
Ruiga POV
Ketika kedua mata ini terbuka kudapati diriku sudah berada di atas kasur. Ruangan ini nampak tak asing di mataku. Namun setelah aku amati sesaat, sebuah tampilan ternyata ada yang berbeda.
Tadinya aku mengira ini adalah kamarku. Tapi kok susunan benda di dalamnya agak berbeda dari kamarku yang sudah diatur? Siapa yang berani meriah tatanan kamarku tanpa seizinku?
Setelah bangkit dari rebahan dan melihat-lihat sekitar, akhirnya aku teringat sesuatu. Sekarang timbullah pertanyaan aneh dalam benakku. Kenapa aku bisa berada di sini? Bukankah sebelumnya aku berada di dimensi hampa? Lalu apakah pertemuanku dengan dewa itu adalah mimpi?
"Mungkin cuma mimpi. Jadi kejadian aku diusir dari rumah juga mimpi dong?!" Kataku dengan kaget.
Tapi masa iya mimpi? Itu berasa begitu nyata untuk bisa disebut mimpi. Apalagi rasa sakit akibat dipukul ayah masih berada walau sedikit. Lah jadi itu mimpi atau bukan? Jika tidak bermimpi pasti aku masih berada di dimensi itu.
Sepertinya aku sendirilah yang harus mencari tahu. Aku pun bangkit berdiri mendekat pintu keluar kamar. Dan sekali lagi aku memandangi isi kamarku yang terlihat berbeda. Di sini ada banyak barang yang tidak pernah kumiliki sebelumnya. Misalkan ada sebuah gitar yang menempel di dinding dan bola sepak di atas lemari. Sejak kapan aku menyimpan benda seperti itu? Pernah menggunakan saja tidak.
"Sudahlah Kupikir itu nanti."
Dan lagi aku dikejutkan dengan sebuah ruangan yang tadinya tidak ada, kini menjadi ada. Begitu aku keluar dari kamarku, ternyata di sebelah kamarku ada ruangan baru. Aku tidak tahu itu ruangan apa. Seingatku di situ tidak ada ruangan.
"Ru Hi Sa? "
Di pintu tersebut terdapat tulisan itu. Artinya apa? Apakah ini sebuah ruang penyimpanan orangtuaku?
"Sarapan sudah siap!" Tiba-tiba terdengar suara dari lantai bawah. Itu terdengar secara samar-samar. Dengan sendirinya aku pun turun ke lantai bawah seolah diriku terpanggil oleh suaranya.
Setelah aku menuruni tangga, maka langsung terlihatlah kedua orangtuaku yang sedang berada di meja makan. Mereka pun melemparkan senyuman padaku sambil mengucapkan kata 'selamat pagi.'
Aku masih tidak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi? Dilihat dari wajah mereka Seolah-olah mereka terlihat santai seolah tak terjadi apa-apa.
"Ngapain masih di situ? Ayo ke sini!" Kata Ibuku. Dan sesuai yang dikatakannya aku pun mendekat pada mereka.
Mereka terlihat biasa saja. Bukankah seharusnya mereka marah karena aku telah menyuruh mereka menggugurkan kandungan ibuku? Mungkinkah itu mimpi?
"Kenapa kau tidak ajak Ruhisa ke sini?" Kata ayahku.
"Ruhisa?"
Ya kata itu sama dengan tulisan yang tertulis di pintu sebelah kamarku. Ruhisa? Apakah itu nama orang? Tapi siapa? Dan kenapa dia tinggal di sini?"
"Dia memang sulit dibangunkan. Sudah menjadi kebiasaannya yang jarang bangun pagi ketika hari libur tiba." Kata ibuku yang sedang mengoleskan selai ke selembar roti.
"Ya jangan sampai jadi kebiasaan dong! Tidak pantas seorang perempuan bangun terlalu siang." Kata ayahku.
Perempuan? Tinggal di sini? Siapa dia? Apakah dia kerabat? Tapi nama itu baru aku dengar hari ini.
"Kalian ini membicarakan siapa sih?" Kataku dengan spontan.
"Siapa katamu? Apa belum jelas juga?" Kata ayah. Dan aku pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau amnesia?" Kata ibuku dengan tatapan panik.
Mulai detik itu juga aku mulai merasa aneh dengan mereka. Seharusnya aku tidak perlu kaget sih karena akhir-akhir ini mereka sering berperilaku aneh.
Oh iya, apakah kehamilan ibuku itu juga mimpi ya? Masalahnya ingatanku agak kacau setelah aku terbangun tadi. Aku masih belum bisa membedakan mana yang nyata dan yang tidak nyata.
"Ibu tidak hamil kan?"
__ADS_1
"Hamil?" Lalu mereka berdua saling pandang. Dan tak lama setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha Hamil katanya?" Ayahku ngakak.
"Kau mau punya adik lagi Rui?"
"Tidak!" Kataku dengan spontan dan keras.
"Terus kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?"
"Bukannya kemarin ibu bilang kalau sedang hamil?"
"Ih ngawur kamu! Untuk apa juga ibu hamil lagi? Memiliki kalian berdua bagi kami sudah lebih dari cukup." Kata ibuku.
Tunggu dulu! Ibu bilang tadi 'kalian berdua?' Maksudnya apa? Kalimat itu mengarah ke dua orang yang dia maksud. Aku dan siapa?
"Untuk apa juga punya anak banyak-banyak?" Kata ayahku.
Aku terkejut mendengar pernyataan mereka. Apa benar mereka orangtua asliku? Tapi sifat mereka agak lain. Bukankah mereka terobsesi ingin punya anak lah? Tapi kok jawaban mereka tadi seolah menandakan bahwa mereka tidak mau punya anak lagi. Selain itu sejak kapan ayah doyan minuman bersoda? Apalagi dia meminum soda itu di pagi hari. Dan ibu pun juga. Bukannya ibu itu alergi selai kacang, tapi kok dia seperti menikmati banget roti selai kacangnya?
"Ada apa denganmu? Wajahmu terlalu serius berpikir? Tidak usah memikirkan hal yang tidak penting!" Kata ayahku.
"Jadi intinya ibu tidak hamil kan?" Tanyaku sekali lagi untuk memastikannya.
"Tidak. Ibu mana mau hamil lagi."
"Lah terus yang ibu katakan di kolam renang itu bohong?"
"Hah? Kau bicara apa sih? Memang ibu mengatakan apa di kolam renang?" Ibuku terlihat bingung. Dan ayahku pun juga terlihat bingung.
***** semuanya malah ikutan bingung. Kalau mereka juga bingung terus aku harus bertanya ke siapa?"
"Entahlah aku tidak begitu ingat kejadian akhir-akhir ini." Jawabku dengan wajah bingung.
"Ya sudah nanti ibu periksakan kamu ke psikiater."
"Gak perlu! Aku kan tidak gila!" Kataku dengan marah.
"Tidak perlu sejarah itu. Ke psikiater kan bukan berarti kalau kau gila. Ibu cuma khawatir saja padamu yang sifatnya menjadi aneh."
"Aneh ibu bilang? Justru kalianlah yang aneh!"
Keadaan Menjadi hening sejenak. Bahkan aktivitas memakan pun juga ikut terhenti. Aku sendiri bingung mau berkata apa dan berbuat apa. Yang jelas ada yang salah pada mereka.
Masa iya sih yang kemarin itu adalah mimpi? Tapi bagus sih kalau benar cuma mimpi, jadi aku tidak perlu punya adik.
"Ah selamat pagi.. oahhh." Tiba-tiba terdengar suara misterius yang memecah keheningan suasana ini. Sontak saja kami bertiga melihat ke arah sumber suara tersebut.
Berbeda dengan ayah dan ibu yang membalas ucapan selamat pagi suara itu, kini aku justru dibikin makin bingung dengan kemunculan orang baru ini.
Sesosok anak remaja seusiaku baru saja turun dari tangga lantai atas. Dia adalah perempuan berambut panjang sepantat dan memakai baju tidur yang kebesaran. Dan anehnya dia tidak pakai bawahan. Mungkin dia masih memakai celana dalam, tapi tidak terlihat karena terhalangi oleh baju tidurnya yang kebesaran.
Dan setelah aku perhatikan wajahnya, aku bagaikan melihat diriku sendiri, tapi dalam versi perempuan. Baru kali ini aku memilih orang lain yang memiliki wajah yang serupa denganku, tapi jenis kelaminnya berbeda denganku. Kalau dia memotong rambutnya sepertiku, dibisa dijamin kalian akan susah mebedakan kami.
Pertanyaan adalah dia ini siapa? Kenapa wajahnya mirip aku? Kupikir mukaku tidak pasaran deh.
__ADS_1
"Selamat pagi Ruhisa." Kata ibuku dengan senyum.
"Ayah pikir kau masih lama bangunnya."
"Mulai sekarang Ruhisa mau bangun lebih awal walaupun hari libur." Jawab gadis itu.
"Siapa perempuan ini?!" Tanyaku.
"Siapa kau bilang?! Jangan-jangan kau ini beneran amnesia?!" Kata ayahku.
"Kau ini pikun atau pura-pura pikun?" Tanya ibuku dengan heran.
"Kakak tidak ingat aku?" Tanya perempuan itu.
"Siapa kau? Dan kenapa kau berada di rumah ini? Dan kenapa kau memiliki wajah yang sama denganku?"
Lagi-lagi mereka tertawa ngakak seolah menertawaiku diriku. Mungkin mereka pikir aku ini badut yang baru saja melawak untuk mereka.
"Kenapa kalian tertawa?! Aku ini serius!" Kataku dengan nada kesal.
"Sejak kapan kakak suka melawak? Sumpah Ruhi ngakak loh..."
"Sepertinya anak kita 100% amnesia nih."
"Jika pun benar amnesia, seharusnya dia tidak kehilangan ingatan sodari kembarnya."
Ibu tadi bilang sodari kembar?! Serius?! Sejak kapan aku punya kembaran? Bukannya aku ini anak tunggal? Ini tidak beres. Seharusnya aku adalah anak satu-satunya mereka.
Tapi wajahnya sungguh mirip denganku. Orang awam yang tidak mengenal kami mungkin akan mengira jika kami ini kembar.
Kini dia pun duduk di sebelahku, kemudian dia meraih sebuah apel merah yang berada di keranjang buah. Dia terlihat lemah gemulai selayaknya seorang perempuan. Lalu kedua mataku tertuju ke bawah. Dan nampaklah paha putih tanpa rok ataupun celana yang menutupinya. Eh ini orang beneran gak pakai celana dalam. Setelah itu aku langsung membuang jauh-jauh pandanganku.
"Eh kakak tidak makan?"
"Jangan panggil aku kakak!" Bentakku dengan spontan. Lalu dari wajahnya terlihat seperti mah menangis.
"Eh kenapa kau kasar pada Ruhisa?!" Kata ibuku sambil memukul kepalaku dengan sendok garpu.
"Adikmu cuma bertanya padamu. Kenapa kau kasar padanya?!" Kata ayah dengan kesal.
Adik?! Ini tidak benar. Apakah aku yang bermimpi? Secara logika sangat tidak mungkin aku punya kembaran.
Untuk memastikan ini mimpi atau bukan, aku pun mencubit pinggangku sendiri. Dan hasilnya berasa sakit. Jadi artinya ini bukan mimpi?
"Ini aku sedang dikerjain atau gimana sih? Sumpah kalian membuatku muak."
"Justru kamilah yang muak dengan sikap anehmu. Kenapa tiba-tiba kau memarahi Ruhisa? Padahal biasa kalian akur-akur saja." Kata ayahku.
"Rui sekarang juga minta maaflah pada adikmu!!" Kata ibu dengan nada tinggi.
"Maaf?! Yang benar saja. Ada yang tidak beres dengan dunia ini."
Aku yang kesal pun memilih meninggalkan mereka di ruang makan. Ada apa dengan dunia ini? Apakah Tuhan telah merevisi catatan kehidupan? Sifat kedua orangtuaku bagaikan baru dimodifikasi. Lalu perempuan itu... Mana mungkin dia adik kembarku. Hanya karena muka kami mirip, bukan berarti jika kami ini sodara.
"Ruiga mau ke mana kau!?" Teriak ayahku.
__ADS_1
Aku pun lebih memilih tuli dan mengabaikan mereka. Lebih baik aku keluar sebentar dari sini untuk memastikan sesuatu. Benarkah aku ini berada di bumi atau bukan?
...****************...