Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Libur Sekolah


__ADS_3

Ruiga POV


Sudah memasuki hari yang ketiga namun entah kenapa aku belum juga memasuki hari-hari di sekolah. Kata orang di sini sekolah diliburkan. Dan ketika aku cek di kalender, ternyata selama empat hari berturut-turut memang libur alias tanggal merah. Namun anehnya di kalender tidak dijelaskan alasan kenapa diliburkan.


Lucu rasanya tiba-tiba aku jadi peduli soal sekolah. Padahal biasanya aku sangat senang jika hari sedang libur. Biasanya ketika libur aku bisa main game sebisanya di kamar, atau menghabiskan sisa hatiku untuk browsing internet. Tapi karena keadaan di dunia ini tak sama seperti di dunia nyata, maka aku tidak begitu betah lama-lama di rumah.


Di dunia ini orangtuaku sangat membatasiku. Hal ini sangat berlainan dengan orangtuaku di dunia nyata yang cenderung membebaskan aku asal tidak kebablasan. Di sini saja main game konsol maksimal cuma 3 jam. Jika lebih dari itu mereka akan memarahiku, dan parahnya mereka mengancam akan menghukumku.


Jika di dunia nyata kedua orangtuaku selalu rutin berangkat kerja hingga pulang kadang kemalaman, tapi di sini mereka tidak begitu. Di sini mereka lebih santai bekerja. Jadi mereka bisa mengerjakan pekerjaannya dari rumah karena merekalah yang mempunyai perusahaannya. Intinya mereka tidak wajib datang ke kantor tiap hari, kecuali jika ada hal penting.


Mereka lebih memprioritaskan aku dan Ruhisa. Tiap harinya mereka selalu menanyakan banyak hal yang menurutku tidak penting atau bertele-tele. Dan yang paling kubenci mereka selalu memojokkanku soal masalah Ruhisa. Misalnya mereka bilang, 'jadi kakak itu harus bisa menjaga adiknya. Jadi kakak itu wajib menyayangi adiknya. Jangan bikin adikmu sedih! Awas jika Ruhisa menangis gara-gara kamu! Pokoknya kalau Ruhisa terluka, ibu akan menghukummu!' Itulah sebagian kecil hal yang paling tidak ingin aku dengar.


Ini sebabnya aku tidak ingin punya adik. Pada akhirnya seorang kakaklah yang akan disalahkan dan dituntut macam-macam. Yang aku alami saat pasti akan terjadi di dunia nyata. Atau bahkan lebih buruk lagi dari ini.


Baru tiga hari menjadi kakak tapi jiwaku sudah dipenuhi rasa tidak betah. Apalagi jika keberadaanku di sini sampai setahun. Apakah aku sanggup? Apakah sampai mati aku akan tetap di sini? Dan apakah jika aku sudah berada di dunia nyata, kehidupanku akan berbeda dengan yang ini?


"Wah wah wah. Sepertinya kau sudah mencoba berdamai dengan dunia ini." Tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku. Tidak usah ditanya siapa dia! Siapa lagi kalau bukan Zelus si dewa Kampret.


"Bisa tidak sih kalau datang jangan mengejutkan gitu!" Padahal aku baru adik berbaring di kamar sambil melamun. Eh tiba-tiba dia muncul.


"Kalau kau tadi tidak melamun pasti kau tidak kaget dengan kehadiranku."


"Terus mau apa kau ke sini? Mau membantingku ke tembok lagi?" Kataku agak bolot dikit. Tapi dia malah nyengir menanggapiku.


"Hahahaha. Rupanya kau ini pendendam ya. Aku kan sudah minta maaf soal itu."


"......."


"Jangan pasang wajah seperti itu! Aku tahu kau kesal karena kubawa keduniaan alternatifku. Tapi ini semua adalah kesalahanmu sendiri. Waktu itu aku telah memberimu kesempatan untuk minta maaf pada orangtuamu dan memperbaiki dirimu. Tapi waktu itu kau justru menentang dan menolak takdirmu sebagai kakak."


"Daripada membahas itu, kenapa kau tidak memberitahuku cara agar aku bisa keluar dari sini?!"


"Harus kubilang berapa kali? Satu-satunya cara hanyalah dengan kau menerima takdirmu sendiri. Itu jalan keluarnya."


"Bagaimana caraku agar kau percaya kalau aku sudah menerima takdirku? Masalahnya kau tidak percaya kalau aku sudah menerima takdirku."


"Kau mungkin bisa membohongi manusia, tetapi kau tidak bisa bohong pada dewa. Aku tahu isi hatimu. Yang kau ucapkan tak sinkron dengan hati dan perasaanmu."


"Terus bagaimana kau tahu aku sudah menerima takdirku atau tidak jika kata-kataku kau anggap bohong?!" Kataku dengan nada kesal.


"Sudah kubilang kan, aku bisa membaca perasaanmu. Jika kau tetap ngotot sudah bisa menerima takdirmu sebagai kakak, maka buktikanlah padaku dengan tindakan, bukan dengan kata-kata! Kau tidak perlu bilang padaku kalau kau sudah menerima takdirmu. Cukup lakukan saja hal-hal yang dilakukan seorang kakak pada adiknya! Sampai di sini seharusnya kau paham."


Jadi maksudnya aku harus memperlakukan Ruhisa sama seperti orang lain ketika mengurus adiknya? Yang benar saja?! Ini merepotkan. Yang dikatakan oleh Zelus barusan tidak ada bedanya dengan apa yang dikatakan orangtuaku di dunia ini. Hanya saja di sini Zelus mengatakan dengan cara yang halus.


Sebenarnya Ruhisa itu bukan adik yang nakal. Hanya saja aku masih belum terbiasa dengan kehadirannya yang awalnya tidak bisa kuterima. Walau moodku awalnya baik, tapi jika tiba-tiba Ruhisa muncul, maka seketika mood-ku langsung hancur. Rasanya kalau berada di dekat dia hati ini panas ingin marah. Itu terjadi setelah aku tahu jika posisi Ruhisa di sini adalah sebagai adik kembarku.


Baru ditinggal melamun sebentar dia sudah pergi entah sejak kapan. Sekarang aku sendirian di kamar. Dan lama kelamaan rasa jenuh pun tiba. Rasanya dada ini sesak oleh udara di sini. Ternyata ini merupakan tanda bahwa ragaku butuh udara segar dari luar.


...****************...


Keesokan harinya tubuhku terasa dipegang-pegang. Beberapa detik kemudian terdengarlah suara yang memanggilku.

__ADS_1


"Kak bangun kak! Ayo bangun! Sudah pagi, nanti kita terlambat." Kata suara perempuan itu.


Aku kira suara itu adalah suara ibuku karena cuma ibuku saja yang sering membangunkanku ketika aku telat bangun. Namun setelah aku membuka mata, ternyata itu adalah Ruhisa.


Aku terkejut padanya karena pagi itu dia berpenampilan beda dari sebelumnya. Dia mengenakan seragam SMA. Lalu teringatlah diriku jika waktu libur selama empat hari itu sudah usai.


"Iya aku sudah bangun. Sekarang keluarlah!" Kataku masih dengan wajah mengantuk.


"Apanya yang sudah bangun? Kedua mata kakak saja kaya masih sulit gitu dibuka. Sekarang buruan mandi!" Kata Ruhisa sambil menarik tanganku agar aku bangkit dari ranjang.


"Tunggu dulu! Kenapa kau bisa masuk ke kamarku?"


"Kakak kan memang jarang mengunci pintu. Bahkan hampir tidak pernah mengunci."


Aku yang sudah tahu jika pagi itu sudah jam enam lebih, maka segeralah aku mengambil handuk yang tergantung di dinding. Kemudian aku berjalan ke kamar mandi yang sudah ada dalam kamarku.


Aku tidak begitu lama di dalam kamar mandi. Ya itu karena aku tidak sabaran untuk kembali ke sekolah. Jujur aku sangat penasaran apakah keadaan di kelas tetap sama seperti di dunia nyata atau beda. Dan apakah sifat mereka kepadaku juga beda atau mereka tetap sama mata duitan?


Pokoknya di dalam kamar mandi aku cuma sabunan dan gosok gigi tanpa perlu keramas. Namun hal yang mengkagetkan dan bikin kesal justru terjadi setelah aku keluar dari kamar mandi.


"Ngapain kau masih di sini!? Cepat keluar!!" Kataku agak kasar.


"Eh tapi kan aku nungguin kakak. Karena kita nanti juga berangkat sekolah bareng."


"Hah bareng? Kenapa harus bareng?" Kataku dengan heran.


"Kita kan satu sekolah, satu kelas, dan satu bangku." Kata Ruhisa yang sama herannya denganku.


Jika suatu hari aku punya anak kembar, gak mungkin aku memperlakukan sama dalam tiap hal sampai segitunya. Meski terlihat sama tapi orang kembar itu juga memiliki perbedaan. Mereka tak selamanya akan bersama. Suatu ketika mereka akan menikah dan memiliki keluarga masing-masing.


"Sudah cukup melamunnya! Cepat pakai seragam kakak!" Kata Ruhisa yang menyadarkanku dari lamunan.


"Bagaimana aku bisa berpakaian jika kau masih berada di sini?! Cepat keluar! Aku mau pakai baju!" Bentakku kepadanya. Saat itu aku telanjang dada dan hanya mengenakan selembar handuk biru yang melilit bagian bawahku.


"Kalau mau pakai baju kan tinggal pakai saja. Tidak perlu aku keluar." Kata Ruhi dengan polosnya.


"Sekarang aku mau tanya. Memang kau tidak malu kalau orang lain melihatmu yang sedang pakai baju?"


"Malu sih, tapi jika orang itu adalah kakak, maka aku tidak keberatan. Lagipula dulu kita juga pernah mandi bareng, tapi kita sama-sama tidak malu."


Mandi bareng? Yang benar saja!


Aneh saja. Zelus bilang umur dunia ini belum ada seminggu, tapi kenapa para penghuninya terutama Ruhisa memiliki ingatan seolah-olah mereka sudah bertahun-tahun hidup di dunia ini?


Ah daripada pusing memikirkan itu, lebih baik aku memikirkan cara agar Ruhi mau keluar dari sini. Yang benar saja aku telanjang di depan dia. Dulu aku memang pernah mandi bareng dengan perempuan dan aku tidak malu, tapi sekarang aku sudah besar. Mana mungkin aku berani telanjang di depan perempuan meski itu adalah adik kembarku di dunia ini.


Sebenarnya aku bisa saja mengusir Ruhisa dengan cara kasar atau langsung menyeret dia keluar dari kamarku. Tapi jika hal itu dilakukan sangat berisiko. Risikonya ialah dia akan mengadu ke orangtua dan ujung-ujungnya aku yang disalahkan. Selain itu entah di mana si dewa Kampret itu pastinya sedang mengawasiku. Jika aku tetap bersikap kasar padanya, maka si Zelus tidak mempercayaiku jika aku sudah menerima takdirku.


Sebenarnya ini merepotkan. Bersikap sok baik pada seseorang bagiku sangat melelahkan. Itu karena aku tidak suka kepalsuan. Terutama pada dunia ini yang penuh kepalsuan. Semuanya palsu dan hanya diriku yang ada di sini. Tapi apa boleh buat? Seperti yang pernah dikatakan oleh Zelus, kadang paksaan itu perlu dilakukan demi terciptanya sebuah dampak baik.


"Sekarang gini ya. Kita ini beda jenis kelamin. Baik perempuan maupun laki-laki tetap tidak boleh melihat orang telanjang meskipun mereka adalah kakak-adik. Hal itu dilarang, kau mengerti?" Kataku yang mencoba bersikap halus.

__ADS_1


"Hm iya." Jawab Ruhi sambil menganggukkan kepalanya.


"Kalau sudah mengerti ngapain masih di sini?" Kataku dengan nada menyindir.


Aku sudah kehabisan kesabaran. Entah apa motivasinya tetap ngotot di sini, yang jelas aku gak ada waktu buat basa-basi. Langsung saja aku dorong dia hingga keluar dari ruangan. Tidak ada perlawanan dari Ruhisa. Dia pasrah saja kudorong tubuhnya secara perlahan hingga keluar ruangan.


Tapi ada yang aneh dengan ekspresinya. Aku tidak tahu itu ekspresi tersenyum atau terkejut. Seolah-olah keduanya telah bercampur menjadi satu. Lalu tak lama kemudian terdengar bunyi langkah kaki yang mendekat. Aku kenal orang itu. Dia adalah Mbok Inah kepala pembantu di sini. Dan ternyata dia juga berekspresi aneh melihatku.


Sebenarnya ada apa dengan mereka? Kenapa mereka memasang wajah aneh ketika menatapku?


"Ih... Nak Ruiga kenapa telanjang di luar kamar? Hal malu sama adikmu? " Kata Mbok Inah dengan nada setengah menjerit sekaligus kaget.


Hah telanjang? Kan aku cuma telanjang dada. Memang apa masalahnya?


"Kak coba lihat ke bawah!" Kata Ruhi sambil menahan senyum.


Aku pun. melakukan apa yang dikatakan Ruhisa. Dan betapa kaget dan maunya aku ketika aku tahu kalau ternyata aku sedang telanjang bulat di depan dua perempuan. Entah sejak kapan handukku lepas dari lilitan badanku. Dan bodohnya kenapa aku bisa tidak kerasa ketika handukku lepas? Ini konyol sekaligus memalukan. Pantas saja ekspresi mereka aneh gitu, terutama Ruhisa.


Spontan saja aku langsung berlari ke dalam lalu mengunci pintu rapat-rapat. Teringat waktu makin menipis, aku pun langsung saja segera memakai pakaian dan menyiapkan isi ransel buat sekolah.


Ketika aku sudah berpakaian lengkap dengan ransel yang kugendong, aku pun memberanikan diriku untuk keluar kamar. Dan sesuai dugaanku Ruhi masih ada di sana menungguku keluar.


Begitu melihatku keluar dari kamar, ekspresi yang sama seperti sebelumnya masih terlihat jelas di wajahnya. Itu kesannya seperti sedang mengejekku karena aku tanpa sengaja telanjang di depannya. Tapi di situ aku masih mencoba untuk sabar.


Ekspresi seperti itu tetap ada sampai aku dan dia memasuki mobil yang ternyata disupiri oleh ayahku. Aku kira ayah sudah berangkat kerja bareng ibu. Ternyata cuma ibu yang ke kantor.


"Lama sekali sih kalian di dalam!? Tahu gak jam berapa sekarang?!" Kata ayahku dengan nada marah. Gak ibu gak ayah keduanya suka marah-marah. Padahal ketika awal aku datang ke dunia ini mereka terlihat kalem dan tak berpotensi galak gitu.


"Maaf Yah, kakak tadi susah dibangunin. Dan tadi terjadi kecelakaan di dalam kamar." Kata Ruhisa yang masih dengan ekspresinya yang aneh.


"Kecelakaan? Maksudnya kakakmu kejedot pintu kamar?" Kata ayah dengan heran.


"Bukan. Tapi kakak tadi......" Belum selesai Ruhisa ngomong, aku langsung menutup mulut Ruhisa dengan telapak tanganku secara spontan.


"Bukan apa-apa. Ayo cepat jalan! Nanti kita telat." Kataku pada ayah. Dan ayah pun terlihat tak begitu peduli. Dan mobil ini pun berjalan dengan keempat rodanya.


Lalu tanpa sepengetahuan ayah aku membisukan sesuatu pada Ruhi: "Jangan sampai kejadian tadi diketahui oleh orang lain terutama ayah dan ibu! Pokoknya awas jika ada yang sampai tahu!!" Ruhisa pun diam sambil menganggukkan kepalanya.


Ruhisa terlihat seperti anak penurut. Tapi aku masih belum bisa mempercayai sepenuhnya karena aku kenal dia belum genap seminggu.


Sebenarnya punya adik tidak masalah sih jika sifatnya penurut dan tidak membebaniku. Tapi yang menjadi masalah adalah sikap orangtuaku yang terlalu menuntut banyak hal padaku hanya karena aku ini seorang kakak.


Walau sikap orangtuaku di dunia nyata tidak seperti ini, namun bisa saja sikap mereka akan berubah setelah adikku di dunia nyata lahir. Selama hal itu belum terjadi maka apa pun mungkin terjadi.


Dan akhirnya setelah beberapa saat mobil ini berjalan, kini kami telah sampai ke sekolahan kami. Hanya saja aku merasa asing dengan tempat ini. Ini bukan sekolah yang seperti di duniaku. Ternyata dunia alternatif ini juga merubah banyak tempat yang tak hanya merubah tempat di wilayah komplek tinggalku saja.


Bukan masalah sih aku bersekolah di mana. Asalkan aku nyaman dan berada di lingkungan yang baik aku pun terima. Jika tempat sekolahku saja berbeda dengan dunia nyata, maka seharusnya kehidupannya di sekolah ini juga berbeda, dan orang-orang yang ada di sekolah ini juga beda.


Lokasinya sama tapi bentuk bangunan dan nama sekolahnya beda. Di sana tertulis 'SMA SASUGARA RR.' Nama SMA itu sama dengan nama marga keluargaku. Apakah ada hubungan antara keluargaku dengan SMA ini?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2