
Liliya POV:
Tiap harinya kami selalu mengharapkan waktu berjalan lebih cepat. Itu karena aku dan suamiku sudah tidak sabar lagi untuk menanti kedatangan anak kami ke dunia. Tapi faktanya waktu justru bergerak begitu lambat.
Sekarang baru memasuki bulan keempat masa kehamilan. Aku pikir usia kandungan ini sudah bisa diketahui jenis kelaminnya. Aku harap sih dia adalah perempuan yang cantik dan penurut. Aku tidak bisa membayangkan jika dia laki-laki yang sama bandelnya seperti kakaknya.
Sebenarnya jenis kelamin apa pun bukan masalah bagiku asalkan dia sehat dan menjadi anak baik. Namun jika aku boleh memilih aku ingin anak perempuan agar bisa melengkapi.
Sejauh ini kami belum berani memberitahu Ruiga soal kehamilanku ini. Aku takut dia marah dan tak terima. Dulu sewaktu Ruiga masih SD aku bertanya padanya: "Rui, apakah kamu suka adik kecil?"
Lalu dia menjawab, "tidak!"
"Loh kenapa?"
"Aku tidak mau dia merepotkanku."
"Bukannya bagus jika kau punya adik. Nanti kan kalian bisa bermain bersama. Jadi Rui tidak perlu takut kesepian pas ditinggal kerja."
"Pokoknya aku tidak mau!" Kata Ruiga dengan nada marah.
Barangkali dia takut jika dirinya akan terlupakan setelah memiliki adik. Itu cuma prakiraanku saja. Sampai kini aku juga belum mengerti. Dan hal itu masih saja berlangsung hingga dia memasuki masa SMP. Aku kira di masa SMP Ruiga sudah memiliki pandangan dan pikiran baru. Namun ternyata aku salah. Pendiriannya belum berubah.
"Rui sekarang kau sudah besar. Sepertinya kamu sudah pantas menjadi seorang kakak." Kataku padanya yang saat itu dia sedang asik main game di kamarnya. Dan lagi-lagi dia meresponku dengan raut wajah ketus. Tidak usah ditanya kenapa, pasti dia sudah tahu apa maksudku. Dia tetap tidak mau punya adik.
Lalu aku berkata lagi: "Ayolah Rui! Menjadi seorang kakak itu bukanlah hal yang buruk."
"Harus berapa kali aku bilang? Aku tidak mau punya adik!"
"Terus kalau tiba-tiba dia lahir bagaimana?"
"Itu tidak akan terjadi!" Jawab Ruiga dengan penuh keyakinan.
"Kenapa kau bisa seyakin itu? Padahal yang menentukan kau punya adik atau tidak itu Tuhan yang menentukan."
"Kalau begitu aku akan memohon pada Tuhan agar Dia tidak memberiku adik."
Mendengar jawaban darinya aku langsung keluar dari kamarnya, lalu menemui suamiku untuk berdiskusi.
Kebetulan kami sedang libur kerja, jadi kami punya banyak waktu bersama. Waktu itu suamiku Reiga sedang bersantai di teras sambil minum secangkir teh. Begitu langkah kakiku terdengar olehnya, dia langsung menyambutku dengan senyuman manisnya.
Seolah memberimu kode agar aku duduk di sebelahnya, aku pun langsung melakukan apa yang dia harapkan. Dia yang melihat wajah murungku langsung bertanya.
"Kenapa terlihat susah?"
"Ruiga..."
"Kali ini apa yang dia minta? Jika dia minta dibelikan HP baru, mending jangan belikan! Mau dibelikan HP sebanyak apa pun pasti ujung-ujungnya dia rusakan juga."
"Dia tidak minta dibelikan apa-apa."
"Terus apa masalahnya?"
"Dia tidak mau punya adik."
Mendengar curhatku si Reiga malah tertawa kecil seolah tak peduli. Padahal ini hal serius, tapi bisa-bisanya dia malah tertawa.
"Ini tidak lucu!"
"Iya aku tahu. Tapi kita tidak butuh persetujuan dari Ruiga jika kita ingin punya anak lagi."
"Tentu saja perlu! Karena aku meyakini restu dari anak itu juga berpengaruh. Walau kita berhasil punya anak lagi, tapi kalau Ruiga tidak mau mengakui adiknya kan jadi..... "
"Pikiranmu terlalu berlebihan. Kekhawatiran Ruiga itu cuma sementara. Jika bayinya sudah lahir, maka mau tak mau pasti dia akan menjalankan kewajibannya sebagai kakak."
__ADS_1
"Aku ragu soal itu."
"Kau harus yakin! Karena harapan tanpa keyakinan itu sama saja bohong! Cepat atau lambat pasti Ruiga akan mengerti.
Dan di hari itu juga kami membulatkan tekad kami untuk punya anak lagi. Dan harapan itu baru terwujud setelah Ruiga memasuki masa SMA. Aku harap di masa ini pikiran Ruiga sudah berubah.
Untuk saat ini kami masih merahasiakannya dari Ruiga, walau suamiku menyarankan untuk segera memberitahu Ruiga. Tapi aku takut jika dia diberitahu dia akan marah. Dan hingga kini aku masih belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahunya.
Kembali ke masa sekarang. Aku dan suamiku sudah siap berangkat ke ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganku. Tentunya tujuan kami dicurigai oleh anak kami sendiri. Sebenarnya sudah lama Ruiga sering memperhatikan gerak-gerik kami. Dan aku yakin dia mencurigai kami.
"Kalian mau ke mana?"
"Kami ada urusan pekerjaan." Jawabku padanya.
"Biasanya kalian selalu berpenampilan formal saat ada urusan pekerjaan kantor."
"Hm ini urusan orang dewasa. Bukan urusan kantor Hehe..." Kata Reiga suamiku.
Dan Ruiga pun hanya terdiam melihat kami yang mau pergi. Lalu dengan sebuah mobil kami mulai bergegas menuju rumah sakit terbaik di kota ini.
Karena sudah membuat janji sebelumnya sama dokter terlebih dahulu, maka kami tidak perlu repot mengantri karena jadwal konsultasi sudah dibuat.
Lalu masuklah kami ke dalam ruangan dan terlihatlah seorang dokter bernama Bu Susi bersama asistennya yang entah siapa namanya. Lalu kami dipersilakan duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Biar saja tebak, pasti kalian ingin mengecek jenis kelamin calon bayi kalian kan?"
"Wah gampang ditebak ya Hehe..."
"Iya biasanya kehamilan yang pertama itu orangtua sangat kepo sama jenis kelamin kandungan."
"Sebenarnya ini bukanlah kehamilan yang pertama. Kami sudah punya satu anak SMA." Kataku. Entah kenapa reaksi bu Susi nampak kaget dan tak percaya.
"Benarkah?! Karena kalian terlihat muda, kupikir bu Liliya sedang hamil anak pertama."
"Sulit dipercaya sih karena wajah dan umur nampak tidak sinkron. Ya sudah mari kita cek kandungannya."
Aku diminta untuk berbaring di atas tempat tidur. Kemudian akan dioleskan gel pelumas khusus di kulit. Ini digunakan untuk mencegah gesekan yang bisa melukai kulit saat bagian transduser ultrasound digerakan di atas kulit.
Transduser merupakan bagian alat USG yang berbentuk mirip seperti mikrofon, yang akan memancarkan gelombang suara. Gel ini juga membantu meneruskan gelombang dari alat USG lebih efektif .
Transduser kemudian ditempelkan pada bagian kulit yang sudah diolesi oleh gel sambil digerak-gerakan. Alat transduser USG itu bekerja dengan menyebarkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi.
Lalu, ketika ada objek dalam tubuh misalnya ada organ, atau ada tulang alat ini akan memberikan sinyal pantulan ke komputer. Sinyal pantulan ini akan membentuk gambaran yang nantinya akan dijelaskan oleh dokter hasilnya.
"Itu tidak terlihat seperti laki-laki." Kata Reiga dengan ekspresi bingung.
"Ya memang bukan. Anak anda berjenis kelamin perempuan." Kata Bu Susi.
"Apa!? Serius bukan laki-laki?"
"Iya pak. Bu dokter berani jamin."
Sebagian orang awam pasti kesulitan membaca gambar hasil USG. Jadi tidak heran jika Reiga kesulitan mengetahui jenis kelamin dari hasil gambar USG. Tapi aku kasihan sih sama Reiga karena ekspetasi Reiga tak sesuai fakta.
Aku merasa bersyukur setelah mengetahui anak kedua kami adalah perempuan. Sudah sangat lama aku punya anak perempuan tapi Reiga lebih suka anak laki-laki. Aku harap kehadiran nanti akan membawa berkah bagi keluarga ini.
Setelah mengetahui hasil dan diberi masukan dari bu Susi, maka segeralah kami kembali ke mobil. Dalam perjalanan menuju parkiran mobil, Reiga terus menggerutu seolah tidak terima jika anak kedua kami adalah perempuan. Aku sungguh heran kenapa Reiga terlalu terobsesi dengan jenis kelamin laki-laki. Padahal sudah punya satu anak laki-laki, lalu apakah baginya itu masih kurang?
"Sudah terima saja kenyataan ini!" Kataku dengan nada mengejek.
Setelah kami sama-sama memasuki mobil barulah Reiga mau bicara.
"Jangan senang dulu! Siapa tahu hasil USG-nya salah."
__ADS_1
"Mana mungkin salah? Bu Susi tadi bilang sendiri kalau perempuan."
"Kan usia janin masih muda dan jenis kelaminnya pasti belum terbentuk sempurna. Jadi sebelum bayi itu lahir masih ada kemungkinan jika bayi itu laki-laki."
"Dih keras kepala banget sih jadi orang. Memang apa masalahnya sih punya anak perempuan?!" Kataku dengan nada kesal.
"Yang jelas perempuan itu cengeng dan fisiknya lebih lemah dari laki-laki."
"Cara bicaramu barusan terdengar rasis tahu gak?"
"Apanya yang rasis? Yang kukatakan barusan adalah kenyataan!"
"Oh sekarang aku paham kalau sifat keras kepala Ruiga itu berasal darimu."
"Kenapa aku?! Terkadang kau juga keras kepala."
"Tapi sekeraskepalanya diriku aku masih mau mengalah. Beda sama kamu yang cenderung egois. Kau dan Ruiga sama-sama egois."
"Memang egois ya kalau berharap punya anak laki-laki?"
"Pakai nanya lagi! Pikir saja sendiri! Lagian apa bagusnya sih anak laki-laki? Kita kan sudah punya Ruiga? Masih kurang juga?!"
"Kau tahu sendiri kan sikap Ruiga seperti apa? Meskipun dia laki-laki kalau sikapnya manja dan pemalas seperti itu mana mungkin dia bisa menjadi penerus perusahaan kita? Apalagi kerjaannya cuma menghamburkan uang kita untuk hal yang gak perlu dan main game seharian saja. Belum lagi permintaannya yang selalu ingin dibelikan inilah, itulah...."
Makin kelewatan nih orang. Padahal anak kandung sendiri, tapi tega banget merendahkan Ruiga. Walaupun yang dikatakan oleh Reiga itu benar, tapi gak gitu juga kan.
"Jadi kau menyesal punya anak Ruiga?" Kataku dengan wajah kesal.
"Kecewa sih tidak tapi..... "
"Tapi apa?"
"Tahu sendirilah kau kan ibunya. Kadang kau juga jengkel kan dengan sikapnya?"
"Iya dia memang menjengkelkan. Tapi kata-katamu barusan terdengar terlalu merendahkan. Jika Ruiga dengar ini pasti kau akan dibenci olehnya."
"Yang rugi dia sendiri kalau membenciku. Memang dia mau minta ke siapa lagi kalau bukan ke aku kalau butuh sesuatu?"
"Tapi tetap saja aku tidak suka kau menjelekkan anak kita seperti itu! Kalau masalah sikap Ruiga itu kan masih bisa kita atasi. Gunanya kita sebagai orangtua kan untuk mendidik dia. Jadi kalau ada yang salah pada anak kita, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk membenarkannya, bukan malah menjelekkannya!"
Sepanjang perjalanan pulang aku terus mengomeli dia. Orangtua mana sih yang rela anaknya dijelek-jelekan? Mau itu dengan alasan sekedar guyonan, aku tetap tidak toleran.
"Kenapa sih kau ini mudah sekali tersinggung? Responmu terlalu berlebihan."
"Kau yang berlebihan!"
"Iya-iya aku ngalah. Ibu-ibu hamil memang selalu benar."
"Dan satu hal lagi. Sebanyak apa pun anak laki-laki yang kita punya, hal itu tidak menjamin bahwa mereka lebih mudah diatur daripada Ruiga."
"Iya aku paham. Berhentilah mengoceh! Takutnya hal itu berpengaruh pada anak kita. Aku tidak mau punya anak perempuan yang super sensitif sepertimu Liliya."
"Bodo amat!" Kataku sambil membuang muka padanya.
Setelah itu tidak ada percakapan lagi. Di antara kami sudah capek berdebat. Lalu sampailah kami ke rumah. Baru aja keluar dari mobil aku sudah dikejutkan dengan pemandangan yang di luar nalar pikirku.
Di teras rumah terlihat dua remaja sedang duduk bersebelahan sambil kedua mata mereka yang fokus ke layar laptop. Salah satu dari mereka adalah anakku sendiri, sementara yang perempuan itu siapa?
Teman atau pacar?
Mereka terlihat akrab. Berani juga Ruiga bawa perempuan ke rumah. Aku khawatir kalau perempuan itu matre dan mata duitan. Takutnya Ruiga cuma dimanfaatkan.
...****************...
__ADS_1