
"Mas, kalau kamu jauh dari aku, apa kamu bakal cari selingkuhan?"
Bukannya membalas pertanyaan ku, Farhan malah tertawa geli.
"Mas , aku serius nih."
"Lagian kamu lucu sih, sayang. Kenapa harus jauh coba? Kita bakal terus sama sama membangun surga untuk ku, untuk kamu, untuk anak anak kita nanti."
"Tapi, mas, kalau keadaan membuat kita terpaksa menjauh gimana?"
"Keadaan yang bagaimana Zela ? Percayalah, apa pun yang terjadi .. Sejauh apa pun jarak kita nanti... aku akan tetap menjadi milik mu seutuhnya. Percayalah. Seutuhnya."
Farhan memeluk ku lebih erat. Ada kehangatan di hati ku mendengar kata katanya.
Aku mengerti . Apa yang di takdirkan untuk ku, selamanya akan tetap menjadi milik ku.
Farhan memang bukan seutuhnya milik ku , tapi pemiliknya mengutus dia untuk bersama ku.
Jadi, tidak salah bukan jika sekarang aku merasa begitu takut kehilangannya.
Selesai salat malam berjamaah, aku mencium tangan Farhan yang di susul kecupan hangat di kening ku. Sungguh aku tidak ingin momen ini terlewat kan begitu saja .
"Jangan khawatir Zela, Ini akan berlangsung setiap hari. Dan selamanya. "
__ADS_1
Aku tersenyum , kemudian menunduk malu. Aku tak percaya, sebegitu ekspresifnyakah aku semenjak menikah dengan lelaki ini, hingga dengan mudah dia tahu segala yang ku pikirkan?
Terserahlah, setidaknya aku menikmati ini. Positifnya, aku tidak perlu berkode kode ria seperti remaja labil lainnya karena suami ku cukup peka ternyata . Tapi, sungguh jika kalian berada di posisi ku saat ini, kalian akan tahu betapa rumitnya hal yang ku hadapi ..
*****
"Sayang, kamu ngapain ngelamun di situ?"
Suara indah yang sudah sangat ku hapal terdengar. Farhan duduk di sebelah ku, menatap satu objek yang sama dengan ku . Langit.
"Mas, coba lihat langit! Dia sangat indah ke biru biruan , tapi tidak bertahan lama. Saat raja siang meninggalkannya." Racau ku .
"Kamu nggak boleh lupa sayang, ada binatang yang menghiasinya. Dan kamu juga harus ingat, matahari tidak pergi. Dia hanya mengitari bumi lain dan akan selalu kembali setelah gelap yang kita jalani." Farhan menarik ku ke dalam pelukannya.
Hari berlalu begitu cepat. Mentari perlahan seperti ingin pergi meninggalkan ku. Aku takut . Aku tak ingin hari ini berlalu. Aku takut Farhan meninggalkan ku. Oh, maksud ku, aku takut meninggalkan Farhan.
*****
Aku mengurung diri di dalam kamar. Jam menunjukkan pukul 16.55. Aku semakin takut. Ku dengar langkah kaki mendekat. Aku yakin itu pasti Farhan. Ketakutan ku bertambah. Tangan ku berkeringat. Jantung ku bekerja lebih cepat. Aku menekuk tubuh ku di bawah selimut. Ku rasakan tempat tidur ku bergerak. Aku tahu Farhan kini duduk di sisi ku ..
"Sayang, ayo bangun! Sebentar lagi pengumuman SBMPTN loh."
Ingin sekali aku berteriak bahwa aku tak ingin ada pengumuman itu.
__ADS_1
"Zela ayo bangun !!" Farhan menarik selimut ku.
Dia sangat keget melihat ku dalam keadaan pucat dan berkeringat.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?"
Aku memeluk erat Farhan . Aku menggeleng pertanda aku baik baik saja.
"Tapi, kamu pucat banget. Ayo kita ke dokter."
Aku mempererat pelukan ku pada Farhan.
"Enggak mas, Aku baik baik aja. Aku cuma mau kamu selalu ada di samping aku."
Farhan menatap bingung ke arah ku.
"Kamu ada apa?"
Lagi lagi aku menggeleng.
Farhan mencium puncak kepala ku. Ada kekuatan yang mengalir dari sana.
#jangan lupa like
__ADS_1