
Tiap detiknya sinar mentari makin menyengat ke kulit. Rasa panas akibat sinar tersebut membuat kepalaku sedikit pusing. Jika hukuman ini tidak berakhir dengan cepat, maka bisa-bisa aku pingsan di sini.
Jujur saja aku masih tidak terima dengan hukuman aneh ini. Rasa kesal dan ingin memberontak pun masih menyelimuti hatiku. Tapi apa dadaku saat ini yang tak punya cukup nyali untuk melawan. Apalagi diriku ini cenderung pasif di sekolah dan belum pernah bikin onar di sekolah.
Gila, hari makin panas. Padahal ini masih pagi sekitar jam delapan lebih sedikit. Tapi rasa panas dari terik matahari begitu panas hingga menusuk kulit. Bisa-bisa mukaku yang putih mulus ini akan menggelap dan kegantenganku akan sirna.
Tak ada yang bisa dilakukan di sini kecuali diam sambil menggerutu dalam hati. Seandainya ada sedikit jiwa anak sekolah nakal pada diriku, pasti sebelum aku dirantai di tiang, aku bakalan melawan lalu kabur. Sayangnya itu cuma bisa terjadi di imajinasiku saja.
Tet, tet, tet, tettt.... Bel istirahat pun berbunyi.
Bagus, sekarang keadaan makin buruk. Dengan dimulainya jam istirahat, jadi para siswa lain bisa bebas keluar kelas. Dan artinya mereka akan menjadikanku tontonan gratis sekaligus menjadikanku bahan ejekan.
Dan ramalan pun menjadi nyata. Ejekan demi ejekan, tawa demi tawa telah kuterima dengan terpaksa. Jangan ditanya bagaimana rasanya! Tentu saja rasa maunya gak ketulungan. Bahkan aku tidak berani memandang wajah mereka dan hanya bisa menundukkan kepala.
"Hahahaha.... Payah."
"Haha gak ada harga dirinya sekali jadi cowok!"
"Makannya jangan berani bikin masalah dengan Ruhisa!"
"Seharusnya jadi kakak itu melindungi adiknya! Bukan malah cari ribut sama adiknya!"
"Ruiga, mending kau mati saja deh! Gak guna kau jadi kakak!"
Ucapan yang tertulis di atas itu cuma sebagian kecil dari sampel yang kuambil. Jika aku sebutkan semua makian mereka terhadapku, maka satu Chapter pun tidak cukup.
Namun hal baiknya di sini mereka tidak melakukan kekerasan fisik padaku. Ya mungkin mereka juga takut kena hukuman yang serupa denganku. Kata bu guru siswa yang berani melukai anak keluarga Sasugara akan dihukum berat.
Meski aku sudah mencoba menjadi orang tuli agar ejekan mereka tidak meresap ke dalam pikiranku, tapi tetap saja hal itu tidak berguna. Kata-kata dari mereka bagaikan pasir besi yang tertarik oleh medan magnet dari telingaku. Alhasil perkataan itu menjadi belati di telingaku.
Namun.....
"Pergi dari sini!" Suara bentakan dari seorang anak perempuan pun terdengar keras. Aku kenal suara itu.
"Kau...."
"Bubar, bubar!! Jangan ganggu kakakku!" Kata Ruhisa yang mencoba membubarkan keramaian ini.
"Eh Ruhisa. Ada apa?"
"Kenapa kami diusir?"
__ADS_1
"Kami begini karena kami gak rela kamu dilukai, meski orang tersebut adalah kakakmu."
"Aku gak suka kalian menjadikan kakakku sebagai obyek bully! Sekarang juga pergilah!!" Kata Ruhisa pada mereka dengan nada marah.
Seperti robot yang patuh terhadap perintah penciptanya. Anak-anak usil itu membubarkan diri dan kembali ke kesibukan masing-masing. Aku sangat terkejut melihat kejadian ini. Kenapa bisa mereka semua begitu patuh dan hormat pada Ruhisa? Tidak hanya ketika di rumah, bahkan di sekolah pun Ruhisa tetap dipandang istimewa oleh siapa pun.
"Jangan sedih kak! Mereka sudah pergi." Kata Ruhisa dengan senyuman. Tak lama setelah itu datanglah orang ketiga di antara kami. Namun Ruhisa tidak mengusirnya. Ya itu karena dia adalah teman kami yang tak lain adalah Nina.
"Jangan sok menjadi pahlawan!" Kataku dengan nada ketus. Gak tahu kenapa tiap aku bicara dengannya selalu saja nada kasar dari mulutku terucap.
"Ruhisa datang untuk membelamu. Apakah tidak ada ucapan terimakasih untuknya?" Kata Nina.
Aku baru sadar jika di tangan kiri Ruhisa membawa kantung keresek hitam yang dipenuhi sesuatu. Dan ternyata isinya adalah jajanan dari kantin. Sontak saja cacing dalam perutku tergiur olehnya.
"Kakak pasti lapar kan? Ayo kita makan bersama!"
"Tuh adikmu sudah berbaik hati padamu. Apakah kau masih tega bersikap ketus padanya?" Kata Nina dengan nada menyindir.
"......" Aku hanya bisa terdiam oleh mereka. Lalu Ruhisa pun mengambil salah satu jajanan tersebut, dan dibukalah bungkus jajanan itu yang isinya adalah roti selai stroberi.
"Ayo kak buka mulutmu! Aaaa....." Kata Ruhisa sambil mengulurkan roti itu ke arah mulutku. Tentu saja aku tidak langsung menerima suapan darinya. Lagipula aku bisa makan sendiri.
"Jangan malu-malu! Makan saja selagi masih ada kesempatan. Kami tahu kau lapar." Kata Nina.
"Ye dasar anak gak tahu terimakasih! Masih untung kau punya kami yang peduli padamu. Bukannya bersyukur malah meminta lebih!" Kata Nina dengan nada marah.
"Maaf kak. Kami tidak boleh membuka ikatan rantai ini. Selain kami dilarang untuk membebaskan kakak, kami juga tidak punya kunci untuk membuka gembok. Lagipula kakak tetap harus menjalani hukuman ini meski aku sudah memaafkan kakak."
"Tunggu, kau masih merasa aku yang salah?!" Kataku dengan nada agak keras.
"Iya aku juga salah. Seharusnya aku tidak bikin kakak marah."
"Sudah-sudah, intinya kalian berdua sama-sama salah dan keras kepala. Kalau begini adil kan?" Kata Nina.
Singkat cerita aku pun memakan jajanan itu dengan bantuan Ruhi dan Nina. Mereka berdua menyuapi aku selayaknya sedang menyuapi bayi yang belum bisa makan sendiri. Meski aku sudah tidak dikerumuni banyak orang di sini, namun dari kejauhan aku bisa melihat beberapa siswa yang menertawaiku.
"Nah gini dong. Kalau kalian berdua akur kan enak dilihatnya."
"Iya aku juga senang kalau kami berdua akur. Ya kan kak."
"Sudah jangan ajak aku bicara! Cepat masukan roti itu ke mulutku! Aku butuh makan."
__ADS_1
"Pelan-pelan makannya! Masih ada delapan menit sebelum pelajaran berlanjut. Nanti sebelum guru datang kakak juga masih bisa makan di kelas." Kata Nina setelah menyuapiku secuil roti.
"Aku tinggal ke toilet dulu ya. Nanti aku balik lagi." Kata Ruhisa yang tak bisa menahan pipis.
Ruhisa pun berlari secepat mungkin menuju toilet terdekat. Kini tinggal aku dan Nina yang ada di sini. Dan setelah ditinggal Ruhisa pun Nina malah senyum-senyum gak jelas padaku. Ya ini mirip momen ketika aku sedang digodain Nina di dunia nyata.
"Gak usah meledekku! Aku tahu ini memalukan."
"Terus kamu kapok?"
"Kapok sih tidak. Lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi kalau mau mendorong atau memukul Ruhi."
Gak tahu kenapa kepalaku malah dipukul menggunakan telapak tangannya dengan keras.
"Dasar bodoh! Bisa-bisanya kau begitu setelah perlakuan baik Ruhisa padamu! Kau gak punya akhlak!!"
"Kenapa semua orang selalu membela dia?! Apakah karena dia anak dari keluarga Sasugara? Aku ini juga anak dari keluarga Sasugara. Tapi kenapa cuma dia saja yang diistimewakan?!" Kami berdua sama-sama berkata dengan nada tinggi.
"Kau ini pikun atau gimana sih? Dari sejak awal kalian masuk ke sekolah ini, kalian memang selalu diistimewakan! Kau masih gak sadar juga?!"
"Terus kenapa mereka tadi merendahkan aku sampai segitunya? Padahal kalau sama Ruhisa mereka sok sopan dan perhatian."
"Ruhisa diperlakukan baik karena dia jauh berakhlak daripada kamu! Paham?"
"Alasan seperti itu tetap tidak bisa diterima. Kalian dan dunia ini sama-sama sampah! Kalau bukan karena....."
"Karena apa?!"
"Gak jadi. Malas debat sama kamu!"
"Ya sudah! Tuh makan sendiri saja makananmu! Aku mau kembali ke kelas." Kata Nina sambil melemparkan jajanan itu ke wajahmu.
Bagus, kini dia marah lagi padaku. Padahal pagi tadi dia mulai agak membaik, tapi belum genap sehari dia kembali seperti semula.
Bel masuk kelas pun berbunyi. Akhirnya hal yang ditunggu-tunggu tiba juga. Masa hukuman ini telah berakhir. Jadi aku bisa kembali ke kelas. Pegal rasanya diikat di sini selama empat jam pelajaran.
"Loh kok tak ada satu orang pun yang membebaskanku dari ikatan rantai ini?"
Jangan bilang mereka lupa!
Sialan mereka benar lupa! Hampir 30 menit aku menunggu tapi aku tidak segera dibebaskan. Dasar kampret mereka semua, terutama kau Zelus yang mengurungku ke dunia terkutuk ini.
__ADS_1
...****************...