Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Dunia Alternatif


__ADS_3

Di luar tak terdapat perbedaan di mataku. Tak ada yang mencurigakan di sini. Aku pun terus berjalan untuk memastikan lebih lanjut.


Hampir satu jam aku keliling area komplek ini hanya untuk mencari sesuatu yang aneh. Tapi tidak ada keanehan di sini. Di luar terlihat biasa saja. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah aku sedang dipermainkan oleh Tuhan? Karena cuma dia seorang yang bisa mengubah takdir orang yang sudah terjadi.


Sangat aneh kan kalau kau punya kembaran padahal kau tahu kau ini anak tunggal? Apalah kembaranmu itu bersikap seolah-olah seperti sudah tiap hari hidup bersamamu. Dan satu-satunya yang bisa melakukan ini adalah sang pencipta kehidupan itu sendiri.


Rasa lelah pun datang. Aku duduk sejenak di pinggir lapangan bola. Di sana begitu sejuk dan berangin-angin. Selain itu di sana terdapat pohon cemara yang mengelilingi tanah lapang.


Lalu aku menyandarkan punggungku di pohon sambil menikmati sejuknya angin di sini. Namun belum lama aku menikmati momen ini, tiba-tiba seseorang yang tidak diharapkan kedatangannya malah muncul di hadapanku.


Kini raut wajahmu yang tadinya luwes dan tenang berubah menjadi kesal. Kenapa anak itu mengikutiku sampai di sini? Dan bagaimana dia bisa tahu aku di sini?


"Sudah kuduga kakak di sini."


Aku langsung berdiri dan menatapnya dengan wajah tak enak. "Ngapain kau ke sini? Dan kenapa kau memakai baju yang sama sepertiku?!"


"Tentu saja aku tahu. Aku sudah hafal tempat-tempat yang sering kakak datangi. Bukankah sudah biasa kita memakai pakaian yang seragam? Kita kan kembar? Ayah dan ibu yang menyuruh kita agar selalu memakai pakaian yang sama setiap harinya."


Dari cara dan gaya bicaranya sih dia terlihat jujur dan tidak dibuat-buat. Sekarang ada kemungkinan baru. Bisa saja dunia ini bukanlah dunia asliku. Mungkin ini adalah sejenis dunia paralel atau semacamnya. Awalnya aku mengira Tuhan telah merevisi riwayat kehidupan dan takdirku. Tapi setelah kupikir kembali nampaknya itu tidak mungkin. Seburuk apa pun keadaan Tuhan tidak akan pernah merubah takdir yang sudah terjadi. Daripada merubah hal yang sudah terjadi, aku rasa Tuhan lebih suka memperbaiki keadaan.


"Hoi kak! Jangan melamun!" Kata Ruhisa sambil melambaikan tangannya di depan mukaku. Aku pun langsung tersesat dan mengedipkan mataku beberapa kali.


"Pergi sana! Jangan ikuti aku!" Kataku dengan nada membentak. Lalu di wajahnya terlihat terkejut seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Apa salahku?" Tanya Ruhisa dengan bingung.


"Aku ini bukan kakakmu!"


"Kakak ini bicara apa? Kenapa tiba-tiba menjadi kasar?"


"Jangan bersikap seolah kau ini mengenalku!!"


Tanpa mau memperdulikan dia lagi, aku pun meninggalkan tempat itu. Mau ke mana aku tidak tahu, yang penting di tempat itu tidak ada si payah itu.


Awalnya aku senang dia tidak mengikutiku. Tapi setelah beberapa menit kemudian aku mendengar bunyi langkah kaki di belakangku. Secara perlahan aku menoleh ke belakang. Dan lagi-lagi dia muncul.


"Kau lagi! Kenapa mengikutiku?!"


"Memang apa salahnya? Aku hanya ingin berada di dekat kakak."


"Harus kubilang berapa kali? Aku ini bukan kakakmu! Aku ini cuma orang yang wajahnya mirip kamu!"


"Maaf..."


"Akhirnya kau mengerti juga."


"Maafkan aku karena kemarin telah merusakan laptop kakak. Kakak marah gara-gara itu kan?"


"Laptop apaan?"


Aku saja baru hari ini berada di dunia ini.


Tunggu dulu! Jika ini adalah dunia paralel, apakah di dunia ini ada aku yang lain? Mungkin kakak yang dimaksud Ruhisa itu bukanlah aku, tapi aku versi dunia paralel. Masuk akal teoriku ini. Jadi yang perlu kulakukan saat ini adalah mencari diriku yang versi dunia paralel.


Tiba-tiba Ruhisa mengulurkan tangannya ke padaku seperti orang yang sedang mengajak berjaba tangan. "Maafkan Ruhi kak! Ruhi janji tidak akan mengulangi lagi."


Aku pun dibikin bingung olehnya. Ah tapi aku tidak ada waktu untuk mengurusi dia. Lebih baik aku mencari cara untuk bisa kembali ke dunia asliku. Sekali lagi aku berlari menjauhi dia. Aku berlari sangat kencang dan tak akan berhenti setelah staminaku habis.


Beberapa kali aku menoleh ke belakang, aku belum melihat tanda-tanda Ruhisa mengejar. Aku pun senang dia tak dapat mengejar kecepatan berlariku. Dan aku yang capek pun harus mengisi tenaga.


Di sini terlihat sepi tanpa ada para pejalan kaki yang terlihat. Lalu sadarlah aku jika lokasiku sekarang ini belum pernah aku lihat sebelumnya. Bisa dibilang lokasi ini tidak ada di dunia asliku. Tapi aku yakin lokasi ini masih dalam kawasan area komplekku.


Ini seperti wilayah khusus. Apakah ini kawasan terlarang? Aku berpikir begitu karena dari tadi aku sama sekali tidak menjumpai orang di sini. Karena penasaran, aku pun mencoba masuk lebih dalam lagi. Namun semakin aku berjalan ke depan, maka semakin berasa sepi juga jiwa dan pikiranku. Kenapa lokasi sebelah sini seperti diasingkan?


Tanpa sepengetahuanku aku merasa ada yang memegang pundakku. Seketika saja aku kaget dan menjerit.


"Ahhhh!!?"


"Dih lebay banget sih jadi cowok. Ini aku." Kata perempuan berambut sebahu itu.


"Kau bikin aku kaget saja!" Kataku pada Nina.


Tunggu dulu! Ini adalah Nina dari dunia paralel. Pasti sikapnya juga beda dari Nina di dunia asli.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Hm, maaf."


"Ngapain kau berada di sini?"


"Kau sendiri ngapain berada di sini?"


"Lah aku kan memang tinggal di daerah sini."


Tinggal di sini!? Sepertinya dunia paralel ini tidak hanya sikap saja yang berbeda, tapi tempat tinggal seseorang juga berbeda dengan kembarannya di dunia nyata. Nina yang asli mana mungkin tinggal di wilayah yang diasingkan kaya gini.


"Kau tinggal di sini?"


"Kenapa kaget? Bukannya kau sudah tahu lama?"


"Di sini sepi dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Wilayah ini bagaikan wilayah hantu."


"Kan lokasi ini memang sudah lama sepi. Cuma beberapa orang yang tinggal di sini." Kata Nina sambil menatapku dengan aneh.


"Kenapa bisa sepi?"


"Konyol kau menanyakan hal itu. Kau ini amnesia ya?" Tanya Nina dengan heran.


"Hm bisa dibilang begitu." Aku pun mengiyakan aja perkataan Nina. Aku rasa dengan begini aku bisa mendapatkan jawaban.


"Kebentur apa kepalamu sampai hilang ingatan gini?"

__ADS_1


"Sudah itu tidak penting! Cepat jelaskan padaku kenapa tempat ini sepi?!"


"Akan memakan banyak waktu jika aku jelaskan dari awal."


"Tidak masalah seberapa lama waktu kau menjelaskan."


"Ya sudah. Aku jelaskan sambil jalan ya. Aku juga mau pulang."


Aku pun berjalan searah dengan Nina. Aku penasaran rumah Nina di dunia paralel itu seperti apa. Apakah tampilannya sama seperti di dunia aslinya atau berbeda.


"Awalnya ini adalah kawasan perumahan biasa. Tapi seorang kakek-kakek kaya membeli semua rumah di lokasi ini untuk dijadikan penampungan."


"Penampungan? Maksudnya?"


"Rumah yang sudah dibeli digunakan sebagai penampung anak-anak terlantar sepertiku."


"Tunggu dulu! Kau ini anak terlantar?!"


"Wah sepertinya amnesiamu parah. Kau tidak sedang bercanda kan?"


"Tidak. Cepat lanjutkan ceritanya!"


"Ya udah cuma gitu. Intinya rumah di kawasan ini adalah perumahan khusus untuk anak terlantar."


"Cuma gitu aja? Terus kenapa di sini sepi sekali? Seharusnya kan ada beberapa orang terlihat di jalan gitu..."


"Kalau aku jelaskan semuanya, seharian pun tidak cukup. Kalau soal sepi itu kan wajar. Karena jumlah anak-anak terlantar di sini kurang dari sepuluh. Cuma ada tiga rumah saja yang dihuni di sini. Sisanya masih kosong."


"Cuma karena penghuninya sedikit kan bukan berarti tempat ini diasingkan?"


"Yang bilang tempat ini diasingkan itu siapa?"


"Gak ada sih. Tapi aku merasa tempat ini diasingkan oleh warga lainnya."


"Tidak ada yang mengasingkan tempat ini. Hanya karena mereka jarang ke lokasi ini, bukan berarti jika mereka mengasingkan tempat ini. Lagian ngapain juga mereka ke sini kalau tidak ada kepentingan?"


Lalu langkah kaki kami terhenti di depan rumah. Sepertinya ini adalah rumah Nina. Rumah ini jauh lebih bagus daripada rumah Nina di dunia nyata. Di sini lebih luas dan enak dipandang.


"Mau masuk?"


"Boleh."


Aku pun masuk ke dalam. Aku menjadi agak merinding sendiri. Masalahnya sejak aku memasuki wilayah penampungan ini aku tidak menjumpai manusia lain selain Nina. Awalnya aku sempat beranggapan bahwa Nina ini hantu. Tapi sekarang aku menyangkal hal itu.


Kami pun duduk di karpet hijau. Lalu Nina menekan tombol on pada televisi. Yang bisa kami lakukan hanya menonton televisi sambil sesekali mengobrol.


"Kau belum memberitahuku kenapa kau bisa amnesia?"


"Namanya juga amnesia, mana mungkin aku bisa tahu penyebabnya?"


"Lalu kalau kau benar amnesia, kenapa kau masih ingat aku?"


"Eh anu..." Iya juga ya. Terus aku harus alasan apa?


"Ehhh bukan begitu!"


"Tapi bodo amat juga sih. Lagian bukan urusanku juga kau mau amnesia atau tidak." Jawab Nina dengan judes.


Beda banget dengan Nina yang aku kenal. Nina biasanya cenderung simpati padaku. Sedangkan Nina yang ini kesannya sedikit apatis.


Ting tung....


Bel tamu tiba-tiba memecah suasana obrolan kami. Tanpa menunggu lama Nina langsung membukakan pintu. Aku sih senang ada tamu, jadi kesannya tempat ini tidak berasa seperti kawasan hantu.


"Akhirnya ketemu juga." Aku merasa tidak asing dengan suara tersebut.


"Tuh dicariin adikmu." Kata Nina padaku.


Tidak disangka anak itu tidak menyerah mengejarku. Tapi kenapa dia keras kepala begitu? Ya aku tahu dia mengira aku ini kembarannya, tapi baru kali ini aku melihat anak kembar selengket ini sama sodaranya. Biasanya anak kembar akan pisah setelah menemukan jati diri masing-masing.


"Kau lagi! Apa sih maumu!? Jangan mengikutiku terus!!"


"Tapi aku maunya bersama kakak."


"Aku bukan kakakmu!" Bentakku dengan keras.


"Tumben kalian bertengkar? Ada masalah apa kalian?" Kata Nina dengan heran.


"Aku tidak tahu kenapa. Tapi sejak pagi tadi sifat kakak menjadi aneh. Tiba-tiba aku dibentak dan aku tidak tahu apa sebabnya


"Kau bilang aku aneh? Kalian yang aneh. Kalian dan dunia ini sama-sama anehnya."


Lalu Nina mengambil sebuah sapu di pojok ruangan. Aku kira dia mau menyapu karena di sini agak terlihat kotor. Eh ternyata sapu itu digunakan untuk memukul kepalaku dengan keras. Aku yang mengaduh kesakitan pun tak dihiraukan olehnya.


"Aduh, kenapa kau memukulku?!"


"Kau sedang amnesia kan? Makanya aku memukul kepalamu dengan harapan ingatanmu kembali normal. Sumpah deh, sikapmu pada Ruhi barusan sangat beda dari biasanya."


"Kak Nina, boleh aku pinjam sapunya?"


"Boleh." Kata Nina sambil memberikan sapunya pada Ruhisa.


Perasaanku tidak enak. Prediksiku Ruhisa akan melakukan hal yang sama seperti yang tadi dilakukan oleh Nina. Dan prediksiku pun benar. Ruhisa mau memukulku dengan sapu, namun aku dapat menepisnya.


"Ngapain kau ikut-ikutan memukul?!" Bentakku pada Ruhisa.


"Aku hanya mau menyadarkan kakak dari amnesia. Aku ingin pikiran kakak kembali seperti semula."


Ruhisa pun mencoba memukulku lagi dengan sapu. Untung saja aku bertindak lebih cepat dan berhasil menggagalkannya. Namun Ruhisa tiada kata lelah untuk berhenti memukul. Kini satu pukulan mengenai jidatku.


"Aduh..." Aku yang merasa kesal langsung merebut sapu dari tangan Ruhisa lalu melemparkan sapu itu jauh-jauh. Dan dengan emosi aku mendorong tubuh Ruhisa sampai terjatuh dan memarahinya.

__ADS_1


"Kau pikir ini tidak sakit?! Mau kau dipukul pakai sapu?!" Kataku dengan nada marah.


Ruhisa yang terjatuh di lantai hanya bisa menangis.


"Ruiga, kau tidak perlu sekasar itu sama adikmu!" Tegur Nina padaku.


"Kasar? Yang kasar itu dia! Memang kau tidak marah dipukul pakai sapu seperti tadi?"


"Aku tadi juga memukulmu. Kenapa kau tidak marah padaku juga?"


"Karena kau memukulku dengan alasan mau menyadarkanku."


"Yang dilakukan Ruhi barusan juga sama. Dia khawatir dengan sikap anehmu! Karena dia juga mengira kau amnesia, maka dia memukul kepalamu dengan tujuan ingatanmu bisa kembali. Dari awal kita bertemu tadi sikapmu aneh banget sumpah. Sekarang minta maaflah pada Ruhi!"


"Kenapa aku harus minta maaf? Harusnya kalian yang minta maaf karena telah memukul kepalaku!"


"Ya aku paham jika kau marah karena dipukul kepalanya. Tapi sikapmu pada adikmu barusan terlalu berlebihan. Ingat gak sih sikapmu yang biasanya selalu sabar dan penyayang pada Ruhi?"


"Terus maksudmu aku tidak boleh marah begitu setelah kepalaku dipukul?"


"Ternyata kau tidak hanya kehilangan ingatanmu. Tapi hati nuranimu juga ikut hilang. Aku jadi males berteman denganmu."


"Aku lebih males lagi daripada kau."


"Kalau begitu ngapain masih di sini? Keluar sana!"


"Tidak usah disuruh aku juga akan keluar!" Kataku dengan nada keras.


Aku tinggalkan saja mereka berdua di sana. Aku tidak peduli meski Ruhisa menangis di depanku. Aku harap calon adikku di dunia nyata tidak memiliki sikap seperti Ruhisa. Kalau bisa aku mengharapkan dia tidak jadi lahir.


Kini aku telah keluar dari rumah Nina. Sepertinya diriku sudah disambut dari tadi. Mahluk yang kutemui di dunia nyata ternyata juga ada di sini. Dia bukan manusia. Dan aku yakin dialah yang mengirimkan aku ke dunia aneh ini.


Tunggu sebentar! Dia ini mahluk dunia paralel atau bukan? Apakah mahluk selain manusia juga punya kembaran di dunia paralel?


"Ya ini aku. Kau masih ingat aku kan?" Kata pria tua berambut putih itu. Kali ini ia berpenampilan seperti manusia biasa. Tidak ada kesan manis pada dirinya. Tapi cara bicaranya tadi dia benar mengenalku.


"Apa yang kau lakukan padaku?"


"Aneh kau bertanya. Bukankah aku sudah bilang kau ini sedang berada dalam masa hukuman."


"Hukuman?"


"Jangan pura-pura lupa! Kau ini kuhukum karena kau telah menolak takdirmu. Ingat kan?"


Oh benar. Waktu itu dia mengirimku ke dimensi ruang hampa sebagai hukuman. Tapi....


"Harusnya kau berterima kasih padaku karena aku telah meringankan hukumanmu."


"Apanya yang meringankan? Justru yang kau lakukan ini makin parah."


"Makin parah? Kau ini memang anak yang tak pernah bersyukur ya! Jadi menurutmu kau lebih suka dikurung di ruang hampa daripada berada di dunia ini?"


"Hm bukan begitu. Dua-duanya sama buruknya bagiku. Tapi kenapa kau setega ini padaku? Padahal waktu itu aku sudah mengaku salah, namun kau tidak mau mengampuniku."


"Anak sepertimu harus sesekali diberi hukuman."


"Mau sampai kapan kau mengurungku di sini?"


"Waktu itu kan aku sudah bilang, kau akan terus berada di sini sampai kau mau menerima takdirmu."


"Aku sudah menerima takdirku. Sekarang keluarkan aku dari sini!"


"Kau tidak bisa membohongi dewa! Aku tahu betul yang ada di jiwa dan pikiranmu. Saat ini kau masih kesal dan tidak terima menjadi kakak. Apalagi setelah bertemu dengan kembaranmu, kau makin benci dengan adikmu."


"Bagaimana aku tidak membencinya sementara sikapnya padaku itu justru menjengkelkan?!"


"Kau membencinya hanya karena dia adikmu. Masalah menjengkelkan atau tidak itu cuma alasanmu saja. Dibandingkan dengan sifat adik pada umumnya, Ruhisa itu jauh lebih baik. Jadi bersyukurlah!"


"Bersyukur untuk apa? Bersyukur karena hidupku dirusak olehnya?"


"Percuma ngomong sama kamu. Lebih baik kau rasakan saja prosesnya! Aku yakin nanti kau akan sadar sendiri."


Aku yang dibikin kesal oleh kata-katanya, tanpa sadar diriku telah mencoba memukul Zelus orang yang ngakunya dewa. Namun hal itu percuma, karena dia bisa menangkisnya, kemudian melempar tubuhku hingga menghantam lantai.


"Anak manja sepertimu tidak akan bisa melukaiku. Lebih baik kau pulang dan berdamailah dengan dunia ini!"


"Kenapa kau tidak membunuhku saja? Lebih baik bunuh aku saja daripada kau menyiksaku di tempat aneh ini! Kenapa harus di dunia paralel yang isinya orang aneh?!"


"Ini bukan dunia paralel! Ini adalah dunia alternatif ciptaanku. Dunia dan seisinya ini adalah murni ciptaanku. Yang mengatur mereka mau bersikap seperti apa itu adalah aku. Akulah dalangnya di sini. Jadi jika kau ingin memberontak, lebih baik lupakan saja!"


"Kau ini dewa atau Tuhan? Kau bilang kau ini dewa penerima takdir. Tapi kenapa kau bisa mengendalikan dan menciptakan mahluk hidup?"


"Jangan kau samakan dunia alternatifku dengan dunia nyata! Dunia alternatifku adalah dunia replika dari dunia asli. Singkat kata dunia alternatif adalah dunia tiruan atau dunia buatan. Begitu juga dengan para penghuninya yang juga tiruan. Walaupun mereka hanyalah tiruan, tapi mereka tetaplah hidup seperti manusia aslinya."


"Jadi mereka mereka hanya bonekamu?"


"Tidak juga. Walaupun mereka seperti boneka yang bisa kugerakan sesuka hati, tapi bagiku mereka bukan boneka. Mereka tetap memiliki nyawa buatan. Mereka juga punya emosi dan perasaan walau kepribadian mereka berbeda dengan karakter asli di dunia nyata."


"Lantas apa maksudnya kau menciptakan Ruhisa sebagai kembaranku? Yang kau lakukan ini sungguh memuakan!!"


"Ruhisa sedikit berbeda dengan mahluk ciptaanku yang lain. Di sini cuma Ruhisa yang memiliki sifat asli manusia. Tahu kenapa? Karena aku menciptakan Ruhisa dari salinan jiwamu."


"Apa maksudnya salinan jiwa?!"


"Anggap saja kau dan Ruhisa itu adalah sama. Maka dari itu di dunia ini kalian disebut kembar. Dia adalah salinan jiwamu yang sudah aku modifikasi. Jika kau peka seharusnya kau bisa merasakan ikatan kuat antara kau dan dia. Karena kau dan Ruhisa berasal dari jiwa yang sama, seharusnya kau bisa memahami dia. Karena sifat dari Ruhisa itu adalah sifat sisi lain dari dirimu."


"Aku masih tidak mengerti apa maksudnya."


"Duh, kau ini sangat susah dikasihtahu. Kalau begitu rasakan saja prosesnya! Aku pergi dulu."


Kemudian sosoknya hilang secepat kedipan mata. Padahal aku masih ingin tahu lagi soal dunia ini.

__ADS_1


Jujur saja aku masih tidak percaya jika penghuni dunia ini bukan manusia asli. Memang benar yang dikatakannya jika mereka juga punya hati dan perasaan. Jika mereka bukan manusia asli, apakah aku boleh membunuh salah satu dari mereka untuk melampiaskan rasa kesalku?


...****************...


__ADS_2