Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Salinan Jiwa


__ADS_3

Ruiga kembali ke rumahnya. Seperti sudah padam semangat hidupnya, Ruiga berjalan pelan menuju ke kamarnya. Begitu sampai ke dalam Ruiga disambut oleh adiknya dengan hangat. Tetapi Ruiga tidak terlalu memperlihatkannya dan memilih diam duduk di tepi ranjang.


Rasa sedih karena ditinggal teman baiknya merupakan hal buruk bagi Ruiga. Tapi anehnya Ruiga tidak begitu sedih ketika ia tahu bahwa ia tidak bisa melihat orangtua aslinya.


Ruhisa yang duduk di samping kakaknya pun menyentuh tangan kakaknya. Tiada respon dari Ruiga, tapi Ruhisa tidak menyerah. Ruhisa merangkul Ruiga, kemudian membisikan kata: "Kakak jangan sedih! Aku tidak akan meninggalkan kakak. Aku, ayah, dan ibu selalu ada di sini."


Ruiga tak dapat membendung kesedihannya lagi hingga beberapa tetes air mata keluar. Ruhisa yang tahu hal itu langsung menghapus air mata yang mengotori wajah kakaknya.


"Seberapa spesialnya dia sampai kakak sesedih ini? Seingatku hubungan kalian tidak begitu dekat."


"Kau tidak akan bisa mengerti. Dia adalah orang yang paling tulus padaku."


Ruhisa yang mendengar pernyataan itu merasa tidak terima. Ruhisa marah karena merasa tidak dianggap sebagai seseorang yang paling tulus pada Ruiga. Lalu sebuah tamparan keras menghantam pipi Ruiga. Ruiga menerima tamparan itu tanpa perlawanan. Ruiga terlalu malas untuk meladeni Ruhisa.


"Bisa-bisanya kakak berkata seperti itu!! Kakak anggap apa aku ini?! Apakah di matamu aku sama sekali tidak terlihat tulus pada kakak?!" Ruhisa marah.


"Aku malas bertengkar denganmu. Bisakah kau keluar dari sini? Aku butuh waktu sendiri. Dan jangan lupa pakai baju!"


Rasanya Ruhisa ingin menampar kakaknya sekali lagi. Oh tidak, mungkin tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali hingga Ruiga mengakui ketulusan Ruhisa. Namun hal itu cuma tersimpan dalam angannya saja, karena Ruhisa tahu hal seperti itu sama sekali tidak membantu.


Ruhisa berdiri di depan kakaknya yang masih terduduk di tepi ranjang. Lalu Ruhisa mendorong Ruiga hingga terbaring di ranjang. Mereka berdua sama-sama terlihat sedih dengan alasan yang berbeda-beda.


"Oke, jika keberadaanku tidak dianggap istimewa di mata kakak, maka aku tidak akan mengganggu hidup kakak lagi. Aku sadar diri kok. Dan terima kasih telah menjadi kakak walau kakak bukan kakak yang seperti dalam ingatanku."


Ruhisa pun pergi meninggalkan ruangan. Masih bertelanjang total ia keluar dari kamar. Dan setelah itu Ruiga benar-benar sendirian selama beberapa jam.


...****************...


Malam telah tiba. Pukul 20.54 malam Ruiga mulai lapar. Dia sudah melewatkan jam makan malam bersama keluarganya. Sebenarnya ayahnya sudah mengajaknya untuk makan bareng, namun Ruiga menolak karena suasana hatinya masih tidak enak.


Ruiga sampai di meja makan yang masih satu area dengan dapur. Ia mengambil beberapa buah yang tersedia di atas meja. Kemudian ia duduk dan makan beberapa hidangan lain.


"Ruiga!!"


Suara panggilan dari ayahnya telah mengejutkan Ruiga. Ayahnya terlihat begitu panik seolah sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Ada apa? Kenapa ayah terlihat panik?"


"Di mana Ruhisa?"


"Di mana lagi? Paling juga di kamarnya kan?"


"Tidak ada. Setelah selesai makan malam, kami tidak melihatnya lagi."


Seketika saja Ruiga juga ikutan panik. Ruiga jadi teringat dengan perkataan Ruhisa ketika masih di kamar Ruiga tadi. Jika dipikirkan lagi kalimat itu terdengar seperti kalimat perpisahan.


"Coba telepon dia!"


"Ponselnya ditinggal di kamarnya."


"Ih dasar dia... Dia ke mana?"


Sebenarnya Reiga tidak menyuruh Ruiga untuk mencari Ruhisa. Tapi secara reflek Ruiga langsung berlari keluar rumah untuk mencari adiknya. Padahal Reiga sudah menyuruh tim khusus untuk mencari putrinya.


Ruhisa bisa kabur tanpa diketahui oleh satpam penjaga karena Ruhisa menggunakan pintu darurat rahasia yang hanya diketahui oleh keluarga Sasugara. Itu merupakan pintu bawah tanah yang jalurnya menuju ke luar batas pagar rumah.


Pintu darurat rahasia itu dibuat untuk berjaga-jaga apabila rumah itu dirampok atau ada kejadian gawat yang mengharuskan mereka kabur. Tapi Reiga tidak kepikiran jika Ruhisa menggunakan pintu itu untuk kabur dari rumah.


Pencarian Ruiga dimulai. Ruiga berlari secara acak sesuai arahan hatinya. Ruiga tiada hentinya berlari dan berteriak memanggil nama adiknya. Tapi tetap saja adiknya tidak ditemukan. Ruhisa benar-benar hilang tanpa jejak.


"Ruhisa, di mana kau?!" Ruiga memanggil adiknya dengan suara keras.

__ADS_1


Waktu itu sudah larut malam dan di area komplek pun sudah sepi dari para warga. Jadi di jalanan Ruiga cuma berlarian sambil berteriak memanggil nama adiknya.


30 menit berlalu dan Ruiga pun mulai merasa letih. Dan parahnya lagi Langit menjadi makin gelap. Tak lama kemudian terdengarlah suara sambaran petir yang menyambar pohon di dekat sana.


Ruiga terkejut dengan sambaran itu. Untung saja Ruiga tidak terluka oleh kejadian itu. Ia cuma merasa kaget karena secara tiba-tiba sebuah petir menyambar pohon di sekitarnya.


Beberapa detik kemudian turunlah hujan walaupun bukan hujan yang lebat. Ditambah lagi dengan kondisi cuaca yang mulai dingin. Ruiga menjadi semakin khawatir. Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya Ruiga mengkhawatirkan adiknya.


Dia masih belum punya cukup tenaga untuk kembali melanjutkan pencarian. Dia masih terduduk di jalan sambil menunggu energi terisi lagi.


Lalu teringatlah Ruiga cara efektif untuk menemukan Ruhisa. Tapi itu tidak mudah. Tapi Ruiga tidak mau menyerah sebelum mencoba.


Satu-satunya mahluk yang tahu keberadaan Ruhisa adalah penciptanya sendiri yaitu Dewa Zelus. Sayangnya Ruiga juga tidak tahu di mana Dewa itu berada karena dia tidak pernah memberitahu pasti kediamannya.


"Zelus!! Keluarlah!!!" Ruiga mencoba memanggil Dewa Zelus keluar. Tentu saja Dewa Zelus tidak akan keluar semudah itu. Butuh waktu agak lama agar dewa itu mau menampakan diri di depan Ruiga.


"Zelus cepatlah keluar!!!"


Ruiga tak ada hentinya memanggil Dewa Zelus hingga beberapa warga sekitar keluar dari rumahnya untuk melihat kondisi di luar.


Lalu sebuah cahaya putih terlihat secara samar-samar. Kemudian cahaya itu berjalan secara pelan menuju ke suatu tempat. Cahaya itu seperti mencoba memancing Ruiga agar mengikutinya. Dan benar saja Ruiga mengikuti arah cahaya itu pergi.


Tak sesuai harapan. Cahaya itu tidak menghantarkan Ruiga menuju lokasi Ruhisa. Ruiga malah dibawa ke area jauh dari pemukiman warga. Di sana hanya ada rerumputan lebat dan pepohonan yang tersebar di area itu.


"Kenapa kau membawaku ke sini?"


Cahaya itu lenyap dan tergantikan dengan sesosok kakek berpakaian serba putih. Siapa lagi kalau bukan Dewa Zelus.


"Karena tempat ini pantas untuk berteriak-teriak tidak jelas."


"Jangan main-main! Cepat bawa aku ke tempat Ruhisa!!" Kata Ruiga dengan nada kesal.


"Hahahaha.... Kenapa kau jadi seperti ini?"


"Ahhh aku bingung mau sedih atau senang. Memang kau sudah menerima takdirmu sebagai kakak. Tapi bukan seperti ini yang kuharapkan."


"Apa yang salah denganku? Aku hanya mencoba menjadi apa yang kau inginkan kan? Aku sudah menjadi seorang kakak."


"Kau bukan seorang kakak! Karena seorang kakak tidak mungkin sanggup berciuman dengan adiknya. Apalagi sampai bermesraan di kamar."


"Bukannya kau sendiri yang membuat Ruhisa bersikap seperti itu? Kau yang membuat Ruhisa jatuh cinta padaku."


"Kau salah Rui!"


"Jangan menyangkal! Kau sendiri yang menciptakan Ruhisa dan manusia tiruan lainnya. Dan pastinya kau juga yang mengatur sikap dan perbuatan mereka. Kau dulu pernah bilang kaulah yang mengatur arus dunia ini beserta isinya."


"Iya itu memang benar. Tapi kalau soal Ruhisa itu adalah pengecualian."


"Apa maksudnya?!"


"Ruhisa adalah salinan jiwamu. Dia berbeda dengan manusia tiruan yang kubuat. Dia memiliki jiwa dan pikiran sendiri karena Ruhisa yang sebenarnya adalah setengah dari jiwamu. Intinya kalian berdua awalnya adalah satu. Tapi aku ambil setengah jiwamu untuk kujadikan manusia tiruan. Karena Ruhisa berasal dari separuh jiwamu, maka dia memiliki jiwa dan pikiran sendiri selayaknya manusia normal lainnya. Berbeda dengan manusia tiruan lainnya yang mudah aku kendalikan, Ruhisa justru sering melakukan perlawanan ketika aku kendalikan. "


"Yang benar saja! Padahal kau ini penciptanya, tapi bagaimana bisa kau tidak bisa mengendalikannya?! Ini konyol!"


"Ya aku memang tidak bisa mengendalikan pikiran dan tindakannya. Tapi aku bisa menghapusnya beserta isinya. Bagaimana? Apa perlu kuhapuskan?"


"Jangan!!! Jika kau bilang Ruhisa adalah separuh jiwaku, berarti dia itu juga hidup sepertiku. Ruhisa juga manusia asli sepertiku."


"Tidak sepenuhnya asli karena Ruhisa tidak punya raga sepertimu. Dia cuma salinan jiwa saja. Jadi jangan harap dia bisa dibawa ke dunia manusia!"


"Hm, kau sungguh tidak bisa diharapkan. Lebih baik kau pergi saja! Akan aku cari sendiri Ruhisa!"

__ADS_1


"Nikmati saja sisa waktumu di sini! Cepat atau lambat dunia ini akan kuhapuskan."


Setelah itu Dewa Zelus menghilang, tapi suaranya masih bisa terdengar di sana.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"


"Terimalah kenyataan bahwa mereka itu tidak nyata! Tapi jika kau mengira bahwa Ruhisa adalah cinta sejatimu, maka kau salah besar. Sama saja kau mencintai dirimu sendiri karena Ruhisa itu adalah kamu sendiri."


"Aku tidak peduli siapa Ruhisa. Aku tetap akan menyayangi dia dengan caraku sendiri."


"Hah kau ini keras kepala. Tapi karena sebentar lagi dunia ini akan dihapuskan, maka kubiarkan kau menikmati dunia ini dan Ruhisa. Jalan saja lurus dari sini, maka kau akan bertemu dia."


Setelah itu tiada suara lagi dari dewa. Ruiga telah terputus komunikasinya dengan Dewa Zelus. Dan sesuai perkataan Dewa Zelus, Ruiga berjalan lurus ke depan.


Makin ke depan semakin lebat pepohonan dan rerumputan di area situ. Namun setelah berjalan agak jauh, maka terdengarlah suara air seperti suara air terjun.


Itu benar sebuah air terjun kecil yang terdapat benaran besar di pinggir sungai. Air di sana begitu bening bagaikan sumber mata air. Dari situ terlihatlah Ruhisa yang sedang duduk di atas batu besar sambil menatap lurus ke arah air terjun.


"Ruhisa!"


Ruhisa tidak menoleh. Ruhisa tetap diam seolah cuek dengan segalanya. Dia lebih asik memperhatikan air terjun yang mengalir dari atas ke bawah.


Ruiga segera naik ke atas batu besar itu. Ruiga mencoba menarik tangan Ruhisa agar Ruhisa bangkit berdiri. Namun tangan Ruiga berhasil ditepis oleh Ruhisa.


"Ada apa denganmu? Kau bikin kami panik."


"Kembalilah ke rumah." Kata Ruhisa dengan nada datar.


"Aku tidak akan pulang tanpa dirimu."


Ruhisa sama sekali tidak terhibur dengan perkataan dari Ruiga.


"Aku tidak akan pulang. Ini kan yang kakak harapkan dari dulu?"


"Jangan bicara ngawur! Ini tidak benar."


"Tapi aku masih ingat. Kakak dulu pernah bilang bahwa keberadaanku adalah kesalahan besar. Kakak membenciku. Kakak tidak ingin punya adik. Perkataan kasar dan perlakuan kasar kakak masih membekas di sini. Dan malam ini akan kuakhiri. Akan kuhapus sendiri keberadaan bersama aliran air sungai ini."


Ruiga paham apa yang akan dilakukan Ruhisa. Ruhisa mencoba mengakhiri hidupnya. Tentu saja hal ini membuat Ruiga marah. Tanpa sadar Ruiga menampar Ruhisa dengan harapan Ruhisa sadar apa yang dilakukannya.


"Jangan bodoh!!"


"Bahkan di situasi seperti ini pun kakak masih ingin menyakitiku lagi. Padahal sebentar lagi aku akan benar-benar hilang dari hidup kakak."


"Berhentilah berkata seolah-olah kau akan mati!!! Alasanku menetap di sini itu agar aku selalu bisa bersamamu!! Jadi jika kau mati, apa gunanya aku di sini?!?! Nina sudah meninggalkan aku. Dan aku tidak mau kau juga meninggalkanku!"


Ruhisa terkejut melihat kakaknya menagisi Ruhisa. Ruhisa pikir Ruiga akan bahagia jika tidak ada Ruhisa, namun hal itu tak sepenuhnya benar.


"Kakak...."


"Ayo pulang! Ayah dan ibu telah menunggu kita." Ruiga mengulurkan tangan pada Ruhisa.


"Tapi kakak kan.... "


"Kita mulai lagi dari awal. Ayo kita perbaiki hubungan kita!"


Ruhisa pun menerima uluran tangan kakaknya. Kemudian Ruiga menarik tangan Ruhisa hingga tubuh Ruhisa menempel ke tubuh Ruiga. Pada saat itulah Ruiga memegangi kedua pipi Ruhisa, dan mereka berdua pun saling memandang.


"Maaf..."


"Jangan minta maaf! Akulah yang seharusnya minta maaf karena telah durhaka pada adikku sendiri."

__ADS_1


Ruhisa pun tersenyum sambil menangis. Kemudian mereka berdua menempelkan bibir mereka, dan terjadilah ciuman hangat di antara hujan.


...****************...


__ADS_2