Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
SMA SASUGARA RR


__ADS_3

Aku dan Ruhi sudah berada di depan gerbang sekolah. Di sana terdapat banyak siswa yang berdatangan masuk ke dalam. Sampai di sini aku masih ragu apakah tempat ini benar sekolahanku atau bukan.


"Ayo masuk! Sebentar lagi pelajaran dimulai." Kata Ruhi yang menarik tanganku.


"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!" Bentakku sambil melepaskan tanganku dari gandengannya.


Ruhisa pun terlihat kecewa. Tapi aku tak memperdulikannya dan tetap berjalan mencari kelasku. Eh aku kan tidak tahu kelasku di mana. Karena ini berbeda dengan sekolahan asliku, maka bisa saja kelasku juga beda.


"Lagi-lagi kakak memarahiku."


"Kalau tidak mau dimarahi jangan melakukan hal yang aneh!"


"Emang apa salahnya jika aku menggandeng tangan kakak?" Tanya Ruhisa dengan nada sedih.


"Sudahlah! Gak guna bahas kaya gini! Sekarang beritahu aku kelas kita!"


"Eh kakak lupa kelas kita di mana?! Ternyata kakak benar amnesia."


Bel masuk pun berbunyi. Spontan saja Ruhisa langsung menarik tanganku lagi sambil berlari menuju kelas.


Di sini aku benar-benar merasa asing dengan orang-orang di sini. Sepertinya Zelus memodifikasi sepenuhnya sekolahanku. Tapi apa dasarnya dia melakukan ini?


Akhirnya kami sampai ke kelas. Dan ternyata benar seluruh isi sekolah ini telah dirubah total. Tak hanya bentuk bangunan dan nama sekolahnya saja yang dirubah, tapi para penghuninya pun juga beda. Di dalam kelas ini tak ada yang aku kenali satu pun kecuali Ruhi.


Tapi kok aku mendapatkan bangku paling depan dekat dengan meja guru? Ini sangat berlainan dengan bangkuku di dunia nyata.


"Kakak ngapain masih berdiri di situ? Cepat duduk ke sini! Sebentar lagi pak guru datang."


Tak ada pilihan lain. Aku pun duduk di sebelah Ruhi. Tentunya ini menyebalkan. Kenapa tiap waktu dia selalu ada di dekatku? Jika kami harus satu kelas, paling tidak jangan juga sebangku denganku. Memang dia tidak ingin sebangku dengan teman perempuan di kelasnya.


Beberapa detik kemudian seseorang yang disebut guru telah memasuki kelas. Dan alangkah terkejutnya diriku setelah tahu identitas guru tersebut. Aku heran kenapa dia malah menjadi guru di sini. Bukankah tugasnya hanya mengawasiku dari tempat lain?


"Yo selamat pagi anak-anak."


"Selamat pagi pak." Jawab para siswa di kelas secara kompak kecuali aku.


"Selamat pagi Ruiga..." Kata Zelus dengan senyuman aneh.


Si dewa Kampret itu menjadi guru? Aku kira sekolahan ini lebih baik dari sekolah asli di duniaku, eh ternyata justru makin parah.


"Kenapa kakak diam saja? Balas dong salam dari Pak Zelus."


"Kau kenal dia?"


"Eh kakak ini aneh. Aku rasa kakak perlu ke dokter. Ingatan kakak makin kacau."


Dan pembelajaran pun dimulai. Di sini peran Zelus adalah sebagai guru sejarah. Tentunya makin membosankan saja. Apalagi dia menjelaskan banyak hal yang aku sendiri tidak paham. Ini bukan sejarah tentang negaraku, tetapi membahas sejarah para dewa yang aku sendiri tidak pernah dengar sebelumnya.

__ADS_1


Hal itu berlangsung selama beberapa saat. Dan kini rasa jenuh itu menggerogoti jiwa dan pikiranku. Satu-satunya hal yang ingin kulakukan saat itu ialah mengharapkan agar momen ini cepat berakhir. Bagi siswa pemalas seperti aku ini pastinya tidak akan betah dengan situasi ini.


Namun satu hal lainnya telah membuatku terkejut. Awalnya aku mengira bahwa seisi siswa di sini tidak ada kloningan siswa dari sekolah asliku, namun hal itu tak sepenuhnya benar.


Tok, tok, tok.... Seseorang mengetuk pintu dari luar. Beberapa detik kemudian Zelus memberi respon dengan menyuruhnya masuk.


"Maaf pak saya terlambat." Kata perempuan itu dengan wajah malu-malu di hadapan kami.


"Nina?" Aku tidak menyangka dia juga bersekolah di sini.


"Cepat duduk di bangkumu!" Kata Zelus yang tidak memperdulikan keterlambatan Nina.


"Eh bapak tidak menghukumku?"


"Tidak. Hari ini aku sedang berbaik hati."


"Terima kasih." Nina pun berjalan menuju bangkunya yang terletak di bagian paling belakang. Tapi dia cuma duduk sendirian tanpa ada rekan sebangku. Hal itu terlihat seolah dia sedang diasingkan di kelas ini.


Pembelajaran pun masih berlanjut hingga mendekati sisa waktu terakhir. Dan pada akhirnya jam istirahat pun tiba.


"Kak ayo ke kantin!" Ajak Ruhisa padaku.


"Gak. Kau aja ke kantin sendiri!" Kataku dengan nada ketus.


"Tapi aku maunya ke kantin bareng kakak."


Daripada ke kantin, akan lebih baik jika aku gunakan waktu ini untuk mencari informasi. Dan informasi itu bisa didapat dari sumbernya langsung yaitu Zelus.


Aku yakin dia berada di ruang guru sekarang. Namun setelah aku ke sana, di sana tidak ada Zelus. Aku kira perannya sebagai guru di sini itu permanen, eh ternyata cuma sekali saja. Aku lupa kalau di dunia ini dia bisa melakukan apa saja tanpa dicurigai oleh penghuni dunia ini, kecuali aku.


"Kakak cari siapa sih?" Kata Ruhisa dengan wajah penasaran.


"Kau tahu di mana Zelus berada?"


"Pak Zelus kan berada di atap sekolah."


"Atap sekolah?!" Aku kaget.


"Kenapa kakak kaget? Kan memang sudah menjadi kebiasaan Pak Zelus yang suka berada di atas atap sekolah."


Aku pun langsung menuju ke tempat yang di maksud Ruhi. Kami berjalan manaiki anak tangga dari lantai bawah hingga ke lantai paling atas. Kemudian kami menaiki tangga lagi untuk sampai ke atap sekolah.


Di sana terlihat sepi. Ya tentu saja sepi. Lagian ngapain juga para siswa beramai-ramai di tempat seperti ini?


"Mencariku?" Kata Zelus yang sedang bongkong di sana.


"Aku butuh penjelasan darimu."

__ADS_1


"Menarik sekali. Sepertinya ini serius."


"Aku lapar. Apa kakak mau makan sesuatu? Jika mau akan kubelikan di kantin?" Kata Ruhisa.


"Terserah." Jawabku tanpa melihat wajahnya. Dan Ruhisa pun berjalan menuruni tangga menuju arah kantin.


"Pasti kau ke sini cuma mau bilang kalau kau sudah menerima takdirmu. Ya kan?"


"Tidak juga. Aku ke sini cuma mau tanya mengapa kau merubah sekolahanku?"


"Memang apa masalahnya?"


"Aneh saja tiba-tiba saja aku bersekolah di sini. Cuma Nina saja yang aku kenal."


"Bukankah di dunia nyata juga begitu? Di sekolahan aslimu yang kau kenal cuma Nina."


"Itu tidak benar. Di sekolahan asliku aku juga kenal beberapa siswa lain walau....."


"Walau kau cuma dimanfaatkan oleh mereka?"


"Hm... " Aku hanya bisa terdiam.


"SMA ini adalah harapan dari keluargamu yang terlupakan."


"Harapan yang terlupakan? Maksudnya apa?"


"Di dunia nyata atau dan ibumu memiliki cita-cita untuk mendirikan sekolah SMA. Tapi hal itu tak pernah diwujudkan."


"Tahu apa kau soal itu?"


"Aku ini dewa. Aku tahu banyak hal."


"Terus apa hubungannya denganku dan sekolah ini?"


"Ya karena di dunia nyata tidak bisa terwujud, maka hal itu kuwujudkan di sini. Aku hanya ingin kau menikmati harapan orangtuamu yang terlupakan."


"Jadi cuma itu saja alasanmu merubah sekolahan asliku?"


"Tidak juga. Sebenarnya aku berharap suatu saat kau yang akan mewujudkan impian orangtuamu yang terlupakan itu."


Beberapa saat kemudian datanglah Ruhisa dengan sebuah kantung plastik di tangannya. Di dalam kantung plastik itu terdapat berbagai jajanan. Ini terlalu banyak. Lagian kenapa harus sebanyak ini membeli makanan yang manis-manis?


"Ayo kita makan bersama!" Kata Ruhisa yang memakan duluan.


Dan cuma gini aja Chapter ini. Pembahasan yang serius akan dibahas di Chapter berikutnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2