Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Curhat


__ADS_3

Masih di hari yang sama di episode sebelumnya. Kini aku masih duduk di kursi dekat warung bersama si kampret Nina. Sebenarnya aku ingin sekali menjauh dari dia. Hanya saja energiku belum pulih seutuhnya karena rasa lelah akibat berlari kencang.


Nina pun masih belum puas menertawaiku. Yang membuatmu kesal adalah nada rasanya itu seperti dibuat-buat dan bukan murni tertawa karena lucu. Merasa emosi sih sudah pasti. Tapi apa dadaku waktu itu? Aku bukanlah tipe remaja yang pandai bicara ini itu dengan gampang. Anak pendiam sepertiku ini mana bisa membela diri dengan sebuah kata-kata?


"Bisa diam tidak?"


"Maaf, maaf...." Katanya sambil menutup mulutnya.


Aku yang sudah merasa pulih dari rasa lelah pun mencoba untuk berdiri. Tapi Nina mencegahnya seolah-olah dia tahu jika aku mau pergi meninggalkannya.


"Jangan pergi dulu!"


"Apa hakmu melarangku?"


"Memang kalau kau pergi kau ada teman yang mau diajak curhat?"


Benar juga. Memang hampir tidak ada teman yang mau mendengar curhatku ketika aku sedang susah. Jika pun ada, pasti ujung-ujungnya dia minta duit. Aku pun terdiam seketika dan melupakan niatanku untuk pergi.


"Duduklah sebentar dan katakanlah semua curahan hatimu! Aku tahu kau sedang susah."


Entah kenapa aku burut saja dengan perkataan Nina. Seperti sudah terkena mantra hipnotis aku pun melakukan apa yang dia katakan.


"....." Aku hanya terdiam melihat wajah Nina dengan heran.


"Janji deh aku tidak akan jahil. Aku yakin kau butuh seseorang untuk mendengar ceritamu."


"Semudah itukah diriku untuk ditebak?"


Nina hanya bisa tersenyum kecil mendengar pertanyaanku. Lalu berkatalah dia, "seorang teman kan memang harus bisa memahami perasaan temannya."


"Teman? Sejak kapan kita berteman?"


"Sejak aku datang ke sekolah ini dan duduk sebangku denganmu."


"Bisa-bisanya kau mengaku sebagai temanku padahal sikapmu padaku sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang teman."


"Yaelah kau ini baper banget sih? Aku melakukan itu cuma bercanda saja kali. Habisnya kau cuma diam saja padaku meski kita sudah duduk sebangku denganmu. Ya jadinya aku mencoba memancingmu dengan kejahilanku."


"Memang harus ya dengan cara seperti itu? Jika kau melakukan itu yang ada aku malah semakin kesal padamu."

__ADS_1


"Sebenarnya ada cara lain sih. Tapi kupikir hanya dengan cara ini kau bisa berubah."


"Berubah?"


"Ya aku ingin kau berubah. Jujur saja ya aku kasihan padamu. Aku tidak tega kau dimanfaatkan oleh mereka. Mereka datang padamu cuma ketika mereka butuh uang saja. Dan anehnya kau justru menikmati saja."


Menikmati katanya? Justru sebaliknya. Aku justru menangis dalam hati oleh itu. Aku pikir mereka akan luluh padaku yang begitu sabar dimanfaatkan. Eh nyatanya mereka semakin menjadi-jadi. Bahkan mereka tidak perlu basa-basi lagi ketika meinta uang padaku.


"Kenapa kau memperdulikan hal seperti itu?"


"Ya karena aku berbeda dengan mereka. Aku masih punya perasaan. Mulai hari ini aku ingin kau berhenti memberi atau Meminjamkan uang pada mereka."


"Uang segitunya gak ada apa-apanya bagiku."


"Bukan masalah jumlah uangnya! Ya aku tahu kau orang kaya. Tapi ini masalah harga dirimu."


"Terus aku harus apa agar mereka mau berteman denganku? Kau pikir enak gak punya teman? Aku begini juga terpaksa. Biarlah aku kehilangan uang daripada kehilangan teman."


"Kau ini buta ya?!"


Sontak saja aku terheran-heran dengan pertanyaan yang dilontarkan padaku. Itu terdengar tidak bambung dengan topik pembicaraan.


"Ih kau ini jadi cowok gak peka banget sih!! Terus kalau kau tidak buta, kau anggap apa aku ini!? Awas ya kalau kau sampai menyamakan aku dengan mereka!" Kata Nina dengan nada mengancam.


Aku yang melihatnya tiba-tiba marah malah membuatku semakin heran. Ya aku tidak pernah menyamakan Nina seperti teman-teman lainnya. Berbeda dengan mereka yang bersikap netral, si Nina justru berperan sebagai antagonis di hidupku. Siapa pun pasti tahu kalau Nina sangat sering menjahiliku dan mempermalukanku.


"Iya-iya aku tahu kau beda. Kau ini suka menjahiliku. Berbeda dengan mereka yang tak peduli padaku, kecuali jika dikasih uang."


"Anggaplah aku ini temanmu! Aku tulus mau berteman denganmu walau caraku tidak berkenan padamu."


Aku tidak salah dengar kan? Dia mau berteman denganku tanpa mengharapkan uang dariku? Ini sulit dipercaya. Karena sudah banyak orang yang bilang seperti itu di awal saja. Tapi semakin hari, maka terenduslah tujuan asli mereka yaitu uang.


"Kau yakin mau berteman denganku?"


"Pakai nanya lagi! Memang belum jelas apa?"


Lalu terlintaslah pikiran di benakku. Dengan inisiatifku sendiri aku mengeluarkan dompet dari saku celanaku. Kemudian kubuka dompetnya yang isinya dipenuhi uang kertas seratus ribuan.


Dia menatap aneh padaku. Baru kali ini aku melihat orang yang tidak tergiur dengan jumlah uang yang kumiliki. Tapi bisa saja itu merupakan trik Nina agar tidak dicurigai.

__ADS_1


Aku sendiri juga tidak mau basa-basi. Langsung saja aku ambil uang ini dan mengulurkan uang ini tepat di depan wajah Nina.


"Kau yakin kau tidak mau ini?" Kataku Pada Nina.


Wajah heran Nina langsung hilang seketika. Wajah herannya tadi telah berubah menjadi tatapan tajam seolah mau membunuhku. Aku tidak tahu apa sebabnya. Aku kira dia akan senang jika aku kasih uang seratus ribuan yang jumlahnya ada tujuh lembar.


Melihat sorot matanya itu bagaikan sedang diplototi oleh perempuan bermata iblis. Mulai dari situ perasaanku menjadi tidak enak. Tapi aku heran kenapa dia terlihat marah padaku?


Baru kali ini aku melihat Nina marah. Padahal biasanya dia selalu murah senyum di mana pun. Apa dia marah karena uangnya kurang banyak? tujuh ratus ribu memang masih kurang? Oh iya, mungkin saja dia tipe perempuan yang suka belanja banyak di mall, makanya uang segini tidak cukup untuk buat beli make up atau skin scare.


"Kenapa tiba-tiba diam? Biasanya kau cerewet. Apa karena uangnya kurang? Kalau kurang nanti aku transfer uangnya ke rekeningmu. Beritahu aku nomor rekeningmu!"


PLAK, PLAK, PLAK!? Suara tamparan terdengar tiga kali secara berulang-ulang.


Sumpah ini sakit sekali. Baru kali ini aku ditampar oleh perempuan. Jangankan perempuan, Laki-laki pun tak berani menampar atau melukaiku. Perempuan ini monster.


"Sakit tahu gak!" Bentakku padanya.


"Kau pikir yang kau lakukan ini tidak menyakitkan?!" Jawab Nina dengan nada marah.


"Lah aku kan hanya mau memberi uang padamu. Memang diberi uang itu terasa sakit? Sumpah kau ini aneh!"


"Kau bilang aku aneh? Kau yang aneh!! Padahal aku tulus mau berteman denganmu, tapi kau malah memberimu uang. Kau kira aku ini *****?!"


"Pikiranmu jelek sekali. Memang apa masalahnya jika aku memberimu uang? Dan satu hal lagi, aku tidak pernah menganggapmu *****."


"Jangan kau kira pertemanan itu bisa dibeli dengan uang hanya karena kau kaya! Pertemanan itu tak ternilai harganya. Jujur saja aku kecewa dengan sikapmu barusan. Padahal awalnya aku respek padamu, tapi setelah sikapmu tadi, aku malah makin kasihan padamu. Kau benar-benar menyedihkan. Kalau kau tidak mau berteman denganku bilang saja. Jangan bersikap seperti itu!"


Dia menangis tanpa bersuara. Air mata yang membasahi kedua pipinya itu terlihat tak enak dipandang. Apakah sikapku tadi terlalu berlebihan? Aku rasa sih tidak karena sebelumnya aku bersikap seperti itu pada orang lain, mereka malah senang mendapatkan uang dariku. Namun entah apa sebabnya Nina menolak uang pemberianku.


Apakah dia benar tulus tanpa mengharapkan uang dariku? Itu terdengar mustahil karena rata-rata siswa di sekolahan itu mata duitan. Apakah Nina merupakan pengecualian?


Kini dia pun pergi tanpa kusuruh pergi. Situasi pun menjadi sepi seketika. Dan entah sejak kapan warung itu sudah tutup. Hanya aku seorang diri di situ bersama tiupan angin menjelang senja.


Padahal yang kulakukan barusan hanya mau mengetes saja apakah Nina setulus seperti yang dia katakan atau tidak. Sekarang aku tahu jawabannya, dan jawabannya adalah Nina sungguh tulus terhadapku.


Namun tetap saja sikapnya barusan terlalu berlebihan menurutku loh ya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2