
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Seketika saja seisi kelas langsung meninggalkan ruangannya setelah melakukan prosedur penutupan.
Ketika Ruiga melihat Nina memberi kode padanya, Ruiga pun langsung berlari mendekat pada Nina tanpa memperdulikan adiknya yang masih di sampingnya.
Ruhisa yang menyadari telah ditinggal kakaknya dengan sengaja langsung maju mengejar kakaknya. Namun hal itu tidak berhasil karena fisik Ruhisa tak sekuat mereka. Ruhisa tak dapat mengejar mereka dan kini Ruhisa telah kehilangan jejak mereka berdua.
Nampak kesal dan ingin menangis, Ruhisa pun melemparkan ranselnya ke tanah. Lalu sang supir pribadinya pun datang menghampirinya.
"Ada masalah Nona Ruhisa?"
"Kakak....."
"Tuan muda Ruiga bilang ia ada urusan penting. Jadi ia menyuruh kita pulang duluan."
"Tapi kenapa?" Sang supir pun hanya bisa diam sambil menggeleng-gelengkan kepala.
...****************...
Ruiga dan Nina sudah sampai di mall. Mereka berdua pun kaget dengan kondisi tempat di sini yang jauh beda dengan dunia asli mereka.
Selama Ruiga berada di dunia ini baru kali ini Ruiga pergi meninggalkan komplek. Dan ternyata keadaan di luar komplek pun juga tak sepenuhnya sama dengan di dunia nyata.
"Harusnya tadi kau pamit dulu pada Ruhisa."
"Jangan konyol! Kalau aku pamit padanya, maka pastikan dia akan memaksa untuk ikut."
"Bilang saja kau ada urusan pribadi, pasti dia mengerti kok."
"Dia itu keras kepala. Dan dia juga jarang memberiku waktu untuk sendiri."
"Yang benar?"
"Itu sebabnya aku tidak suka dia."
Nina pun merasa aneh mendengar cerita itu. Namun Nina tidak ada pikiran buruk padanya. Nina masih menganggap itu cuma hal wajar antara adik dan kakak.
"Ya sudah, ayo kita cari hadiahnya. Kau sudah tanya kan barang yang disukai Ruhisa itu apa?"
"Eh, aku lupa menanyakan itu." Jawab Rui sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Dih *****. Kan waktu itu sudah kubilang untuk menanyakannya padanya! Gimana sih kau ini?!" Nina pun mulai marah.
"Maaf. Aku dan dia itu tidak begitu akrab. Aku lupa."
"Kalau begitu telepon dia sekarang!"
"Siapa?"
"Pakai nanya lagi! Ya Ruhisa-lah! Tanya padanya barang apa yang dia suka!"
"Bukannya dia malah curiga ya kalau tiba-tiba aku bertanya seperti itu? Selain itu pasti dia akan menanyakan aku di mana daripada menjawab pertanyaanku."
"Lah terus kalau tidak bertanya, dari mana kau tahu barang kesukaan Ruhisa?!"
"Kupikir dia pasti akan senang dengan barang pemberianku apa pun itu."
"Iya sih. Tapi kan akan lebih bagus jika kau memberikan barang yang Ruhisa suka. Dengan begitu Ruhisa akan merasa bahwa kau ini telah mengerti apa yang disukai adiknya."
Mereka pun mulai mencari.
Dan sesuai dugaan Nina, Ruiga pun kebingungan untuk membeli sesuatu. Dari tadi mereka hanya mengelilingi mall tanpa membeli apa pun.
Ketika Nina menyarankan suatu barang bagus, entah kenapa Ruiga malah ragu untuk membelinya. Dan pada akhirnya mereka meninggalkan toko itu dan beralih ke toko yang lain. Dan begitu sampai seterusnya.
__ADS_1
"Aku mulai capek." Kata Ruiga.
"Seharusnya aku yang bilang begitu! Dari tadi kita keliling mall tapi kau tak membeli apa pun!" Kata Nina dengan kesal.
"Mau bagaimana lagi. Aku bingung mau beli apa."
"Makanya aku tadi menyuruhmu untuk menanyakan padanya!"
"Santai saja jangan marah-marah! Ngomong-ngomong apa kau lapar?"
Tidak usah ditanya lapar atau tidak, tentunya mereka kelaparan. Waktu itu menunjukan pukul 14.56 apalagi saat di sekolah Nina tidak menyempatkan diri untuk mengisi perutnya di kantin.
Mereka pun mengunjungi kedai buffer yang masih satu area dengan mall. Di sana tidak begitu ramai, jadi mereka tidak begitu terganggu.
"Jangan kau sia-siakan bantuanku. Aku rela meninggalkan kehidupanku di dunia sana demi kamu. Seharusnya kau ada usaha gitu agar masalah ini cepat selesai."
"Hei, kau pikir selama ini aku cuma diam saja gitu? Sebelum kau datang ke sini aku juga sudah mencari cara untuk keluar dari dunia ini."
"Yang jadi masalah itu bukan mencari cara untuk keluar dari dunia ini, tapi yang jadi masalah adalah kau ini mau melakukannya atau tidak!"
"Kenapa malah kamu yang marah?"
"Ya iyalah aku marah! Padahal aku sudah mencoba membantu tapi responmu cuma kaya gitu seolah-olah kau tidak ada niat untuk melakukannya!"
"Kau ini tidak sabaran. Cobalah santai sedikit!"
"Santai matamu santai!!! Yang kau lakukan ini cuma buang-buang waktu!!" Kata Nina dengan suara keras sampai orang-orang di kedai itu melihat ke arah mereka. Dan tak hanya sampai di situ, Nina pun menyiram muka Ruiga dengan segelas es teh yang masih dingin.
Ruiga pun malu mendapat perlakuan seperti itu dari Nina. Selain itu Ruiga juga jadi bahan tawaan orang yang ada di situ. Namun Nina yang terlanjur kemakan emosi merasa cuek saja pada orang di sekitar.
"Sudah jangan marah! Gak malu apa dilihatin banyak orang?"
"Sejak kapan kau punya malu? Padahal dari dulu kau sering mempermalukan dirimu sendiri!?"
"Tenanglah! Padahal kau menasihatiku agar aku tidak gampang emosi. Eh tapi kau sendiri pun sama buruknya denganku."
"Lagian siapa suruh kau memancing emosiku?!"
"Iya-iya, setelah kita selesai makan, kita akan langsung membeli hadiah itu."
"Awas saja jika nanti kau cuma muter-muter gak jelas di mall ini!"
"Iya aku janji akan langsung membelinya. Aku sudah tahu barang apa yang dibutuhkan Ruhisa."
"Beneran? Tahu dari mana?"
"Aku tadi buka Facebook. Kemudian ada notifikasi jika aku telah ditandai di postingan Ruhisa. Dari postingan itu aku jadi tahu benda apa yang diinginkan Ruhisa."
"Lah emang itu postingan apa?"
Karena penasaran, Nina pun mengeceknya di Facebook. Dan dicarilah postingan yang dimaksud Ruiga. Dan ternyata postingan itu berisi foto masa kecil Ruiga dan Ruhisa.
Lalu Nina pun merasa ada yang aneh. Nina heran kenapa bisa ada foto yang seharusnya tidak ada. Tidak seharusnya foto masa kecil itu ada karena dunia ini dan seisinya saja umurnya belum ada setahun.
"Ini kan cuma foto masa kecil kalian. Terus bagaimana kau tahu barang yang diinginkan Ruhisa?"
"Coba lihat apa yang dipegang Ruhisa itu!"
Nina pun tahu apa yang dipegang Ruhisa di foto itu. Itu hanya sebuah boneka kelinci yang ukurannya agak besar.
"Boneka kelinci?"
"Tepat sekali. Nanti aku akan membeli itu."
__ADS_1
"Ih ngapain membeli barang yang sudah dimiliki Ruhisa? Kan lebih istimewa jika membeli barang yang belum dimiliki Ruhisa."
"Tapi di foto ini boneka kelincinya berwarna hitam. Nanti aku akan memberikannya yang warna putih."
"Ih gak kreatif banget sih jadi orang! Gini aja, aku punya ide yang jauh lebih baik."
"Apa itu?"
"Habisin dulu saja makananmu! Setelah itu baru aku kasih tahu."
Setelah selesai makan, mereka pun melanjutkan tujuan mereka yang sempat tertunda. Dan tanpa basa-basi lagi Nina pun membawa Ruiga ke toko aksesori yang sederhana. Di situ Ruiga nampak bingung karena Ruiga pikir ia akan dibawa ke toko yang lebih mewah.
"Kok ke sini sih?"
"Sudah diam jangan banyak tanya!"
Ruiga pun burut saja dengan apa yang dikatakan Nina. Ruiga membiarkan Nina yang membeli hadiah buat Ruhisa. Benda itu sudah dibungkus kado dengan rapi. Bahkan Ruiga pun belum sempat melihat isi dalam kado itu. Tapi Nina bilang ia punya rencananya sendiri. Jadi Ruiga dipaksa nurut sama rencana Nina.
Setelah hadiah telah dibeli, Nina segera mengajak Ruiga pulang untuk menyerahkan hadiahnya. Tapi setelah dipikir kembali sepertinya mereka tidak perlu pulang untuk menyerahkan hadiahnya karena orang yang bersangkutan sudah ada di sini.
"Eh Ruhisa!?" Ruiga terkejut dengan kehadiran Ruhisa di pintu masuk mall.
"Kebetulan banget dia ada di sini. Tuh berikan saja hadiahnya!" Kata Nina pada Ruiga.
"Kalian berdua ngapain ada di sini?!" Kata Ruhisa dengan wajah terkejut bercampur kesal.
"Aku dan kakakmu sedang mencari hadiah buat kamu...." Belum selesai Nina bicara, Ruhisa langsung memotong.
"Bohong! Pasti kalian berdua pacaran kan?! Ngaku deh!!!!"
Mendengar hal itu Ruiga dan Nina hanya bisa saling lirik. Mereka berdua memang ada saling ketertarikan, namun mereka berdua tidak pacaran.
"Kalau ngomong itu pakai otak dong! Mana mungkin aku pacaran sama perempuan ini. Lagipula aku sudah menyukai perempuan lain." Kata Ruiga.
"Kalau kalian tidak pacaran, ngapain kalian berduaan di sini?!"
"Kau ini budek ya? Kau tadi kan sudah dengar dari Nina..."
"Sudah jangan bertengkar! Cepat serahkan saja hadiahnya!" Kata Nina yang sudah muak dengan kata-kata si kembar.
Ruiga pun memberikan kado itu pada adiknya. Dan terkejutlah melihat kotak yang dibungkus kertas kado itu. Ruhisa nampak tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat itu. Masalahnya dalam ingatan Ruhisa baru kali ini ia mendapat kado dari kakaknya.
"Apa ini?"
"Kalau mau tahu buka aja." Kata Ruiga pada adiknya.
Bagaikan tak ada kata sabar, Ruhisa pun membuka kado itu dengan tergesa-gesa. Ruiga dan Ruhisa yang sama-sama tidak tahu isi kado itu hanya bisa terdiam setelah bungkus kado itu terbuka. Mereka nampak bingung.
Itu adalah sepasang gelang yang masing-masing gelang terdapat nama mereka berdua. Tentunya hal ini di luar dugaan Ruiga. Ruiga pikir Nina akan membeli sebuah kalung atau cincin gitu yang bentuknya agak feminin. Namun gelang yang dibeli ini tidak nampak feminin jika dipakai Ruhisa. Hal itu sengaja dilakukan oleh Nina agar gelang itu pantas dipakai oleh Ruhisa maupun Ruiga.
"Gelang tangan? Kenapa kakak beli dua? Kan satu saja sudah cukup? Lagipula gelangnya sama." Kata Ruhisa.
"Kakakmu beli dua karena yang satu lagi untuk dipakai kakakmu. Di gelang itu ada nama kalian, jadi kakakmu ingin kau memakai gelang yang ada nama kakakmu, sementara kau memakaikan gelang yang ada namamu di tangan kakakmu. Ruiga ingin mempererat ikatan persodaraan kalian." Kata Nina.
"Jadi selama ini kakak peduli?"
Lalu Nina pun memberi kode pada Ruiga agar ia memakaikan gelang itu ke tangan adiknya. Dan sebaliknya Nina juga memberi kode pada Ruhisa agar memakaikan gelang itu pada Kakaknya.
Ruhisa pun terlihat senang. Saking senangnya ia langsung memeluk kakaknya erat-erat di tempat itu. Ruiga pun merasa malu karena menjadi pusat perhatian karena tempat mereka berdiri itu berdekatan di pintu masuk.
"Sudah lepaskan! Gak malu apa dilihat banyak orang?!"
"Aku sayang kakak..."
__ADS_1
...****************...
"