Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Bad Mood


__ADS_3

Rasa pegal akibat terlalu lama dirantai di tiang masih berasa. Selain itu aku juga merasa pusing di kepala seolah pandanganku berputar-putar seperti sedang naik komedi putar.


"Kakak baik-baik saja kan?"


"Diam kau! Jangan ajak aku bicara!" Kataku dengan nada membentak.


"Woi kalian berdua bisa diam tidak!? Bapak sedang menerangkan di sini!!" Kata pak guru yang tidak kuketahui namanya.


"Maaf pak, kami akan diam." Kata Ruhisa yang kembali menyimak penjelasan dari guru.


Selama pembelajaran berlangsung aku sama sekali tidak bisa fokus. Rasanya di sana aku hanya ingin waktu berjalan lebih cepat agar aku bisa pulang dan tiduran di kasur.


Lama-lama aku pun bosan dengan pembelajaran yang tidak bisa aku resapi ke dalam otakku. Aku yang terlanjur dipenuhi rasa bosan, langsung minta izin pada pak guru untuk pergi ke toilet. Tentu saja itu cuma alasanku saja. Karena niatan yang sebenarnya adalah membolos pelajaran hingga bel istirahat kedua berbunyi.


Dan ketika aku berjalan ke arah toilet, tiba-tiba perhatianku tertuju pada sebuah ruangan yang pintunya sengaja dibuka sedikit. Itu bukan ruang kelas belajar, tapi aku tidak tahu ruang apa itu.


Aku pikir di tempat itulah aku bisa bersantai sejenak sampai jiwa dan pikiranku kembali pulih. Dan begitu aku mendekat ke sana, maka terlihatlah tulisan di atas pintu. Di situ tertulis jelas bahwa itu merupakan ruangan khusus klub olahraga.


Di sini lumayan luas walau tak seluas ruang kelasku. Tempat ini dipenuhi banyak peralatan olahraga seperti beberapa jenis bola atau benda lainnya yang berhubungan dengan olahraga.


Lalu kedua mataku tertuju pada sebuah matras di pojok ruangan. Dan di situlah aku mencoba merebahkan diriku.


Aku tidak tahu berapa lama aku tiduran di sana. Padahal lagi asik tidur tapi aku diganggu dengan sebuah kegaduhan di ruangan ini. Setelah sadar aku pun langsung mendengar sebuah percakapan antara siswa dengan beberapa siswa lainnya.


Sepertinya mereka adalah anggota klub olahraga. Tentunya wajah mereka terlihat asing di mataku. Bahkan aku ragu jika mereka itu ada dalam versi dunia nyata atau tidak. Dan kini perhatian mereka teruju padaku.


"Si kembar Sasugara. Ada perlu apa kau di sini?" Kata siswa bertubuh atletis itu. Namanya adalah Riko. Aku bisa tahu namanya dari tulisan nama di seragamnya.


"Dia kan anak pemilik sekolahan ini, jadi suka-suka dia dong mau ngapain di sini." Kata Yuhi perempuan bertubuh mungil seperti anak SMP.


Ada tujuh orang di sini termasuk aku. Di sini aku tidak akan menyebutkan nama mereka satu persatu karena dari mereka berenang cuma satu tokoh saja yang penting di chapter ini.


"Biar kutebak, pasti kau ingin bergabung ke klub kan?" Kata Riko.


"Eh tidak juga. Aku di sini cuma bimbang tidur saja. Di sini sunyi, sejuk, dan nyaman."


"Yah sayang sekali. Padahal kami mengharapkan kau mau gabung ke klub. Tiap minggunya kami kehilangan satu anggota." Kata Yuhi.


"Baik, aku akan pergi sekarang."


Karena tak mau mengganggu mereka yang sedang rapat, maka aku memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Selain itu jam istirahat kedua sudah dimulai. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya banyak siswa yang mulai keluar dari kelas dan sebagian dari mereka menyerbu area kantin.


Beberapa meter setelah aku meninggalkan ruang klub olahraga, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil nama belakangku. Itu orang yang sama di tempat tadi. Mau apa dia? Apakah dia akan memaksaku gabung ke klub?


"Sasugara, tunggu!"


"Ada apa? Aku tidak mau gabung ke klub."


"Aku tidak peduli kau mau gabung atau tidak."


"Lantas ada keperluan apa?"


Bukannya menjawab pertanyaan dariku, dia malah nyengir sambil garuk-garuk kepala. Di sini aku pun mulai dibikin heran.


"Anu, aku butuh bantuan." Kalimat dari Riko terdengar agak malu-malu.


"Kau mau pinjam uang?" Kukira mereka akan meminjam uang karena kebanyakan orang yang mendekat padaku pasti ujung-ujungnya cuma mau uang. ?


"Aku tahu kau ini orang kaya dan uangmu banyak. Tapi maaf saja, aku tidak butuh uangmu. Aku hanya mau tutup ini." Riko mengeluarkan amplop dari saku celananya.

__ADS_1


"Apa ini?"


"Pakai nanya segala. Masa kau tidak tahu itu apa?"


"Lah emang ini apaan? Aku buka ya?"


"Jangan!" Kata Riko dengan cepat. "Surat ini untuk Nona Sasugara."


Nona Sasugara? Mungkinkah yang Riko maksud adalah Ruhi? Oh sekarang aku paham. Anak ini tak berani menyatakan cinta. Tapi kenapa harus sama Ruhi?


"Oke aku paham apa maksudmu. Nanti akan kuberikan padanya. Tapi jika aku tidak lupa."


"Kau tidak boleh lupa! Surat ini penting dan harus disampaikan hari ini juga."


"Kenapa tidak kau sendiri saja yang memberikan surat ini? Yang naksir dia kan kamu, bukan aku."


"Itu dia masalahnya. Pesona dan senyuman adikmu itu begitu membuat hati dan perasaanku membisu."


"Aku tidak paham gaya bahasamu."


"Intinya aku tidak sanggup menyerahkan surat ini secara langsung. Tolong ya!"


Lalu Riko pun kembali masuk ke dalam ruangan klub. Aku yang sedikit merasa baikan pun memilih untuk mendatangi kantin untuk memakan beberapa cemilan di sana.


Sialnya di sana aku malah ditertawai gara-gara kejadian tadi pagi. Bagi mereka itu lucu jadinya di situ aku jadi bahan guyonan. Aku yang tak berani melawan pun hanya bisa diam dan melakukan tujuan awali berada di situ.


Setelah cemilan yang kubeli sudah kubayar, maka aku langsung bergegas kembali ke kelas. Sebenarnya aku malas kembali ke kelas karena aku benci melihat Ruhisa yang selalu bersikap sok manja di depanku. Apalagi kata-kata yang dia ucapkan terasa membuat hati jengkel walau kata yang Ruhisa ucapkan bukan kata-kata kotor.


Dan benar saja. Begitu aku memasuki ruang kelas, aku langsung disambut Ruhisa dengan ekspresi panik yang berlebihan.


"Ih kakak dari mana saja?! Katanya ke toilet tapi kucari di sana gak ada."


"Sudah diam! Jangan katakan apa-apa lagi!" Kataku yang mencoba cuek padanya. Tapi dia tetap menyerbuku dengan berbagai pertanyaan yang malas untuk kujawab.


"......."


"Jawab dong kak!"


"Jangan ganggu aku! Tidak lihat apa aku sedang makan?!"


"Habisnya kakak tadi pergi begitu saja...."


Dan bel masuk pun terdengar. Jam pelajaran terakhir pun dimulai. Lagi-lagi ini pelajaran sejarah yang diajar oleh Zelus. Begitu Zelus masuk ke kelas, dia langsung memberi aku kode seolah-olah apa yang kulakukan hari ini merupakan tindakan bodoh yang membuatku sulit untuk keluar dari dunia ini.


Aku sampai lupa jika gerak-gerikku di sini diawasi betul olehnya. Zelus bagaikan tuhan di dunia ini yang tahu segalanya dan mengatur segalanya, kecuali aku yang tidak bisa ia kendalikan.


Namun di situ tidak terjadi percakapan apa pun antara aku dan Zelus. Melihat ekspresinya saja aku sudah paham sekali apa yang ia sampaikan. Sepertinya dia menggunakan kekuatan pikiran untuk menyampaikan pesan ke dalam otak dan pikiranku.


Seperti para guru yang lainnya, Zelus menjalankan kegiatan belajar-mengajar ini dengan tertib tanpa keributan. Dan hal itu berlangsung hingga detik-detik akhir pembelajaran.


...****************...


Begitu kelas dibubarkan, aku langsung keluar kelas menuju gerbang sekolah tanpa menunggu Ruhisa yang masih sibuk dengan barang bawaannya. Walau dia menyuruhku untuk menunggunya, tapi aku tetap jalan duluan. Di sana mobil jemputanku sudah menanti.


"Tuan muda. Kok cuma sendiri? Mana Nona Ruhisa?"


"Nanti dia juga bakalan ke sini sendiri."


"Kenapa kalian tidak bareng? Kalian bertengkar lagi? Tidak seharusnya Tuan Ruiga meninggalkan Nona Ruhisa."

__ADS_1


"Bodi amat deh. Aku masuk duluan. Jika kau khawatir dengannya, mending kau susul saja dia."


"Ada apa denganmu? Akhir-akhir ini kau sering bersikap aneh dan membuat keluargamu jengkel. Jika boleh tahu apa yang menyebabkan anda begitu?"


"Jangan urusi urusan keluargaku!"


"Maaf tuan."


Dan kembaranku yang menyebalkan itu akhirnya datang. Dia terlihat marah padaku tapi aku tidak peduli. Hari ini mood-ku kacau dan aku tidak peduli lagi.


"Jahat banget sih ninggalin aku sendirian di kelas!?"


"Siapa suruh kau berlama-lama di kelas!"


"Aku kan mengecek barang dulu sebelum pulang. Kalau sampai ada yang ketinggalan kan gawat. Kakak payah! Akan aku aduin ke ibu soal ini."


"Aduin aja semua! Aku tidak peduli."


"Menyebalkan banget sumpah! Padahal tadi aku sudah mencoba memaafkan kakak, tapi kakak bikin aku kesal lagi!!!"


"Terus kau apa? Mau ngajak berantem?"


Ruhisa pun terdiam sejenak dan menatapku dengan wajah kebencian. Baru kali ini dia menatapku seperti itu.


Ini di luar dugaanku. Ruhisa melemparkan ranselnya ke wajahku. Kemudian dia masuk ke dalam mobil dan menjambak rambutku. Sesekali dia mencakar wajahku dengan kukunya yang sengaja dipanjangin selayaknya anak perempuan lain.


"Eh kalian jangan bertengkar! Nanti kalau ada apa-apa aku yang disalahin!" Kata pak supir.


Pak supir pun berhasil mereda pertikaian ini. Padahal tadi aku hampir saja memukul Ruhi sebagai serangan balasan. Tapi di situ pak supir dapat mencegahnya.


Dan di endingnya diakhiri dengan air mata. Di mana-mana perempuan itu bisanya cuma menangis.


Merasa sudah aman, pak supir pun menjalankan mobil ini menuju ke rumah. Setelah sampai di rumah aku mulai panik karena ternyata di rumah sudah ada ayah dan ibu. Wajah mereka terlihat tidak senang.


Aku pun beranggapan Ruhisa secara diam-diam telah mengadukanku melalui ponselnya. Tapi ternyata hal itu tidak benar. Mereka terlihat tidak senang karena mereka sedang ada masalah di kantor. Di sini mereka sibuk mengotak-atik laptop dan beberapa berkas kerja di rumah.


Ruhisa pun langsung masuk ke kamar tanpa menghampiri ayah dan ibu untuk mengadukan aku. Sementara aku juga harus masuk ke kamar dan ganti baju. Di sana aku merebahkan tubuhku sejenak dan berharap agar hari esok lebih baik dari hari ini.


Belum sempat aku memejamkan mata untuk tidur, tiba-tiba seseorang memasuki kamarku. Seketika saja mood-ku yang tadinya agak mendingan, kini dibikin gak enak lagi.


"Kau lagi! Apa maumu?!" Bentakku pada Ruhisa.


"Galak banget sih. Padahal aku ke sini cuma mau minta maaf karena telah melukai wajah kakak."


Minta maaf? Ini anak aneh banget. Mudah sekali amarahnya hilang dalam waktu cepat. Dan ketika meminta maaf pun itu terlihat natural tanpa dibuat-buat. Bahkan tiada wajah kesal maupun wajah kebencian padanya. Bagaikan telah direset ulang emosinya pun kembali normal.


"Aku tidak butuh maaf darimu. Cepat keluar dari sini!"


"Mana bisa begitu? Yang namanya salah kan harus minta maaf. Kakak boleh menghukumku."


"Oh kebetulan sekali. Kalau begitu kamu kuhukum menceburkan diri ke kolam renang."


"Cuma gitu? Itu tidak seperti hukuman."


"Tapi kau harus menceburkan diri sebanyak 300 kali ke kolam."


"Eh mana bisa gitu? Itu melelahkan..." Kata Ruhi dengan nada protes.


"Bukannya kau sendiri yang minta dihukum?"

__ADS_1


Ruhisa pun terdiam. Dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia pun keluar dari kamarku. Sepertinya dia tidak akan berani menghukum dirinya sendiri. Tiga ratus kali itu bukan angka yang sedikit. Pasti dia tidak akan tahan.


...****************...


__ADS_2