
Fiana's POV
"Emmm, Zela . Kamu seriusan ntar sore balik ke kampung?"
Baru saja menggoda ku. Sekarang nada bicaranya sudah berubah serius . Dasar labil !
"Yaelah mas, Kan udah kita bicarain dari kemarin ."
"Iya sih , aku anter ya."
"Apa sih mas? Gak usah ah .. Kalau mau anter sampe pelabuhan aja."
"Kenapa gak naik pesawat aja?"
Ku sandarkan kepala ku di bahunya. Farhan selalu begini khawatir berlebihan.
"Aku kan udah bilang mas, aku pengen aja sekali lagi ada di lautan untuk mengenang semuanya. Dari sana aku belajar banyak sampai bisa kayak sekarang ini. "
Ku rasakan Farhan menarik napas panjang dan menghembuskan ya denga kasar. Aku hafal, dia pasti sedang menekan egonya saat ini.
"Ya oke, terserah kamu. Tapi janji... jangan nangis lagi di sana. Janji kamu harus selalu bahagia ya."
Aku merasa Farhan mengecup puncak kepala ku dengan sangat lembut.
"Huuuu! apaan sih mas? Melow banget, ahahaha.."
Aku berlari meninggalkannya.
"Dasar abege labil! Gak bisa di ajak romantis romantisan dikit nih."
__ADS_1
"Dasar abege mesum!" Aku mencebik
" Udah yuk , buruan balik!"
Farhan menyejajarkan langkahnya dengan ku, menggenggam tangan ku, dan mengisi celah jemari ku.
*****
Angin laut berhembus kencang. Farhan dan Fiana berjalan beriringan di jembatan pelabuhan dalam keheningan. Tidak satu pun ingin membuka suara. Mereka asyik dengan kesedihan masing masing. Sedih dengan perpisahan yang di rencanakan. Perpisahan yang terlahir dari kecerobohan , bermula dari kasih sayang yang mendalam.
Hari ini, perpisahan memang harus terjadi. Rasa cinta sedang di uji, kesetiaan dalam menanti , cinta terhadap-nya harus di junjung tinggi. Langkah membawa mereka semakin mendekat pada selat perpisahan raga, tapi tidak dengan hati dan rasa. Jemari masih bertaut , seakan mengisyaratkan bahwa mereka tak menginginkan adanya perpisahan , tak ingin yang pergi atau pun ditinggalkan .
Farhan dan Fiana hampir berada di ujung jembatan yang menghubungkan ke pintu masuk kapal. Mereka hanya terdiam seperti enggan bergerak. Seakan tak menghiraukan pengunjung yang berdesakan, mereka masih larut dalam kesedihan.
Perlahan Farhan melepaskan genggamannya di jari Fiana. Dia membawa Fiana ke dalam pelukannya , mencium lembut puncak kepala Fiana seakan mengungkapkan kasih sayangnya yang begitu besar kepada sang istri, kekasih halalnya. Air mata mengalir lancar di pipi ke duanya, menangis tanpa suara. Fiana melepaskan pelukan Farhan perlahan. Menghapus air matanya dan air mata Farhan.
"See you..."
******
Fiana's POV
Drrrtttt Drrrtttt
Aku terbangun karena merasakan hape ku bergetar panjang tanda ada panggilan masuk. Rasanya masih sangat lelah untuk membuka mata yang baru saja ku pejamkan. Aku baru saja tertidur setelah puas merasakan embusan angin laut.
Ya, aku sekarang berada di atas kapal laut. Aku ingin mengingat semua kenangan ku dengan nya. Awal menyakitkan dan berakhir dengan indah. Yah, meski sekarang kami harus kembali di pisahkan. Dengan malas, ku rogoh hape dari tas di sebelah ku. Siapa pula yang nekat menelpon pukul tiga dini hari.
My Hubby📞
__ADS_1
Aku tersenyum melihat nama layar di hape ku. Segera ku geser layar , mengangkat panggilannya.
"Assalamualaikum mas."
"Waalaikumsalam , sayang . Udah di mana?"
"Masih di atas kapal ,Mas . Kok nelpon jam segini sih, mas? ganggu tidur ku tahu."
"Mas abis salat malem, terus kangen kamu. Jadi mas telpon deh. Siapa tahu kamu kangen juga sama mas."
Ku dengar kekehan dari seberang sana. Seharusnya aku yang membangunkan Farhan untuk salat malam seperti sebelumnya . Ya aku rindu , bahkan sangat Mas.
"Hallo sayang?"
"Eh, iya mas, maaf. Aku cuma mikir , seharusnya sekarang aku di sana salat sama mas." Nada suara ku melemah . Rasa sedih kembali menghampiri ku. .
"Udah deh, gak usah sok melow gitu. Kan ini demi kebaikan kita , sayang. Sana, salat dulu."
"Ya udah deh , aku mau salat dulu. Berdoa sama Allah biar suami ku gak di culik Tante girang. Hahaha."
"Tante girang? Hmmm.... boleh juga kayaknya dari pada abege labil."
"Massss...!!"
"Hahaha, udah sana gih,salat!"
"Oke, assalamualaikum , ganteng."
Tuuttt tutt
__ADS_1
Segera ku putuskan sambungan telepon sebelum Farhan mengejek ku karena panggilan barusan ..
###