
Nyalinya tak sesuai ketika dirinya emosi. Kini penyesalan pun tiba begitu saja. Seharusnya dia tidak mengatakan kata-kata jahat yang membuat kedua orangtuanya sakit hati.
Sebenarnya belum terlanjur jauh untuk kembali dan minta maaf, hanya saja pikirannya saat itu masih dilunasi rasa takut dan cemas. Terutama takut dituju lagi di pipi sebelahnya. Rasa sakit tinju tadi pun masih berasa hingga saat itu.
Hanya berjalan saja tanpa tujuan yang jelas. Sudah sepet gelandangan saja dirinya yang dari tadi terus berjalan, kemudian menepi sejenak untuk memulihkan energi.
"Sial aku lapar. Harusnya sebelum pergi aku bawa kartu ATM. Masih ada banyak uang dalam tabunganku."
Sebenarnya itu pun percuma karena pastinya Reiga dan Liliya punya inisiatif untuk memblokir kartu kredit Ruiga.
"Apakah aku kembali saja ya? Ternyata di rumah lebih nyaman. Dih, tapi kalau aku kembali, mungkinkah mereka menerimaku lagi atau justru memukuliku lagi?"
Ruiga tidak mengetahui jika dirinya sedang diperhatikan dari jauh. Orang-orang itu menatap pada Ruiga dengan heran. Merupakan hal aneh anak orang paling kaya di kota ini tapi dirinya sedang terlihat bingung di tepi jalan.
"Bukankah itu anak dari keluarga Sasugara? Ngapain dia sendirian di pinggir jalan?"
"Mana kutahu? Mungkin dia sedang bikin acara prank buat video Youtube."
"Kayaknya gak mungkin deh. Dia kan tidak punya chanel Youtube."
Menyadari dirinya sedang diperhatikan dan dibicarakan, akhirnya timbullah niatan untuk menjauh dari sana.
Ruiga berlari secara acak. Arah mana pun yang ia pilih tidak ia pedulikan asal dirinya menemukan lokasi yang nyaman buat menyendiri. Kemudian langkah kakinya terhentikan oleh rasa lelah yang sebenarnya dari tadi belum sepenuhnya pulih.
"Sial aku lelah dan lapar? Andai saja malam ini hujan duit. Atau ada keluarga kaya yang sudi memungutku.
Di sana tiada siapa-siapa. Sunyi malam itu hanya ada Ruiga saja di sana. Untuk sementara dia memang rebahan sebentar di teras rumah orang yang diduga sedang kosong karena dari situ tak terendus bau kehidupan.
Di sana ada sofa panjang jadi Ruiga mencoba bermalam di situ. Walau sudah berada di sofa empuk seperti ketika dirinya di rumah, tapi tetap saja Ruiga merasa ada yang kurang. Banyak sekali yang kurang hingga secara tak sadar dirinya telah mengeluarkan air mata penyesalan.
"Eh kau Ruiga kan?"
Ruiga pun terkejut mendengar suara yang tiba-tiba memecahkan lamunannya. Ruiga pikir itu adalah suara pemilik rumah yang kemungkinan akan mengusirnya. Namun Ruiga salah besar.
"Loh kok kamu di sini?"
"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau ada di sini? Kau kesasar?" Tanya Nina dengan muka penuh kebingungan.
"Eh anu..."
"Ah sudah kuduga. Kau ini warga komplek sini tapi bisa-bisanya kau tidak hafal area komplek tempat tinggalmu sendiri. Mau masuk ke dalam?"
Ruiga akhirnya sadar ternyata rumah ini adalah rumah Nina. Karena bentuknya sederhana dan penerangan rumah itu begitu terbatas, Ruiga kira rumah itu sudah lama dikosongkan.
Ini merupakan pertama kalinya Ruiga datang ke rumah Nina. Tidak mengira dirinya akan berkunjung dengan cara seperti ini. Tak mau menyiakan kesempatan, Ruiga pun menerima tawaran tersebut.
Berasa berbeda. Ruiga terheran-heran dengan kondisi di dalam yang begitu sempit. Hal ini justru beda jauh dengan rumah miliknya yang begitu luas dan tak banyak makan tempat.
"Nin, boleh aku minta minum?"
"Boleh, kau mau minum apa?"
"Apa saja deh. Kalau bisa sekalian makanannya ya."
Lalu rasa curiga pun terlintas di benak Nina. Sangat tidak mungkin seorang anak keluarga kaya minta makan dan minum sama orang jelata. Jika Ruiga butuh sesuatu harusnya dia membeli saja di toko terdekat. Itulah yang ada di pikiran Nina.
Namun waktu itu Nina belum menindaki rasa curiganya dan memilih mengamati sejenak.
Tak lama kemudian datanglah Nina dari dapur yang membawakan tamunya segelas air putih dan nasi putih tanpa lauk. Nina sengaja memberi Ruiga makanan dan minuman seperti itu untuk mengetes sesuatu.
Hasilnya pun tak sesuai ekspetasi Nina karena ternyata Ruiga menghabiskan semua nasi dan air putih itu tanpa sisa. Kemudian bersendawahlah Ruiga dengan rasa puas meskipun sebenarnya dia masih belum kenyang.
"Kau kelaparan atau gimana sih?"
"Hmm..... "
"Aku mau tanya beberapa hal padamu. Kenapa kau berada di teras rumahku malam-malam begini? Jika dilihat dari ekspresimu tadi sepertinya kau terkejut melihat di sini seolah kau tidak menyangka kalau aku tinggal di sini. Terus cara makanmu seperti gembok yang sudah seminggu tidak makan. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?"
"Eh anu... "
"Anu apa?! Bicara yang jelas?!" Bentak Nina.
"Aku diusir orangtuaku."
"Hah serius?!" Nina terkejut bukan main.
"Tunggu dulu! Kau diusir bukan karena aku tadi ke rumahmu kan?"
"Bukan..."
"Syukurlah." Kata Nina dengan perasaan lega.
"Syukur matamu! Aku diusir kau malah bilang syukur."
__ADS_1
"Syukur bukan aku yang menjadi penyebabnya. Lagian ekspresi ibumu tadi siang terlihat sangat tidak enak. Kupikir ibumu mengusirmu karena kau telah membawa perempuan ke rumahmu."
"Mana mungkin kan aku diusir gara-gara hal sepele."
"Terus kau diusir karena apa? Karena menghamili anak tetangga?" Kata Nina dengan nada meledek.
"Konyol! Mana mungkin aku berani? Pacaran saja belum pernah."
"Masa sih kau belum pernah pacaran? Padahal yang mau jadi padatnya banyak loh."
"Benarkah?"
"Iya. "
"Berarti aku lumayan ganteng juga ya Hahahaha."
"Jangan senang dulu! Mereka mau jadi padatnya itu karena kau ini anak orang kaya hahah."
"Sialan.... Eh tapi kenapa rumahmu sepi?"
"Malam ini aku ditinggal ibu dan adikku ke rumah nenek. Tadinya aku juga diajak, tapi aku menolak karena di sana tidak nyaman."
"Kalau begitu boleh kan aku menginap di sini?"
"Gak boleh!"
"Tega banget sih? Katamu kita teman? Dan teman itu salin membantu kan?"
"Iya sih, tapi situasinya sangat tidak memungkinkan. Kalau cuma kita berdua sih takutnya kita digrebek warga. Selain itu aku takut perawanku hilang olehmu." Kata Nina dengan senyuman nakal.
"Lagi-lagi pikiranmu kaya gitu mulu. Sudah kubilang aku ini masih polos. Aku bisa jamin kok. Lagian cuma satu malam saja."
"Kau boleh menginap di sini, tapi kau cerita dulu kenapa kau bisa diusir! Masalahnya orangtua tidak akan mengusir anaknya tanpa alasan yang kuat. Aku curiga kau baru melakukan sesuatu pelanggaran."
"Bukan pelanggaran sih. Aku cuma salah bicara saja."
"Salah bicara? Kau bicara apa sama orangtuamu sampai kau diusir begini? Makanya sama orangtua itu yang sopan!"
"Memang aku tidak pernah sopan ya?"
"Introspeksi diri deh! Masa mengenali sifat diri sendiri saja tidak bisa. Cepat beritahu aku kenapa kau bisa diusir?!"
"Tapi janji ya aku boleh menginap di sini kalau aku cerita?"
"Hm jadi gini. Aku diusir gara-gara aku memyuruh ibuku menggugurkan kandungannya."
Seketika saja kedua mata Nina melotot karena kaget. Sebagai sesama perempuan Nina merasa terhina dengan orang seperti itu. Nina tahu betul betapa sakitnya perasaan Liliya saat ini.
Jawaban Ruiga barusan telah membuat batal perjanjian antara Nina dan Ruiga. Ruiga pun diusir dari rumah Nina. Ruiga dipaksa keluar oleh Nina dengan kasar.
"Kenapa kau mengusirku? Kau kan sudah janji mau membolehkan aku menginap di rumahmu?"
"Perjanjian batal! Aku gak sudi punya teman anak kurang ajar sepertimu. Mulai hari ini kita bukan teman lagi!"
"Berengsek kau! Kau menipuku!!"
"Sebenarnya aku tidak keberatan kau menginap sehari di sini. Tapi setelah aku tahu kebusukanmu ini, aku mengurungkan niatku. Terserah mau tidur di jembatan atau di sungai! Aku tidak peduli."
"Tega banget sih kau mengusirku?! Aku berkata seperti itu karena aku kemakan emosi. Aku secara tidak sadar telah bicara seperti itu. Kumohon izinkan aku menginap!"
"Tidak! Apa pun alasannya kau tetap salah! Jika kau memang merasa bersalah dan tidak sengaja, lebih baik kau pulang dan minta maaf sama orangtuamu! Aku yakin mereka akan menerimamu kembali!"
"Aku takut untuk kembali."
"Takut?! Kau ini laki-laki. jadilah jantan yang bertanggung jawab! Pergi sana! Aku mau tidur."
Nina pun membanting pintu di depan Ruiga. Dan Ruiga sendiri harus menerima nasibnya untuk tidur di luar malam ini.
Dia masih berada di teras rumah Nina. Jika pun mau pergi dia tidak tahu mau pergi ke mana. Yang jelas ia masih belum punya cukup nyali untuk kembali menghadap kedua orangtuanya.
Beberapa menit kemudian barulah Ruiga mau meninggalkan kediaman Nina. Setelan beberapa menit berjalan, kedua kaki Ruiga merasa kaku. Kaku tak bisa digerakan karena takut dan kaget. Dia melihat sesosok pria tua berambut putih dan berjenggot panjang. Pakaiannya serba putih sehingga terlihat begitu mencolok jika berada di keramaian.
"Mau sampai kapan kau menjadi gelandang?" Kata kakek-kakek itu. Perlahan kakek itu makin dekat.
"Kau bukan hantu kan?" Kata Ruiga dengan nada bicara patah-patah."
"Hantu? Mahluk suci sepertiku kau anggap hantu? Wahai anak muda, kembalilah ke rumah! Sejujurnya mereka tidak bermaksud mengusirmu."
"Tahu dari mana kalau aku diusir?"
"Aku ini adalah seorang dewa. Namaku Zelus Dewa penerima takdir."
"Hahahaha." Ruiga tertawa ngakak mendengar hal itu. Jangankan Ruiga, orang lain pun pastinya juga tidak percaya jika kakek-kakek itu seorang dewa.
__ADS_1
"Kau boleh tidak percaya. Tapi kau harus pulang dan menerima takdirku sebagai seorang kakak. Adik itu bukanlah beban seperti yang kau kira. Jika kau takut sama ayahmu dan khawatir mau dipukul lagi, maka aku bersedia mengantarkanmu ke rumah. Dan aku juga akan melindungimu jika kau diperlakukan kasar oleh ayahmu."
"Bagaimana kau bisa tahu sedetil itu?!" Kali ini Ruiga sangat terkejut.
"Sudah kubilang kan? Aku ini dewa. Tentu saja aku tahu hal sekecil itu."
"Kau ini bukan dewa! Kau ini.... hantu."
Kali ini kedua kaki Rui sudah bisa digerakan. Kini dia berlari jauh sekali. Ruiga tetap menganggap bahwa kakek tadi bukan dewa. Hal itu dikarenakan dalam keyakinan yang dianut Ruiga tidak ada yang namanya dewa.
Ruiga baru merasa aman setelah dirinya berada di pos ronda yang di sana ada satu bapak-bapak yang sedang jaga. Ruiga terlihat begitu ketakutan seakan-akan dirinya habis dikejar oleh pembunuhan bayaran.
"Kenapa kau lari?" Kata bapak itu.
"Aku baru saja bertemu hantu." Kata Ruiga dengan nafas yang terengah-engah.
"Hantu? Apakah Hantunya seperti ini?" Kata bapak itu sambil tersenyum.
Seketika saja rasa kaget kembali menyambar jantung Ruiga. Ingin sekali rasanya ia teriak keras namun hal itu tak bisa karena tertahan oleh sesuatu.
"Bagaimana bisa kau...?"
"Sudah kubilang kan, aku ini dewa. Jangan takut karena aku tidak akan menyakitimu."
Ternyata bapak-bapak di pos tadi adalah jelmaan Dewa Zelus. Kali ini Dewa Zelus berpenampilan seperti rakyat jelata pada umumnya, jadi kesan magis tiada lagi pada dirinya.
"Dewa itu tidak ada."
"Ilmu itu luas. Kau tidak akan bisa memahami seisi dunia jika kau hanya berpegangan pada satu ilmu keyakinan. Beberapa sudut pandang berbeda perlu dilihat agar pengertianmu menjadi luas. "
"Intinya apa yang kau inginkan dariku?"
"Aku ingin kau pulang dan terimalah takdirku sebagai kakak!"
"Kenapa kau begitu peduli dan memaksa?"
"Karena aku adalah dewa penerima takdir. Tugasku adalah membuat orang mau menerima takdirnya sendiri."
"Bagaimana jika aku menolak?"
"Jika kau menolak, maka yang rugi adalah dirimu sendiri. Memang apa enaknya kau menjadi gembok di jalanan? Dari pada jadi embek mending kau pulang dan minta maaf pada orangtuamu! Mereka mencemaskanmu."
"Jika mereka mencemaskanku, kenapa mereka tidak mencarimu?"
"Apa harus menunggu mereka mencarimu terlebih dahulu baru kau mau pulang?"
"Tentu saja harus."
"Dasar anak manja. Sepertinya percuma aku mengajakmu bicara. Orang sepertimu sama sekali tidak bisa diajak bicara."
"Kalau sudah tahu aku tidak bisa diajak bicara, kenapa kau masih bicara padaku hingga detik ini?"
"Aku akan berhenti bicara setelah kau menerima hukuman dari dewa."
"Hukuman?! Apa maksudnya?"
Tiba-tiba semua terlihat gelap, tapi Ruiga masih bisa melihat tubuhnya sendiri. Ini mirip di luar angkasa yang gelap, hanya saja di sini tidak ada bintang dan planet-planet.
"Di mana ini?!"
"Kau sedang berada di ruang hukuman." Kata Dewa Zelus tanpa menampakan wujudnya.
"Ruang hukuman?"
"Kau akan terus kukurung di tempat ini sampai kau bisa menerima takdirmu sendiri."
Kini barulah Reiga percaya kalau pak tua itu adalah dewa. Ruiga pun menyesal telah membuat dewa kesal. Ia pun memohon agar dikeluarkan dari tempat gelap itu.
"Maafkan aku! Sekarang aku percaya. Keluarkan aku dari sini!" Kata Ruiga dengan suara ketakutan.
"Kau tidak akan bisa keluar setelah kau mau menerima takdirmu."
"Aku sudah menerima takdirku. Setelah kau mengeluarkan aku dari sini, maka aku langsung pulang dan minta maaf sama orangtuaku."
"Kau tidak bisa membohongi dewa. Aku bisa membaca pikiranmu. Dalam hatimu kau belum bisa menerima takdirmu. Kau akan terus berada di sini sebagai hukuman."
"Serius aku akan mencoba menerima takdirku. Ampunilah aku!"
Tidak ada suara jawaban lagi. Nampaknya Dewa Zelus sudah memutuskan komunikasinya. Seketika saja Ruiga makin panik histeris
Apa pun yang ia lakukan di sana percuma. Mau lari ke mana pun dia tak akan sampai ke mana-mana. Dan berteriak minta tolong pun juga tidak bakalan ada yang menyautnya.
Tak ada yang bisa menolong dirinya kecuali dirinya sendiri. Di dimensi ruang hampa inilah tempat tinggal Ruiga selama beberapa hari, bahkan bisa beberapa bulan, hingga beberapa tahun sampai hatinya mampu menerima takdir.
__ADS_1
...****************...