
Fiana's POV
Hari ini, waktu berjalan begitu cepat. Bahagia tak bisa ku lukiskan dengan kata kata. Bersama dengan sahabat sahabat yang ku cintai. Dan Bima dia menepati janjinya untuk menjauhi ku. Tapi, bagaimana dengan Farhan? Hari sudah malam dan aku belum bisa menghubungi dia. Di sana tidak ada sinyal sama sekali dan sekarang hp ku low bat.
Oh, ya Allah , pasti dia sangat khawatir dengan ku. Apa yang ku lakukan? Begitu besar dosa ku yang sudah membohongi suami ku. Ya Allah , kenapa nyeselnya telat banget sih?
Kepala ku pusing. Aku mencoba memejamkan mata, tapi belum lima menit , perut ku terasa mual. Fatiya yang duduk di sebelah ku, dengan sigap mengambil kantong plastik yang tersedia. Seingat ku , aku tidak pernah mabuk perjalanan. Tapi, ini kenapa?
"Fiana, kamu nggak apa apa kan?" Fatiya mengusap usap punggung ku perlahan.
"Emm, nggak kok cuma pusing dan mual."
"Oh, ya Allah, Fiana! Jangan jangan kamu hamil? Alhamdulillah."
Oh, ya allah , Abrin! Mulut mu nggak bisa di rem sedikit. Lagi lagi , aku jadi pusat perhatian dalam bus yang di dominasi oleh para kutu buku.
"Apa kata mu Abrin? Siapa yang hamil?" Bima sudah berdiri di dekat kami bertiga sekarang. Ya Allah....
"Eh, anu .. nggak aku bercanda. Maaf ya teman teman. Fiana cuma mabuk perjalan aja kok."
__ADS_1
"Huuuuuuu....!!!" Serempak seisi bus menyoraki kelakuan Abrin, tapi sebentar kembali hening.
Aku kembali memejamkan mata hingga akhirnya tangan lembut fatiya membangunkan ku.
"Ayo turun."
Aku mencoba berdiri, tapi rasanya kepala ku begitu berat. Bus ini seperti berputar. Ah, ini mungkin azab karena durhaka kepada Farhan.
Selangkah ....
Dua langkah ....
Dan... gelap!
Bugghhh!!!
****
Farhan' POV
__ADS_1
Sudah pukul 23.06 dan Zela belum juga pulang. Sudah entah berapa jama aku menunggu di depan kos kosannya yang isinya wanita semua! Aku merasa sangat risih di sini, tapi apa yang bisa ku lakukan. Istri ku belum juga pulang sampai selarut ini. Sudah ratusan kali aku menelponnya, tapi tidak juga tersambung. Dia juga tidak pulang ke rumah orang tuanya. Lalu kemana dia ?
Di mana pun istri ku berada , selalu lindungi dia ya Allah. Jauhkan dia dari segala hal buruk. Engkau yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Sorot lampu mobil terasa menusuk mata ku. Mobil itu berhenti tepat di depan pagar kosan ini. Pemandangan yang ku lihat lebih menusuk mata dari pada sekedar sorot lampu. Seorang laki laki keluar dan membukakan pintu untuk seorang gadis di sebelahnya. Gadis berjilbab biru langit itu keluar sambil memijit kening nya.
"Azeela!!"
Aku tidak peduli. Entahlah , emosi ku tiba tiba tak bisa ku kendalikan. Zela tampak terkejut melihat ku. Ya wajar saja, karena aku tidak memberi tahunya perihal kedatangan ku yang ku percepat. Niatnya memberi kejutan , tapi sekarang aku yang terkejut.
"Maa... Mass." Zela terhuyung, hampir saja jatuh. Aku berlari, tapi terlambat. Laki laki yang tepat di belakang nya berhasil menangkap tubuh istri ku yang hampir saja membentur aspal.
"Lepaskan!" Aku menarik Zela ke pelukan ku. Aku membawanya masuk ke dalam mobil ku.
"Apa yang Lo lakuin ! Mau Lo bawa ke mana Zela?"
Apa dia memanggil istri ku Zela? siapa laki laki tengil ini?
"Bukan urusan Lo! Lebih baik dari sekarang menjauh dari Zela!" Aku pergi membawa istri ku meninggalkan laki laki sialan itu. .
__ADS_1
# jangan lupa like 🌹