
Udara dingin di malam itu bukanlah tanpa pertanda. Udara dingin di wilayah itu adalah awal dari mulai terjadinya sebuah badai. Awalnya cuma hujan gerimis saja. Setelah itu barulah hujan deras yang disertai angin kencang yang melanda.
Meski hanya suara angin, tapi hal itu membuat telinga bising di malam hari. Kemudian terdengarlah suara petir yang menggelegar hingga membuat Nina dan Ruiga bangun dari tidurnya. Setelah itu barulah mereka sadar jika tiap detiknya malam semakin dingin.
"Badai! Apakah ini bencana?" Kata Nina yang baru saja bangun. Tubuhnya merasa dingin walau sudah berselimut. Lalu Nina kepikiran pada nasib Ruiga yang tidur di sofa tanpa selimut. Karena merasa khawatir, Nina pun menengok ke ruang tamu untuk memastikan bahwa Ruiga baik-baik saja.
Dari tempat Nina berdiri, Nina bisa melihat secara jelas Ruiga yang sedang terbaring di sofa panjang. Posisi tidurnya membelakangi Nina hingga Nina tak bisa melihat wajah Ruiga.
Nina pun mendekat ke sofa itu. Kemudian ia berkata: "Sudah tidur?"
"Belum." Jawab Ruiga secara spontan. Nina pun terkejut mendengar jawaban itu. Tapi Nina tidak heran. Pastinya Ruiga tidak bisa tidur dengan mudah di tempat seperti ini. Apalagi kondisi cuaca yang dingin juga membuat sukar tidur.
Ruiga pun bangun dan duduk di sofa menghadap ke arah Nina. Mereka berdua terlihat sama-sama kedinginan. Air hujan dan tiupan angin begitu kencang hingga masuk ke ventilasi. Dan Ruiga pun mulai menyesal karena memilih tidur di sini. Seharusnya tadi dia pulang ke rumahnya sehingga ia bisa tidur di kamar dengan damai. Karena di kamar Ruiga terdapat mesin penghangat ruangan sehingga udara dingin pun bisa dibikin hangat dengan mesin itu.
"Kok kau bisa betah sih tiduran di sini? Memang tidak terasa dingin ya?"
"Pakai nanya segala. Ya jelas dinginlah! Kau tidak melihat badanku menggigil begini!?" Kata Ruiga dengan nada agak tinggi.
"Iya-iya gak usah ngegas gitu ngomongnya!" Kata Nina sambil tersenyum.
"Pinjamkan aku selimutmu!"
"Cuma ada satu. Kalau ini kau pinjam, terus aku pakai apaan?"
"Sebentar saja kok. Gak kasihan apa sama aku?"
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Ngalah dikitlah sama cewek!" Kata Nina agak membentak.
"Tapi serius. Ini dingin sekali. Aku tidak yakin aku bisa bertahan atau tidak."
Lalu Ruiga bersikap melas di depan Nina. Ia bersikap seolah-olah akalnya akan tiba oleh cuaca dingin ini. Ya tapi Nina tak secepat itu luluh pada Ruiga. Karena Nina tahu jika cuaca dingin ini tidak mungkin akan membunuh orang. Mereka memang merasa kedinginan. Namun rasa dingin itu tak selebay apa yang tertulis di cerita.
"Jangan lemah! Kau ini laki-laki."
"Mau laki-laki atau perempuan, tetap saja kalau dingin ya tetap dingin kan?"
"Setidaknya jangan gampang mengeluh gitu! Bertahanlah sedikit!"
"Kau enak pakai selimut. Jadi kau tidak merasakan derita yang kualami ini."
"Derita?! Cuaca seperti ini kau anggap derita? Kau ini benar-benar anak manja! Asal kau tahu ya, Kehidupan di keluargamu itu jauh lebih makmur dibandingkan dengan keluargaku. Kau enak bisa beli apa pun yang kau mau. Sementara keluargaku saja mau beli makanan saja susahnya minta ampun. Kalau bukan karena bantuan dari pemerintah, mana bisa keluargaku bisa kecukupan sampai sekarang."
"Aku baru tahu soal itu. Kenapa dulu kau tidak cerita padaku?"
"Ya karena sebenarnya tidak ada niat untuk menceritakan ini padamu."
"Terus kenapa barusan kau cerita?"
"Ya itu agar kau sadar jika ada orang lain yang hidupnya lebih menderita dibandingkan denganmu! Maka dari itu bersyukurlah!" Kata Nina dengan nada keras.
"Bersyukur karena aku punya adik? Bersyukur karena selalu dibanding-bandingkan dengan Ruhisa? Bersyukur karena terjebak di dunia imitasi seperti ini? Bersyukur karena....."
"Sudah cukup! Jangan katakan apa-apa lagi!" Kata Nina yang nadanya semakin tinggi. "Berhentilah mengeluh dan jangan berpikiran buruk terus!!! Selama kau masih punya pikiran negatif seperti itu, maka kau tidak akan bisa keluar dari sini!"
Ruiga pun terdiam. Itu pun karena terpaksa. Waktu itu dia sedang tidak ingin berdebat, jadi diam adalah pilihan terbaik pada saat itu. Selain itu pada wajah Nina juga terlihat seram oleh rasa kesannya terhadap Ruiga.
"Maaf nada bicaraku kasar. Aku hanya tidak mau kau salah berpikir dan bertindak." Kata Nina. Dia bilang begitu karena melihat Ruiga yang wajahnya seperti ketakutan melihat reaksi Nina.
Tapi yang dibutuhkan Ruiga bukanlah kata maaf dari Nina. Yang dibutuhkan Ruiga saat ini adalah rasa hangat di tubuhnya agar tidak kedinginan. Lalu terlintaslah ide untuk menghangatkan dirinya dari cuaca ini.
Ruiga bangkit berdiri. Lalu Ruiga melakukan beberapa gerakan kecil di hadapan Nina. Nina yang melihat itu hanya bisa diam terheran-heran.
"Kau ini kenapa? Kesurupan ya?"
Ruiga lebih memilih diam dan fokus untuk melakukan gerakan seperti anak sekolah ketika melakukan pemanasan sebelum mulai olahraga. Ruiga pikir hal itu bisa meredakan udara dingin di sini. Tapi hal itu justru dianggap tindakan gila oleh Nina yang menyaksikan itu.
Dilihat dari mana pun Ruiga sama sekali tidak mirip orang yang sedang melakukan pemanasan. Tapi lebih mirip orang gila yang melakukan tindakan aneh di dalam rumah. Gerakan yang dilakukan Ruiga bukanlah gerakan pemanasan saat berolahraga. Ruiga cuma asal-asalan melakukan gerakan yang membuat dirinya capek.
"Sial, kok tetap dingin ya?" Kata Ruiga yang sudah kelelahan melakukan pemanasan.
"Aku baru sadar jika kau tadi sedang berolahraga."
"Tapi ini tidak berhasil."
"Lakukanlah lagi hingga kau lelah dan berkeringat!"
"Kau buta ya? Memang di matamu ini aku tidak terlihat kelelahan?"
"Terlalu dini untuk merasa lelah. Kau pemanasan belum sampai 10 menit. Setidaknya lakukan itu sampai tiga jam agar rasa dingin itu hilang."
"Ini gila. Yang benar saja sampai tiga jam. Yang ada aku justru tidak bisa tidur karena badan sakit-sakit karena gerakan ini." Kata Ruiga dalam hati.
"Jangan paksa aku untuk meminjamkan selimut ini padamu!"
__ADS_1
"Aku tidak memaksamu."
"Terus kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Jika dilihat-lihat, ternyata kau ini cocok juga dengan baju tidur itu." Padahal baju tidur yang dipakai Nina itu kekecilan hingga bentuk tubuh Nina pun bisa dilihat secara samar-samar. Nina merasa tidak pantas dipuji karena memakai baju tidur yang kekecilan.
Mendengar hal itu Nina justru merasa malu. Biasanya Nina merasa cuek saja ketika dipuji oleh seseorang, kecuali jika yang memuji itu adalah orang yang spesial. Yah Ruiga merupakan orang spesial bagi Nina.
"Wajahmu memerah. Apakah kau sakit?" Ruiga mulai sedikit panik.
"Jangan lihat wajahku!" Kata Nina dengan nada tinggi.
"Hah? Kenapa tiba-tiba marah? Aku kan hanya bertanya apakah kau ini sakit atau tidak."
"Tidak. Aku baik-baik saja! Lebih baik kita kembali tidur. Coba lihat jam berapa sekarang!"
Ketika Ruiga menengok ke arah jam dinding, ternyata sudah pukul 02.36 dini hari. Dan Nina pun masuk kembali ke kamarnya meninggalkan Ruiga sendiri di ruang tamu.
Di situ Ruiga tidak tidur meski sejujurnya dia ingin tidur. Rasa dingin ini makin bertambah karena cuaca di luar begitu ekstrim. Badai makin kencang dan petir yang menggelegar pun terus terdengar.
Anehnya Nina kembali ke ruang tamu. Dia merasa khawatir karena Nina juga merasa bahwa rasa dingin ini terlalu menusuk. Bagi Nina cuaca dingin ini terlalu gebangetan. Nina memang belum pernah ke luar negeri yang terdapat musim salju. Tapi di sini Nina berani taruhan jika musim dingin di luar negeri tidak sedingin malam itu. Tetapi itu cuma prasangka Nina saja, karena pada faktanya tetap musim salju yang lebih dingin daripada cuaca ini.
"Apa kau ke sini mau meminjamkan selimutmu?" Kata Ruiga yang masih dalam posisi tidur.
"Tidak. Tapi aku punya ide lain."
"Hah?"
"Ayo ikut aku!" Kata Nina sambil memberi isyarat agar Ruiga mengikutinya.
Ruiga pun nurut saja karena Ruiga pikir Nina akan memberikan sesuatu yang bisa membuat tubuhnya lebih hangat. Namun kenyataannya Nina malah membawa Ruiga ke kamarnya."
"Tunggu sebentar! Ini maksudnya apa?" Kata Rui dengan heran dan berpikir ke mana-mana.
"Tidurlah di sini! Di sini lebih hangat daripada di ruang tamu. Aku tidak tega kau kedinginan di sana, makanya aku menyuruhmu tidur di sini."
"Kau serius? Di sini kan cuma ada satu ranjang. Yakin gak masalah?"
"Jujur ya, sebenarnya aku tidak ingin kau tidur bersamaku. Tapi di sisi lain aku juga tidak tega kau kedinginan di ruang tamu. Dan aku akan membagi selimut ini denganmu."
Ruiga pun tersenyum senang mendengar itu. Dan berkatalah dia: "Aku suka idemu."
"Tapi ingat ya!! Jangan melakukan hal mesum padaku! Jangan sampai ada sentuhan di antara kita! Awas saja jika kau menyenggolku sedikit saja!" Kata Nina dengan nada mengancam.
Tanpa bicara lagi mereka pun merebahkan diri di ranjang yang tidak begitu empuk bagi Ruiga. Itu karena ranjang di kamarnya jauh lebih empuk dari ranjang di sini. Tapi di sini Ruiga memilih untuk tidak protes.
Ruiga dan Nina sangat berhati-hati agar mereka tidak saling bersentuhan. Kini mereka telah sama-sama tidur bersebelahan sambil bertutupan selimut. Meski sudah berselimut, tapi rasa dingin tetap masih terasa karena ketebalan selimut itu terlalu minim. Selain itu ukurannya juga kurang cukup untuk dipakai berdua, apalagi mereka harus menjaga jarak agar tidak saling bersentuhan.
Beberapa menit pun berlalu. Di sana Ruiga masih belum bisa tidur. Hal itu dikarenakan Ruiga terlalu kepikiran oleh peringatan dari Nina tadi. Dia sangat berhati-hati dalam bergerak.
"Nin, kau sudah tidur?"
"Belum." Kata Nina dengan cepat.
"Kenapa belum tidur?"
"Karena aku takut aku akan diperkosa ketika aku tidur."
Mendengar hal itu Ruiga menjadi tersinggung. Bagi Ruiga pikirannya Nina itu terlalu berlebihan. Harus Ruiga akui jika Ruiga tadi sempat berpikiran aneh-aneh saat Nina mengajak Ruiga ke kamarnya. Tapi sama sekali tidak ada niatan untuk berbuat cabul pada Nina.
"Kenapa kau kepikiran sejauh itu?! Menurutmu apakah aku terlihat seperti orang cabul di matamu?" Kata Ruiga dengan nada tak enak.
"Laki-laki kan cenderung nafsuan. Ya untuk berjaga-jaga saja..." Kata Nina dengan nada meledek.
Ruiga pun terdiam seketika. Ia ingin marah tapi tak bisa, jadi dia meredam amarahnya dalam memilih diam. Tapi Nina paham jika Ruiga merasa tersinggung.
"Aku hanya bercanda kok. Maaf kalau tersinggung."
"Tapi kau sengaja kan mengatakan itu?"
"Iya aku sengaja."
"Senang banget sih bikin aku marah?!"
"Iya maaf. Lagian kau ini lucu kalau sedang marah. Tidak tahu kenapa rasanya senang saja bikin kamu marah hehehe."
Bagi Nina membuat Ruiga marah itu sangat menyenangkan. Jadi tidak heran jika di dunia nyata Nina sering menjahiliku Ruiga hingga emosi. Namun hal itu bertujuan agar Nina mendapatkan perhatian dari Ruiga. Hanya saja tindakan itu justru dianggap ancaman oleh Ruiga yang tidak peka.
"Ini sama sekali tidak lucu!"
"Iya maaf. Ayo kita tidur!"
"Dingin...."
__ADS_1
"Iya memang masih dingin. Tapi di sini lebih hangat daripada di ruang tamu kan? Di ruang tamu terlalu banyak ventilasi sehingga udara dingin bisa masuk langsung ke sana."
"Bagiku tidak ada bedanya di sini dan di ruang tamu. Sama saja dingin."
"Dasar orang gak tahu diri! Orang sepertimu kenapa sulit sekali sih bersyukur?!"
"Maaf saja. Jika sebuah perbedaan cuma beda tipis, aku tetap menganggapnya sama."
"Ya sudah. Kalau begitu cepat keluar dari kamarku dan kembali ke ruang tamu sana! Kalau perlu keluar saja dari rumah ini!" Kata Nina dengan nada kesal.
"Iya deh aku ngaku kalau di sini jauh lebih hangat karena ada selimut ini."
"Nah gitu dong bersyukur dikit!"
"Tapi aku punya ide untuk membuat kita lebih hangat."
"Apa itu?" Sontak saja Nina tertarik.
"Tapi aku tidak yakin kau akan setuju."
"Apaan sih? Bikin penasaran saja."
"Hm kita bisa menghangatkan diri dengan cara...."
"Cara apa?"
"Dengan cara... saling berpelukan."
Mereka terdiam sejenak. Cuma ada suara hujan dam tiupan angin kencang yang terdengar.
"........"
"Aku tahu kau tidak bakalan setuju. Jadi lupakan saja ideku tadi! Lebih baik kita tidur."
Baru aja mau menutup mata untuk tidur, eh Ruiga malah dikagetkan dengan tingkah Nina yang aneh. Bagi Ruiga itu aneh karena tindakan itu bertentangan dengan perkataannya barusan.
Di sini Ruiga merasa aneh karena tanpa mengatakan apa-apa Nina langsung memeluk Ruiga erat sekali. Padahal sebelumnya Nina berkata pada Ruiga agar tidak ada sentuhan di antara mereka. Namun yang terjadi justru Nina sendiri yang melakukan sentuhan dengan cara memeluk Ruiga.
"Kau bilang kau tidak mau disentuh?"
"Iya benar."
"Apa kau tidak sadar jika yang kau lakukan ini merupakan sentuhan?"
"Maksud perkataanku tadi adalah disentuh secara nafsu. Aku tidak suka disentuh oleh nafsu birahi."
"Kau ini mempermainkan aku atau gimana sih?"
"Hehe iya maaf aku salah. Kau boleh menyentuhku dalam bentuk wajar. Peluklah aku juga agar aku merasa hangat!"
Merasa agak ragu ketika Ruiga mencoba memeluk Nina. Sebelumnya Ruiga memang pernah dipeluk sewaktu pertemuan awal mereka di dunia alternatif. Namun waktu itu terjadi secara spontan karena rasa rindu Nina yang begitu besar. Dan waktu itu Nina yang memeluk Ruiga, bukan Ruiga yang memeluk Nina.
"Jangan bikin aku dan keluargamu panik lagi! Cepatlah terima takdirmu agar kau bisa kembali ke dunia kita!"
"Tanpa kau suruh pun pasti aku juga akan melakukannya. Terimakasih ya telah peduli padaku." Kata Ruiga sambil memeluk Nina.
Sesuai perkataan Rui sebelumnya. Memang ada rasa hangat ketika mereka saling berpelukan. Perlahan makin erat pelukan dari Nina hingga hal itu membuat detak jantung Ruiga berdetak dengan cepat.
"Kau grogi ya?" Kata Nina sambil tersenyum.
"Tidak."
"Terus kenapa jantungmu berdetak begitu kencang?"
"Anu...."
"Jangan ***** ya! Aku tahu aku ini cantik, tapi jangan sampai kau berbuat cabul padaku!"
"Cantik dari mananya? Bahkan Ruhisa jauh lebih cantik daripada kamu."
"Kukira cuma aku saja yang berpikiran seperti itu. Ternyata kau juga sama."
"Hm aku tidak sadar jika aku telah mengatakan hal seperti tadi."
"Tapi memang benar kok. Ruhisa memang lebih cantik dariku. Tapi...."
"Tapi apa?"
"Tapi setidaknya dadaku jauh lebih berisi daripada punya Ruhisa hehehe."
Lalu sadarlah Ruiga terhadap sesuatu yang kenyal menyentuh tubuhnya. Hal itu terasa jelas karena pelukan dari Nina begitu erat sampai dada mereka saling bersentuhan. Dan kali ini Ruiga setuju jika dada Nina jauh lebih berisi daripada dada Ruhisa yang terlalu kecil untuk anak seusia mereka.
Ruiga bisa merasakan dengan jelas dada Nina yang menempel padanya karena saling peluk. Dan hal itu berlangsung lama hingga mereka berdua terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
...****************...