Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Permulaan


__ADS_3

Sekitar seminggu aku dibingungkan oleh sikap aneh kedua orangtuaku. Aku tahu mereka aneh, tapi makin hari anehnya makin gebangetan. Aku heran kenapa dari wajahnya selalu tercetak wajah bahagia? Tiap bergantinya hari, wajah ceria mereka terus menghantuiku.


Bukan maksudku aku terganggu dengan wajah bahagia mereka. Hanya saja rasa bahagia tanpa sebab yang jelas itu sangat membuat pikiranku dipenuhi tanda tanya besar.


Ingin rasanya aku bicara pada mereka dan menanyakan sesuatu pada mereka. Akan tetapi belum ada keberanian bagiku untuk melakukannya. Seolah-olah seperti ada penghalang pada pikiranku untuk menanyakan beberapa pertanyaan pada mereka. Hanya saja aku tidak tahu sebabnya.


Sekarang sudah memasuki minggu keempat semenjak sikap mereka yang tiba-tiba menjadi aneh. Aku pun memberanikan diriku untuk bertanya pada mereka.


Waktu itu hanya ada ayahku di rumah. Dia sengaja tidak masuk ke kantor untuk bekerja. Alasannya adalah karena ayahku ingin bersantai seharian selama akhir pekan ini sering lembur. Tidak ada yang protes jika ayahku tidak berangkat ke kantor, kenapa? Karena ayahku adalah pemilik sekaligus pimpinan perusahaan besar di kota ini.


Seperti biasa beliau selalu menonton bongkong di teras rumah sambil ditemani secangkir teh dan batang rokok. Perlahan aku mulai mendekat padanya, lalu duduk di sebelahnya.


"Hm, mencurigakan...." Kata ayahku sambil memegangi dagu dengan tangan kanannya.


"Apanya yang mencurigakan?" Kataku sedikit panik.


"Pasti kamu mendekati ayah ada maksud tertentu kan?"


Tidak heran jika ayah berprasangka begitu padaku. Itu karena sudah menjadi kebiasaannya yang selalu mendekat ke mereka ketika butuh sesuatu. Namun untuk kali ini tidak. Aku sama sekali tidak menginginkan sesuatu. Yang aku mau waktu itu hanya sekadar bicara.


"Tidak kok, sumpah..."


"Yang benar? Yakin tidak mau dibelikan DVD game baru?" Kata ayahku sambil mengot.


"Eh memang ayah mau membelikan untukku?"


"Gak bakal ayah belikan! Kecuali jika kau mendapat nilai bagus saat ulangan."


"Hm, jika tidak mau membelikan ya tidak masalah sih. Lagian bulan ini tidak ada update game terbaru."


"Kalau bukan DVD game, terus kamu mau dibelikan apa?"


"Sudah kubilang kan Yah, aku tidak ingin dibelikan sesuatu."


"Bohong! To The point saja! Kau ini sedang butuh sesuatu kan dari ayah? Lebih baik jujur daripada menjadi munafik."


Jujur saja perkataan ayahku barusan berasa menusuk hati ketika terdengar. Sampai segitunyakah pikiran ayahku terhadapku?


"Aku tidak bohong!" Aku keceplosan mengucapkan kata dengan nada tinggi. Sontak saja raut wajah beliau berubah seketika.


"Terus apa tujuanmu mendekati ayah? Apa kau ada masalah?"


"Aku hanya ingin mengobrol saja dengan ayah."


"....."


Wajah ayahku terlihat datar menatap lurus padaku. Beliau berekspresi seolah ada yang aneh terhadapku.


"Jangan menatapku seperti itu! Aku jadi takut."


"Serius kamu tidak ingin ayah membelikan sesuatu untukmu?" Tanya ayah dengan nada heran. Mendengar kalimat itu aku langsung kehilangan niatnya untuk mengobrol.


Siapa pun pastinya akan kesal jika perkataannya dianggap tidak serius. Tapi harus aku akui. Dulunya aku hanya mau bicara pada orangtuaku ketika ada maunya saja. Tapi kali ini tidak begitu. Aku serius ingin berbicara pada mereka bukan karena aku minta sesuatu.


Aku yang kesal pun memutuskan pergi dari rumah. Maksudnya pergi adalah pergi main ke luar. Kini aku sudah melewati pintu gerbang rumah dan berjalan jauh dari situ.


Aku berjalan jauh tanpa arah yang jelas. Terus saja berjalan sesuai kata hati yang membisiki pikiranku. Kemudian langkah kakiku terhenti di sebuah lapangan basket. Daerah ini masih satu komplek dengan tempat tinggalku.

__ADS_1


Kemudian perhatianku tertuju pada para pemain basket yang dengan limbahnya men-drible bola. Dia adalah teman sekelas namanya adalah Nina. Tak hanya teman sekelas, tapi juga teman satu bangku. Aku tahu pasti kalian heran kenapa aku bisa satu bangku dengan lawan jenis? Jawabannya sih simpel, yaitu karena Nina adalah murid baru di sekolahku. Karena di kelas waktu itu cuma aku yang tidak punya teman sebangku, jadi Nina pun menjadi teman sebangku.


Lama-lama aku bagaikan terhipnotis oleh permainan basket para anak perempuan. Entah kenapa kakiku tidak mau digerakan dan kedua biji mataku kaku menatap lurus pada sebuah bola yang mereka mainkan.


Entah sengaja atau tidak, bola yang tadinya direbutkan oleh dua regu, kini bola itu telah terlempar ke arahku. Aku yang tidak punya bakat dalam berolahraga terutama olahraga basket. Jadi aku tidak punya inisiatif untuk menangkap bola ataupun menghindari bola. Alhasil aku malah melongoh menatap arah bola yang melaju padaku.


Duk...!!!


Bola itu mengenai kepalaku hingga membuat tubuhku ambruk di dekat lapangan. Kepalaku yang saat itu masih pusing tidak memungkinkan bagiku untuk segera bangkit berdiri. Setelah beberapa detik, 10 detik barulah rasa pusing itu sirna.


Setelah pandanganku kembali normal, maka terlihatlah wajah Nina yang menatapku dengan senyuman meledek. Bukannya menolong atau minta maaf karena telah membuatmu jatuh, tapi dia justru tersenyum puas melihatnya jatuh terkena bola basket.


"Nin, dia baik-baik saja kan?" Kata teman Nina yang mulai mendekat ke arahku karena panik.


"Tenang dia belum mati kok." Jawab Nina dengan santainya.


Lalu aku pun bangkit berdiri dan berkata, "kau sengaja ya melempar bola padaku?!" Kataku dengan nada marah.


"Iya sengaja, memang kenapa? Mau marah? Silakan!"


"Sialan kau!"


Nina pun tersenyum melihat wajah arahku. Di sekolah maupun di luar sekolah, dia selalu saja suka membuatmu marah. Aku tidak tahu dia punya masalah apa padaku. Perasaan selama ini aku bersikap cuek saja pada semua orang terutama pada Nina. Lalu alasan apa yang membuat Nina sangat suka mengusiliku?


"Maafkan kami ya. Kami tidak sengaja kok." Kata salah satu teman Nina.


"Lagian sudah tahu ada bola mengarah ke kepalamu kau malah diam saja. Padahal tadi kau punya waktu untuk menghindar atau menangkap." Kata Nina.


"Iya juga ya. kenapa kau tadi tidak menangkap atau menghindar?" Teman Nina juga ikut bingung.


Bodohnya waktu itu aku tidak bisa berkata apa pun. Suaraku seperti diredam seolah aku dilarang untuk bicara. Yang bisa kulakukan saat itu hanya diam dan mendengarkan ejekan dari Nina.


"Takut sama bola? Maksudnya?"


"Ruiga ini tidak bisa berolahraga seperti sepak bola, basket, voli, dan lain-lain. Makanya dia tidak bisa menangkap bola karena takut." Kata Nina yang seolah-olah sengaja mempermalukan aku.


"Siapa yang takut sama bola! Aku tidak takut apa pun!!" Akhirnya aku dapat bersuara lagi setelah Nina memancing emosiku.


"Benarkah? Kalau begitu ayo kita tanding basket! Berani tidak?" Kata Nina dengan nada menantang.


"Hm mana boleh aku melawan perempuan? Lagian sudah jelas siapa pemenangnya." Kataku yang mencoba tetap berwibawa.


"Terus bagaimana kami tahu kau bisa main basket atau tidak jika kamu tidak menunjukkan kemampuanmu pada kami?" Kata teman Nina.


"Tuh dengar apa yang dikatakannya? Ngaku-ngaku saja deh, kamu itu gak bisa main bola!" Kata Nina.


"Gini aja deh. Bagaimana kau coba men-drible bola lalu kau masukan bola itu ke keranjang! Jika kau memang bisa main basket, harusnya hal itu mudah kau lakukan." Kata salah satu teman Nina.


Sialan, aku harus segera cari alasan supaya aku bisa menolak. Pasti akan langsung ketahuan jika aku mencoba memainkan bola itu.


Tenang, pasti ada cara untuk menghindari situasi seperti ini. Aku tidak perlu melakukan apa yang mereka perintahkan. Yang perlu dilakukan adalah mengatakan alasan yang tepat untuk menjauh dari sini.


Dengan sengaja aku mengambil ponselku yang ada di saku celana. Lalu aku pura-pura sedang panik karena mendapat kabar buruk dari pesan SMS.


"Maaf, aku sedang ada urusan penting." Kataku pada mereka. Aku pun berlari sejauh mungkin dari sana.


Aku yang jarang berolahraga pun langsung capek setelah berlari kencang. Padahal aku cuma berlari sejauh 100 meter saja, tapi rasa lelah ini sungguh kebangetan.

__ADS_1


Kemudian aku memutuskan menepi di sebuah toko dan membeli sentil minuman ringan di sana. Belum sempat aku meneguk minuman botol ini, tiba-tiba aku dikejutkan dengan kehadiran seseorang.


"Kau lagi! Belum puas mempermalukan aku tadi?" Kataku dengan nada marah. Dan lagi-lagi Nina hanya senyum-senyum saja seolah dia kegirangan melihatku sengsara.


"Hehe maaf. Aku sengaja." Katanya sambil mengaruk-garuk kepalanya.


"Apa maumu?"


"Yaelah, kau marah?"


"Pakai nanya segala! memang dari ekspresiku tidak jelas kalau aku marah?!"


"Ya mana aku tahu kau ini marah atau tidak. Kan kau tidak bilang kalau lagi marah. Lagipula jadi cowok baperan amat sih? Gitu saja marah. Pantas saja kau tidak punya teman."


"Siapa bilang aku tidak punya teman?! Aku punya teman kok. Teman-teman di kelas juga tak keberatan berteman denganku."


"Yaelah kau jadi cowok polos banget sih. Masa kau tidak bisa membedakan mana teman yang tulus dan mana teman yang tidak tulus? Mereka mau mau kau dekati karena kau ini orang kaya. Pasti kau sering kan dimintai uang untuk alasan gak jelas. Terus mereka juga sering meminjam uang tapi tidak dikembalikan."


Si Kampret ini tahu dari mana soal itu?! Harus aku akui memang benar mereka mau berteman denganku karena aku orang kaya. Dan aku juga merasakan jika mereka hanya memanfaatkanku saja. Kupikir dengan aku memberikan uang pada mereka, mereka mau berteman denganku secara tulus. Eh tapi nyatanya....


"Jangan melamun!" Kata Nina sambil menyentil jidatku. Kemudian dia duduk di bangku sebelahku. Aku pun mulai curiga. Jangan-jangan dia mau mengusiliku lagi. Sudah ribuan kali aku tertipu oleh gerak-geriknya.


"Sudah jangan mempermalukan aku lagi! Aku sedang tidak enak hati."


"Iya aku tahu kau sedang bingung dan gelisah."


"Tahu dari mana?"


"Terlihat jelas di wajahmu."


"Terus kenapa kau masih di sini?"


"Karena aku peduli padamu."


Sontak saja aku memandangi wajahnya dengan rasa curiga yang besar. Kupikir dia sedang merencanakan sesuatu untuk mempermalukanku lagi.


"Tenang tidak usah curiga! Kali ini aku sedang berbaik hati."


"Justru karena kau berkata seperti itu aku jadi curiga."


"Kita kan sudah lama kenal kan?"


"Hm... "


"Jadi anggaplah aku ini temanmu. Kita ini adalah teman sebangku, tapi sikapmu terhadapku seperti tidak bersahabat gitu."


"Seharusnya aku yang berkata begitu! Justru yang sifatnya tidak bersahabat itu adalah kamu! Mana ada seorang teman senang menjahili temannya sendiri!?!?"


"Bukannya sedikit jahil pada teman itu merupakan hal yang lumrah?"


"Lumrah palalu peang! Jahilmu itu sudah kelewatan!"


"Bwahahahaha...." Nina malah tertawa ngakak.


Ingin sekali tangan ini menamparnya, namun jika aku melakukan itu, maka itu sama saja membuatku semakin dipermalukan. Pastinya dia akan mengadu ke teman di kelas kalau aku telah menamparnya. Dengan demikian aku akan dicap sebagai lelaki pengecut yang berangnya sama perempuan.


Aku sendiri bingung mau berbuat apa padanya. Kalau dibiarkan aku yang tertindas, jika aku kasari maka akulah yang salah. Adakah cara agar dia berhenti berbuat usil padaku?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2