
Hari ini Ospek berakhir. Pukul empat pagi, kami harus sudah berada di kampus untuk salat subuh berjamaah. Ternyata ospek tak semengerikan yang ku pikirkan. Semua berjalan lancar. Tak ada perpeloncoan sama sekali. Kami hanya duduk berdiri berulang kali, kadang sambil bernyanyi, dan menyaksikan penampilan dari setiap unit kegiatan maha siswa.
Jam menunjukkan pukul 15.25 sore. Aku berjalan beriringan dengan teman teman baru ku menuju musollah fakultas.
Drrrttt drrrttt
Hape ku berbunyi. Ku pastikan dari Farhan. Memang hanya Farhan yang menelpon setiap jam makan , jam salat, dan jam jam tertentu. sisanya ayah dan Bunda.
My Hubby📞
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam . Kamu di mana? Pasti belom salat ? Doa mu belum nyampe nih ke aku. Jadinya kangen banget. "
Aku terkikik geli mendengar pernyataan Farhan . Dasar abege labil.
"Yeeee,, malah ngetawain suami . Dosa tahu!"
"Abisnya kamu lucu sih, sayang. I Miss you too "
Spontan Abrin dan Fatiya yang ada di kanan kiri ku menghentikan langkahnya.
Ups! Bodoh Fiana !!! Aku lupa. Mereka kan belum tahu kalau aku sudah menikah. Pasti mereka mengira yang tidak tidak .
"Ehhh,, emmm... Udah dulu ya mas. Entar aja telpon lagi. Assalamualaikum."
Tuuttt!
__ADS_1
"Astagfirullah Fiana. kamu tahu kan firman Allah : Dan janganlah kamu mendekati zina . Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji ,dan suatu jalan yang buruk. " ucap Abrin seketika saat aku berbalik dan menatap mereka berdua.
"Iya Fiana . Aku tahu . Di usia kita, godaan memang begitu besar untuk berpacaran. Tapi, kita sebagai wanita harus tetap bisa menjaga hati dan kehormatan sebagai seorang wanita. Jangan sampai Allah murka." Fatiya mengusap lembut bahu ku. Mereka kadang konyol , tapi seketika jadi begitu bijak.
"Eh ... Anu, enggak. Aku nggak berzina kok."
"Ingat, zina itu banyak macamnya. Zina mata, zina hati , zina pendengaran. " Fatiya tersenyum sangat manis .
"Jadi , siapa yang barusan nelpon?" Abrin menaikkan satu alisnya. Dia seperti mewawancarai penjahat besar.
"Eh... emm... itu... anu... apa ya namanya?"
"Fiana , please deh ya...."
"Itu mas Farhan."
"Bukan, dia itu ...."
"Oh, ayolah fiana , buruan! Bentar lagi adzan nih." kata Abrin mulai geram.
"Ya sudah Fiana. Kalau kamu tidak mau bercerita tak masalah. Kami hanya ingin mengingatkan mu saja. Jangan sampai mendekati zina. Kami sadar itu masalah pribadi mu. Maaf atas kelancangan kami ya."
fatiya memeluk ku, di susul oleh pelukan Abrin.
Oh ya Allah , aku merasa berdosa telah menyembunyikan ini dari sahabat ku.
"Dia kekasih ku." ucap ku lirih dalam pelukan mereka yang seketika terlepas. Spontan mereka menatap ku tak percaya , kemudian tersenyum lembut.
__ADS_1
"Fiana kamu..."
"Dia kekasih ku, kekasih halal ku ."
Aku tersenyum kecut. Ya , memang tidak ada yang boleh ku sembunyikan dalam mengawali hubungan persahabatan ini. Mereka sudah seharusnya tahu status ku. Mereka hanya diam menatap ku bingung.
"Ayolah, Abrin fatiya , nanti kita ketinggalan salat berjamaah ya." Aku menarik lengan kedua sahabat ku menuju musollah.
"Kamu berhutang penjelasan pada kami." ucap mereka berbarengan.
Aku tertawa geli melihat tingkah mereka.
******
"Sayang, kangen..." Rengek Farhan dari seberang sana.
"Oh, ya ampun, Mas! Sehari ini bahkan telpon ku tidak pernah berhenti berdering. Dan semua panggilan hanya dari mu saja . Dan sekarang , bilang kangen lagi? ini bahkan baru satu Minggu ."
"Hahaha ini nih yang di kangenin ."
"Apa? "
"Mulut berisik mu , hahah"
"Maasssss"
"Eh, nggak boleh loh marah sama suami, dosa!"
__ADS_1
#jangan lupa like🌹