Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Dunia Penuh Kepalsuan


__ADS_3

Ruhisa tak ada hentinya memutar pikirannya. Rasa heran dan aneh itu telah bercampur menjadi satu. Dalam hatinya dia selalu menangisi perubahan sifat kakaknya.


Walau umur yang sebenarnya belum ada satu minggu, tetapi dalam pikiran Ruhisa dia telah hidup selama belasan tahun bersama keluarga dan sodara kembarnya. Pola pikirannya itu sudah diatur oleh Zelus. Ingatan palsu telah ditanamkan ke semua replika manusia di dunia alternatif.


Meskipun hanya replika atau tiruan manusia, tetapi kesadaran dan perasaan mereka itu nyata selayaknya manusia pada umumnya. Mereka juga punya emosi dan kepribadian walau tidak semuanya persis dengan kepribadian manusia di dunia nyata.


Sebagian besar aktivitas dan pikiran mereka memang sudah diatur oleh Zelus, namun ada kalanya juga para manusia tiruan itu melakukan sesuatu di luar kehendak Zelus, terutama Ruhisa yang merupakan salinan jiwa dari manusia dunia nyata.


Di sini Ruhisa paling istimewa karena dia tercipta dari salinan jiwa Ruiga. Bisa dikatakan jika Ruiga dan Ruhisa itu adalah orang yang sama. Hanya saja di sini Ruhisa telah dimodifikasi oleh Zelus karena beberapa alasan. Maka dari itulah peran Ruhisa di sini adalah sebagai kembaran Ruiga.


Sama halnya dengan Ruiga yang sulit diatur, Ruhisa pun juga demikian. Itu dikarenakan mereka adalah satu jiwa yang dipisahkan. Walau sebagian sifat telah dirubah dari Ruhisa, tapi beberapa sifat asli yang berasal dari Ruiga masih ada dalam diri Ruhisa.


Dari awal Zelus tidak memberi perintah pada Ruhisa untuk selalu berada di sisi kakaknya. Ruhisa melakukan itu atas kehendaknya sendiri. Ya mungkin karena mereka berdua adalah satu dari awalnya, makanya keduanya susah dipisahkan.


Setelah kepulangannya dari rumah Nina, Ruhisa sendirian di kamarnya. Yang bisa ia lakukan di sana hanya menangis tanpa bersuara, sambil sesekali membayangkan masa-masa indah di masa lalu.


Kemudian perhatian Ruhisa tertuju pada sebuah foto yang dia pasang di atas meja belajarnya. Itu adalah foto Ruhisa dan Ruiga semasa kecil. Di foto itu keduanya sulit dibedakan. Ya itu karena di umur itu rambut Ruhisa belum sepanjang sekarang dan pakaian mereka juga sama persis yaitu mengenakan kaos bolong warna merah dan celana kolor panjang. Umur mereka saat itu adalah empat tahun.


Ruhisa pun mengambil foto itu kemudian ia pandang sejenak. Tak lama kemudian dia memeluknya dan berkta: "Aku ingin kita seperti dulu lagi.


Cukup lama Ruhisa menangis di dalam kamar. Kini senja telah menjadi malam. Ruhi pikir jam segini kakaknya sudah kembali pulang. Namun ketika Ruhisa mengecek ke kamar Ruiga, ternyata tak ada siapa pun di sana. Sudah menjadi kebiasaan Ruiga yang jarang mengunci pintu kamarnya.


Lalu Ruhisa pun turun ke lantai bawah. Dan di sanalah ia menjumpai ibunya yang baru pulang dari kantor. Tapi Ruhisa merasa aneh karena dirinya tidak merasakan tanda-tanda kepulangan ayahnya.


"Hei kenapa kau terlihat sedih?"


"Ayah mana?"


"Hari ini ayah lembur."


"Loh jadi tidak pulang?!"


"Pulang kok. Tetapi pulangnya agak telat."


Ruhisa berjalan secara pelan ke arah ibunya. Setelah agak dekat dia langsung menyambar tubuh ibunya kemudian memeluknya erat-erat.


"Eh kenapa?" Liliya pun terkejut.


"Aku kangen kakak." Kata Ruhisa dengan nada sedih.


"Kangen? Kalian kan setiap hari bertemu?"


"Aku kangen kakak yang dulu." Jawab Ruhisa.


Lalu Ruhisa dituntun menuju ke kursi sofa tempat yang biasa dipakai untuk bertamu. Di sana Liliya akan menjelaskan sesuatu.


"Ibu juga heran. Sebenarnya ada masalah apa di antara kalian? Apakah kau telah berbuat salah pada kakakmu?"


"Hm, aku tidak tahu. Aku tidak merasa melakukan kesalahan. Biasanya kakak tidak pernah marah padaku."


"Ini aneh. Apakah kau sudah menanyakan kesalahanmu pada kakakmu?"


"Sudah. Kakak bilang kelahiranku adalah kesalahan terbesar."


"Ruiga benar-benar kelewatan." Kata Liliya dalam hati.


Beberapa menit kemudian terdengarlah suara pintu terbuka. Dari pintu itulah muncul sosok yang baru saja dibicarakan. Ialah Ruiga yang terlihat cemberut dan pakaiannya terlihat kotor. Ruiga seperti habis berguling-guling di atas tanah lebut hingga membuat pakaiannya kotor.

__ADS_1


Dengan santainya Ruiga berjalan melewati ibu dan adiknya tanpa harus bertegur-sapa. Liliya yang merasa diabaikan pun langsung memanggil Ruiga dengan nada keras. Sontak saja Ruiga dan Ruhisa terkejut olehnya.


"Ruiga!!"


Ruiga hanya menoleh sedikit ke arah Liliya. Tapi setelah Ruiga melihat wajah ibunya yang terlihat marah, Ruiga pun langsung mendekat ke arah ibunya.


"Dari mana saja kau?!"


"Aku tidak mau memberitahu." Jawab Ruiga sambil melirik ke arah lain.


Merasa mendapatkan jawaban yang tidak berkenan, Liliya pun menginjak kaki Ruiga hingga Ruiga menjerit kesakitan.


Ruiga yang mendapat perlakuan seperti itu sama sekali tidak habis pikir. Baru pertama kali Ruiga diperlakukan kasar secara fisik oleh ibunya. Namun setelah beberapa saat kemudian rasa heran itu sirna. Ruiga pun sadar kalau dunia ini adalah palsu, begitu juga dengan para penghuninya. Penghuninya saja palsu apalagi sifatnya. Sifat mereka bisa berubah sewaktu-waktu sesuai yang diinginkan Zelus.


"Apa salahku?"


"Tanyakan saja pada dirimu sendiri apa salahku!?" Kata Liliya dengan nada marah.


"Apakah masalah jika aku pulang sedikit agak malam? Biasanya kalian juga tidak mempermasalahkan hal ini."


"Ibu tidak marah karena kau pulang agak malam."


"Terus?"


"Ibu marah karena menurut ibu kau ini sudah keterlaluan."


"Keterlaluan karena apa?"


"Keterlaluan sekali saat kau bilang bahwa kelahiran Ruhisa merupakan kesalahan terbesar. Kalian ini sodara kembar, harusnya kalian ini saling menyayangi. Terutama kau sebagai kakak harus bersikap lebih bijak."


Ruiga yang merasa kesal tiba-tiba langsung membanting meja kayu yang ukurannya tidak begitu besar. Meja yang Ruiga lemparkan itu menimbulkan suara kejut dan bising.


"Kenapa harus seorang kakak yang disalahkan?! Apakah itu hanya alasan untuk menutupi kebencian kalian terhadapku?" Kata Ruiga dengan nada marah.


"Kenapa kau jadi ikutan marah?! Seharusnya ibu yang marah karena perubahan sikapmu yang makin memburuk!!!" Kata Liliya sambil mendorong dada Ruiga dengan kasar.


"Ibu, sudah jangan emosi!" Kata Ruhisa yang memeluk ibunya dari belalang.


Lalu bertengkarlah mereka dengan hebatnya. Hal ini belum pernah terjadi di dunia nyata. Jika Ruiga berada di dunia nyata, maka sangat mustahil dia akan bertengkar dengan ibunya. Di dunia nyata ibunya begitu sabar dan penyayang. Tentunya sangat beda dengan ibunya di dunia alternatif.


Sebenarnya Ruiga tidak akan tega membentak ibunya, namun karena Ruiga merasa berada di dunia alternatif alias dunia tiruan, maka Ruiga merasa bebas melakukan apa pun sesuka hatinya. Dalam pikiran Ruiga, mereka yang tinggal di dunia alternatif ini hanyalah sebuah boneka yang didalangi oleh Zelus.


Karena sikap Ruiga sudah sangat kelewatan dan hampir melukai ibunya, maka Liliya memerintahkan satpam di rumahnya untuk menyeret Ruiga ke kamarnya. Lalu Ruiga dikunci dari luar sampai batas waktu yang ditentukan.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi pada anakku?" Kata Liliya sambil mengelus-elus dadanya.


"Maafkan kakak bu! Mungkin kakak sedang tidak enak hati hari ini." Kata Ruhisa.


"Apa pun alasannya sama sekali tidak benar yang dilakukan kakakmu itu. Kau tadi melihat sendiri kakakmu hampir melukai ibu. Jika ayah melihat ini, maka pasti ayahmu sudah memukuli kakakmu."


"Lalu apa yang bisa kita lakukan agar kakak kembali seperti dulu?"


Liliya pun terdiam seketika ketika ditanya oleh putrinya itu. Liliya sendiri juga bingung mau menjawabnya. Walau Liliya di dunia ini hanyalah manusia imitasi, tapi Liliya juga memiliki jiwa seorang ibu. Seorang ibu mana pun pastinya akan sok dan sedih diperlakukan buruk seperti tadi.


...****************...


Menyadari dirinya dikunci dari luar, amarah Ruiga makin membesar. Ia secara sadar membanting barang-barang di kamarnya. Ruiga tidak merasa rugi jika barang itu hancur karena dia sadar bahwa kamar ini bukan kamar asli di dunianya. Semua yang ada di sini dianggap sebuah kepalsuan.

__ADS_1


Kini keadaan dalam kamar Ruiga sudah tidak karuan lagi. Banyak barang hancur berserakan di lantainya. Beberapa lemari di kamarnya pun juga ia jatuhkan hingga isi di dalamnya terbuang.


Tidak ada hal lain lagi yang bisa dilakukan kecuali berteriak dan merusak benda di kamarnya. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Setelah beberapa menit berlalu, Ruiga meletakkan pantatnya di kasurnya. Lalu kedua tangannya memegangi kepalanya. Dan pada saat itulah dia menangis tanpa disadari.


Tak mau melewatkan momen tersebut, Zelus sang penguasa dunia ini telah menunjukan wujudnya. Dia terlihat senyum-senyum seolah merasa senang dengan keadaan Ruiga saat ini. Tapi itu hanya anggapan Ruiga saja karena sebenarnya Zelus tak ada niatan seperti itu.


"Puas kau membuatku menderita?"


"Menderita? Jangan bercanda! Hanya orang bodoh yang menganggap hal seperti itu sebagai penderitaan. Kau cuma dimarahi oleh ibumu, tapi kau menganggap itu sebagai derita?"


"Dia bukan Ibuku!!" Teriak Ruiga dengan keras.


"Hanya karena dia adalah manusia tiruan bukan berarti bahwa dia itu bukan ibumu. Di dunia nyata dia memang bukan ibumu, tapi di dunia ini dia adalah ibumu."


"Yang benar saja?! Dia dan mereka yang ada di sini ini adalah boneka. Derajat mereka semua lebih rendah dari manusia sepertiku!"


"Setinggi apa pun derajat manusia akan dianggap sampah jika kelakuannya tidak ada etikanya. Ingatlah tujuanku membawamu ke sini ini untuk apa! Jika pikiran dan tindakanmu seperti ini, maka sampai mati pun kau akan terus berada di sini selamanya."


"Keluarkan aku dari sini sekarang!"


"Carilah pintu keluarnya, maka kau akan keluar!"


"Aku muak dengan kepalsuan yang kau buat ini!! Mahluk sepertimu tidak pantas disebut dewa."


"Dan anak manja sepertimu itu tidak pantas disebut manusia."


Emosi Ruiga kembali memanas. Ruiga sudah tak tahan lagi mendengar ceramah yang dianggap sebagai mengintimidasi.


Bagaikan sudah meluap-luap amarahnya, Ruiga pun sudah mengepalkan tangannya untuk melakukan tinju ke arah Zelus. Tapi di sini Zelus sudah menyadari niatan tersebut. Dan ketika tinju itu dilakukan, maka yang terjadi adalah rasa sakit yang justru dirasakan oleh Ruiga. Ruiga merasakan rasa sakit dipukul seolah-olah pukulannya barusan berefek pada dirinya sendiri.


"Menantangku sama dengan mati."


"Sialan kau...!" Kata Ruiga yang menatap Zelus dengan wajah kebencian.


Zelus pun mengartikan raut wajah Ruiga sebagai tantangan. Maka dari itu Zelus langsung mencengkeram leher Ruiga dengan tangan kanannya. Leher Ruiga diangkat ke atas, kemudian ia lemparkan hingga membentur tembok. Dan terdengarlah suara benturan tembok yang keras.


Seketika saja tubuh Ruiga seperti mati rasa sementara. Bahkan Ruiga tidak mengira Zelus akan bertindak sekasar itu padanya.


"Bagaimana, masih mau melawan?"


"Bunuh saja aku! Bunuh saja aku jika kau tidak mau mengeluarkan diri dari dunia ini!" Kata Ruiga dengan gemetaran.


"Kau pikir kehidupan setelah kematianmu ini akan jauh lebih baik? Dengan dosamu saat ini apakah kau yakin bisa masuk surga? Kau masih bisa bernafas saat ini karena sang Pencipta ingin kau memperbaiki hidupmu. Jadi gunakanlah sisa nafasmu untuk melakukan sesuatu yang benar? Jangan beranggapan kalau aku jahat hanya karena telah membantingmu! Sesekali kau ini perlu dikasarin biar kau ada rasa sadar."


"Kenapa aku? Kenapa kau berbuat sejauh ini padaku? Rasanya tidak adil jika hanya aku yang diperlakukan seperti ini!!!"


"Kenapa? Karena kau adalah orang yang terpilih. Sudah lama aku memilihmu. Aku tahu kau ini orang baik walau kau ini anak manja. Dibandingkan dengan anak seusiamu kau jauh lebih baik. Aku begini karena aku tidak mau kau menjadi buruk seperti mereka. Jumlah anak baik di dunia ini sangat sedikit. Aku dan dewa yang lain tidak ingin kehilangan anak baik di dunia ini."


"Tapi caramu ini terlalu memaksa! Seharusnya kau paham apa pun yang dipaksakan itu hasilnya tidak bagus!" Kata Ruiga dengan keras.


"Kata-katamu barusan tidak sepenuhnya benar. Jika semua orang dibiarkan sesuai keinginan mereka, maka dunia akan dipenuhi oleh keegoisan dan kehancuran. Manusia perlu dipaksa menuruti aturan agar dunia damai bisa tercipta. Intinya paksaan itu ada kalanya harus dilakukan."


Kali ini Ruiga hanya bisa terdiam tanpa memberi perlawanan. Tubuhnya sudah merasa sakit setelah dari tadi mati rasa. Ingin rasanya dia bangkit berdiri dan berbaring di kasurnya. Tapi hal itu tak dapat dilakukan karena dampak dari serangan Zelus barusan.


Tiap detiknya kesadaran Ruiga makin memudar dan sampai akhirnya kedua matanya tertutup. Dia tidak mati, tetapi kesadarannya dipaksa untuk hilang sementara oleh Zelus. Hal itu dilakukan karena Zelus ingin jiwa dan pikiran Ruiga tenang sejenak setelah misinya meluap tak terkendali.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2