Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Keterpaksaan


__ADS_3

Ruiga mendapati dirinya sudah berada di atas ranjang dan bagian badannya telah berselimut. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, ternyata keadaan kamarnya telah berubah. Ruangan yang tadinya berantakan dan dipenuhi oleh barang-barang rusak yang berserakan pun kini telah kembali utuh seperti semula.


Awalnya Ruiga kira kejadian waktu itu adalah mimpi, namun setelah dipikir-pikir kembali, ternyata bukan mimpi. Ruiga masih berada di dunia alternatif ciptaan Dewa Zelus. Hal itu bisa dibuktikan dengan sebuah foto masa kecil Ruiga dan Ruhisa yang terpasang di dinding. Jika Ruiga berada di dunia nyata, maka foto Ruhisa tidak mungkin ada.


Lalu Ruiga pun bangun mengangkat badannya. Kemudian dia melihat sebuah nampan yang terdapat sepiring makanan dan segelas minuman. Ketika piring itu diangkat, ternyata terdapat selembar kertas yang dilipat dengan rapi. Itu seperti pesan surat yang sengaja ditinggal di situ.


"Apa ini?"


Daripada menebak-nebak tidak jelas, Ruiga pun segera membaca pesan di kertas itu. Dan isi pesan itu ialah: Ini ada sedikit makanan dariku. Sebenarnya aku dilarang untuk mengasih kakak makanan oleh ayah dan ibu. Kata mereka ini adalah hukuman untuk kakak. Tapi aku tidak tega jika kakak harus kelaparan di kamar. Masalahnya kakak tidak akan diperbolehkan keluar kamar, kecuali jika kakak mau minta maaf ke ibu. Jangan lupa dimakan ya kak! Dan segeralah minta maaf agar kakak bisa keluar dari kamar lagi. Salam dari Ruhisa.


"Ternyata benar aku masih berada di dunia ini. Terus bagaimana caraku minta maaf pada mereka jika aku dikurung di tempat ini? Mau teriak sekeras apa pun juga tidak bakalan terdengar dari luar. Kecuali jika aku berteriak dari jendela kamar. Kemungkinan akan terdengar oleh satpam atau para pembantu di rumah ini. Tapi jika aku melakukan itu, kesannya aku lemah sekali seperti anak kecil yang kapok dengan hukuman orangtuanya. Tunggu, pasti ada cara lain."


Beberapa detik ketika proses berpikir, tiba-tiba Ruiga melihat pendeknya yang berada di meja. Dan dengan ponsel itulah dia akan menghubungi ibunya untuk meminta maaf. Sebenarnya Ruiga gengsi melakukan hal itu, namun apa dayanya dia saat itu? Lebih baik membuang gengsi daripada mati kelaparan di kamar itu.


Dan pada saat itulah Ruiga merasa bersyukur karena orangtua di dunia nyata tidak seperti itu. Senakal apa pun Ruiga, kedua orangtuanya tetap bisa bersabar di dunia nyata, kecuali saat Ruiga memaksa ibunya untuk menggugurkan kandungannya.


Sialnya pesan Whatsapp dari Ruiga tidak ditanggapi oleh ibunya. Tapi Ruiga tahu jika ibunya sudah membaca pesan darinya karena laporan terbaca di aplikasi itu ada.


Dan sekali lagi Ruiga harus rela merendahkan dirinya. Ruiga mau menelepon ibunya. Di dunia nyata Ruiga sangat jarang mengirim pesan maupun menelepon orangtuanya, kecuali ketika Ruiga sedang meminta sesuatu.


Tak mau buang-buang waktu lagi, Ruiga pun segera menelepon ibunya. Panggilan pun tersambung, namun. belum ada jawaban dari ibunya. Padahal akun Whatsapp ibunya sedang online. Sepertinya Liliya memang sengaja tidak menjawabnya atas tujuan tertentu.


Setelah tiga kali panggilan suara tak terjawab, akhirnya Ruiga memilih untuk menyerah. Dengan kesal ia membantingkan tubuhnya ke atas kasur. Dan pikiran buruk terhadap ibunya pun terus bermunculan di benaknya hingga bertubi-tubi.


Namun beberapa saat setelahnya, terdengarlah bunyi panggilan telepon. Panggilan tersebut berasal dari ibunya. Tanpa pikir panjang Ruiga langsung menjawab panggilan tersebut dan terjadilah percakapan.


"Halo."


"Gimana? Sudah kapok?" Kata Liliya dengan nada meledek.


"Hm.... "


"Apa yang ingin kau katakan? Ibu tidak punya banyak waktu."


"Anu... aku... "


"Cepat katakan! Atau ibu akhiri panggilan ini!" Kata Liliya dengan nada kasar.


"Baiklah. Aku minta maaf." Kata Ruiga dengan nada datar. Mungkin ini terdengar sepele, tapi ini adalah yang pertama kalinya Ruiga minta maaf pada orangtuanya. Karena dari kecil terlalu dimanjakan dan apa pun selalu diturutinya.


"Coba ulangi sekali lagi!"

__ADS_1


"Apa?.... Oh baiklah. Aku minta maaf."


"Sekali lagi."


"Aku minta maaf."


"Sekali lagi."


"Harus berapa kali aku minta maaf?"


"Ulangi terus sampai ibu yakin jika permintaan maafmu adalah tulus."


"Aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf.....!!!"


"Sudah cukup! Ibu akan ke sana sekarang." Lalu panggilan suara pun berakhir.


Tak lama kemudian suara pintu dibuka pun terdengar. Dari balik pintu kamar itu terdapat dua sosok perempuan yang sebentar lagi mau memasuki ruangan.


Mereka adalah Ruhisa dan Liliya ibu Ruiga. Ruhi terlihat senang bisa bertemu dengan kakaknya lagi, sementara Liliya tetap memasang wajah galak seolah sedang memberi tanda bahwa dia masih belum bisa memaafkan Ruiga sepenuhnya.


"Oh syukurlah..." Ucap Ruiga dengan pelan.


"Ingat ya, ibu memaafkanmu bukan karena kau sudah minta maaf. Tapi karena Ruhisa yang dari semalam terus memaksa ibu memaafkanmu."


"Jadi intinya sekarang aku boleh keluar dan makan lagi kan?"


"Boleh saja. Asalkan kau mengucapkan terimakasih pada Ruhisa."


"Apa?!" Ruiga terkejut mendengar itu.


"Kalau kau keberatan untuk minta maaf juga tidak apa-apa. Akan ibu kunci lagi kau di kamar."


"Apa boleh buat... Terima kasih." Kata Ruiga dengan nada terpaksa.


"Kalau mengucapkan terimakasih itu yang ikhlas!" Kata Liliya dengan nada keras."


"Gak apa-apa kok bu. Ruhi tidak butuh ucapan terimakasih. Yang penting kakak sudah boleh keluar kamar lagi." Kata Ruhisa.


"Tuh dengar adikmu! Seharusnya kau malu sama adikmu yang pikirannya lebih bijak darimu. Pokoknya awas saja ya kalau kau bersikap kurang ajar lagi pada ayah atau ibu! Jika hal itu terulang lagi ibu akan menghukummu lebih kejam lagi!!" Kata Liliya dengan nada mengancam.


Ruiga yang mendengar hal itu cuma bisa diam. Tapi dalam hatinya dia menyangkal semua perkataan ibunya itu. Ruiga memilih diam karena terpaksa.

__ADS_1


Setelah puas menceramahi anak laki-lakinya, Liliya pun segera meninggalkan kamar Ruiga. Ia harus kembali ke ruangan kerjanya di kamar. Hari ini Liliya memilih mengerjakan berkas kantor dari rumah atas alasan pribadi.


Merasa aneh Ruhisa masih di situ lalu berkatalah Ruiga, "Ngapain masih di situ?!"


"Memang salah ya jika aku berada di sini?" Kata Ruhisa dengan wajah kecewa.


"Tentu saja salah!"


"Tapi kan aku tidak melakukan sesuatu yang salah..."


"Aku tidak suka kau berlama-lama di sini!"


"Padahal dulu kakak biasa saja jika aku berada di kamar kakak. Tapi sekarang....."


Hampir saja Ruiga mau mengucapkan kata-kata yang bakalan membuat sakit hati ke Ruhisa, namun untung saja kata-kata menyakitkan itu tak jadi terucap. Ruiga dapat menahan kata-kata itu karena Ruiga takut akan mendapatkan masalah. Ruiga takut jika Ruhisa akan mengadukan perkataan buruk Ruiga ke ibunya.


"Sekarang gini saja. Aku akan mengurusi urusan pribadiku sendiri, dan kau juga urus urusanmu sendiri. Kita jalani hidup masing-masing. Dan jangan katakan hal yang tidak perlu!"


Seketika saja raut wajah Ruhisa menjadi sedih bercampur heran. Kata-kata dari kakaknya barusan sangat tidak bisa diterima dengan mudah. Kata-kata barusan terdengar seperti ingin memutuskan ikatan antara mereka berdua.


"Tapi kenapa? Kakak tidak sayang lagi sama aku?"


"Jujur saja, saat ini aku ingin berkata kasar padanya. Tetapi jika itu kulakukan, maka yang ada hanya akan mendapatkan masalah. Apalagi aku yakin saat ini si dewa Kampret itu sedang mengawasiku. Sebisa mungkin aku akan bersikap halus padanya meski ini karena terpaksa." Kata Ruiga dalam hati. Lalu dia berkata, "Dengarkan aku! Kita sudah besar. Kita bukan anak-anak lagi. Ketika kita sudah besar kita harus bisa menentukan kehidupan kita sendiri meskipun kita kembar. Kita ini kembar, tapi kita punya cara hidup masing-masing. Kau tahu kan apa maksudku?"


"Hm iya. Ayah dan ibu juga sering berkata seperti itu. Tapi... "


"Sekarang keluarlah! Aku tidak suka orang lain berada di kamarku. Dan aku juga akan turun ke bawah untuk makan."


"Tapi kan aku sudah memberikan makanan untuk kakak pagi tadi. Kenapa tidak dimakan?"


"Jangan tersinggung ya! Aku tidak suka makanan itu. Terlalu banyak sayur." Kata Ruiga dengan nada yang sengaja dibikin halus.


"Aku juga tidak suka sayur. Tetapi ibu bilang kita harus makan sayur."


Merasa lelah menanggapi omongan Ruhisa, Ruiga pun memilih menarik tangan Ruhisa hingga keluar dari kamarnya. Setelah keduanya keluar, Ruiga langsung berjalan menuruni tangga.


Tapi Ruiga lupa mengunci pintu kamarnya. Lalu Ruhisa pun memasuki kamar kakaknya lagi. Ketika dirinya berada di dalam, seketika saja air matanya pecah. Ia menangis tanpa bersuara sambil mendekat ke meja belajar yang di atasnya terdapat sepiring makanan dan segelas minuman.


Karena tahu tidak akan dimakan, maka Ruhisa yang memakan itu. Ruhisa tidak menyangka akan memakan makanan yang sudah disiapkan untuk kakaknya.


Bagi Ruhisa, perubahan sifat kakaknya ini sangat sulit diterima. Tidak masalah jika Ruhisa diperlakukan kasar oleh kakaknya. Tetapi Ruhisa sangat tidak bisa menerima jika kakaknya mencoba memutuskan ikatan antara mereka. Walaupun Ruiga tadi sudah bicara dengan cara halus, tapi Ruhisa tahu betul di balik perkataan yang lembut itu mengandung maksud lain.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2