Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Piknik Keluarga


__ADS_3

Rui dan Nina telah sadar. Mereka telah kembali mengontrol raga dan pikirannya. Kini keduanya saling merasa malu akibat perbuatan yang baru saja mereka lakukan. Dan rasa sedikit menyesal pun mulai terlintas di benak Nina.


Nina melihat ke wajah Ruiga cukup lama dengan tatapan yang membuat Ruiga terheran-heran. Ruiga sama sekali tidak mengerti apa maksudnya, tapi Nina mencoba menyadarkan Ruiga tanpa harus mengeluarkan kata.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Rui dengan nada heran.


"Rui, sepertinya yang kita lakukan tadi adalah salah." Kini mulai terlihat wajah sedih pada Nina.


"Salah? Kau menyalahkan aku?" Ruiga terkejut sambil mengerutkan alisnya.


"Tidak. Kita sama-sama salah. Maaf, tapi mulai hari ini kau jangan lagi datang ke sini! Kalau ada perlu kita ketemu di luar saja. Jangan sampai kita berduaan seperti tadi!"


Sambil menahan rasa kaget, Ruiga mencoba menenangkan pikirannya agar emosinya tidak bocor hingga meledak. Itu memang tidak mudah, namun Ruiga dapat meredamnya.


Ruiga merasa tidak terima jika dirinya disalahkan karena perbuatan mereka barusan. Sejak awal Rui hanya sekedar bercanda soal ciuman itu, namun Nina yang penasaran sekaligus terbawa suasana tanpa sadar telah melakukan ciuman itu. Sebenarnya mereka sama-sama menikmati. Hanya saja cara menyikapi mereka yang berbeda.


"Apa maksudnya kita sama-sama salah?! Yang ada kau yang salah! Dari awal aku bilang kan kalau aku cuma bercanda soal itu, tapi kau justru bilang tidak masalah karena kau sendiri juga ingin mencobanya!!"


"Itu sama saja! Kalau dari awal kau tidak memancingku soal itu, pasti aku juga tidak akan terbawa suasana seperti tadi! Sudahlah, intinya yang kita lakukan tadi tidak benar."


"Heh, jangan seenaknya bicara begitu! Kan yang duluan membahas soal ciuman itu kamu kan?!?!" Nada bicara Rui mulai keras.


"Sudahlah Rui! Jangan bahas ini lagi! Kita tidak ada waktu untuk bertengkar di sini. Mulai sekarang kita perlu saling mengontrol diri agar kejadian seperti tadi tidak terulang. Kita sudah dua kali bikin dosa. Yang pertama saat kita tidur berdua sambil pelukan di kamar. Yang kedua adalah ciuman yang barusan terjadi. Dan itu semua terjadi karena kau datang ke sini. Jadi.... "


"Aku paham. Aku tidak akan datang ke sini lagi atau menemuimu lagi. Itu kan yang kau mau?!"


"Eh bukan begitu....! Yang kumau hanya kita saling jaga sikap saja...."


"Tidak usah ditutup-tutupi lagi! Perkataanmu yang tadi bagiku sudah cukup jelas! Kau benci aku dan kau menyalahkanku atas perbuatan yang sama-sama kita lakukan. Dan bagimu aku ini cuma pembawa dosa gitu kan?!"


"Hei aku kan tidak menyalahkanku saja! Tapi kita berdua sama-sama salah. Ayolah bukalah pikiranmu! Harusnya kau tahu jika perbuatan kita tadi salah." Nina mencoba tetap tenang tanpa harus membalas Ruiga dengan emosi yang sama.


"Iya, iya salah, semua salah! Kalau kau ingin aku tidak menemuimu lagi, maka hal itu akan kulakukan. Dan asal kau tahu saja, aku sudah sering diperlakukan seperti ini. Kau sama saja seperti mereka yang langsung membuangku begitu aku sudah tidak dibutuhkan..."


Nina yang mulai kesal dengan ocehan Ruiga yang terdengar kasar, kini Nina ikut terbakar hatinya. Ruiga terlalu berlebihan menanggapi perkataan Nina hingga dia salah mengerti apa yang dimaksud oleh Nina.


"Jangan kau samakan aku dengan mereka! Bisa-bisanya kau berkata begitu setelah apa yang kau lakukan padamu?! Kalau aku sama seperti mantan temanmu yang hanya memanfaatkan kamu, mana mungkin aku rela datang ke sini demi kamu!?!! Mikir dikit dong jadi orang!! Aku ini peduli kamu dan aku ingin kau kembali ke bumi bersamaku, tapi sikapmu padaku justru kaya gitu!" Kata Nina dengan amarah yang meledak-ledak.


Meski mendapat ceramah dari Nina, namun hal itu tidak merubah anggapan Ruiga pada Nina. Ruiga pikir Nina tetap sama dengan mantan kawannya dulu yang hanya memanfaatkannya kemudian pergi. Ruiga begitu bukan tanpa alasan, tapi karena kejadian seperti itu terlalu sering terjadi sewaktu kecil hingga ia SMA.


"Cukup! Aku tak mau dengar apa-apa lagi darimu. Sesuai perkataanmu aku akan pergi. Lebih baik kau pulang saja ke dunia sana tanpa aku! Akan kucari sendiri cara untuk kembali pulang!" Ruiga pun keluar dari rumah Nina.


Nina yang juga terlanjur kesal pun membiarkan saja Ruiga pergi. Nina tak menyangka perkataannya barusan telah memulai pertengkaran seperti ini.


...****************...


Sesampai di rumah Ruiga langsung menuju kamar, kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di kasur yang empuk. Rasa mangkel di hati masih menyelimutinya hingga yang ada di pikirannya hanya ingin marah saja.


Cukup lama Ruiga berdiam diri di kamar tanpa melakukan apa pun. Benar-benar tidak melakukan apa pun di dalam kamar. Ia cuma berbaring di kasur dengan posisi tengkurap dan kepalanya menghadap ke kiri.


Pukul 23.21Ruiga masih melek. Kini dirinya duduk di pinggir ranjang dengan ekspresi wajah sedang berpikir. Dan tiba-tiba....


"Kak, kakak belum tidur?" Suara imut itu bersumber dari anak perempuan yang berdiri di depan pintu kamar Ruiga. Dia adalah Ruhisa.


"Apa maumu?!" Kata Ruiga yang nada bicaranya terdengar jahat. Seketika saja Ruhisa langsung memasang wajah takut dan heran.


"Ih kakak kok kasar gitu menjawabnya? Padahal akhir-akhir ini kakak sudah mulai ramah padaku."


"Maaf." Kata Ruiga yang nada bicaranya sudah mulai tenang.


"Kakak sedang gak enak hati?"


"....." Ruiga tak menjawab.


"Mau cerita sama Ruhi?"


Ruiga cuma menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak.


"Ya sudah. Ngomong-ngomong kenapa kakak tidak tidur?"


"Sebentar lagi mau tidur." Jawab Ruiga dengan nada datar.


"Oh begitu. Boleh kan aku tidur bareng kakak malam ini?"


Seketika saja Ruiga langsung menolak hal tersebut. Namun kali ini Ruiga tidak kebawa amarah ketika menyikapi itu.


"Jangan konyol! Mana boleh kau tidur di sini!"

__ADS_1


"Tapi aku takut tidur sendirian kak..."


"Biasanya kan kau juga tidur sendirian dan kau biasa saja. Dan sekarang kenapa kau malah takut? Itu cuma alasanmu saja kan?!"


"Tapi dulu kan kita selalu tidur bersama...."


"Bisa gak sih kau jangan bawa-bawa masalalumu yang tidak nyata itu!"


"Apa maksud kakak tidak nyata? Itu sungguh terjadi dan aku ingat betul kejadian dulu!"


"Ya ya ya terserah. Intinya kau tidak boleh tidur di sini!" Kata Ruiga dengan nada tegas. Tetapi Ruhisa tetap tidak menyerah untuk membujuk kakaknya.


"Ayolah kak! Ruhi kangen tidur bersama kakak lagi. Sejak kita dibikinin kamar sendiri-sendiri oleh ayah, aku selalu kesepian saat tidur di kamar. Selama ini aku menahan rasa kesepian itu sendiri."


"Aku tidak peduli apa alasanmu!" Ruiga tetap kekeh dengan pendiriannya.


"Kakak tidak mau tidur sama aku?"


"Tidak!" Jawab Rui dengan cepat.


"Tapi kenapa kakak mau tidur sama Nina?"


Seketika saja jantung Ruiga meloncat kaget. Ruiga panik seketika saat Ruhisa mengatakan itu. Ruiga tak sanggup menjawab dan tak tahu harus berkata apa pada Ruhisa.


"Bagaimana bisa Ruhisa tahu soal itu? Aku bisa pastikan kalau Ruhisa tidak ada di tempat kejadian. Apalagi aku dan Nina kan tidur di kamar dalam, jadi mana bisa orang lain bisa melihat kami tidur berduaan?!" Kata Ruiga dalam hati.


"Ini tidak adil...! Kenapa kakak mau tidur bareng Kak Nina, tapi kalau sama adiknya sendiri tidak mau?!" Kata Ruhisa dengan ekspresinya yang kesal.


"Keluar sekarang!" Kata Ruiga sambil mendorong adiknya hingga keluar dari kamarnya. Dan tanpa mengatakan apa-apa lagi Rui langsung menutup kamarnya rapat-rapat tanpa lupa mengunci.


Tidak ada perlawanan dari Ruhisa saat itu walau di wajahnya terlihat kecewa. Namun di situ Ruiga cemas apabila Ruhisa mengadukan hal ini pada orangtuanya. Tentunya hal ini akan memperburuk keadaan.


Tak berasa waktu berlalu dengan cepat. Kini sudah pukul 01.12 dini hari. Rasa kantuk pun terasa dan Ruiga pun ingin mencoba tidur.


...****************...


Pukul 6.00 pagi tepat Ruiga terbangun dengan sendirinya. Karena hari ini adalah hari minggu, jadi dia tidak perlu repot untuk bersiap-siap berangkat sekolah.


Selama beberapa detik Ruiga terbaring di kasur, kini tiba-tiba Ruiga teringat dengan rencana Nina yang belum dilakukan. Itu adalah rencana piknik keluarga untuk menunjukan pada Reiga dan Liliya bahwa sang kakak sudah menerima takdirnya.


"Seharusnya mereka tidak ke kantor hari ini."


Ruiga segera keluar dari kamar. Kemudian dia menuju ke dapur karena biasanya kedua orangtuanya selalu di sana ketika pagi hari. Dan sesuai dugaan mereka berdua berada di dapur.


"Oh kau bangun pagi Ruiga. Tumben kau cepat bangun?" Kata Reiga.


"Sepertinya anak kita sudah mulai berubah Yah." Kata Liliya yang waktu itu sedang mengolesi selai stroberi ke roti.


"Untung kalian tidak ke kantor hari ini."


"Lah memang kenapa kalau kami ke kantor?" Tanya Reiga.


"Aku ingin hari ini kalian tidak sibuk mengurus urusan kerja."


"Kenapa tiba-tiba kau berkata begitu?" Liliya heran.


"Duduklah dulu! Jangan berdiri sambil bicara! Di meja ada banyak sarapan. Makanlah bersama kami!"


Ruiga pun melakukan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Pada saat itu Ruiga masih canggung untuk mengatakan tujuannya.


"Kenapa sekarang diam? Ibu pikir Rui mau mengatakan sesuatu..." Kata Liliya.


"Ayah harap kau tidak mengatakan hal yang membuat kami marah."


"Eh anu... Aku ingin pagi ini kita pergi piknik."


"Piknik? Tapi kenapa tiba-tiba?" Liliya tersenyum.


"Sejak kapan kau tertarik dengan piknik? Biasanya di hari libur kau cuma main game seharian di kamar." Kata Reiga.


"Intinya kalian mau gak piknik hari ini?" Kata Ruiga.


Liliya dan Reiga pun cuma bisa saling melirik tanpa berkata. Selama beberapa detik kemudian barulah mereka mengiyakan ajakan dari putranya.


"Baiklah, selagi kami sedang tidak bekerja." Kata Reiga.


"Ibu juga setuju. Tapi coba bangunkan Ruhisa sekarang! Dia harus di sini untuk membahas tempat tujuan piknik." Kata Liliya.

__ADS_1


"Dia belum bangun?" Tanya Ruiga.


"Belum. Jika dia sudah bangun pasti dia sudah menyapa kami duluan dari tadi. Bangunkan dia!" Kata Reiga.


Sebenarnya Ruiga merasa keberatan jika harus menemui Ruhisa saat itu. Itu karena dia masih kesal pada Ruhisa yang semalam memaksa untuk tidur di kamarnya. Selain itu Ruhisa juga mengetahui rahasia Ruiga yang tidak boleh orangtuanya tahu.


Tiada pilihan Ruiga pun terpaksa menuju kamar Ruhisa yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya. Di sana Ruiga langsung mengetuk pintu kamar Ruhisa dengan keras. Sayangnya Ruiga tidak mendapat respon.


"Hoi Ruhisa! Bangun Woi!!" Kata Ruiga sambil menggedor pintu kamar.


Tetapi ternyata pintu tidak dikunci. Rui pikir Ruhisa sudah bangun tapi Ruhisa sedang tidak ada di kamar. Untuk memastikannya Ruiga mencoba menengok ke dalam.


Ini adalah pertama kalinya Ruiga melihat isi kamar Ruhisa secara menyeluruh. Dia kaget melihat isi di dalamnya yang begitu indah dan rapi dipandang mata. Dan yang paling mengejutkan adalah di dinding kamar Ruhisa terdapat banyak foto masa kecil mereka dari balita hingga SMA.


Tanpa disadari Ruiga, Ruiga telah masuk ke dalam. Di sana Ruiga melihat satu persatu foto di situ. Di dalam foto tersebut mereka terlihat bahagia. Sebuah senyuman itu begitu menyentuh hati Ruiga begitu Ruiga melihat foto itu.


Ruiga pun sadar tujuan dia ke situ bukan untuk main-main, tapi untuk mencari Ruhisa. Ruhisa ada di kamarnya. Ruiga tadi tidak menyadari keneradaannya karena perhatiannya tertuju pada kumpulan foto di kamar Ruhisa.


"Woi bangun!" Kata Ruiga dengan keras.


Tidak ada respon dari Ruhisa. Dia terlihat terlelap di bawah selimutnya yang tebal dan berwarna biru langit.


Ruiga pun mencoba menggoyangkan tubuh Ruhisa agar terbangun, namun hal itu percuma. Ruhisa tahu jika dirinya sedang dibangunkan, tapi dia sengaja tidak mau bangun entah kenapa.


"Dih, sebenarnya kau ini sudah bangun kan?!"


"Aku masih ingin tidur." Jawab Ruhisa.


"Ini sudah pagi. Ayah dan ibu ingin kau bangun!"


"Satu jam lagi aku bangun."


"Kenapa sih kau ini?! Biasanya kau selalu bangun lebih awal dariku. Tapi kenapa hari ini kau malas-malasan?!" Nada bicara Ruiga mulai meninggi.


"Bodo amat! Keluar dari kamarku!" Kata Ruhisa dengan nada mengusir.


Akhirnya Ruiga paham. Ruhisa marah sama Ruiga karena semalam Ruhisa tidak boleh tidur bersama kakaknya.


"Kau marah soal kejadian semalam?"


"Gak!"


"Ayolah bangun! Hari ini kita akan piknik keluarga. Yakin tidak mau ikut?"


"Tidak!"


Ruiga heran karena tidak biasanya Ruhisa menolak ketika diajak pergi, terutama ketika perginya bersama kakaknya.


"Apa maksudmu tidak?! Aku sudah susah payah bikin acara ini, ayah dan ibu juga sudah terlanjur setuju. Pokoknya kau harus ikut!!" Kata Ruiga sambil menarik selimut yang dikenakan Ruhisa.


Jeng Jeng...!!! (Ruiga kaget bukan main!)


Ternyata di balik selimut tebal itu Ruhisa tidak memakai apa-apa. Ruhisa bertelanjang bulat di atas kasur. Tubuh mungilnya terlihat jelas tanpa pakaian. Kedua mata Ruiga pun melotot kaget karena ini.


"Ih senang banget sih kamu telanjang?!?! Cepat pakai pakaianmu!!" Bentak Ruiga pada adiknya.


"Ih kakak mesum."


"Siapa yang mesum?! Lagian mana kutahu kalau kau tidak pakai pakaian di balik selimut itu!!"


"Lah aku kan memang sering gak pakai baju kalau tidur."


Ruiga pun segera melemparkan selimut itu kembali ke tubuh Ruhisa agar kedua matanya tidak tergoda untuk melirik ke bagian intim adiknya.


Ini memang bukan yang pertama kalinya Ruiga melihat Ruhisa telanjang, tapi di situasi seperti ini tidak bagus, apalagi jika kejadian ini dilihat orang ketiga.


"*****! Apa enaknya coba tidur gak pakai baju?"


"Coba saja sendiri bagaimana rasanya!"


"Terserah kau deh. Aku tunggu di bawah. Pokoknya kau harus menyusul ke bawah! Ini penting. Kita berempat harus piknik hari ini."


"Gak salah nih kakak mengajak kami piknik? Kakak tidak kerasukan kan?"


"Kau pikir aku main-main?" Kata Ruiga yang menunjukkan wajah serius.


Ruhisa hanya tersenyum kecil melihat wajah serius kakaknya. Tanpa bersuara Ruhisa memberi tanda bahwa dirinya bersedia ikut piknik keluarga.

__ADS_1


Ruiga telah keluar meninggalkan kamar adiknya, sementara Ruhisa segera membuka lemari baju untuk dikenakan hari ini.


...****************...


__ADS_2