
Farhan's POV
Ku lihat Zeela ku sedang sibuk dengan tomat di tangannya. Sejak tadi dia berkutat di dapur menyiapkan sarapan kami. Sungguh ini seperti mimpi. Aku berhasil memperistri Zeela dan mampu menjinakkan sisi lain dari dirinya. Well, ini perjodohan yang menguntungkan menurut ku.
Ku peluk Zeela dari belakang. Dia bagaikan magnet yang membuat ku selalu tertarik ke arahnya. Dia menoleh dan tersenyum pada ku. Tanpa merasa terganggu dengan kehadiran ku. Dia terus saja melanjutkan pekerjaan nya .
Ku lepas lengan ku dari pinggang nya . Aku berjalan menuju kompor , memindahkan nasi goreng buatan Zeela ke dalam piring .
" Biar aku aja far. Kamu tunggu di meja makan aja."
" Gak deh, aku pengen bantuin kamu. Udah, buruan kamu gorengin telur mata sapi buat aku sana."
Tanpa menjawab , Zeela mengambil telur di lemari sambil bersenandung kecil.
Nada dering ponsel pintar ku berbunyi nyaring dari dalam kamar. Aku berlari mengambilnya. Ternyata Mama.
"Halo... Assalamualaikum , Maa."
"......"
"Maaf ma , Farhan lupa "
"....."
" Apaan sih mah? Enggak . Ini Fiana lagi masak buat sarapan."
"....."
" Iyya iyaa ma , beres. Percaya sama Farhan oke?"
"...."
" waalaikumsalam."
Aku berjalan ke ruang makan . Ternyata Fiana sudah duduk menunggu ku.
" Siapa mas yang nelpon pagi pagi ?"
Ada yang janggal dari ucapannya barusan. Aku masih diam tak merespon ..
__ADS_1
"Mas?"
Dia mengayunkan jari jarinya di depan wajah ku.
"Apa?"
"Apanya ?"
Fiana malah ganti memandang ku bingung.
"Barusan kamu manggil aku apa ?"
"Mas. Ada yang salah ya? Kamu gak suka panggilan itu?"
"Eh, anu.. .Enggak . Maksud ku, suka kok suka banget."
Fiana memandang heran ke arah ku. Aku tahu wajah ku memanas sekarang. Aku tidak pernah merasa sebodoh ini sebelumnya.
" Kamu kenapa mas? Muka mu merah kayak cewek abege di gombalin cowoknya , hahaha"
Aku pura pura tak mendengar ucapannya. Ku sodorkan piring ke arah fiana . Dia hanya mendengus kesal karena diabaikan. Tapi, dia tetap menyendok kan nasi goreng dan mengambilkan lauk untuk ku.
" Kamu kenapa sih mas? Ada yang salah ya?"
" Iya salahnya aku gak nikahin kamu dari dulu aja, hahah"
Bukannya blushing atau apa karena di gombalin Fiana malah mendelik ke arah ku. Aneh sekali istri ku ini.
*****
Fiana's POV
Siang ini , udara cukup terik. Kami , aku dan suami ku masih berada di alun alun. Aku masih belum percaya , kota ini menjadi saksi ikrar suci yang di ucapkan Farhan.
Diawali di kota ini perjalanan baru ku, bersama partner ku yang insha Allah dunia akhirat. Aminn.
Farhan masih dengan asyiknya melingkarkan lengan di pinggang ku. Dia seakan ingin menunjukkan pada seluruh dunia bahwa aku miliknya. Takkan ada yang bisa merebut ku dari dia. Yah, setidaknya aku sangat bahagia dengan hal ini.
Dia sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan lagi Farhan yang tak acuh dan seakan menganggap ku tidak pernah ada. Kini lelaki es ku sudah menjadi es krim yang manis dan penuh warna.
__ADS_1
Perlahan ku singkirkan tangan Farhan dari pinggang ku. Dia malah menatap ku bingungg.
" Kenapa?"
"Aku malu mas di liatin banyak orang. Kayaknya nggak pantes deh."
"Gak pantes gimana?" Farhan malah terlihat makin bingung.
" Yaa.. kesannya gimana gitu kan. Remaja berjilbab lebar di peluk di depan umum begini. "
"Hahahah"
Sekarang aku yang gantian bingung mendengar tawa Farhan.
"Kok ketawa sih mas?"
"Kamu lucu sih."
Dengan wajah gemas, dia seenaknya mencubit pipi chubby ku .
"Apanya yang lucu ?"
Dengan wajah sok ngambek, aku berjalan mendahului Farhan. Belum genap empat langkah , tangan ku sudah di tariknya ke belakang.
"Jangan bertingkah seakan kamu benar benar remaja yang lagi kencan dan ngambek di jalan. Inget,, kamu udah jadi ibu ibu sekarang Zeela ."
Aku mendelik mendengar kata katanya , sementara Farhan tersenyum mengejek. Sejak semalam , dia suka sekali menampakkan senyum yang seperti ini.
" Apa? Kamu nggak terima di sebut ibu-ibu ,hmm?"
"Jelas dong, aku kan bukan ibu ibu. Hanya sudah menikah , tapi belum jadi ibu.
Mampus! Sepertinya aku salah memilih diksi.
"Hey , apa itu maksudnya kamu ingin segera menjadi ibu? Hmm? Kalau begitu akan ku kabulkan."
Farhan menaik turunkan alisnya. Membuat ku ingin menjambak Jambak rambutnya hingga rontok semua. Tidak kujawab lagi ejekannya . Aku berjalan lebih dulu meninggalkan dia yang masih tergelak di belakang. Dalam hati, aku mengutuki mulut bodoh ku yang asal ceplos ini ..
#
__ADS_1