi ke bangku paling belakang. Aku menghembuskan napas lega. Terserah saja dia bilang apa .
*****
__ADS_1
"Fiana , ayo bangun!" Abrin menarik hidung Fiana gemas.
"Hmmm... sakit tau!" Fiana membuka mata dan menggosok hidungnya.
"Udah deh , ayo buruan turun! Udah sepi nih bus."
Fatiya turun lebih dulu dari pada dia harus melihat ke anehan kedua sahabatnya itu.
"Fatiya tungguin!" panggil Fiana dan Abrin bersamaan.
Mereka berjalan beriringan menuju sebuah cottage sederhana yang berupa rumah panggung berdinding papan papan mengkilat. Cottage itu menghadap ke pantai dan berpijak langsung pada pasir putih dengan ayunan sederhana di depannya. Tempat ini tidak seperti pantai biasanya yang ramai dengan pengunjung dan pedagang. Di sini sangat sepi. Hanya beberapa cottage yang terisi sebelum rombongan Fiana datang, bahkan tak ada pedagang sama sekali. Hanya ada pengelola cottage yang menyediakan makanan siap antar. Ada dapur di dalam cottage.
"Maha suci Allah , Tuhan pencipta alam." gumam Fiana melihat pemandangan yang luar biasa indah ini.
Pasir putih berada lebih tinggi dengan ombak yang begitu besar menggulung ke sana kemari. Matahari begitu menyengat kulit, tapi tidak menyurutkan semangat teman teman Fiana yang asyik berlarian ke sana ke mari. Mereka tertawa lepas dan asyik mengabadikan momen ini.
Tapi, tidak begitu dengan Fiana , fatiya dan Abrin. Mereka asyik tertawa di bawah pohon kelapa hibrida , memperhatikan tingkah teman temannya. Mereka punya cara sendiri untuk bahagia.
"I love you" Fatiya memeluk Abrin dan Fiana. Mereka larut dalam haru. Persahabatan yang baru terjalin selama kurang lebih empat bulan terasa begitu erat. Rasa cinta mereka tumbuh karena cinta kepada-Nya.
#Jangan lupa like yaa
__ADS_1