Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Terlambat


__ADS_3

Pagi harinya Nina terbangun dari tidurnya. Dia hampir saja lupa kejadian semalam. Dia baru ingat kembali begitu dia melihat sosok lain yang tidur di sebelahnya. Nina terkejut seketika, namun setelah beberapa detik barulah ia teringat jika semalam dia tidur bersama Ruiga.


"Ih, kok aku agak menyesal ya tidur bareng dia. Dan bodohnya kenapa semalam kami malah saling berpelukan? Astaga naga."


Lalu Nina sadar bahwa rasa awalnya di sini tidak begitu penting. Yang paling diutamakan di sini adalah membuat Ruiga menerima takdirnya. Nina ingat hari ini mereka akan berencana membeli hadiah buat Ruhisa.


Nina mencoba membangunkan Ruiga yang masih tertidur dengan nyaman. Tetapi Nina justru mengurungkan niatnya untuk membuat Ruiga bangun. Hal itu karena Nina merasa ada yang unik pada wajah Ruiga yang sedang tertidur.


Di mata Nina sosok Ruiga terlihat imut ketika tertidur. Bagaikan bayi yang belum bangun di pagi hari itulah yang ada di pikiran Nina ketika melihat Ruiga yang sedang tertidur.


"Lucu sih melihatnya tidur. Tapi bukankah kami harus sekolah?"


Benar, mereka seharusnya sekolah hari ini. Dan atas dasar itulah Ruiga harus dibangunkan. Lalu Nina menoleh ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 6.36 pagi.


Nina menggoyangkan tubuh Ruiga, namun tiada respon. Begitu juga ketika dipanggil namanya dengan suara keras, tetap saja Ruiga tidak bangun. Lalu Nina masuk ke kamar mandi dan mengambil gayung mandi yang berisi air. Sampai di sini seharusnya kalian bisa menebaknya sendiri.


Burut, air segayung membasahi kepala dan badan Ruiga. Dan Ruiga pun terbangun dengan ekspresinya yang kaget bercampur takut. Tapi Nina yang melihat hal itu cuma bisa diam sambil tersenyum.


"Sialan, apa ini?!" Kata Ruiga yang dengan spontan langsung bangun dan melompat dari ranjang.


"Kau tahu sudah jam berapa sekarang?"


"Ih kau ini! Iseng banget sih jadi orang!! Yang kau lakukan ini keterlaluan tahu gak!?" Kata Ruiga dengan nada marah.


"Lah kenapa jadi kamu yang marah?"


"Ya iyalah aku marah! Emang kamu mau diguyur air ketika sedang tidur?!"


"Eh kadal buntut, kau ini sadar gak sedang berada di rumah siapa?"


"...... Iya juga. Ini bukan kamarku." Lalu barulah ingat Ruiga soal kejadian semalam. Kini dia telah meredam marahnya dan mencoba untuk tenang.


"Sekarang pulanglah dan berangkat sekolah!"


"Sekolah? Yang benar saja? Jika aku kembali ke rumah sekarang untuk berangkat sekolah, maka aku tidak yakin akan sampai tepat waktu. Aku bangun jam segini saja sudah sangat terlambat."


"Makanya kamu aku bangunin biar tidak makin telat. Pagi ini kita sekolah dulu saja. Nanti setelah pulang sekolah baru kita cari hadiah buat Ruhisa."


"Bisa-bisanya kau memikirkan sekolah, padahal sekolah di dunia ini bukan sekolah asli kita. Kita tidak perlu sekolah. Bukankah tujuanmu ke sini untuk membantuku keluar dari dunia ini?"


"Dih *****!" Kata Nina sambil memukul kepala Ruiga.


"Kenapa kau memukulku?"


"Tidak peduli di mana engkau berada. Yang namanya sekolah ya sekolah. Kita tetap harus sekolah meski kita sedang berada di dunia lain."

__ADS_1


"Kuberitahu ya, sekolah di dunia ini itu beda dengan sekolah di dunia kita. Di sini para guru dan muridnya aneh semua. Bahkan materi pelajaran pun juga aneh."


"Yang aneh itu kamu! Orang sepertimu mana bisa memahami pembelajaran. Yang kau butuhkan hanyalah beradaptasi. Perubahan lingkungan yang mendadak itu memang berasa sedikit aneh, namun setelah kau terbiasa, maka semuanya akan baik-baik saja."


"Kita tidak bakal ke sekolah tepat waktu. Lebih baik kita bolos saja hari ini. Lagian kalau aku pulang sekarang, yang ada aku justru kena marah dan dihukum."


"Sekarang gini aja deh. Kau mau kubantu keluar dari sini atau tidak?"


Mendengar pertanyaan dari Nina, Ruiga justru bingung. Lalu Ruiga berkata: "Kau bercanda? Tentu saja aku ingin dibantu keluar dari sini."


"Kalau kau ingin dibantu, maka kau harus nurut semua perkataanku! Kau pikir dengan pikiranmu saat ini kakek Zelus akan mengeluarkanmu dari sini? Tentu saja tidak!! Kakek Zelus tidak hanya ingin kau menjadi kakak yang baik, tetapi juga menjadi pribadi yang bijak dan berkenan. Untuk bisa keluar dari sini kau harus melakukan tindakan yang benar dalam segala hal, tidak hanya sekedar baik pada Ruhisa saja. Paham?!"


Ruiga tidak menjawab perkataan Nina. Dia hanya bisa terdiam. Diam dalam arti kesal dalam hati. Tentu saja hal itu tidak mudah diterima oleh Ruiga secara tiba-tiba. Walau dalam hatinya menggerutu, tapi Ruiga tetap melakukan apa yang dikatakan Nina.


...****************...


Ruiga kembali ke rumahnya. Di sana Ruiga disambut dengan amarah seisi rumah. Wajah kedua orangtuanya sudah memasuki mode marah. Ruiga pun sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.


Namun.....


"Kupikir kau sudah minggat dan tidak akan kembali." Kata Reiga dengan nada tak enak.


"Aku.... "


"Iya aku salah. Makanya aku kembali."


Jawaban dari Ruiga justru memancing kedua orangtuanya untuk semakin marah. Hal itu wajar karena Ruiga pergi di malam hari tanpa pamit dan tidak membawa ponselnya. Tentu saja Reiga dan Liliya khawatir bukan main ketika tahu anaknya tidak ada di rumah pada malam itu.


Liliya sempat kepikiran jika Ruiga telah diculik oleh penjahat yang mengincar tebusan besar. Namun Liliya kini bisa bernafas dengan lega setelah melihat putranya kembali dengan selamat.


"Ke mana saja kau semalam?!" Tanya Reiga dengan nada marah."


"Aku menginap di rumah teman."


"Seharusnya kau beritahu ibu atau ayah ketika mau pergi! Dan kenapa juga kau tidak membawa ponselmu?! Kau sengaja tidak bawa ponsel untuk menghindari kami?!" Kata Liliya yang marahnya tak kalah dengan suaminya.


"Ayah, ibu, aku dan kakak harus segera berangkat sekolah. Kami sudah sangat terlambat. Dan kalian juga harus berangkat kerja kan? Nanti saja marahnya setelah kami pulang sekolah." Kata Ruhisa yang kemunculannya tidak disadari oleh mereka bertiga.


Yang dikatakan oleh Ruhisa ada benarnya juga bagi Reiga dan Liliya. Dengan terpaksa mereka harus menunda marahnya pada Ruiga. ****, marah kok dipending?


"Baik kali ini kami membiarkanmu lolos hukuman. Tapi jangan pikir jika hukumanmu dibatalkan! Kau tetap akan dihukum, tapi nanti setelah kau pulang sekolah!!!" Kata Reiga dengan nada marah.


Singkat cerita mereka berangkat ke tujuan mereka masing-masing. Kedua orangtuanya berangkat kerja, sementara kedua anaknya berangkat ke sekolah. Karena arah mereka tidak satu tujuan, maka mereka terpaksa menggunakan kendaraan yang berbeda.


Saat itu si kembar berada dalam mobil yang sudah melaju kenceng menuju sekolah. Dari situ Ruhiaa baru mengungkapkan kekesalannya.

__ADS_1


"Dasar kakak *****!!!" Kata Ruhisa dengan nada kasar. Setelah itu Ruhisa menampar kakaknya secara keras. Bahkan Ruiga sendiri tidak menyangka jika adiknya akan seberani ini.


"Hei kalian jangan ribut di sini! Kalian bisa mengganggu konsentrasiku menyetir." Kata supir pribadi keluarga Sasugara.


Mendapat perlakuan kasar dari adiknya Ruiga pun naik darah. Ingin sekali Ruiga membalas perbuatan adiknya itu. Namun niatnya itu tidak jadi dilakukan karena tiba-tiba saja adiknya menangis sebelum mendapatkan serangan balasan.


"Kenapa sih kakak suka bikin keluarga kita kesal dan panik?!"


"Kenapa kau malah menangis? Padahal aku belum membalas tamparanmu barusan."


"Bodo amat soal itu! Kami gak suka kakak pergi tanpa pamit! Kami pikir kakak diculik malam itu. Bahkan ayah sudah lapor ke polisi soal ini. Eh ternyata kakak malah menginap di rumah teman kakak. Kakak *****!!!!" Kata Ruhisa dengan nada marah.


Lalu Ruhisa pun memeluk kakaknya. Dia lega kakaknya baik-baik saja tanpa luka. Dan dia juga bersyukur karena prasangka buruknya soal kakaknya ternyata tidak benar. Ruiga hanya menginap di rumah temannya, bukan diculik. Tapi mereka tidak tahu jika Ruiga menginap di rumah Nina.


...****************...


Mereka pun sampai di sekolah. Sudah mereka duga jika mereka telat 40 menit lebih. Bahkan Ruiga ragu jika mereka akan dibukakan pintu gerbang. Namun nyatanya mereka diperbolehkan masuk tanpa syarat oleh satpam.


Ruiga yang mengetahui hal itu sangat terkejut. Karena biasanya siapa pun yang telat akan dihukum oleh guru piket atau satpam. Namun mereka bisa masuk tanpa hukuman.


Baru saja Ruiga senang karena bisa masuk tanpa hukuman. Ya memang benar mereka tidak dihukum. Tetapi mereka mendapatkan skor pelanggaran yang akan tercatat di buku skor. Dan ini adalah skor pelanggaran pertama yang dilakukan oleh Ruhisa.


"Sudah kuduga. Tidak mungkin aku dibiarkan masuk tanpa ada sesuatu."


"Ini semua gara-gara kakak!"


"Kenapa gara-gara aku?"


"Pakai nanya lagi! Kan aku telat gara-gara nungguin kakak pulang!"


"Lagian siapa juga yang menyuruhmu nungguin aku? Kalau dari awal kau niat sekolah, ya seharusnya kau berangkat dari awal tanpa harus menungguku!"


"Dih kakak *****!!"


"Apa Kau bilang?!"


"Sudah cepat masuk ke kelas! Kalian sudah sangat terlambat!!" Bentak guru BK pada si kembar. Dan si kembar pun burut saja.


Mereka telah memasuki kelas. Dan lagi-lagi Ruiga bingung karena melihat Nina yang terlihat biasa saja duduk di bangku belakang. Jika dilihat dari wajah Nina, seperti tidak nampak jika dia juga datang terlambat.


Hal ini aneh bagi Ruiga. Menurut Ruiga, seharusnya Nina juga telat karena jarak rumah Nina ke sekolah lebih jauh dari jarak rumah Ruiga ke sekolah. Selain itu Nina tidak memiliki kendaraan bermesin yang bisa mempercepatnya ke sekolah. Hal itu dirasa mustahil jika Nina bisa datang tanpa terlambat.


Ruiga dan Ruhisa pun sudah masuk ke kelas dan duduk di bangkunya. Sebelum Ruiga duduk di bangkunya, dia sempat melihat Nina melambaikan tangannya pada Ruiga seolah Nina sedang mengejek keterlambatan Ruiga.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2