
Ruiga POV
Mereka asik sendiri bersama Ruhisa, sementara diriku hanya ditemani Riko mengobrol. Sisanya cuma fokus pada Ruhi.
Sangat aneh kan? Padahal kami di dunia ini adalah si kembar Sasugara, tapi yang populer cuma Ruhisa saja. Terus di mata mereka aku ini apa? Apa karena Ruhisa perempuan terus dia mendapatkan perhatian lebih dari mereka?
"Apa yang sedang kau pikirkan? Dari tadi kau melamun terus." Kata Riko.
"Bukan apa-apa."
"Kau yakin? Aku pikir kau sedang memikirkan adikmu."
"Tidak terlalu penting juga jika dipikirkan terus."
"Ngomong-ngomong kenapa kau tidak segera makan ayammu?"
Oke aku paham. Pasti dia mengincar makananku. Nasi dan ayam ini memang belum kugigit sedikit pun. Ya sudahlah, aku berikan pada Riko dan dia pun girang.
"Wah baik sekali kau Ruiga. Seharusnya kita berteman dari dulu hehehe."
Dan tiba-tiba Yuhi yang tadinya asik ngobrol bersama Ruhisa dan kawan-kawan, tiba-tiba tatapan matanya tertuju pada kami.
"Rui, kenapa kau kasih makananmu pada Riko?" Tanya Yuhi padaku.
"Tidak apa-apa. Lagipula aku sedang tak berselera makan."
Lalu Yuhi pun mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berkata: "Jangan keseringan ngasih sesuatu pada Riko! Kadang Riko itu gak tahu diri."
Aku yang mendengar itu cuma bisa tersenyum, lalu berkata: "Iya aku juga sempat curiga. Tapi sudah terlanjur kan."
"Hei kalian ngomongin apa sih?" Riko mulai kepo.
Setelah selesai makan, salah satu dari mereka mengajak kami ke tempat karaoke. Ruhi terlihat tertarik dengan ajakan mereka. Tapi.....
"Ruhisa kamu mau ikut kan?"
"Boleh." Jawab Ruhisa.
"Baik, kalau begitu kita mulai ke sana sebelum tutup!"
Mereka pun mulai meninggalkan KFC dan beralih ke tempat karaoke di lantai dua.
Ini namanya bukan piknik keluarga lagi. Kami seperti terpisah dan asik dengan kepentingan masing-masing. Dan kenapa ayah dan ibu lama sekali belanjanya? Ini sudah hampir dua jam dan mereka tidak memberi kabar.
"Eh kak, kenapa kakak diam saja di situ? Ayo ikut kami!" Kata Ruhisa yang datang menghampiriku.
"Ruiga, kau juga diajak. Ayo ke sini!" Kata Riko.
"Kalian pergi saja sana! Aku tidak tertarik."
"Loh kenapa?! Sesekali kakak perlu bergaul dengan anak lain agar kakak tidak dianggap cupu." Ruhisa mencoba memaksaku. Tidak hanya Ruhisa, tapi anak-anak yang lain juga memaksaku ikut.
Dan dengan terpaksa aku ikut mereka. Di sana aku tidak bisa menikmati. Sementara mereka asik bernyanyi ria sambil berjoget, aku justru duduk diam sambil minum soda.
Mood-ku hancur seketika. Rencana ini gagal. Sama sekali tidak ada piknik keluarga. Bahkan sewaktu di kebun binatang tadi kebersamaan kami cuma sebentar dan setelah itu ayah dan ibu memisahkan diri dari kami. Dan hal itu juga terulang lagi ketika ke mall.
Tanpa sepengetahuan mereka, aku keluar dari tempat karaoke. Aku berjalan menuju sudut tempat yang jauh dari keramaian.
Setelah lama berjalan akhirnya kutemukan juga sebuah kedai minuman yang sepi. Jadi kugunakan tempat duduk di sana untuk menyendiri sesaat.
Kemudian si pemilik kedai datang dan bertanya: "Mau pesan minum mas?"
"Ya, aku pesan satu jus jeruk."
Tak lama setelah itu datanglah jus pesananku dengan ukuran gelas besar. Ya itu cukuplah untuk menemani keheninganku.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sana. Yang jelas jus jeruk ini sudah berkurang sebanyak lebih dari 75%. Dan kondisi pikiranku tetap tidak enak. Ini menjengkelkan sumpah. Padahal aku serius berniat baik, tapi hasilnya malah tak sesuai harapan. Kalau begini terus, bagaimana aku bisa membuat mereka yakin?
Bisakah aku keluar dari sini tanpa syarat?! Aku berteriak dalam hati. Dan apakah Zelus bisa mendengar suara hati ini? Jika iya tolong ringankan beban ini! Di sini aku telah serius untuk merubah diri. Aku sudah mencoba menerima takdirku secara perlahan.
"Rui..." Seseorang memecahkan lamunanku. Suara perempuan itu mengejutkanku. Tak disangka kami akan bertemu lagi di sini.
Aku diam tanpa menjawabnya.
"Hei aku bicara padamu." Tanpa minta persetujuan dariku, Nina langsung duduk di kursi depanku.
"Apa maumu?!" Kataku dengan nada tak enak.
"Oke kau boleh marah padaku. Tapi coba pikir kembali! Hal itu tidak akan mempermudahmu keluar dari sini."
"Aku tidak marah padamu. Aku cuma kesal padamu."
"Itu sama aja *****!!"
"Kemarin kau bilang tidak mau berduaan denganku lagi. Terus kenapa kau ke sini?!"
"Sudahlah Rui. Bertengkarnya nanti saja setelah kita keluar dari sini. Yang terpenting sekarang adalah memikirkan cara agar kau bisa keluar dari sini."
"Aku sudah punya rencana sendiri. Aku tidak butuh bantuanmu!"
"Ih gitu banget sih ngomongnya?!" Nina terlihat sedikit kesal.
"........"
"Oke deh aku salah. Aku minta maaf. Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa lagi. Anggap saja hal itu kecelakaan. Aku tidak menuntut apa-apa lagi."
Dia terlihat tulus padaku. Padahal aku mengira dia sudah kembali pulang ke dunia asal kami. Tetapi dia masih di sini dan mengajakku berdamai. Bahkan dia rela minta maaf duluan meski sebenarnya tidak sepenuhnya salah dia.
Setelah kurenungkan memang benar apa yang dikatakan Nina. Kami memang sama-sama salah. Kami telah melakukan hal yang tidak seharusnya. Padahal ikatan kami cuma sekedar teman. Namun tindakan kami waktu itu sudah seperti orang pacaran saja.
Nina telah mengulurkan tangan kanannya sebagai tanda mengajak damai. Agak ragu aku untuk memutuskan.
"Ayolah Rui! Selama ada kebencian di hatimu, Kakek Zelus tidak akan mengeluarkan kamu dari sini. Selain kakek ingin kau menerima takdirmu, kakek juga ingin kau menjadi anak yang baik tanpa kebencian. Sejak kau tahu bahwa ibumu hamil, kebencian itu mulai tumbuh di hatimu hingga menyebabkan kamu dikurung di sini."
"Iya, aku juga minta maaf." Kami pun berjaba tangan sebagai tanda damai. Dan Nina pun tersenyum senang.
__ADS_1
"Nah gitu dong. Kita tidak perlu bahas lagi soal itu. Jadi bagaimana rencana kita saat itu? Apakah sudah kau lakukan?"
"Sudah."
"Bagus. Pasti hasilnya baik kan?"
"Tidak. Rencana itu gagal. Kami gagal mendapatkan waktu bersama. Ujung-ujungnya kami malah mencari kesenangan pribadi."
"Apa maksudnya?"
"Maksudnya sama sekali tidak ada interaksi keluarga saat piknik. Ayah dan ibuku sibuk sendiri, sementara Ruhisa sibuk bersama teman sekolahnya."
"Kupikir Ruhisa akan menjadi penghubung antara kau dan orangtuamu."
"Kita cari cara lain saja."
"Tidak. Cobalah sekali lagi di lain waktu!"
"Itu terlalu lama. Kami sulit mendapatkan waktu bersama. Kalau aku dan Ruhi tiap hari memang selalu ada waktu. Tapi untuk bisa berkumpul berempat itu sangat langka."
"Benar juga. Kita tidak boleh terlalu lama di sini."
"Jadi apa kau punya rencana?"
"Tidak perlu menunggu sampai kalian berempat berkumpul. Cukup lakukan saja pendekatan dengan ayah dan ibumu, seperti ketika kau mencoba mengakrabkan diri pada Ruhisa. Aku pikir ini lebih mudah daripada mengakrabkan diri pada Ruhisa karena di dunia nyata pastinya kau juga sering berinteraksi dengan mereka kan?"
"Lah cuma gitu doang?"
"Mau bagaimana lagi? Yang terpenting kau sudah mau melakukan kebaikan kan? Apa pun hasilnya tidak masalah selama kau sudah mau mencoba. Kakek Zelus pasti menghargai usahamu barusan walau rencana piknik keluargamu gagal."
Iya juga ya. Kenapa aku tidak kepikiran soal itu? Pastinya Zelus selalu mengawasi tingkah kami walau dia tidak menampakan diri padaku.
Suara berdering dari ponselku terdengar. Itu adalah bunyi panggilan telepon dari Ruhisa. Kupikir dia sudah tak peduli denganku. Dan kenapa baru sadar sekarang kalau aku pergi? Dasar payah.
"Itu panggilan telepon kan? Coba angkat! Siapa tahu penting."
"Gak penting kok."
"Jangan gitu! Tahu dari mana kalau gak penting, lah kau aja belum mengangkat teleponnya."
"Aku malas bicara dengannya."
"Siapa sih itu? Orangtuamu atau adikmu?"
"Siapa lagi orang yang sering mengganggu hidupku?!"
"Oh Ruhisa. Bukannya hubunganmu dengan dia sudah membaik? Kenapa sekarang ribut lagi?! Kalau begini kan sama sekali tidak mencerminkan dirimu sebagai seorang kakak!!" Nina malah naik darah.
"Jangan salahkan aku! Aku marah padanya bukan tanpa sebab."
"Aku pernah bilang kan, sebagai kakak kau harus bijak menyikapi sikap adikmu."
"Bagaimana aku tidak marah coba? Padahal aku sudah susah payah mengajak mereka piknik keluarga, tapi Ruhisa malah asik sendiri dengan teman sekolahnya, dan begitu juga dengan ayah dan ibuku yang asik sendiri."
Panggilan pun berhenti. Kemudian masuklah pesan SMS yang isinya adalah: Kak, ayah dan ibu telah selesai belanja. Cepatlah kembali ke mobil! Kita harus pulang sekarang.
Pulang?! Yang benar saja!! Kami belum melakukan apa-apa tapi mereka sudah memutuskan untuk pulang? Sebenarnya apa arti keluarga menurut mereka? Yang kami lakukan di piknik ini sama sekali tidak ada unsur kebersamaan.
Nina yang penasaran isi pesan ini langsung merebut ponselku. Nina pun membacanya dan ekspresinya biasa saja.
"Lalu apa yang kau tunggu? Cepat temui mereka!"
"Untuk apa? Gak guna sumpah!"
"Iya aku tahu kau kecewa sama mereka. Tapi jika kau menyikapinya dengan cara seperti ini, maka kau salah. Kakek pasti tidak senang kau bersikap begini. Kakek pasti ingin kau bijak dalam bersikap apa pun yang terjadi."
"Biarkan saja mereka pulang sendiri. Aku masih ingin di sini."
"Temui mereka dan bicarakan masalah ini baik-baik!" Nina memaksa sekali. Aku pun melakukan apa yang dikatakannya.
Aku dan Nina telah sampai ke parkiran mobil. Di sana sudah terlihat Ruhisa yang melambaikan tangannya ke arahku.
"Ih kakak kenapa pergi gak bilang-bilang?! Aku mencari kakak ke mana-mana."
"Berhubungan sudah sore, mari kita pulang!" Kata ayahku yang terlihat senang karena belanja banyak bersama ibu.
"Pulang? Bagaimana dengan rencana ke pantai dan menonton bioskop?"
"Kita lanjutkan lain waktu saja. Ayah dan ibu harus menyiapkan berkas untuk kerja besok." Kata ayah.
"Apa-apaan ini?! Bukankah tadi pagi kita sepakat akan bersenang-senang sampai malam? Kita masih sempat ke pantai sekarang atau menonton bioskop. Tapi kenapa tiba-tiba malah pulang?!"
"Tadi kan ayah sudah bilang. Kami lupa bahwa besok berkas kerja harus segera selesai. Kita lanjutkan acara ini lain kali saja."
"Payah! Apakah pekerjaan kalian lebih penting daripada keluarga? Kapan lagi kita berempat punya waktu luang penuh? Kalian menyebalkan!"
Mereka pun terdiam heran padaku. Oh iya aku lupa. Mereka itu bukan manusia asli, dan pastinya perasaannya juga tidak asli. Manusia imitasi seperti mereka mana bisa memahami perasaan kami.
"Oh sudahlah, kalian tidak akan bisa mengerti. Kalian
pulang saja duluan! Aku masih ada urusan." Kataku yang terlanjur kecewa. Aku berjalan menjauh dari mereka dan mereka cuma diam seolah tidak mengerti apa yang kukatakan. Cuma Nina yang mengejarku dan membujukku agar aku kembali.
"Ruiga, kok kamu malah pergi sih?! Mereka ingin kau kembali!"
"Bodo amat dengan mereka!"
"Hei jangan gampang marah dong! Langkahmu dari awal sudah bagus. Jangan kau rusak dengan sikapmu ini!"
"Aku cuma butuh waktu untuk menenangkan diri."
"Baiklah jika itu yang kau mau. Tapi setelah ini kamu harus baikan lagi ya sama mereka!"
Aku hanya bisa diam sambil menganggukan kepala.
Nina tahu aku sedang kesal, maka dari itu dia mengajakku pergi ke suatu tempat. Katanya dia ingin menenangkan hatiku dengan sebuah pertunjukan.
__ADS_1
Matahari pun sudah tenggelam. Para bintang pun mulai menampakan sunatnya yang berjejer di langit malam.
"Kau mau membawamu ke mana? Dari tadi kita cuma jalan terus tidak sampai-sampai."
"Sudah diam, ikut saja!" Jawab Nina yang menggandeng tanganku seolah dia telah membantu anak kecil menyeberang jalan.
Oh ini area alun-alun kota. Di sini banyak orang berkumpul seperti sedang menunggu sesuatu. Mungkinkah mereka juga menanti acara yang sama kami nantikan? Kata Nina acara ini cukup menghibur.
Nina membawaku menuju bangku kursi taman dekat alun-alun. Dan yang jadi pertanyaan adalah ngapain kami duduk manis di sini? Seperti orang pacaran saja, tapi waktu itu kami tidak banyak bicara.
Lalu suara yang mengejutkan terdengar keras. Suara itu berasal dari atas. Itu bunyi petasan, atau lebih tepatnya suara kembang api yang meledak di angkasa. Kembang api itu memancarkan percikan api yang indah dan bersaing dengan bintang yang menghiasi malam.
Jadi Nina membuatku berjalan jauh cuma untuk menyaksikan kembang api? Astaga, aku pikir dia mau menunjukan sebuah atraksi yang menghibur gitu.
"Bagaimana? Indah kan?"
"Hm."
"Adikku sangat suka kembang api. Jadi sewaktu adikku sedih, aku selalu menghiburnya dengan menyalakan kembang api di rumah. Ah aku jadi rindu adikku."
"Oh sekarang aku paham."
"Soal apa?"
"Jangan-jangan selama ini kau cuma menganggapku seperti adikmu sendiri?"
Nina terlihat heran dan pandangan wajahnya seperti kosong, bingung mau berkata apa. Tapi masuk akal sekali jika perhatiannya selama ini cuma atas dasar hubungan kakak-adik saja.
"Aku gak menyangka loh kalau kamu sampai kepikiran seperti itu."
"Tapi yang kukatakan tadi benar kan?"
"Mungkin secara tidak langsung itu benar. Tapi bagiku kau ini lebih dari sekedar adik. Kalau kau peka seharusnya kau segera menangkap apa maksudku ini."
"Sudahlah. Ini tidak penting dibahas lagi. Tapi aku hargai usahamu ini walau sejujurnya aku tidak begitu terhibur Hehe."
"Tapi dari kata-katamu barusan terdengar tidak menghargai..." Ekspresi wajah Nina agak cemberut.
"Ya maaf. Aku memang tidak terhibur oleh pertunjukan kembang api ini. Tetapi aku terhibur oleh kehadiranmu di sisiku. Kalau kau tidak menyusulku ke sini, pasti aku kehilangan arah dan tidak bisa kembali."
"Kau harus yakin kalau bisa! Cuma satu langkah kecil lagi maka kakek akan membebaskanmu."
"Apa?"
"Sebelum aku ke mall, kakek Zelus telah menemuimu. Kami bicara banyak hal tentang kamu. Kakek Zelus bilang kau hanya perlu melakukan satu kebaikan lagi, maka kau akan bebas. Soal kedekatanmu sama Ruhisa sudah tidak diragukan lagi. Hati kecilmu sudah menerima Ruhisa sebagai adikmu. Sekarang kau bebas melakukan kebaikan apa pun itu. Tidak harus piknik keluarga untuk menunjukan dirimu sebagai kakak pada orangtuamu. Lakukanlah sesuatu yang berarti bagi mereka selagi keberadaan mereka dihapus!"
"Dihapus? Apa maksudnya?"
"Kau tahu sendiri kan? Dunia ini dan seisinya adalah palsu. Semuanya cuma tiruan dan kepribadian orang di sini tak sesuai kepribadian manusia asli di dunia kita. Setelah kita kembali ke dunia nyata, maka kakek akan menghapus dunia ini dan seisinya."
"Tapi kenapa harus dihapus?!" Entah kenapa aku merasa tidak rela jika dihapus.
"Ya memang seharusnya begitu kan? Tidak ada alasan lagi untuk membiarkan dunia ini berjalan. Urusanmu di sini akan segera selesai dan dunia ini tidak lagi dibutuhkan. Ingat, dunia ini adalah penjara. Sebuah penjara hukuman untukmu yang telah kurang ajar sama orangtua aslimu."
"Aku tidak setuju jika dunia ini harus dihapus. Walau dunia dan penghuni di sini cuma tiruan, tapi mereka itu hidup. Mereka punya perasaan dan pikiran. Apakah kau tidak menyadari hal itu?!" Tanpa disadari aku berbicara dengan nada yang terdengar marah.
"Iya awalnya aku juga tidak percaya jika mereka yang ada di sini cuma tiruan manusia dari dunia nyata. Tapi faktanya mereka palsu. Mereka bukan manusia seperti kita. Bahkan ingatan yang mereka miliki juga palsu. Kita jauh lebih sempurna daripada mereka."
"Besok akan kutemui Zelus. Akan kubujuk dia agar dunia ini tidak dihapus."
"Kenapa kau merasa tidak rela jika dunia ini dihapus? Selain itu kau terlihat marah ketika tahu dunia ini akan dihapus."
"Karena sewaktu-waktu nanti aku ingin kembali ke sini untuk menemui mereka. Aku sudah lama berada di sini. Kurang lebih hampir sebulan. Mungkin awalnya aku merasa tidak nyaman dengan dunia tiruan ini. Tapi setelah kau datang dan membuka mata hatiku, maka sudut pandangku berubah. Setelah kau menyuruhku untuk berbaur dengan mereka, aku menjadi paham. Ternyata tidak ada buruknya aku berada di sini. Di sini tidak jauh berbeda dengan dunia asal kita. Yang membedakan cuma sifat mereka dan masalalu mereka."
"Jadi kau betah di sini?"
"Awalnya tidak. Namun sekarang aku senang berada di sini. Di sini tidak terlalu buruk. Setidaknya aku di sini tidak dimanfaatkan teman sekelas."
"Jadi kau tidak mau pulang dan ingin menetap di sini begitu?"
"Tentu saja aku juga mau pulang. Tapi di sisi lain aku juga tidak rela jika harus meninggalkan tempat ini."
"Kau tidak bisa berada di dua dunia dalam satu waktu! Kau harus pilih salah satu!" Kali ini malah Nina yang terlihat marah. Mungkin dia kecewa, tapi aku tidak bisa membohongi diriku.
Tadinya aku memang kesal sama orangtua dan adik kembarku di sini. Tapi sekarang aku sudah bisa menerima mereka. Hal itu bermula ketika tadi pagi kami berangkat piknik. Dari situ aku mulai merasakan hawa kehangatan relasi keluarga. Awalnya kita kompak dan semangat berangkat piknik, walau endingnya diakhiri dengan rasa kesal dan kecewa. Intinya aku tidak rela jika dunia ini dihapus.
Aku memang ingin pulang ke dunia nyata. Tapi di hari yang lain aku juga ingin mengunjungi dunia ini lagi. Dua dunia ini penting bagiku.
"Kita bahas lagi ini setelah aku selesai melakukan tugasku di sini. Lebih kita pikirkan satu langkah terakhir ini. Menurutmu kebaikan apa yang bisa dikenang seumur hidup?"
"Terserah kau. Lakukan saja sesuai kata hatimu!" Nada bicara Nina seperti orang sedang ngambek. Memang ada yang salah dengan perkataanku barusan? Aku rasa tidak.
"Kau marah?"
"Tidak."
"Terus kenapa tiba-tiba kau seperti tidak bersemangat gitu?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya takut jika kau salah mengambil keputusan."
"Ha?"
"Bijaklah mengambil keputusan Rui. Aku mempercayaimu."
"Hm baiklah...."
Pertunjukan kembang api masih berlanjut. Kami mencoba menikmati pertunjukan ini selagi bisa. Dan sesekali aku mencoba menggoda Nina seperti ketika dia menggodamu di dunia nyata. Hahaha dia terlihat kesal, tapi lucu responnya. Mungkin ini sebabnya ia senang menjahiliku di sekolah. Sensasinya menggairahkan.
Jika dilihat-lihat Nina ini manis juga. Coba saja kalau rambutnya dibiarkan panjang seperti Ruhisa dan gaya pakaiannya dirubah dikit. Pasti dia terlihat lebih menarik. Apalagi dadanya yang besar itu membuat para laki-laki gagal fokus.
Atau mungkin Nina sebenarnya tidak jelek, tapi karena dari awal dia sering menjahiliku di sekolah, maka itu mensugesti pikiranku untuk mengecapnya sebagai perempuan tidak cantik.
Eh kenapa tiba-tiba aku menjadi membahas dia sih? Apakah karena aku ini.... Ah terlalu dini jika aku menyimpulkan kalau aku suka padanya. Bisa saja dia mendekatiku karena kasihan saja karena aku tidak punya teman sejati.
...****************...
__ADS_1