
Tiap harinya Nina tak lupa menjenguk teman sekelasnya yang sudah beberapa hari ini tidak masuk kelas. Dia ikutan sedih dan prihatin dengan keadaan yang menimpa teman sebangkunya. Kadang tanpa Nina sadari, Nina telah meneteskan air mata untuk temannya.
Tiada hal lain yang bisa dilakukan kecuali berdoa agar teman sebangkunya itu kembali pulih dan kembali ke sekolah.
"Rui, cepatlah bangun! Aku dan keluargamu ingin kau bangun. Janji deh aku tidak akan menjahilimu lagi jika kau bangun sekarang." Kata Nina sambil menggenggam tangan Ruiga.
Tak ada respon yang terjadi. Harapan itu tidak merubah apa pun dan keadaan tetaplah sama. Ruiga masih tidak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.
Hal ini sangat tidak bisa diterima oleh Nina dan terutama pihak keluarga Sasugara. Tanpa sebab yang jelas Ruiga ditemukan tak sadarkan diri di tengah jalan area komplek Rui tinggal. Awalnya orang yang melihat Ruiga tergeletak di jalan mengira bahwa Ruiga adalah korban tabrak lari. Namun setelah di bawa ke rumah sakit dan diperiksa dokter, tak ada luka fisik sedikit pun.
Ketidaksadaran Ruiga masih menjadi tanda tanya besar. Selain masih menjadi misteri penyebabnya, pihak keluarga juga terheran-heran karena ketika tubuh Ruiga dicek, ternyata tubuh Ruiga normal sehat bugar.
Sudah empat kali Ruiga dipindahkan dari rumah sakit itu ke rumah sakit ini. Namun hal itu tidak membawakan dampak baik. Semua tetap sama tak ada hasil. Yang bisa dikatakan dokter pada pihak keluarga hanyalah, "kami masih sedang meneliti kasus ini. Doakan saja agar kami bisa menemukan diskusinya."
"Jangan bilang kau pingsan selama ini gara-gara perkataan kasarku padamu waktu itu!? Lah maaf kalau aku kasar dan mengusirmu. Lagian kenapa juga kau berkata kurang ajar sama orangtuamu? Aku kan juga ikutan kesal. Terutama ketika kau bilang menyuruh ibumu menggugurkan kandungannya." Kata Nina di ruangan itu.
Memang tidak ada yang salah dengan keadaan Ruiga saat ini. Dia hanya tertidur dan sukmanya sedang berada di dunia alternatif buatan Dewa Zelus. Tidak ada yang bisa membuat Ruiga bangun kecuali Ruiga sendiri dan doa dari orang terdekat.
"Rui, andai kau tahu perasaan kami di sini. Di sini kami tak ada hentinya berdoa untukmu. Jika ada sesuatu hal yang bisa membuatmu kembali sadar, maka hal itu akan kulakukan."
Tiba-tiba terdengar bunyi suara pintu dibuka. Dan yang datang adalah Liliya ibu dari Ruiga. Sama halnya dengan Nina yang juga berekspresi sedih. Kini kedua wajah sedih itu telah membuat seisi ruangan ini berduka.
"Rajin sekali kau menjenguk?" Sapa Liliya pada Nina.
"Iya tante. Daripada menganggur di rumah, mending aku ke sini."
"Oh..."
Sama seperti sebelumnya yang tetap bersikap kurang menerima pada Nina. Nina sendiri sudah menyadari hal itu sejak lama. Namun Nina tidak peduli jika kehadirannya di situ tidak diharapkan. Yang diinginkan Nina adalah mendampingi Ruiga hingga Ruiga kembali bangun.
"Kenapa tidak pulang? Bukankah di luar sana kau juga punya kesibukan?"
"Iya punya, tapi kesibukan itu sudah aku selesaikan sebelum aku datang ke sini. Izinkan aku di sini sebentar lagi tante. Aku peka kok kalau tante tidak suka kehadiranku. Tapi aku ingin berada di dekat Ruiga."
"Kenapa kau sepeduli ini pada Ruiga?"
"Kenapa ditanya? Tentu saja karena kami adalah teman. Gak tahu juga sih apakah Ruiga menganggapku sebagai teman atau tidak. Tapi di kelasku cuma dia teman yang bisa kupercaya."
"Teman atau pacar?" Tanya Liliya dengan nada aneh.
"Teman. Kenapa tante berpikiran sejauh itu?"
"Kalau teman biasa mana mungkin kau tiap hari menjenguknya. Selain itu di antara teman SMA Ruiga hanya kau saja yang pernah dibawa ke rumah."
"Benarkah? Tapi Ruiga bilang dia pernah kok bawa teman laki-lakinya ke rumah."
"Jujur saja ya, tante mencurigaimu."
Kata-kata dari Liliya membuat hati Nina sedikit tersinggung. Aku yakin siapa pun juga akan merasakan hal serupa jika diperlakukan seperti itu. Namun di situ Nina bisa bersikap sabar.
"Tante curiga kalau aku yang bikin Ruiga begini? Atau tante curiga kalau aku pernah mengajak mandi bareng Ruiga?" Kata Nina dengan nada menyindir.
"Dua-duanya benar. Kalau kalian terbukti berbuat hal terlarang, maka kalian berdua akan kuberi pelajari." Kata Liliya dengan nada mengancam. Dan Nina yang mendengar hal itu cuma bisa terdiam sambil merendahkan pandangannya ke bawah.
Tetapi Nina tidak berdiam diri karena hal itu justru bisa menimbulkan anggapan jika Nina betulan pernah berbuat hal terlarang dengan Ruiga. Lalu Nina berkata: "Perlu tante ketahui. Aku bukan perempuan murahan kok. Kami berdua hanya teman. Dan karena kami berteman, maka sesama teman harus saling perhatian dan mengasihi. Kalau Ruiga punya teman lain selain aku, maka aku tidak akan repot-repot seperti ini padanya."
"Hahahahaha..." Liliya pun tertawa ngakak.
__ADS_1
Nina yang mendengar tawa itu hanya bisa mengerutkan alis sambil berpikir dua kali.
"Apa yang lucu?"
"Oke kau lulus."
"Hah?!" Nina terheran-heran dengan jawaban dari Liliya.
"Di antara temannya Ruiga yang lain hanya kau yang lulus."
"Lulus?"
"Setiap Ruiga membawa teman baru ke rumah, pasti tante selidiki lebih lanjut. Dan pastinya tante selalu menguji sikap dan reaksi teman yang dibawa Rui. Kebanyakan dari mereka akan memilih menghindar atau membalas keangkuhan tante dengan kata dan sikap yang tidak sopan. Tapi kau beda. Meski dari awal tante bersikap dan berkata buruk padamu, tapi kau tetap bisa sabar menyikapinya...."
"Eh tunggu dulu! Tante bilang tante tadi menyelidiki lebih lanjut itu artinya...."
"Artinya tante telah membayar orang untuk mengumpulkan info detail tentangmu. Dan hasilnya adalah sangat tidak mengecewakan. Dari laporan yang kudapat, tidak ada catatan kejahatan atau kenakalan lainnya. Dengan kata lain kau ini anak baik-baik. Tante bangga kali ini Ruiga berteman dengan orang yang tepat."
"Eh jadi selama ini aku diawasi oleh orang suruhan tante!?"
"Iya. Maaf ya telah mengganggu privasimu. Karena Ruiga adalah anak satu-satunya saat itu, jadi kami sangat menjaganya dengan ketat. Tapi syukur karena sekarang Ruiga bukan anak satu-satunya kami lagi."
"Tante terlalu berlebihan. Tapi harus aku akui kalau Ruiga itu perlu diawasi."
"Iya tiap hari Ruiga selalu diawasi kok. Tapi dia tidak tahu. Jangan beritahu Ruiga ya soal ini! Anak itu memang harus dipantau kesehariannya. Tapi jika kalian mau pacaran, tante rela kok. Tante telah mempercayaimu. Aku rasa cuma kau yang bisa membuat Ruiga menjadi lebih dewasa."
Tak lama kemudian suasana pun mencair menjadi dipenuhi tawa ria. Mereka saling berdiskusi tentang Ruiga. Setelah mengetahui sifat asli Liliya, Nina tidak lagi merasa canggung untuk berekspresi di hadapan Liliya. Nina menilai Liliya itu adalah ibu yang baik dan perhatian.
"Tapi tante sedih ketika Ruiga...."
"Bahkan Ruiga tidak sungkan cerita hal seperti itu padamu. Sepertinya bagi Ruiga kau ini istimewa."
"Ya mau siapa lagi coba Rui mau cerita kalau bukan sama aku? Lagipula saat itu dia tidak membawa uang sedikit pun. Jadi dia tidak bisa membayar orang untuk mendengarkan curhatnya."
"Jadi benar ya selama ini Ruiga mendapat teman banyak karena membayar mereka. Awalnya tante ragu ketika tahu dari orang suruhan tante. Dan ketika Rui ditanya soal itu, dia kekeh tidak mau mengaku."
"Kalau boleh memberi saran, lebih baik tante batasi saja uang yang bisa Ruiga pakai. Ruiga terlalu boros menggunakan uang yang tidak penting."
"Terimakasih telah perhatian sama anakku. Hari makin gelap. Apa kau tidak mau pulang? Hampir seharian kau di sini."
"Tante benar. Aku harus pulang."
"Jangan salah sangka loh! Tante tidak mengusirmu! Tapi....."
"Iya Nina paham kok tante. Anak perempuan tidak baik pulang terlalu malam. Nina balik dulu ya tan."
Setelah bersalaman dengan Liliya, Nina pun segera pulang ke rumah. Selain itu dia juga harus mengerjakan PR sekolah yang besok harus dikumpulkan.
...****************...
Sebelum kembali pulang Nina menyempatkan dirinya mampir ke toko untuk membeli beberapa makanan untuk adiknya.
Di sana Nina bingung untuk memutuskan. Jajanan favorit adiknya ternyata harganya naik 20% Jika Nina memaksa untuk membelinya, maka tidak ada sisa uang untuk jajan besok di sekolah. Namun setelah dipikirkan ulang tak ada salahnya mengorbankan diri untuk tidak jajan demi adiknya senang.
Dan dibelilah jajan cokelat mahal kesukaan adiknya. Tanpa ada raut wajah penyesalan, Nina menuju meja kasir lalu membayarnya. Kemudian dia berjalan keluar toko untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Hanya dengan bersepeda Nina ditemani pulang. Dia melaju dengan tenang mengayun pedal sepeda hingga sampai ke lokasi tujuan.
__ADS_1
Begitu sampai di depan rumah, Nina dikejutkan dengan sosok kakek-kakek yang terlihat sedang kebingungan di dekat situ. Tanpa pikir panjang Nina langsung menepikan sepedanya kemudian menghampiri kakek itu.
Nina pikir kakek itu sedang kebingungan arah jalan pulang. Dan maka dari itu Nina berniat untuk mengantarkannya pulang.
"Bisa dibantu kek?"
"Oh anak manis. Seharusnya kakek yang berkata seperti itu."
"Ha?" Tentunya Nina bingung dengan jawaban si kakek.
"Hehehe kau baik. Kau anak baik. Kakek bisa sedang tersesat kok. Jadi kau tidak perlu mengantarkan kakek pulang."
"Kakek kok bisa tahu?!"
"Bahkan kakek tahu kau sedang bersedih karena temanmu saat ini sedang koma."
Wajah heran Nina berubah menjadi wajah waspada. Ia takut dengan kakek di depannya ini. Sangat tidak mungkin orang biasa bisa tahu hal sejauh itu tentang Nina. Nina pikir kakek itu adalah mata-mata atau orang suruhan Liliya yang selama ini mengawasinya.
"Tenang, tenang! Kakek bukan orang jahat. Kakek di sini mau minta bantuan padamu. Ya itu jika kau mau."
"Apa yang kakek inginkan?" Nina masih belum sepenuhnya yakin dengan kakek ini. Namun Nina mencoba untuk mendengar.
"Apakah kau bisa menolong Ruiga?"
"Kakek kenal Ruiga? Kakek ini siapanya keluarga Sasugara?!"
"Bagi mereka aku bukan siapa-siapa. Tapi bagiku dia istimewa."
"Katakan saja langsung ke intinya."
"Wah kau ini tidak suka basa-basi ya. Baiklah, jadi begini. Jiwa Ruiga saat ini sedang berada di dunia lain. Karena dia melakukan pelanggaran yang membuatku kecewa padanya, maka dia terpaksa kuhukum ke dunia sana. Ruiga akan tetap terkurung ke dunia itu sampai Ruiga mau menerima takdirnya sebagai kakak. Apakah kau bersedia membuat Ruiga mau menerima takdirnya?"
"Bawalah aku ke tempat Ruiga sekarang!" Kata Nina dengan rasa tak sabaran.
"Kau langsung percaya dengan perkataan kakek?!"
"Sejak kakek bisa menebak pikiranku, aku sudah membuat kesimpulan bahwa kakek itu bukan orang biasa. Aku tidak tahu kakek siapa. Yang jelas kakek ini bukan manusia. Tolong bawa aku ke tempat Ruiga kek!"
"Jangan terburu-buru memutuskan! Pikirkanlah dulu! Karena ini ada risikonya."
"Apa pun itu aku tak peduli risikonya."
"Wah kau ini peduli sekali padanya. Padahal risikonya adalah kau akan sama seperti Ruiga yaitu tubuhmu akan tertidur sementara jiwamu akan kemasukan ke dunia alternatif. Di dunia sana kau bisa bertemu Ruiga dan membuatnya mau menerima takdirnya."
Seketika saja Nina terdiam sejenak. Tentu saja ini pilihan sulit. Dengan perginya roh Nina ke dunia alternatif akan membuat raga Nina tertidur dalam waktu yang lama. Tapi bukan itu masalahnya. Yang menjadi masalah adalah ketika tubuh Nina yang tertidur akan membuat repot keluarganya hingga memaksa keadaan untuk mengeluarkan uang.
"Kau tak perlu menjawabnya sekarang. Dan apabila kau tidak bersedia, maka kakek tidak memaksa. Ngomong-ngomong apa kau tidak marah sama kakek? Kakek yang dengan sengaja mengurung Ruiga ke dunia alternatif."
"Kakek begitu karena ada alasan tertentu pastinya. Selain itu hilangnya kesadaran Ruiga sangat berdekatan dengan masalah itu. Di sini aku menyimpulkan jika hukuman yang kakek berikan itu adalah hukuman Ruiga karena telah bersikap kurang ajar sama orangtuanya. Benarkah itu?"
"Prediksimu tepat sekali. Kau ini sepertinya punya kelebihan."
"Tidak. Tapi aku memiliki keyakinan jika setiap kesalahan itu akan ada hukumannya entah secara cepat atau lambat. Tapi aku tidak menyangka jika Rui akan secepat ini mendapatkan hukuman."
Percakapan pun terhenti sampai di sini. Kakek-kakek yang ternyata adalah Dewa Zelus itu langsung menghilangkan tubuhnya dan kembali ke dunia alternatif. Sementara Nina masih berada di teras rumah untuk memikirkan sesuatu.
...****************...
__ADS_1