
farhan's POV
Kali ini aku terbangun lebih dahulu. Zela masih terlihat begitu nyaman dalam pelukan ku. Wajahnya damai. Ada rasa bersalah yang bersarang di hati ku. Tidak seharusnya aku semarah itu pada Zela. Aku hanya benar benar tak bisa menahan diri ku saat kemarin malam dia pulang bersama Bima. Awalnya aku tak mengenali laki laki itu. Ku pikir dia teman baru Zela di sini, tapi emosi ku naik lagi saat kalau itu adalah Bima.
Aku sudah mengenali Bima sejak pertama di pindahkan ke kampung dulu. Dia laki laki yang selalu mengikuti dan memperhatikan Zela secara diam diam. Ya, jelas saja aku tahu karena dulu aku pun selalu berusaha menjaga Zela dari kejauhan. Tapi, Bima banyak berubah ternyata. Bahkan, dia sudah berani datang kemari melamar istri ku.
Astagfirullah Aladzim! emosi ku benar benar sulit di kendalikan kalau mengingat itu. Untungnya aku memiliki Zela yang selalu menjaga kesuciannya saat aku tidak ada bersamanya. Aku percaya, yang kemarin malam benar benar terpaksa di lakukan Zela karena keadaannya yang tidak sehat dan waktu sudah malam.
" Hmmm,,, Mas sudah bangun? kok malah ngelamun?"
__ADS_1
Suara Zela menyadarkan ku dari pemikiran panjang yang sempat membuat aku emosi sendiri.
"Eh... enggak, sayang. Udah buruan sana! Kamu wudhu duluan! udah hampir jam 4 ini."
"Iya , iya mas."
Zela beranjak ke pojok kamar, tenggelam di balik pintu kamar mandi. Aku tersenyum. Rasanya selalu seperti ini. Hati ku selalu menghangat setiap kali kami terbangun pada sepertiga malam untuk bertemu dengan Rabb kami. Sang pemilik cinta telah menyatukan ku dan Zela dalam cinta yang kami persembahkan kepada nya.
Hari ini rencananya aku akan pergi ke pantai bersama Fiana. Tapi, tadi pagi dia meminta ku mengantarkannya ke kampus karena ada rapat mendadak di organisasi yang di ikutinya. Sebagai sekertaris pelaksana , mau tidak mau dia harus memenuhi amanahnya terlebih dahulu. Dan dengan senang hati , aku mengantarkannya kemana pun kekasih ku mau.
__ADS_1
"Mas, Zela ke sana dulu ya. InshaAllah gak begitu lama kok. "
Zela mencium tangan ku dan aku mencium keningnya. Ini kegiatan rutin kami semenjak menikah.
Zela sedang melaksanakan rapatnya. Aku bingung harus melakukan apa di kampusnya ini. Akhirnya aku memutuskan menunggunya di Musala karena kebetulan belum salat duha. Ku pikir di sana aku bisa dengan tenang melanjutkan hafalan ku.
Selesai berwudhu, aku masuk ke Musala dengan beruluk salam. Beberapa laki laki menjawab serentak salam ku. Ku pikir usia mereka satu dua tahun di atas ku. Kami saling tersenyum. Aku menuju shaf depan untuk melaksanakan salat.
"Ya Allah, sesungguhnya waktu duha adalah waktu duha-mu. Keagungan adalah keagungan-Mu. Keindahan adalah keindahan-Mu. Kekuatan adalah kekuatan-mu. Penjagaan adalah penjagaan-Mu. Ya Allah , apabila rezeki ku ada di atas langit maka turunkanlah. Apa bila di dalam bumi maka keluarkan lah. Apa bila sukar maka mudahkanlah. Apabila haram maka sucikan lah. Apabila jauh, dekatkanlah dengan kekuatan duha-Mu, kekuasaan-Mu, (wahai tuhan ku), datangkanlah kepada kur rezeki yang kau berikan pada hamba hamba-Mu yang saleh . Aminnn...."
__ADS_1
Selesai berdoa, aku membuka aplikasi Alquran di ponsel ku. Belum tiga ayat berhasil ku selesaikan , ada suara yang sangat mengganggu telinga ku.
###