Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Pulang


__ADS_3

Pagi itu Nina menunggu Ruiga di kelas. Namun orang yang ditunggu tak kunjung datang. Harusnya Ruiga dan kembarannya segera memasuki ruang kelas karena beberapa menit lagi jam pelajaran dimulai.


"Kenapa mereka belum datang juga? Jika mereka berhalangan masuk harusnya mereka mengirim surat izin."


Tidak ada surat izin di meja guru, artinya Ruiga dan Ruhisa sengaja membolos sekolah. Di dunia nyata Ruiga memang bukan tipe murid yang disiplin, namun Ruiga hampir tak pernah tidak masuk tanpa keterangan.


Nina pikir mereka sengaja tidak masuk hari ini. Nina tidak tahu apa alasannya, namun Nina yakin mereka menyembunyikan sesuatu.


Sama halnya ketika Nina di dunia nyata, Nina tidak begitu peduli untuk berinteraksi dengan orang lain, kecuali Ruiga dan Ruhisa. Di saat istirahat pun Nina lebih memilih membawa jajanan yang ia beli dari kantin ke kelas. Dia lebih nyaman makan di dalam kelas di bangku belakang.


"Kira-kira mereka sedang di mana dan sedang ngapain? Aku harap mereka tidak melakukan hal aneh-aneh."


Ketika sedang asik makan, tiba-tiba Nina didatangi oleh oleh beberapa anak laki-laki. Seketika saja Nina merasa was-was. Sangat mencurigakan bagi Nina karena didatangi beberapa anak laki-laki yang sebelumnya jarang mengajak berinteraksi.


"Apa mau kalian?!" Kata Nina dengan ekspresinya yang waspada.


"Galak banget sih. Kami ke sini mau tanya sesuatu."


"Tanya apaan?"


Mereka agak kaku untuk bertanya.


"Jadi begini, ini tentang Sasugara. Apa kau tahu kenapa mereka tidak berangkat?"


"Dengan tegas Nina menjawab: "Tidak, aku tidak tahu apa-apa."


"Eh bukankah kau orang yang paling dekat dengan Ruhisa?"


Nina bingung karena mereka merasa kalau Nina itu dekat sama Ruhisa. Padahal Nina merasa seperti dihantui Ruhisa ketika berdekatan dengan Ruiga.


"Beberapa hari ini kenapa hubunganmu dengan Ruhisa agak jauh. Aku lebih sering melihatmu bersama Ruiga daripada sama Ruiga."


"Iya, apakah kau suka sama Ruiga?"


"Apa yang membuatmu tertarik padanya?


Pertanyaan yang mereka lemparkan pada Nina malah membuat kepala Nina pusing. Lalu Nina pun memilih untuk pergi meninggalkan mereka di kelas.


Nina berlari menuju daerah sepi di area sekolah. Dan tempat itu adalah atap gedung sekolah. Cuma di sana tempat paling sepi. Dan ternyata di sana terasa sejuk dan damai. Tak ada siapa pun di sana, jadi Nina bebas mau berekspresi seperti apa.


Sesuatu yang tidak ingin Nina ingat pun tiba-tiba muncul. Nina kembali teringat kejadian kemarin saat di ruang BK. Keputusan yang dikatakan Ruiga waktu itu sungguh membuat Nina terluka sekaligus kecewa.


Nina tak lagi bisa membendung air matanya. Seketika saja air mata itu keluar membasahi pipinya. Tak hanya itu, Nina pun menjerit kencang di situ hingga suaranya menggema. Namun tidak ada yang tahu jika jeritan itu berasal dari Nina.


Setelah merasa agak lega Nina kembali ke kelas. Ia melanjutkan pelajaran hingga akhir. Waktu yang ia lalui berasa hambar. Yang ada dalam pikirannya saat itu hanya ingin segera ke rumah Ruiga untuk menyadarkan Ruiga sekali lagi. Nina sangat mengharap agar hari ini ia berhasil membujuk Ruiga. Jika hari ini Nina gagal, maka dengan terpaksa Nina akan pulang dan menyerahkan masalah ini pada Dewa Zelus.


...****************...


Siang itu Ruiga dan Ruhisa mengunci diri dalam kamar. Hari ini mereka sengaja tidak berangkat agar mereka bisa berduaan selama seharian penuh. Orangtua mereka tidak tahu hal ini karena mereka berangkat terlalu pagi sebelum jam sekolah dimulai.


Salah satu pembantu di rumah itu sudah membujuk mereka untuk berangkat sekolah, namun Ruhisa bilang pada pembantu di rumahnya kalau mereka tidak enak badan. Sebenarnya Ruiga ingin membuat surat izin palsu, tapi hal itu tidak jadi karena surat izin harus ditandatangani oleh orangtua siswa. Dan sangat mustahil untuk mendapat tandatangan dari orangtua mereka karena pastinya mereka akan langsung ketahuan jika pura-pura sakit.


Dari pagi tadi mereka belum keluar kamar. Mereka takut ketahuan pura-pura sakit jika keluar kamar karena jika dilihat-lihat mereka berdua tidak nampak sakit.


Untuk menghibur diri Ruiga mencoba menyalakan laptopnya dan mencoba memainkan game yang ada di laptop itu. Dia sudah terhubung ke internet dengan kecepatan di atas standar. Dengan kecepatan seperti itu dia bisa bebas main game online.


Belum ada 20 menit bermain, tiba-tiba seseorang memasuki kamar Ruiga. Ruiga deg-degan karena Ruiga pikir yang masuk adalah pembantunya. Namun Ruiga salah. Itu bukan pembantunya, melainkan Ruhisa.

__ADS_1


"Kak....."


"Ih kau ini...!! Kenapa sih kau jadi suka tidak pakai baju?!" Ruiga kesal dengan kedatangan Ruhisa yang tak berpakaian sekaligus mengagetkan.


"Maaf, aku kan cuma mau melihat kakak."


"Cepat masuk dan tutup pintunya! Bisa gawat kalau ada yang melihatmu telanjang." Kata Ruiga dengan marah.


Ruhisa pun melakukan apa yang diperintahkan oleh kakaknya. Tapi Ruhisa cuma menutup pintu saja tanpa mengunci. Ruhisa pikir para pembantu tidak akan berani masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kak ayo temani aku tidur lagi!"


"Kita sudah melakukan itu semalaman, apakah itu masih kurang?"


"Kapan lagi coba kita punya waktu bebas lagi?"


"Nanti saja! Aku sedang sibuk main." Ruiga lebih memilih fokus ke permainan di laptop.


Ruhisa yang tidak terima diabaikan langsung menarik tubuh kakaknya hingga terbaring di kasur. Sebelumnya Ruiga memainkan laptopnya di atas tempat tidur sambil duduk. Lalu laptop di kasur langsung dipindahkan ke meja oleh Ruhisa dan Ruhisa pun bisa bebas memeluk kakaknya yang terbaring di kasur.


"Memang kamu tidak bosan melakukan ini tiap waktu?" Tanya Ruiga yang merasa terganggu.


"Justru karena bosan aku ingin melakukan ini. Lagian aku cuma memeluk kakak sambil tiduran saja kan..."


"Ruhi, sepertinya kita tidak boleh terus-menerus melakukan ini. Kau bilang kau hanya ingin melakukan sekali saja. Tetapi kau justru kecanduan melakukan ini."


"Iya sih, tapi apa kakak tidak merasa senang dengan hal ini?"


Ruiga diam tak bisa menjawab. Dia juga bingung mau menjawab dengan kalimat seperti apa.


"......"


"Kok kakak diam saja sih?"


"Sudah ya, kita jangan lakukan ini lagi! Sekarang kembalilah ke kamarmu dan pakailah bajumu! Lagipula kakak sudah berhasil mencegah dunia ini dihapus."


"Jika kakak tidak mau ciuman, setidaknya jangan usir aku dari kamar kakak! Aku hanya ingin berada di dekat kakak saja." Kata Ruhisa dengan lirih.


"Maaf, aku tidak ada maksud begitu."


"Biarkan aku tetap di sini!"


"Iya kamu boleh tetap di sini. Tapi kau pakai baju dulu ya."


Ruhisa nampak cemberut ketika disuruh pakai baju. Ruhisa merasa gagal menjadi perempuan karena telah gagal merayu kakaknya. Ruhisa memang sengaja tidak pakai baju di depan kakaknya atas tujuan tertentu, sayangnya Ruiga bisa menahan godaan tersebut.


"Tapi sebelum aku pakai baju, aku ingin kakak menciumku dulu."


Sebenarnya bukan hal berat untuk melakukan hal itu, namun saat itu Ruiga sedang tidak bersemangat untuk melakukan itu. Tapi karena ini demi Ruhisa biar mau pakai baju lagi, maka Ruiga mengiyakan permintaan adiknya.


"Tapi janji ya langsung pakai baju setelah ini."


"Iya janji Hehe...." Jawab Ruhisa dengan senyuman.


Ada sedikit keraguan saat mau melakukan itu. Tapi Ruiga menerobos saja keraguan itu agar momen ini cepat terlewati. Mereka pun berciuman di atas kasur dengan posisi terduduk.


Dan tiba-tiba.... Pintu terbuka lebar. Otomatis mereka berdua kaget setengah mati. Ini semua di luar dugaan mereka. Mereka pikir tidak ada yang berani masuk ke kamarnya tanpa ketuk pintu dulu, namun orang ini berbeda.

__ADS_1


"Nin....?!" Ruiga yang terkejut langsung menjaga jarak dari Ruhisa. Tapi hal itu percuma karena Nina terlanjur melihat mereka berciuman.


Seketika saja Nina naik darah. Nina ingin mengamuk dan memukuli kakak beradik mesum itu. Untung saja Nina dapat mengendalikan emosinya. Amarah dalam dirinya berhasil ia redakan dengan pikiran dingin.


"Oh sekarang aku tahu kenapa kau betah di sini. Ternyata di belakangku kalian suka main beginian. Maaf mengganggu." Nina langsung berlari menuruni anak tangga ke lantai bawah.


"Nina tunggu!!" Ruiga mencoba untuk mengejar Nina, namun hal itu dicegah oleh Ruhisa dengan cara menarik tangan kanan kakaknya.


"Gak usah dikejar!" Bentak Ruhisa.


"Lepaskan! Aku harus bicara padanya."


"Apanya yang harus dibicarakan?! Dia tidak penting lagi bagi kita!" Kata Ruhisa yang mulai marah.


"Kau jangan bilang begitu!! Nina itu temanku, dan temanmu juga! Dulu kalian berteman dekat kan?!" Kata Ruiga sambil melepas paksa tangannya dari tangan Ruhisa. Setelah itu Ruiga berlari menyusul Nina sebelum tertinggal jauh.


Ruiga tidak menemukan Nina di lantai bawah. Dan ketika ia bertanya pada satpam, ternyata Nina sudah pergi jauh sekali. Ruiga tidak mengira kalau Nina akan berlari secepat itu.


Meski sudah pergi jauh dan kehilangan jejak, Ruiga tetap akan menemui Nina. Ruiga yakin Nina akan kembali ke rumahnya yang letaknya jauh dari keramaian.


Bagaikan tak mau buang waktu, Ruiga langsung berlari menuju rumah Nina yang agak jauh. Dia rela memahan capek agar bisa menemui Nina. Ruiga khawatir kalau Nina akan meninggalkan Ruiga di dunia ini sendirian.


Setelah berlari jauh, kini sampai juga Ruiga di depan rumah Nina. Pintu masuknya terbuka dan Ruiga pun langsung saja masuk ke dalam. Di ruang tamu tidak ada siapa-siapa. Lalu Ruiga mencoba memeriksa ke kamarnya.


Nina ada di kamarnya. Ternyata Nina tidak sendiri. Nina ditemani oleh Dewa Zelus. Ekspresi mereka berdua membuat Ruiga takut. Ekspresi marah itu terlihat seperti mau membunuh walau kenyataannya mereka tidak akan mau membunuh Ruiga.


"Nina, aku bisa jelaskan..."


"Apa yang ingin kau jelaskan?! Kau ingin menjelaskan lebih detil lagi tentang tindakan mesummu?!"


"Maaf, tapi...."


"Stop jangan bicara lagi! Aku sudah capek denganmu. Mulai detik ini aku tidak peduli lagi denganmu. Terserah kau mau berbuat apa di sini! Hari ini juga aku akan pulang dan tak akan pernah melihatmu lagi!!!" Kata Nina dengan emosi yang meledak-ledak.


"Oke kau boleh marah! Dan aku juga tidak akan melarangmu pulang. Tapi bisakah kau tinggal lebih lama lagi di sini? Aku bisa kesepian jika tidak ada kamu."


Nina tersenyum sejenak. Kemudian memberi isyarat tangan agar Ruiga mendekat. Saat Ruiga mendekat pada Nina, maka Nina langsung melakukan tinju di perut Ruiga. Tinju itu dilesatkan dengan kencang hingga membuat Ruiga langsung jatuh ke lantai.


"Rasa sakit itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang kau beri. Anggap saja itu adalah hadiah perpisahan dariku. Detik ini juga aku dan kamu bukan teman lagi!! Sampai jumpa!"


"Kau sudah siap?" Tanya Zelus.


"Ya, bawa aku pulang sekarang kek."


Ruiga yang masih merasa sakit di perut mencoba untuk bangkit berdiri. Ia mau mencegah Nina pergi, tapi gagal.


Tubuh Nina masih ada di situ. Ia berdiri dengan tatapan kosong. Ruiga yang melihat itu langsung menggoyangkan tubuh Nina agar tersadar. Tapi malah tubuh Nina ambruk.


Ruiga yang berhasil menangkap tubuh Nina langsung merebahkannya di tempat tidur. Tak lama kemudian Nina sadar kembali dan tubuhnya bisa digerakan. Namun Nina yang ini terasa beda bagi Ruiga.


"Hei, kau baik-baik saja kan?!" Kata Ruiga yang panik.


"Heh ngapain kau di kamarku?!" Kata Nina dengan nada tinggi. "Keluar kau dari sini!!!"


Merasa ada yang aneh, Ruiga menoleh ke arah Zelus. Tapi Zelus berkata: "Dia bukan Nina temanmu lagi. Nina yang asli sudah pulang. Ini adalah Nina versi dunia alternatif." Dan setelah itu Zelus menghilang tanpa disadari oleh Nina dunia alternatif.


Ruiga sudah terlambat. Nina yang asli telah pergi dan Ruiga tidak bisa melihatnya lagi. Walaupun di sini ada versi tiruannya, tapi keduanya adalah kepribadian yang berbeda. Ruiga hanya bisa menangis dalam hati sambil berharap suatu hati bisa bertemu lagi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2