Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Hukuman 2


__ADS_3

Bermain game di smartphone sambil tiduran di kamar sedikit membuatku lebih baikan. Rasa senang saat bermain telah memudarkan rasa tidak enak dalam hati. Wajah ceria pun mulai nampak padaku. Hanya saja hal itu tidak berlangsung lama.


"Ruiga!!!" Suara ibuku yang tiba-tiba datang dengan nada marah. Aku yang asik main game cuma bisa diam terheran-heran oleh sikap ibuku. Kali ini ia marah gara-gara apa? Aku tidak merasa melakukan kesalahan apa pun.


Oh aku paham. Pasti Ruhisa bilang sesuatu ke ibu sehingga ibu marah padaku. Ternyata ancaman Ruhisa bukan sekedar isapan jempol belaka.


"Apa maksudnya menyuruh Ruhisa berbuat seperti itu!?" Kata ibu dengan nada marah membara.


Aku yang bingung hanya bisa bilang, "lah apa masalahnya?"


Ibu justru makin marah sehingga menjewer telingaku hingga aku mengaduh kesakitan. Sungguh ini sakit. Tapi untung aku punya inisiatif untuk melepaskan jeweran ibuku.


"Tega banget sih menyuruh Ruhisa bolak-balik menceburkan diri 300 kali di kolam sambil telanjang!?"


Eh jadi Ruhisa benar-benar melakukannya?! Aku kira dia tidak berani melakukan itu karena responnya sebelumnya sama sekali tidak menunjukan ada niatan melakukan itu.


"Serius Ruhisa melakukan itu!? Kupikir dia tidak berani melakukan itu."


"Pakai nanya segala! Tahu sendiri kan Ruhisa itu anak penurut. Jangan manfaatkan sifat penurut Ruhisa untuk melakukan hal buruk! Sekarang cepat suruh Ruhisa berhenti melakukan itu, karena dia tidak akan berhenti menceburkan diri ke kolam sampai kauencabut hukumannya. Kalau mau ngasih hukuman itu nggak sedikit dong! Hukuman yang kau beri pada Ruhisa itu pelecehan! Lagian salah apa Ruhisa padamu sehingga kau menghukumnya menceburkan diri ke kolam sebanyak 300 kali sambil telanjang?!"


Telanjang!? Aku tidak menyuruh Ruhi telanjang. Serius Ruhisa melakukan itu? Aku yang mendengar penjelasan ibuku hanya bisa senyum-senyum sendiri. Bagaimana tidak tersenyum mendengar hal itu? Bayangkan saja kalian punya adik terus kalian suruh dia menceburkan diri ke kolam sebanyak 300 kali. Dan anehnya adik kalian melakukan hal itu sambil telanjang.


Aku gak habis pikir Ruhisa bisa bertindak begitu. Apa yang ada di pikiran dia? Dia itu aneh. Sangat aneh, bahkan paling aneh dari orang-orang di dunia alternatif ini.


"Jangan senyum-senyum begitu! Ini tidak lucu! Sekarang suruh adikmu berhenti melakukan itu! Cepat!!" Kata ibuku dengan nada marah. Dan aku pun melakukan apa yang diperintahkan oleh ibu.


Begitu aku sampai ke kolam renang, maka terlihatlah Ruhisa yang sedang naik ke tepi kolam untuk menceburkan diri lagi. Sumpah aku kaget banget melihat pemandangan ini. Dia benar tidak memakai baju di tubuhnya. Seluruh bentuk tubuhnya terlihat secara detil di sini, termasuk ukuran dadanya yang masih kecil.


Perlahan aku mendekat padanya dan berkata, "sudah hentikan!" Kataku dengan nada keras. Dan Ruhisa pun menoleh padaku. Tetapi dia bukannya menghentikan aksinya, malah tetap melakukan hal itu secara berulang-ulang.


"Eh *****, kau tidak dengar apa yang kubilang barusan?"


"Aku dengar kok. Tapi sayang jika aku berhenti di sini. Karena aku sudah menceburkan diri sebanyak 214. Rasanya nanggung jika berhenti."


Sebelum Ruhisa menceburkan diri lagi, dengan sigap aku mencegahnya dengan cara menarik rambutnya yang panjang.


"Aku bilang berhenti ya berhenti!"


"Aduh sakit. Jangan jambak rambutku!"


"Aku cabut hukumannya. Jadi berhentilah melakukan itu dan pakailah bajumu!"


"Kakak mencabut hukumanku? Tapi kenapa?"


"Gak usah banyak tanya! Pokoknya jangan lakukan itu lagi!"


"Tidak bisa. Hukuman tetaplah hukuman dan aku harus menerima hukuman ini sama seperti kakak saat dihukum di sekolah." Kata Ruhisa yang mencoba menceburkan diri lagi. Namun aku langsung menarik rambutnya lagi hingga dia mengaduh kesakitan.


"Kau ini budek ya? Aku kan sudah bilang jangan lakukan itu! Jika kau tetap melakukan itu, maka aku yang disalahkan oleh ayah dan ibu. Kau senang aku dihukum lagi?!"


"Tapi kak...."

__ADS_1


"Sudah hentikan!"


Kini Ruhisa pun menghentikan aksinya. Tapi yang menjadi masalah adalah kenapa kedua mataku tertuju ke arah dadanya? Meski aku mencoba mengalihkan pandanganku ke arah lain, tapi tetap saja ujung-ujungnya mataku kembali menatap ke arah itu. Untung Ruhisa tidak menyadari hal itu.


"Tapi kan tidak adil jika aku tidak dihukum. Kakak harus tetap menghukumku agar adil. Aku merasa sangat bersalah atas kelakuanku pada kakak hari ini. "


"Sudah jangan banyak bicara! Cepat masuk ke kamar dan pakai bajumu! Gak malu apa telanjang di sini?! Lagian siapa yang menyuruhmu telanjang? Aku tidak menyuruhmu melakukan itu!"


"Mau bagaimana lagi? Baju renangku belum dicuci dan aku tidak mau memakai baju renang yang belum dicuci."


"Tapi gak harus telanjang juga kali. Kan masih bisa pakai pakaian lain!"


"Iya sih, tapi tetap saja lebih enak kalau gak pakai baju Hehe." Kata Ruhisa sambil tersenyum. Dia bilang begitu seolah sudah pernah melakukan hal itu sebelumnya.


Lalu datanglah ibuku dengan sebuah handuk berwarna pin di tangannya. Handuk itu dilemparkan kepada Ruhisa dan Ruhisa pun menangkapnya.


"Tutup tubuhmu dengan handuk itu! Gak malu apa telanjang di depan laki-laki?!" Kata ibu yang sedang memarahi Ruhisa. Tapi cara ibuku marah pada Ruhisa beda banget ketika ibu marah padaku. Ketika ibu marah pada Ruhisa ibu berkata dengan nada halus. Tentu hal itu sangat berlainan ketika ibu marah padaku. Ketika ibu marah padaku, ibu selalu menggunakan nada tinggi dan kasar padaku.


"Malu sih sebenarnya. Tapi kalau di depan kakak sih tidak apa-apa hehehe." Kata Ruhisa sambil menggaruk-garuk kepala.


Apanya yang malu? Dilihat dari mana pun Ruhisa sama sekali tidak punya rasa malu ketika tadi telanjang. Yang ada dia justru bersikap seolah tak peduli jika bentuk tubuhnya dilihat oleh penghuni rumah. Padahal penghuni rumah di sini bukan aku, Ruhisa, ayah, dan ibu saja. Tetapi juga ada beberapa pembantu dan satpam yang melihat kejadian itu.


"Gak boleh begitu! Gak baik perempuan memamerkan tubuhnya pada laki-laki meskipun laki-laki itu adalah kakakmu sendiri! Kau bukan anak kecil lagi yang tidak punya rasa malu ketika telanjang! Kau sekarang adalah gadis yang sebentar lagi menjadi dewasa. Cukup suamimu saja yang boleh melihatmu telanjang." Kata ibu pada Ruhisa.


Merasa tidak ada keperluan lagi, aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Namun hal itu tidak jadi dilakukan karena ibuku masih ada urusan denganku.


"Mau pergi ke mana kau? Ibu masih marah padamu!" Kata ibu.


"Kalau begitu ibu yang akan menghukummu. Apa yang kau perbuat pada Ruhisa ini sangat keterlaluan. Untung ayahmu tidak tahu hal ini. Jika ayah sampai tahu, maka hukuman bisa sepuluh kali lebih berat."


Masuk akal juga. Bisa dibilang aku ini beruntung karena ayah tidak tahu meski ayah sedang berada di rumah. Untungnya ayah lebih sibuk mengurus berkas kerja daripada memperhatikan keributan ini.


"Sudah bu, jangan hukum kakak! Hari ini kakak sudah dihukum di sekolah."


"Dihukum di sekolah? Malu-maluin orangtua saja kau ini! Kau ini anak dari pendiri sekolah itu, dan seharusnya kau bisa menjadi contoh sifat baik ke siswa lain. Bukannya malah bikin masalah di sekolah sampai dihukum!" Kata ibu dengan nada tinggi.


"Aku dihukum gara-gara Ruhisa."


"Jangan bawa-bawa Ruhisa dalam masalah ini! Ruhisa jauh lebih baik darimu."


"Terus saja bela dia! Di mata kalian aku memang selalu salah!!!" Kataku dengan nada tinggi juga.


"Ibu tidak membela siapapun. Ibu hanya menjadikan Ruhisa contoh sikap baik. Dan Ruhisa jauh lebih berakhlak daripada kamu."


"Sudah jangan bertengkar! Kok ibu dan kakak malah bertengkar sih?" Kata Ruhisa dengan cemas.


"Kakakmu ini makin hari makin gak ada otak kelakuannya. Kau jangan jadi seperti kakakmu Ruhisa!"


"Jangan salahkan kakak bu! Yang dikatakan kakak itu benar. Kakak dihukum gara-gara Ruhisa. Ruhisa bikin kakak marah, makanya secara reflek kakak mendorongmu hingga jatuh, dan kakak pun dihukum oleh guru. Kalau kakak harus dihukum, maka aku juga harus dihukum. Aku tidak mau kakak menanggung beban sendiri."


"Tuh dengar adikmu! Dia selalu membelamu ketika ibu memarahimu. Seharusnya kau malu pada dirimu sendiri!"

__ADS_1


"Terserah kalian!" Kataku dengan nada kesal."


Intinya aku tidak jadi dihukum. Dan aku harus mengakui jika ini berkat Ruhisa. Ruhisa yang tidak ingin aku dihukum telah mengurungkan niat ibu untuk menghukumku. Tapi tetap saja rasa benciku pada Ruhisa tetap tidak menghilangkan, melainkan justru bertambah.


Bagus, dengan begini aku makin lama berada di dunia terkutuk ini. Bagaimana aku bisa menerima takdirku sebagai kakak jika sikap mereka padaku justru semakin membuatku berpikir bahwa menjadi kakak merupakan sebuah beban besar?


Aku yang sudah kembali ke kamar tanpa sengaja telah menjatuhkan ranselku hingga isi di dalamnya tumpah berserakan. Tadinya aku ke kamar mau mengamuk lagi untuk melampiaskan amarahku. Ingin sekali rasanya aku membanting barang-barang di sini sebagai ungkapan rasa kesal. Tapi hal itu tidak terjadi karena sebuah surat yang terjatuh dari ranselku.


"Ini kan surat dari.... Hampir saja aku lupa."


Sebenarnya aku malas menyampaikan surat ini pada Ruhisa. Selain nantinya hanya makin kesal melihat wajah Ruhisa, aku juga takut jika rasa kesahku ini justru memancingku untuk bertindak kasar. Tapi surat ini harus diberikan padanya. Ini adalah amanah walau aku tidak kenal dekat dengan orang itu.


Dengan terpaksa aku mendatangi kamar Ruhisa untuk memberikan ini. Ketika pintu kamarnya kudorong ternyata tidak bisa. Pintunya terkunci. Kukira dia tidak ada di kamar. Namun aku salah. Ternyata dia ada di kamar. Entah kebetulan atau tidak pintu itu terbuka walau aku tidak mengetuknya.


"Eh kakak! Sudah lama sekali kakak tidak mengunjungi kamarku. Apakah kakak mau mengajakku belajar bersama lagi?" Kata Ruhisa dengan wajah bahagia.


"Jangan salah sangka! Aku ke sini hanya mau menyerahkan titipan ini."


"Titipan apa? Oh surat cinta ya."


"Dari mana kau tahu?"


Dilihat dari wajahnya Ruhisa nampak tidak kaget dan bersikap biasa saja. Biasanya perempuan akan merasa senang dan penasaran ketika mendapat surat cinta dari laki-laki. Namun hal ini tidak berlaku bagi Ruhisa.


"Sudah ratusan surat seperti ini sering aku terima. Bahkan di lemari aku sudah kehabisan tempat untuk menyimpannya."


"Jadi kau sering mendapat surat seperti ini?"


"Iya."


"Terus buat apa disimpan di lemari? Gak guna banget menyimpan benda seperti ini!"


"Iya sih gak guna. Tapi aku hanya mencoba menghargai orang yang telah menaksirku karena aku tidak bisa membalas cinta mereka. Menyimpan pemberian orang merupakan bentuk penghargaan tersendiri bagiku."


"Kalau benda itu tidak berguna buat apa disimpan? Yang ada hanyalah memakan tempat."


"Ada benarnya juga kakak bilang begitu. Haruskan aku buang saja ya kumpulan surat ini?"


"Terserah kau. Kau yang punya kenapa aku yang repot?" Tapi Ruhisa malah tertawa mendengar perkataanku. Lalu aku bertanya, "apa yang lucu?"


"Gak ada yang lucu sih. Hanya saja aku senang kakak mulai perhatian lagi padaku."


"Siapa yang perhatian sama kamu. Di sini aku hanya menyerahkan surat itu padamu. Dan aku melakukan ini karena aku dimintai tolong."


"Iya aku tahu soal itu. Tapi tanggapan kakak barusan seolah peduli padaku. Kalau kakak tidak peduli pasti kakak langsung pergi begitu surat ini ada di tanganku. Tapi kakak tidak langsung pergi dan memilih untuk berbicara padaku. Selain itu kakak juga memberi saran untuk membuang surat yang tidak ada gunanya disimpan lama-lama. Bagiku itu semua merupakan bentuk perhatian padaku."


"Aku akan pergi sekarang." Jawabku dengan singkat.


Baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba Ruhisa merangkulku dari belakang. Sontak saja aku kaget olehnya. Kemudian Ruhisa berkata, "aku sayang kakak. Aku ingin kakak menjadi seperti dulu lagi dan tidak judes lagi padaku."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2