Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Numpang Bermalam


__ADS_3

Nina POV


Setelah berjalan lumayan jauh, akhirnya aku sampai ke rumah ini. Huh kenapa aku tinggal sendirian di sini? Setidaknya kan ada ibu dan adik versi dunia alternatif di sini sebagai teman di rumah. Ya karena tujuanku ke sini untuk membimbing Ruiga, maka tak ada teman pun gak masalah.


Kemudian aku masuk ke dalam dan menyalakan beberapa lampu di dalam rumah. Tempat ini jauh lebih bagus daripada di dunia nyata. Hanya saja di sini tidak ada adikku dan ibuku yang harusnya menemaniku.


Pertanyaannya adalah bagaimana aku mencukupi kebutuhan makanku jika di sini aku tidak punya orangtua? Kakek tidak memberitahu apa-apa soal ini. Sepertinya aku harus kerja deh. Tapi bagaimana caranya aku membagi waktu kerja sambil memberikan bimbingan pada Ruiga?


"Jangan khawatir soal makan dan kebutuhan hidup lainnya! Kakek akan cukupi semua itu. Di kulkas dan dapur akan aku isi makanan tiap harinya. Dan apabila kau butuh uang, kau bisa ambil di lemari bajumu. Di sana sudah ada jatah tiap harinya. " Kata Kakek Zelus yang tiba-tiba muncul.


"Ih kakek mengkagetkan aku saja! Lain kali ucapkan salam dulu kalau mau datang."


"Maaf. Kakek terlalu terbiasa begini. Tidak salah aku membawamu ke sini. Hasilnya cukup memuaskan." Kakek yang baru datang langsung menuju sofa di ruang tamu.


"Apa yang perlu dilakukan oleh Ruiga agar kakek percaya jika Ruiga sudah menerima takdirnya?"


"Terserah mau melakukan apa. Tindakan saja tidaklah cukup untuk membuatku yakin. Tapi sebuah tindakan juga harus didasari oleh niat dari hati. Hari ini mungkin Ruiga sudah melakukan tindakan baik sebagai kakak. Akan tetapi dalam hatinya dia tidak sepenuhnya ikhlas melakukannya. Dengan kata lain ada keterpaksaan ketika Ruiga melakukan tindakannya."


"Wah itu sulit sekali kek. Pastinya itu butuh waktu lama. Kenapa kakek tidak memaafkan saja Ruiga? Kasihan dia jika terlalu lama di sini. Masalahnya kedua orangtuanya begitu mencemaskannya. Aku sendiri tidak tega melihatnya."


"Aku sudah memaafkannya. Tapi hukuman tetap harus dijalankan. Hukuman ini dilakukan dengan tujuan merubah pola pikir Ruiga. Untuk merubah pola pikir seseorang, maka diperlukan pengalaman. Dan pengalaman Ruiga di dunia alternatif inilah yang nantinya merubah Ruiga."


Di sini kakek tidak berlama-lama. Sosoknya tiba-tiba hilang tanpa pamitan terlebih dahulu. Padahal masih banyak hal yang ingin kutanyakan. Tapi ya sudahlah. Aku tidak perlu memikirkan kehidupanku di dunia ini. Yang paling diutamakan adalah membantu Ruiga keluar dari sini.


...****************...


Malam hari sekitar pukul 21.58 aku tidak bisa tidur. Padahal malam itu aku ingin tidur untuk merilekan tubuh dan pikiranku. Kupikir dengan memakan sedikit camilan di ruang tamu dapat membuatku mengantuk. Eh tapi hal itu tidak berhasil.


Dan kemudian malah terdengar bunyi bel tamu. Malam-malam begini ada tamu? Siapa sih yang mau bertamu di waktu ini? Lagian ada perlu apa dia denganku? Tapi kalau penting sih tidak apa-apa.


Dengan sedikit rasa malas, aku pun membukakan pintu untuk tamuku. Dan ternyata tamunya adalah Rui.


"Kupikir siapa. Ternyata.... "


"Boleh kan aku masuk?"


"Gak boleh!" Kataku dengan nada tinggi.


"Ayolah aku butuh kamu sekarang." Katanya dengan wajah memelas. Karena merasa tak tega mengusirnya untuk yang kedua kalinya, maka aku bolehkan dia masuk.


"Iya deh kau boleh masuk." Dia pun masuk ke dalam. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas karpet depan televisi.


"Ih kau ini...."


"Aku numpang tidur di sini ya."


Apa?! numpang tidur? Maksudnya menginap? Mana boleh begitu? Jangan bilang dia diusir lagi dari rumah seperti kejadian di dunia nyata! Jika iya kebangetan sekali nih orang.


"Ngapain numpang tidur di sini? Kau diusir dari rumah?"


"Tidak kok. Aku sengaja menginap di sini karena aku butuh kamu."


Butuh aku? Apaan coba maksudnya?


"Kau tidak boleh tidur di sini!"

__ADS_1


"Ayolah. Aku bosan dengan suasana di rumah. Ruhisa selalu mengganggu waktuku bersantai, sementara kedua orangtuaku selalu memarahiku tanpa alasan yang jelas."


"Tidak mungkin mereka marah kalau kau tidak berbuat salah."


"Sumpah. Mereka berbeda dengan orang tuaku di dunia nyata. Orangtuaku di sini cenderung galak dan pilih kasih. Mereka terlalu mengistimewakan Ruhisa daripada aku."


"Justru seharusnya kau gunakan waktu itu untuk berbaur dengan mereka. Pasti ada tujuan tertentu dari sikap mereka kepadamu. Kau harus lebih peka dengan keadaan Rui."


"Peka?"


"Ah lupakan! Kau ini laki-laki paling tidak peka di dunia. Aku benci kamu."


"Kalau kau membenciku, kenapa kau mau berteman denganku, dan membantuku dalam masalah ini?"


"Tuh kan kau gak peka. Harus ya aku jelaskan sampai ke akar-akarnya?"


"Sudahlah! Aku benci main tebak-tebakan. To The point saja deh. Katakan apa yang kau tahu!"


Si ***** ini bikin hatiku geregetan aja. Memang kode dariku belum cukup jelas juga? Padahal waktu di sekolah dulu aku sering bilang padanya kalau kita ini adalah teman istimewa. Harusnya dia sadar sedikitlah apa maksudku. Tapi otaknya tak pernah sampai untuk memikirkan hal yang lebih tinggi lagi.


"Setahuku kau ini *****. Dah gitu aja."


"Kau mengejekku?"


"Tuh memahami kalimat seperti itu saja kau tidak bisa. Terbukti kan kalau kau ini benaran *****."


Ya elah ternyata dia tersinggung dengan perkataanku. Terlihat jelas sekali kedua alisnya yang mengkerut plus sorot matanya yang menjadi tajam.


"Kau ini tidak ada bedanya dengan Ruhisa. Kalian berdua selalu saja bikin aku emosi."


"Siapa bilang aku tidak marah sewaktu kau bully di sekolah? Asal kau tahu ya, dalam hati aku ingin sekali memukulmu waktu itu. Tapi karena kau seorang perempuan, maka aku mengurungkan niatku."


"Ya sudah. Pukul saja aku sekarang biar kau puas!" Tapi Ruiga justru terdiam dan tidak berani melihat wajahku. Ah sudah kuduga, nyalanya tak cukup besar untuk berkelahi. Apalagi dia tahu kalau aku ini tipe perempuan yang berani melawan ketika disakiti. Jadi mana berani dia padaku?


"Kenapa diam? Jadi gak memukulku?"


"Kenapa kita malah bertengkar? Bukankah katamu kau bertujuan mau membantuku keluar dari sini?"


Ih malah mengalihkan pembicaraan. Tinggal bilang kalau gak berani memukulku apa susahnya sih?


"Itu karena kita sudah lama kita tidak bertengkar. Apa kau ingat kapan kita bertengkar?"


"Itu sudah lama sekali."


"Belum terlalu lama juga kan. Masa kau tidak ingat sih? Dulu kau juga berada di rumahku malam-malam begini. Lalu kau kuusir dari rumahku. Dan keesokan harinya aku mendapatkan kabar kau telah koma di rumah sakit."


"Jadi tubuhku di dunia nyata sedang koma?"


"Bukan hanya tubuhmu. Tubuhku juga. Sebenarnya bukan koma sih. Melainkan cuma tertidur sementara saja."


"Izinkan aku menginap di sini sehari saja Nin! Di sini cuma kamu manusia asli yang kukenal. Di sini aku tidak punya teman yang bisa kuajak curhat. Bahkan dengan Nina versi dunia alternatif saja aku tidak bisa dekat dengannya. Dia berbeda denganmu secara ikatan. Selain itu aku juga ingin mengobrol banyak hal padamu."


"Bukannya tidak boleh sih. Tapi aku takut nanti malah menimbulkan masalah jika kau menginap di sini. Pasti kau ke sini tidak pamit kan?"


"Tahu dari mana?"

__ADS_1


"Kau tadi bilang kedua orangtuamu begitu galak. Dari perkataanmu itu aku bisa menyimpulkan bahwa kau tidak berani pamit pada orangtuamu yang kau anggap galak."


"Sebenarnya bukan karena galak sih aku tidak pamit. Tapi karena aku juga tidak menyukai mereka, makanya aku tidak butuh pamit pada mereka."


"Kau harus tahu Rui. Walau mereka bukan orangtua kandungmu, tapi kakek Zelus ingin kamu juga bersikap baik seolah mereka adalah orangtuamu. Percuma kau menerima Ruhisa sebagai adik jika kau sendiri tidak mau menerima mereka sebagai orangtuamu. Perlu kau tahu, di sini aku tidaklah lama. Jadi aku tidak bisa menemanimu sampai kau keluar dari sini. Yang bisa kulakukan di sini hanya memberi nasihat dan bimbingan padamu. Jadi jangan kau sia-siakan bantuanku ini!"


Tiba-tiba cuaca menjadi dingin. Sangat dingin seperti ketika aku berada di gunung. Lalu aku punya inisiatif untuk membuat teh panas untuk menghangatkan badan. Kebetulan sekali apa yang kubutuhkan sudah tersedia di dapur. Jadi aku tinggal pakai saja.


"Nih minum dulu biar hangat!" Kataku sambil meletakkan segelas teh panas di dekatnya. Namun dia tidak langsung meminumnya. Dia terlihat bingung dan memikirkan sesuatu.


"Sudah jangan berpikir yang berat-berat! Di sini ada aku yang akan meringankan masalahmu."


"Tidak. Aku hanya bingung, kenapa Zelus berbuat begini padaku? Kenapa dia sangat ingin aku menjadi seorang kakak yang baik? Padahal di luar sana ada banyak seorang kakak yang sangat buruk dan durhaka pada adiknya. Tapi kenapa bukan mereka saja yang dipaksa menerima takdirnya?! Kenapa harus aku?!"


"Semua orang punya cerita masing-masing Rui. Kita jangan terlalu membandingkan nasib kita sama orang lain. Ambil saja positifnya! Siapa tahu setelah kau berhasil keluar dari sini, kau akan mendapatkan pencerahan. Aku yakin itu."


"Begitu?"


"Sekarang aku mau tanya. Kenapa tadi kau membeli pembalut?"


"Kau sendiri juga tidak memberitahuku untuk membeli apa. Aku kan juga bingung mau beli apa. Jadi aku beli saja itu."


"Ya gak gitu juga kali!!! Kenapa tidak beli makanan saja?! Malah beli pembalut!" Kataku dengan marah.


"Karena Ruhisa adalah perempuan, maka aku pikir aku harus membeli barang yang berhubungan dengan perempuan juga. Dan satu-satunya barang yang paling relevan adalah pembalut. Perempuan seusia kalian sangat butuh pembalut kan?"


***** banget sumpah! Emang dia tidak malu apa beli pembalut? Dia kan cowok. Kalau aku punya kakak seperti itu, pasti sudah aku tampar tuh. Aku aja tidak berani menyuruh adikku beli pembalut untukku. Eh dia malah...


"Jangan kau ulangi lagi!" Kataku dengan nada tinggi.


"Kenapa kau malah marah? Ruhisa saja biasa saja."


"Ruhisa sebenarnya juga tidak suka. Tapi dia pura-pura senang dan mencoba menghargai pemberianmu itu. Pasti selama kau di sini kau tidak pernah membelikan dia apa-apa kan?"


"Ngapain juga aku membelikan dia sesuatu? Dia juga punya uang dan dia bisa membeli sesuatu yang dia inginkan sendiri."


"Bukan itu masalahnya! Aku tahu kalian orang kaya dan kalian bisa membeli apa pun yang kalian mau. Tapi pemberian seorang kakak akan dianggap istimewa oleh adiknya. Maka dari itu sesekali seorang kakak perlu membelikan sesuatu pada adiknya agar senang. Tidak harus beli, tapi kau juga bisa membuatnya sendiri jika bisa."


"Repot banget sih jadi kakak?!"


"Sudah menjadi kewajiban seorang kakak membuat adiknya senang. Dan itu tidak bisa ditawar. BTW besok rencananya aku akan mengajakmu ke mall. Jadi sebelum kau berangkat ke mall, kau cari tahu dulu barang seperti apa yang disukai oleh Ruhisa."


"Kau ingin aku membelikan sesuatu buat Ruhisa lagi?"


"Iya. Tapi kali ini lebih istimewa. Ruhisa Jangan sampai tahu kalau kau mau memberinya hadiah! Ini adalah kejutan untuk Ruhisa. Dengan begini dia akan semakin senang padamu. Tak hanya Ruhisa saja yang senang, tapi kedua orangtuamu juga ikut senang jika anaknya akur seperti ini. Aku yakin jika kau semakin bersikap baik pada mereka, maka mereka pun akan makin respek padamu. Dan kau tidak akan diceramahi lagi."


"Kau yakin cara ini akan berhasil? Kupikir mereka tidak akan luluh dengan cepat hanya karena aku memberi hadiah pada Ruhisa."


"Kau harus optimis dong! Tiap tindakan tidak akan ada hasilnya jika tidak disertai rasa optimis."


Dari wajahnya sih dia nampak paham dengan apa yang kukatakan. Ya semoga saja benar paham, bukan hanya sekedar kelihatannya saja yang seperti paham.


Aku tahu ini sulit bagi Rui. Tapi aku yakin Rui bisa melakukan ini. Dari caranya bicara sih sama sekali tidak terlihat penolakan darinya. Yang ada dia mencoba berdamai sama keadaan. Ini bagus. Selanjutnya cuma butuh menanamkan niat tulus pada hatinya saja agar kakek Zelus percaya.


Tiap menitnya malam ini makin dingin. Udara dingin yang masuk dari ventilasi begitu menusuk kulit hingga kami tanpa disadari telah menggigil. Padahal lokasi komplek ini cenderung panas dan jarang terasa dingin di malam hari. Ih dunia ini memang aneh.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2