
"Langit mungkin tak selalu biru, akan ada mendung yang sesekali menghampiri. Tapi, lihat lah! mentari yang tetap percaya dan setia bersama langit meski terkadang sinarnya di tutupi awan hitam. "
Farhan bergeming seolah olah Fiana tidak ada di sana.
"Kak fiana..!! Di panggil ayah tuh di ruang tamu! Eh, mas Farhan juga!!" teriak Fino dari pintu belakang.
Farhan berjalan mendahului ku. Hmm.. segitunya.
Aku berjalan mengikuti Farhan. Mata ku sakit saat masuk ke ruang tamu. Dengan sok gagahnya, Bima duduk berhadapan denga ayah. Farhan duduk di kursi panjang sebelah ayah. Aku mengambil tempat di sebelahnya. Keadaan masih hening. Aku melirik Farhan. Dia menatap kosong ke depan. Ku lihat ayah memijit mijit kening nya. Dan saat aku menoleh ke arah Bima dia tersenyum sok manis sekali ke arah ku. Segera ku alihkan pandangan ku.
"Ehhmm... " Ayah berdehem menarik perhatian kami.
"Jadi, begini ya nak Bima. Ini putri saya dan ini suaminya. Bukan maksud saya menolak niat baik nak Bima , tapi ya... bisa di lihat sendiri putri saya sudah memiliki suami. Dan sekali lagi , saya mohon nak bima bisa mengerti. " ucap ayah panjang lebar.
Farhan diam. Aku bingung harus berbicara apa. Aku tidak menyangka Bima senekat ini. Padahal aku kan sudah bilang kalau aku punya suami.
"Tapi , om. Toh selama ini mereka berhubungan jarak jauh. Di kampus juga tidak ada yang tahu kalau Zela sudah menikah. Dan kelihatannya juga Zela tidak bahagia dengan orang ini. Om bisa percayakan Zela pada saya. Masalah biaya hidup tidak perlu khawatir. Om kenal kan ayah saya?"
"Bima, cukup!!! Kamu sudah gila? Kamu itu berbicara dengan ayah ku yang sudah membahagiakan aku selama ini. Dan sekarang , kamu bicara masalah biaya hidup? Benar benar nggak waras. "
__ADS_1
"Dan satu lagi ... jangan sok tahu tentang rumah tangga ku ! Kami bahagia . sangat bahagia!"
Aku menggenggam tangan Farhan.
"Sudahlah, selesaikan dulu urusan kalian. Ayah akan ke atas , dan kamu farhan , ayah tahu kamu bisa berlaku bijak."
Ayah pergi meninggalkan kami dengan suasana seperti ini. Ayahhh..!!!
"Sudahlah, Zela. Jangan membohongi dirimu sendiri. Bukankah kamu sendiri yang bilang kemarin suami mu arogan?"
Farhan berdiri. Aku berusaha menarik tangan nya. Tapi, hal yang tak kusangka di lakukan Farhan. Dia menarik ku berdiri mengikutinya.
Farhan menarik ku mendekat, menghapus jarak antara kami. Tubuh ku menegang. Farhan tidak pernah segila ini. Aku diam. Aku bingung harus apa.
Ayahhh,, ciuman pertama ku diambil secara tidak hormat, hwaaa...!!!
Bugghhh!!
Farhan jatuh tersungkur di lantai.
__ADS_1
"Farhan!"
Ujung bibirnya berdarah, tapi Farhan tersenyum dan menghapus darahnya. Aku membantu suami ku berdiri.
"Bima, Apa kamu sudah gila, Hah?!"
Bima mendengus, menyilangkan tangannya di depan dada.
"Ya , aku gila, lalu kenapa? Dan Lo, gua ingetin ya! Jangan sekali kali Lo ngelakuin itu lagi sama Zela. Atau, abis Lo sama gua!"
Farhan tersenyum mengejek.
"Lo bener bener nggak waras? Lo nggak lupa kan kalau Zela itu istri SAH gua??"
Buugghhh!!!
Sekali lagi Farhan tersungkur ke lantai. Dia tidak terlihat marah sama sekali. Tak ada niatan sama sekali untuk membalas perbuatan Bima. Lagi lagi Farhan ku tersenyum . Aku bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Air mata ku jatuh. Bima sudah keterlaluan .
#
__ADS_1
#