
Pukul delapan pagi. Aku masih bergulung di kasur empuk ku. Sejak sesudah salat subuh, aku memutuskan kembali tidur. Farhan belum juga kembali dari masjid sejak subuh tadi. Dia bilang ingin memanfaatkan waktu sebelum sibuk kuliah nanti .
Saat mengingat kuliah , kembali hati ku terasa nyeri. Aku tidak tahu bahwa kebodohan dan kecembuaruan ku justru seakan menghancurkan ku sendiri. Bodoh!
Langkah kaki mendekat, bahkan terdengar terburu buru seperti berlari. Farhan masuk. Aku tidak mendengar dia berucap salam , aku masih bingung.
" Waalaikumsalam ya mas." sindir ku
"Astagfirullah , maaf maaf. Assalamualaikum sayang." Farha nyengir kuda. Aku tersenyum melihat tingkahnya.
"Aku punya kabar gembira,, aku... aku.." Matanya berbinar . Dia tampak sangat bahagia.
Aku masih bingung .
"Aku.. aku.. apa sih mas?"
"Aku keterima di fakultas kedokteran."
Farhan memeluk ku erat , bahkan sangat erat.
Aku tidak tahu harus apa sekarng , Bahagia atau sedih?
"Ayo, kita buka pengumuman milik mu. "
__ADS_1
Degg!!
Ini hal yang paling ku hindari sejak kemarin sore. Aku sudah sangat bahagia karena sejak kemarin server-nya error' , tapi ternyata pagi ini sudah bisa di akses .
Dengan sangat malas , aku mengetikkan kata kuncinya, Aku berharap berwarna merah yang muncul . Oh tuhan , please jangan pisahkan kami!
Loading terasa begitu lama. Aku menutup mata ku , tak berani melihat kenyataan .
Bodoh, bodoh, bodoh! Hening!
Sudah lima menit dan masih saja hening. Farhan memeluk ku.
" Ada apa ini, Zela ?"
Apa? Ada apa? kenapa begitu pertanyaannya? Aku masih tak berani membuka mata . Ku peluk Farhan dengan sangat erat.
" Maafkan Zela ,mas..."
Hanya itu yang mampu ku ucapkan. Ku beranikan diri membuka mata , melepaskan diri dari rengkuhan Farhan. Ku raih ponsel yang tergeletak diatas kasur dengan layar yang tidak lagi menyala.
Air mata ku menetes saat melihat tulisan Universitas di layar berwarna hijau. Ya, ini sudah menjadi pilihan bodoh ku.
"Kenapa, Zela? Bukankah kamu dulu bilang , kamu ingin di kota ? Lalu, kenapa masih ada pilihan kampung?
__ADS_1
Nada suaranya melemah.
"Aku.. maafkan kebodohan Zela , mas. Ini karena rasa cemburu Zela pada Nanda."
Farhan menautkan alisnya. Jelas dia bingung.
"Apa hubungannya dengan Nanda?"
" Dulu aku pikir kalian ... emm... kalian pacaran."
Farhan terlihat menahan tawanya. Dan aku tidak peduli lagi. Akan ku luapkan semua kekesalan ku waktu itu padanya hingga aku mengambil keputusan bodoh ini.
"Kalian terlalu mesra , atau entah karena aku yang tak pernah melihat mu dengan wanita . Hati ku rasanya sangat hancur. Di tambah lagi , kamu salah kirim SMS yang mengajak nanda beli cincin tunangan. Aku pikir tidak akan lagi mau mengganggu kalian."
"Aku tidak ingin merusak kebahagiaan adik sepupu ku yang terlihat sangat bahagia bersama mu. Karena itu, aku memutuskan kembali ke kampung. Mengubur mimpi mimpi ku. Tapi, ternyata aku salah . Justru keputusan ku lah yang merusak mimpi itu sendiri."
Aku kembali menangis. Entahlah, rasanya perpisahan semakin dekat. Farhan mengusap kepala ku dengan lembut.
"Kita cari jalan keluarnya sama sama ya.."
Aku mengangguk pasrah , semua sudah terjadi.
Farhan baru saja selesai menelpon orang tua ku yang sudah kembali ke kampung. Dia menceritakan semuanya. Orang tua ku menyarankan ku untuk mencari universitas swasta saja di kota. Mereka tidak ingin Farhan meninggalkan cita citanya yang sudah dapat dia genggam hanya karena kecerobohan ku . Ya, orang tua ku benar .
__ADS_1
Aku mendengar bel berbunyi. Aku yakin itu mertua ku. Karena, Farhan sudah menelpon mereka lebih dulu tadi. Aku bergegas membuka pintu. Aku harap senyum ku tidak terlihat palsu karena menutupi kesedihan ku ini. Aku dan Farhan menyalami mereka dan mengajak masuk.
###